Minggu, 07 September 2014

Silent Ring Part 16



Hening.
Suasana setenang dan sesunyi ini biasanya dapat membuat Lily damai, tapi tidak kali ini. Padahal ia sudah mengomando seluruh syaraf untuk tak tegang, tak perlu menanggapi, namun kenyataannya seluruhnya menolak perintahnya. “Aku enggak ngerti maksud Kamu,” Ia kembali bergeming. “Mending kita balik aja lah dari pada buang-buang waktu, terus Kamu temenin Bapak Kamu di rumah sakit.” Lily mengepalkan tangannya dan mulai melangkah seraya menggigit bibir guna meneguhkan hatinya, tapi ketika ia hendak mengambil langkah kedua, tubuhnya dihentikan dengan rengkuhan tangan Zaki yang begitu cepat, kini lelaki itu sudah berdiri tepat di belakang tubuh Lily yang menegang. “Zaki, lepas!!” Lily sedikit memelankan suaranya karena takut orang mengira macam-macam, ia hampir terdengar seperti berbisik.
“Andai Kamu tahu, rasa hancur aku waktu ngeliat cincin itu lagi.” Ujar Zaki tak mempedulikan Lily yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya. “Aku enggak percaya Kamu setega itu.” Katanya lagi. “Aku fikir, apa salah aku, apa yang bikin Kamu sampe ninggalin aku.” Ia tetap kokoh memeluk Lily dari belakang. “Sampe ibuku bilang kalo Kamu udah enggak bisa nunggu aku lagi lagi, aku baru nyadar. Aku terlalu lama ninggalin Kamu, aku tau aku yang salah karena enggak ngasih kabar apapun, aku ngerasa nyesel saat itu. Dan aku akhirnya milih enggak nyari ataupun nemuin Kamu lagi karena pasti rasanya lebih sakit.”Zaki berusaha menjelaskan dengan sejujurnya. Matanya terlihat kelabu, teringat hari yang begitu berat itu ternyata sebuah rekayasa, ia tak menyadari kalau dirinya sedang bermain film selama ini.
Lily sekarang tak lagi memberontak atau berusaha melepaskan dirinya, itu membuat Zaki merasa lebih lega dan tenang. Karena sekarang Lily terlalu lemah untuk memaksa diri agar tak terpengaruh. Ia sudah bisa memahami, tak ada yang salah di antara mereka berdua, hanya saja takdir tak mengizinkan mereka bersatu. “Aku udah ngelupain itu.” Kata Lily pelan. Menahan sayatan-sayatan belati yang ingin membunuhnya perlahan. “Sekarang yang Kamu perlu Cuma ngelupain ini, ngelupain aku.”
Zaki bergetar, ia penuh emosi saat ini. “Aku udah berusaha ngebenci dan ngelupain Kamu sejak hari itu Lil! Enggak semudah itu Lil! Bertahun-tahun itu berlalu, tapi sampe sekarang aku masih enggak bisa Lil.” Zaki mengeratkan dekapannya, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Lily yang lunglai. “Please,kasih aku kesempatan sekali lagi. Kamu adalah alasan aku jadi Zaki yang sekarang, Kamu lah kekuatan aku buat pergi jauh selama itu. Dan asal Kamu tau juga, alasan aku nerima Vania dulu itu karena sakit hati aku ke Kamu. Dan..” Zaki merasakan matanya basah, entah sudah berapa kali ia mengatakan kata ‘dan’ dari tadi, bayangan akan hari di mana ibunya bilang kalau Lily memilih mengakhiri segalanya kembali lagi. “Dan aku enggak mungkin bisa ngelupain Kamu kedua buat kalinya!” Bulir air matanya jatuh begitu saja di pundak Lily.
“Untuk apa lagi Zaki?” Tanya Lily merasakan sesuatu membasahi bajunya dan ia tahu hujan tak sedang turun, ketegarannya tak lagi dapat membendung rasa. Ia pun ikut menangis bersama Zaki yang mulai terisak. “Kamu udah punya masa depan yang jelas. Dan aku enggak ada di situ!” Katanya terisak. “Vania emang yang terbaik buat Kamu, bukan aku!” Katanya lagi, dengan kekuatan tersisa. “Ya, aku emang udah tau semuanya, tapi mau bagaimana lagi? Anggep aja itu kenyataan yang harus kita jalani! Walau pun Kamu dan aku enggak suka.”
Zaki merasakan tubuh Lily terguncang, ia tahu perempuan yang sedang ia peluk kini menangis juga. “Aku masih mau berjuang. Aku enggak bisa pasrah gitu aja. ” Ia mengusap air matanya, naluri lelakinya kembali lagi. Ia tak pantas terlihat seperti ini, ia harus lebih kuat di depan perempuan yang mengikat isi fikirannya ini.
“Itu percuma.” Lily mengelap air matanya dengan gusar. “Itu Cuma ngebikin aku tambah salah di mata orang. Aku bakal dibilang ngehancurin pernikahan orang yang di depan mata, aku ngerusak kedamaian orang lain, aku ngerusak masa depan orang lain. Kamu faham? Itu Cuma bikin aku kehilangan harga diri.”
“Harga diri?” Zaki mendengus. Ia membalikan tubuh Lily dan menatap kedua matanya. “Apa harga diri lebih penting dari kisah ini?! Apa janji kita buat hidup bersama dulu udah ilang dari ingatan Kamu?” Tanyanya sarkatis. “Ini tentang kehidupan kita ke depan, tentang kebahagiaan! Kita berhak bahagia Lil!”
“Kalo gitu aku lebih bahagia kalo Kamu pergi dari hidup aku!”
“Bohong! Aku yakin masih ada cinta buat aku, sama kaya cinta aku ke Kamu, sama kaya perasaan aku pas pertama kali ngeliat Kamu lagi , walaupun aku belum tau kebenaran tentang itu, aku buktinya tetep cinta dan peduli ke Kamu, rasa benci itu hilang gitu aja. Aku bener kan?!”
“Enggak, itu salah!” Lily hampir berteriak, karena ia takut suara hatinya lebih keras dari pada suara yang keluar dari pita suaranya. “Aku udah terlalu sadar, kita beda kasta! Ada tembok tebel yang misahin kita! Dan, aku rasa—” Ketika Lily hendak menyelasaikan kalimat ‘aku udah enggak punya perasaan lagi ke Kamu’, Zaki sudah mengecup bibirnya secepat kilat. Tangan kanan Zaki mencengkeram kepalanya dengan kuat namun lembut, membuat bantalan khusus untuk kepala Lily yang rasanya dipukul-pukul oleh godam raksasa. Lily tak dapat mengelak, sebuah sensasi menyengat dari bibirnya yang tengah dilumat, menyuntikkan sebuah rasa yang tak terdefinisikan. Rasa itu lah yang kini menggetarkan tubuhnya, membuat kakinya melunglai seketika. Makin lama ia makin tak kuat, dirinya menyandarkan sedikit berat tubuhnya kepada Zaki. Beberapa detik berlalu, tangannya tiba-tiba telah melingkar di pinggang Zaki yang sama-sama terpejam.
Zaki menekan kepalanya lebih dalam, menjelajahi setiap permukaan halus dan lembut bak kembang gula yang sangat manis, sesekali ia menggigitnya dengan pelan. Tanpa ia sadari tangannya telah menangkup kedua pipi Lily untuk membawanya terbang lebih tinggi. Lidahnya mulai memaksa masuk untuk menyecap ketika mulut Lily sedikit terbuka. Rasa manis yang lebih dan lebih lagi setiap ia menyesap bibir Lily membuatnya mabuk dan tak mau menyudahi ini. Ia sedikit melangkah hingga membuat tubuh Lily bersandar ke pagar jembatan yang sedang mereka pijak saat ini. Keduanya menikmati kesunyian dengan deru nafas membara. “Kamu sering bohong ke aku.” Kata Zaki melepaskan bibirnya dari bibir Lily untuk sementara. Kedua mata itu bertemu, seolah mencari kepastian. Dan yang Zaki tak dapat duga adalah bagaimana Lily tiba-tiba menyentuh wajah Zaki dan air matanya berlinang lagi. “Jangan nangis lagi.” Ia mengusap air mata Lily sambil menempelkan kening mereka berdua.
“Apa yang harus aku lakuin?” Lily menatap mata Zaki. “Kamu tau ini salah Ki, ini salah.” Ulangnya ketakutan. Ia tak membayangkan apa kata orang kalau Zaki benar-benar serius untuk kembali padanya padahal ia telah menjadi milik orang. Ia tak tahu rasa malu apa yang akan ia dapatkan nantinya. “Aku takut.”
Zaki mengusap pipi Lily dengan kedua ibu jarinya yang tadi sempat basah karena air mata gadis itu. “Bilang kalo Kamu cinta aku, itu cukup.” Senyumnya mengembang dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Selanjutnya biar aku yang ngadepin orang-orang yang bikin Kamu takut itu.” Lily perlahan tersenyum. Kalimat Zaki barusan tak kurang dari perkataan sang pangeran dalam dongeng-dongeng yang pernah ia baca dulu.
Cukup lama Lily terdiam karena ada keraguan yang tiba-tiba menghampiri. Ia sudah berjanji pada Vania dan Darwin untuk membuat Zaki kembali pada jalur menuju masa depan yang dibuatkan untuknya. Bukannya membuat Zaki semakin keras dan tak terlawan seperti ini, bukan pula memberinya segenap cinta yang ia pernah kubur. Lily memejamkan mata, sekelebat bayangan muncul di fikirannya, di antaranya adalah rencana yang ia susun secara kilat barusan. Rencana besar.
Tapi dilihatnya wajah Zaki yang menunggu dan penasaran, terlalu tak mungkin baginya untuk tak luluh. Ia pun menarik nafas. “Oke.” Lily menatap wajah Zaki serius. “Aku—aku enggak bisa ngasih cinta ke Kamu lagi Zaki,” Katanya membuat Zaki terpana saking terkejutnya. “Karena dari dulu cinta itu udah aku kasih ke Kamu dan sampe sekarang pun tetep di Kamu.” Senyumnya mengembang bersamaan dengan kelegaan yang terlihat dari wajah Zaki, dan lelaki itu langsung tertawa bahagia ke arahnya lalu menarik dagu Lily, kembali mencium bibir Lily lagi dan melumatnya lebih lembut dan perlahan.
“Hampir aja aku jantungan!”
***
“Lain kali kita cari kontrakan yang lebih bagus.” Komentar Zaki saat Lily selesai menyiapkan makanan untuk dibawanya ke rumah sakit, katanya ia khawatir ibu Zaki itu lupa makan jadi ia buatkan itu khusus untuk Hera, sedangkan Zaki tadi sudah ia paksa makan bersamanya di dapur. “Dan jauh dari bencong itu.” Tunjuknya pada rumah Ricki di seberang. “Kalo perlu aku pindahin Kamu ke apartemenku, eh maksud aku satu apartemen sama aku.” Koreksinya cepat.
“Hahaha!” Lily terkekeh, Zaki berbicara seolah mereka sudah benar-benar pasangan yang telah lama menjalin kasih. “Dia itu sahabat aku Zaki, dan dia bukan bencong, dia Cuma sedikit lebih lembut dari cowok biasanya.” Omelnya. “Baru pertama kali maen ke sini udah banyak protes!” Ia meletakkan bekal itu di depan Zaki yang dari tadi menikmati kopi buatannya.
“Ini udah kedua kalinya hoy, yang pertama pas Kamu kencan sama si Riga.” Zaki terkaget. “Ops keceplosan.” Koreksi Zakicepat-cepat menutup mulutnya. Kepulan asap menghiasi cangkir itu, membuatnya merasa ketakutan kalau ini mimpi dan tak lama lagi akan terbangun.
Lily lagi-lagi tak dapat menahan tawanya. “Itu artinya waktu itu  Kamu ngikutin kita berdua dong? Wah wah..” Lily menggeleng-geleng lalu menjulurkan lidahnya. “Udah mending sekarang cepetan ke Rumah Sakit terus kasihin ini ke ibu, jangan sampe ada yang sakit lagi.” Tunjuk Lily pada makanan yang ia masak kilat tadi sepulang dari kebun raya.
Zaki kembali menyesap kopi yang Lily buatkan, lalu ada sesuatu seperti bayangan manusia terlihat sekilas di jendela ruang tamu mencuri perhatiannya, keningnya sedikit berkerut, ia mencoba mengingat gerak-gerik dan tipe mata yang ia rasa pernah dilihat sebelumnya itu. “Udah tujuh tahun nih enggak minum kopi buatan orang oon, jadi harus dihabisin.” Katanya membuat Lily melotot sekaligus tertawa.  Tak lama ia menatap arloji yang melingkar di tangannya lalu ia pun menyerah pada waktu, karena Lily akan marah kalau titahnya tak dituruti. “Ya udah, besok aku jemput ya?” Katanya dengan alis terangkat, menunggu Lily mengangguk. 
“Iyaaaaa.” Angguk Lily dihiasi senyuman.
Zaki kembali tersenyum lalu menatap jendela ruang tamu yang kini terlihat sepi tak seperti tadi. Ia kini mulai mengerti. Mereka tadi memang sedang diawasi, namun ia kini tak perlu khawatir karena ia sudah tahu siapa yang mengawasi mereka berdua tadi, ia sudah ingat tipe mata orang itu. Tidak, orang-orang itu.
Zaki mulai berjalan keluar diikuti Lily di belakangnnya.  “Hmm, kenapa sih enggak ikut? Kan kamu bisa tidur di kamar Bapak nanti? Kalo enggak nanti aku anter pulang?” Tanyanya lagi dengan nada memohon, kentara sekali ia masih rindu pada Lily, seolah tak ingin sedetik pun Lily tak berada di sisinya.
Padahal baru saja Lily mengangguk untuk Zaki dan sekarang terpaksa menggeleng sembari mengatup mulutnya. “No.” Katanya singkat membuat Zaki gusar, bak anak kecil yang balonnya baru saja dipecahkan oleh orang dewasa. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya, namun itu menggelikan dan lucu.
You know i couldn’t sleep tonight ‘cause these happiness are playing inside my mind.” Lily tergelak sambil bersedekap. Zaki lantas menarik tubuhnya untuk lebih dekat dengan Lily dan menangkup wajah Lily, kebiasaan barunya mulai hari ini. “Masih pengen liat Kamu.” Katanya sedikit manja.
Lily lagi-lagi teringat rencananya. “Masih ada besok.” Ia menunduk sejenak membuyarkan bayangan itu untuk sementara. “Lagian ibu Kamu kasihan sendirian.”
“Hmmm.” Gumam Zaki mengangguk setuju, namun masih terlihat ia kecewa. “Good night, tidur yang nyenyak karena besok aku pasti semangat. Jangan kira aku bakal baik, aku bakal lebih galak!” Katanya berusaha menakuti, namun yang ia ajak bicara hanya terkekeh. Sebenarnya ia hendak menanyakan mengapa seperti ada sesuatu yang Lily masih sembunyikan darinya. Seperti ada kabut di dalam mata Lily yang tertahan untuk menyembunyikan sesuatu itu. Tapi, Zaki memilih membiarkannya hingga esok, karena hari ini terlalu panjang bagi mereka berdua. Ia harap, apa pun yang sedang membuat Lily tampak ragu itu hanyalah belum terbiasanya Lily dengan keadaan ini.
“YES SIR!!” Jawab Lily memberi hormat pada Zaki bak anggota militer.
Zaki tersenyum. “Oke, jangan lupa kunci pintu ya.” Pesannya lalu mulai berjalan pergi. Ia sudah hampir keluar dari teras, namun sesuatu mengurungkan perjalanannya menuju mobil. “Oh iya. Ada yang lupa.” Katanya berbalik dan menatap Lily yang masih berdiri di ambang pintu. Sesaat Zaki menatap rumah Ricki dan tersenyum mengejek, namun entah pada siapa senyuman itu ia persembahkan. “Mmmmmmmmuah!” Katanya mengecup kening Lily dengan cepat lalu segera berari kencang ke mobilnya yang sudah tak terkunci. Ia tak berani melihat wajah Lily yang pasti akan merah—bukan karena malu ataupun merona, melainkan marah pastinya.  “Jangan tidur malem-malem, mimpiin aku ya!” Katanya berteriak dari jendela mobil yang mulai berjalan pelan. Pasti mereka suka endingnya tadi hahaha. Zaki tersenyum sendiri dalam mobilnya.
“Dasar!” Lily masih berdiri di ambang pintu, menatap lampu belakang mobil Zaki yang makin lama makin tak terlihat. Matanya terasa perih, mulutnya tiba tiba mengatup bersamaan gigi yang saling menghujam satu sama lain. Ia teringat rencana besar yang ia fikirkan tadi siang, bersamaan saat ia membuka hatinya lagi untuk Zaki. Hanya ia dan Tuhan yang tahu apa yang ia sedang fikirkan saat ini, yang jelas dia harus melakukannya demi orang-orang yang ia sayangi juga cintai.
***
“Halo, apa kabar Nona super BT? Udah ada perubahan gede-gedean nih kayaknya!” Rupanya Diana yang sudah berada di kamar Lily dan meyibak seluruh tirai jendela seluruh penjuru rumah kontrakan mereka berdua. Tampak sekali kalau sahabat Lily itu sedang semangat, namun Lily malas menanyakannya. Karena hanya Agustin dan gaji bulanan yang dapat membuat Diana sesumringah seperti ini. “Jangan masuk ke sini Sayang, ada anak ayam baru bangun tidur!” Katanya pada Agustin yang juga datang bersamanya sekitar sepuluh menit yang lalu.
“Kampret Lo!” Sembur Lily duduk di atas tempat tidurnya. “Btw, kemana Lo semalem? Maen nginep-nginepan mentang-mentang bentar lagi mau merit, udah lupa ya kalo kalian belom ngasih undangan ke gue? Belum sah tuh!”
“Ada juga gue kali yang nanya ke Elo, kenapa bisa Lo sama Zaki ke rumah barengan? Enggak salah tuh kalian keliatan banget mesra begitu?”
Lily tiba-tiba merasa malu sekaligus ketakutan. “Kok Lo bisa tau?”
“Nih!” Tunjuk Diana pada kepalanya sendiri. “TELEPATI!”
“Gila Lo!” Lily sedikit tertegun, ia mulai dihantui perasaan bersalah.
Diana terkekeh. “Gue semalem balik, mau ngecek Lo masih idup apa udah bablas ke yang Maha Kuasa, niat hati sih bawain makanan sama kain kafan kalo ternyata terlambat. Eh pas gue ke sini ada mobil yang pernah Zaki pake pas ke sini pertama kali, ya gue enggak jadi masuk lah, kirain kalian diskusi besar atau berantem atau debat atau panco atau apa lah tentang masalah kalian. Dari pada kita kena getahnya, terpaksa gue sama Agus ke rumah Ricki, gue kasih deh tuh makanan ke Ricki, eh eh eh pas kita ngintipin Zaki sama Lo keluar dari dalem rumah, ada acara cium kening. Apa-apaan tuh? Kita yang salah sangka apa kalian yang salah baca skenario drama? Kok selama ini Lo enggak cerita kalo kalian udah balikan? Kemana aja ya gue selama ini? Hmmm.”
Lily berkedip-kedip mendengar ocehan sahabatnya yang lebih cepat dari burung beo cerdas milik boss-nya dulu—bedanya kalau Diana tak akan semahal burung Beo itu kalau dijual. Ia tak percaya sahabatnya membuat kesimpulan seperti itu. “Sotoy Lo ah!” Katanya menjitak kepala Diana lumayan keras. “Semuanya salah!” Lily duduk bersila, ia mulai menceritakan kejadian kemarin pada Diana, dimulai dengan telepon dari Riga yang membuatnya khawatir hingga pergi ke Rumah Sakit hingga keputusan besar yang ia ambil di kebun raya kemarin. Ia pun tak lupa menceritakan bagaimana mereka berciuman di tempat yang indah itu, membuat Diana terlihat meneguk liurnya saking memperhatikan dan menghayati cerita Lily. “Dan semalem kayaknya si Zaki Cuma kegirangan sampe ada cium kening segala.” Lily membela diri. “Btw, Lo doang kan yang ngintip?”
Diana tersenyum lebar. “Si Ricki sama Agustin juga ikutan hehehe.” Katanya menggaruk kepalanya. “Eh Lo tau gak, si Ricki kayaknya biasa aja tuh semalem. Dia kayaknya tau tentang Lo sama Zaki dulunya, kayaknya dia tau dari Vania deh.”
Lily tertegun, satu hal lagi membuat beban fikirannya bertambah. “Tau dari mana Lo?”
“TELEPATI!” Tunjuk Diana pada kepalanya lagi.
“WOOOOOH!” Lily berubah beringas. “Sekali lagi Lo ngomong begitu, gue tonjok idung Lo biar bengkok sampe hari pernikahan Lo entar!!” Katanya mengejar Diana yang mulai berlari terbirit-birit.
“Sayaaang! Lily kumaaaatttt!!! Toloooong Lily kesurupaaan!!!” Teriak Diana menghambur ke tubuh Agustin yang sedang menonton berita pagi di Televisi.
“Gus! Lo batalin nikah sama nih orang! Dia punya bakat bikin emosi, bisa-bisa Lo mati muda kalo serumah ama dia!” Lily mengincar Diana yang berlindung di samping tubuh Agustin yang kini memeluknya. Diana menjulurkan lidahnya pada Lily.
“Hahaha.” Agustin tergelak, bukan pertama kalinya ia menjadi benteng pertahanan Diana seperti ini. Mereka terlalu sering ribut hingga Agustin tak dapat menghitungnya. “Ada yang udah punya niat bikin sarapan? Karena perut gue mulai kelaperan nih.” Katanya mengalihkan perang dunia yang sedang terjadi.
***
“Hmmm, kalian berdua kenapa enggak bikin restoran aja sih? Masakan kalian tuh enak-enak tau gak.” Puji Agustin.
Lily menggeleng. “Bisa-bisa restoran runtuh kalo kokinya berantem kaya pas tadi pagi.”
“Hahaha.” Diana terkekeh sambil mengangguk-angguk. “Gue enggak bisa bayangin para pelanggan lari tunggang langgang kalo si Lily kumat kaya tadi.” Ditatapnya Lily dengan tatapan mengejek. Lily hendak meninju lengan Diana tepat bell rumah mereka berbunyi. “Siapa?” Tanya Diana sembari memandang ke ruang tamu.
Lily langsung berlari ke depan dan membukakan pintu. “Hai.” Sapa Zaki dengan senyuman mengembang.
“Jam rumah Kamu masih jalan kan?” Tanya Lily, namun Zaki tak faham. “Ini masih pagiii...” Katanya membuat Zaki terkekeh.
“Aku enggak sabar ngantor dari semalem, emang kenapa? Ga boleh??” Ledeknya.
“Hmmm, udah sarapan?” Tanya Lily mempersilakan Zaki masuk ke dalam rumah. Zaki menggeleng dan tak lama ia di dorong oleh Lily ke dapur. “Nah kalian bisa ngintip kita secara langsung sekarang mumpung ada orangnya nih.” Kata Lily pada Diana dan Agustin yang sedang menyantap sarapan mereka masing-masing.
Diana terperangah, tidak seperti Agustin yang terlihat santai. “Mereka semalem udah ngintip deket kok, di jendela ruang tamu.” Kata Zaki datar, membuat Diana hampir melotot karena kaget. “Aku sempet ngeliat sekilas.” Ujar Zaki dengan polosnya, tak memperhatikan wajah Diana dan Agustin yang memucat karena malu.
“HA?” Lily menganga. “Heh, jadi semalem Lo ngintip di teras?! Lo bilang Lo ngintip di rumah Ricki?!”
Diana terkekeh, jenis tawa terhambar yang pernah ia lakukan. “Abis kita penasaran kalian ngapain aja. Hehehe. Iya enggak say?” Tanyanya pada Agustin yang mengangguk-angguk setuju.
“Gila, padahal kita udah ngumpet. Kok masih ketahuan sih?” Agustin mengangkat pundaknya heran. “Oh iya, Lo kan detektif ya, pantes aja mata Lo bisa awas banget begitu. Hmmm, lain kali kita ngintip pake teropong aja Say.” Katanya pada Diana.
“WOOYYY! KALIAN MAU NGINTIP APAAN LAGI EMANG?! ENGGAK ADA YANG PERLU KALIAN INTIP LAGI! GUE SUMPAHIN MAU?!” Teriak Lily membahana, membuat Zaki tertawa.
“Ampun Maaak ampuuun!” Diana menangkupkan kedua telapak tangannya. Dilhatnya Lily tak lagi melotot. “Lo udah sarapan? Nih gabung bareng kita.” Katanya ramah pada Zaki.
Zaki menatap Lily lalu tanpa ragu duduk di salah satu bangku kosong tersisa. “Besok aku lebih pagi kesininya.” Candanya pada Lily saat meletakkan piring di hadapannya. “Kalo perlu aku bantu masak deh.”
“Say besok aku juga kesini lebih pagi.” Canda Agustin tak mau kalah.
“Kalian berdua bakal gue usir kalo berani bangunin kita pagi-pagi. Faham?!” Diana melotot.
“Hahahaha.” Tawa mereka seketika pecah.
Sarapan pagi ini berlangsung menyenangkan. Mereka bagai sedang melakukan double date layaknya pasangan pada umumnya. Namun sebelum berangkat ke kantor, Lily mengajak Diana ke kamarnya untuk mengobrol sebentar.“Ada apa sih?” Tanya Diana.
“Tampar gue.” Kata Lily tiba-tiba.
“HA?” Diana terenyak. “Oh oke.” Dan PLAK! Tangannya berhasil menampar pipi mulus milik Lily. Sebenarnya ia sudah lama memimpikan bisa menampar Lily, selama ini kalau mereka ribut, Diana lah yang selalu jadi korban. Karena kenyataannya Lily pernah belajar di perguruan silat, dan tak butuh susah payah bagi Lily untuk membanting Diana ke lantai dan membuatnya kesakitan.
Lily meringis, Diana lumayan tangkas. Perintahnya itu dilaksanakan dalam waktu kurang dari tiga detik. “Aw!” dengusnya. “Makasih, lain kali gue bakal minta lagi.” Katanya hendak meninggalkan Diana yang melongo.
“Tunggu dulu!”
“Apa lagi?” Tanya Lily kali ini, ia sedang terburu-buru.
Diana memutar bola matanya. “Tadi pas masak gue enggak ngasih racun serangga ke nasgor, kenapa Lo jadi somplak begini?” Jelas ia heran dengan tingkah laku Lily yang tak wajar.
“Oh.” Lily sebenarnya tahu arah pembicaraan ini. “Itu penebusan dosa gue, kesalahan gue. Nanti lah gue cerita, sekarang gue buru-buru. Ada misi penting!” katanya sok ceria.
Percuma bagi Diana, karena Lily kalau sudah bilang begitu tak dapat diubahnya. “Oke, yang penting Lo cerita ya.”
Lily mengangguk dan mencium pipi Diana. “Bye!” Lily berlari kecil. Ia mengatupkan mulutnya, ciri kalau fikirannya terasa penuh dan siap luber. Ini penebusan rasa bersalah gue ke Vania sama yang lainnya Di, biar gue enggak terlena terlalu lama sama si Zaki Di.
***
Zaki memelankan musik di mobil yang sedang ia kendarai. Ditatapnya Lily sejenak, lalu ia kembali tersenyum. Kembali lagi ia manatap wajah Lily, Zaki pun tersenyum lagi. Barulah ketiga kalinya Zaki melakukan itu, Lily berkata. “Mukaku bisa bolong kalo Kamu liatin terus.” Protes Lily sadar kalau dirinya diawasi. “Ada apa sih? Ada bekas makanan?” Tanyanya sembari mengecek wajahnya sendiri di kaca spion.
“Bolong? Mata aku bukan Loop!” Kata Zaki menyalakan sen kiri mobilnya namun tak dapat menyembunyikan senyumannya yang sejak tadi mengembang dan enggan hilang. “Feels like i dreamed too long, i still cant believe.”
Well wake up and realize!” Tambah Lily. Ia lantas menggeleng-geleng. “Ya gini lah hidup, satu menit yang akan datang pun kita enggak tau.”
Zaki mengangguk setuju. “Makasih ya.” Katanya singkat.
“Kenapa?”
“Karena kesempatan ini, kepercayaan ini.” Zaki tersenyum tulus. Namun ketika dilihatnya Lily yang gelisah, membuat dirinya bertanya-tanya. Ia tahu Lily sejak lama, wajah Lily tak sepintar para penjahat yang suka mengelabuhinya. Lily tak dapat menyembunyikan kalau dirinya sedang memikirkan sesuatu, di luar sana, hal yang ia harap tahu tanpa bertanya.
Lily lantas berusaha tersenyum. “Tuhan yang lagi baik ke kita.” Jenis jawaban yang bahkan Lily tak fahami. Tapi ia bersyukur Zaki tak bertanya lagi karena mereka sudah sampai ke kantor. Zaki berjalan di sisinya, tak seperti sebelum-sebelumnya, ia lebih terlihat ramah dan hangat. Lily bahkan merasa diawasi setiap mata, seolah menyudutkannya. “Kayaknya semuanya ngeliatin kita deh.” Gumam Lily.
“Siapa? Siapa?” Tanya Zaki berlagak melindungi anak kecil. “Biar aku hajar.”
“Ih!” Lily sebal, membuat Zaki tertawa lebar. Mereka tak berkata apa-apa lagi hingga masuk ke ruangan. Zaki hendak masuk ke ruangannya namun pak Gatot buru-buru menghentikannya. Ia terlihat serius dan meminta Zaki masuk ke ruangannya. Namun sebelum masuk, pak Gatot memperhatikan Lily dengan bibir terkatup. Sementara Zaki hanya mengangkat pundak sembari menatap Lily ramah, kemudian ia mengikuti atasannya tersebut.
“Hei cewek-yang-salah-masuk-kamar-mayat, selamat pagi!” Tiba-tiba Riga sudah berdiri di hadapan Lily yang tertegun memandangi ruang pak Gatot yang tertutup. Ia tak tahu sejak kapan namanya diubah, namun itu justru membuatnya sedikit lebih santai dan terhibur. “Sehari enggak ngelihat Kamu di kantor rasanya enggak seru.” Katanya jujur. “Kemaren dia beneran nganter Kamu?”
Lily faham maksud Riga. “Iya, kenapa emang?” Tanya Lily balik.
“Dia kemaren kelihatan capek, biasanya kalo udah gitu Vania aja dia enggak peduliin.” Riga menatap Lily, memperhatikan reaksi Lily yang sudah bisa ia bayangkan. Dan ternyata Lily memang terlihat gugup. “Tapi mungkin karena Kamu asistennya dia enggak keberatan nganter Kamu kali ya.” Lanjut Riga tak mempedulikan wajah Lily yang menegang.
“Ehm.” Lily berdeham. “Kemaren di kantor enggak ada apa-apa kan?” Riga menggeleng. “Kok Zaki dipanggil pak Gatot ya, mukanya serius gitu kelihatannya.”
“Oh itu..” Riga menduga, pastilah Vania yang melakukan ini. Padahal ia sudah berusaha sekeras mungkin agar Vania tak gegabah dahulu. Ya, semalam Vania datang ke apartemen Riga dan menceritakan seluruhnya. Vania menceritakan bagaimana Zaki yang marah karena tahu ia mendatangi Lily dengan cara membohonginya lewat surat itu. Vania juga menceritakan bagaimana dinginnya Zaki saat mengatakan kalau ia ingin membatalkan pernikahan. Vania telah mengadukan itu pada ayahnya, yang mana kenal dekat dengan para petinggi lainnya di Kepolisian kota ini, termasuk pak Gatot. Ayah Vania minta bantuan pak Gatot agar Zaki diperingatkan dan ditegur, posisi Zaki sekarang dalam bahaya kalau ia tetap seperti itu.
Riga semalam memohon pada Vania agar tak melakukan itu, tapi usahanya gagal. Ia sedikit kecewa pada sikap Vania yang dianggapnya merendahkan dirinya sendiri karena cinta yang dipaksakan. walaupun begitu, sebagian hati Riga terasa sesak karena orang yang ia cintai diperlakukan seperti itu, tapi ia juga tak bisa membohongi diri kalau yang Zaki lakukan itu haknya yang tak orang lain dapat larang. Riga kini serba salah, mereka berdua adalah sahabatnya.
“Ada yang mau aku omongin ke Kamu.” Kata Riga pada Lily, tersadar ia sedang melamun di hadapan Lily. “Tapi jangan di sini.” Bisik Riga.
Lily panik, ia tak mau Zaki nanti mencarinya karena tak izin dahulu. “Sekarang? Tapi..”
“Percaya aku, ini penting.” Katanya pelan. Ia sudah siap masuk ke dalam pusaran masalah ini. “Ini tentang Zaki.” Riga terhenti. Udah saatnya. “Dan Kamu.” Katanya lagi, membuat Lily tercekat.
Read More..

Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 15

“Lo beneran enggak apa-apa?” Tanya Diana cemas. Hari ini dia telah izin ke pihak sekolah dengan alasan ada keperluan mendesak, namun dirinya telah berjanji akan kembali mengajar setelah jam makan siang. “Jawab ngapa Lil..”
Begitulah Lily. sejak menangis hebat dan bercerita apa yang terjadi pada Diana semalam, ia tak mau berkata apapun. Ia juga tak mau makan bahkan sekadar keluar dari kamar. Hanya berdiam diri dalam selimut sampai siang hari. “Iya, Lo kerja aja sana. Gue gapapa.” Akhirnya Lily bicara jugawalau terdengar malas. Matanya terlihat sayu. “Kunci aja pintunya dari luar.”
Diana menyerah, mendengar Lily yang mau bicara saja sudah membuatnya bersyukur. Tadi pagi ia sempat bercerita pada Ricki tentang apa yang terjadi pada Lily sejak semalam. Ia minta pendapat Ricki, namun nyatanya lelaki itu menyuruh Diana untuk membiarkan Lily menenangkan fikirannya dulu. “Ya udah jangan lupa makan nanti Lo sakit, Lo juga jangan mikirin itu dulu ya. Nanti..”
“Iya.” Potong Lily. Diana mengatupkan mulutnya, tak lagi mendebat lalu pergi dari kamar sahabatnya itu. “Sorry Di..” Lirih Lily menyesal. Ia pun tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ini. Kepalanya sakit setiap berfikir, seperti ada palu besar yang akan menghajar otaknya jika berani berputar.
Lily membalik tubuhnya dan memejamkan mata. Hari ini ia sengaja tak masuk dan tak mengabari siapapun di kantornya tentang ketidakhadirannya hari ini. Tekadnya sudah bulat, ia akan pergi. Bukan karena ancaman Vania semalam, tapi ia tak sanggup untuk bertemu dengan Zaki lagi. Lily menyesal karena ia membiarkan hatinya terbang terlalu tinggi karena membaca surat itu. Ia tahu Zaki lah yang memang menulisnya, tapi kenyataannya Zaki selama ini menyembunyikannya. Itu berarti Zaki pun sadar kalau cinta yang pernah terjadi diantara mereka hanya sebatas kenangan. Hanya itu.
Cause there’ll be no sunlight…if I lose you Babe…
Lily mengernyit lalu perlahan membuka matanya yang mengantuk karena tak dapat tidur sejak semalam. Pasti Diana, tebak Lily sambil duduk dengan malas dan menatap jam dinding yang menunjukkan sudah sangat siang. Ia mengulurkan tangan ke atas meja untuk mengambil ponselnya kemudian Lily tercekat setelah tahu siapa yang meneleponnya. “Ha..”
“Kamu kok enggak masuk?” Riga terdengar memelankan suaranya. Atau kuping Lily lah yang mulai berkurang kualitasnya?! “Aku dari tadi mau nelepon Kamu, tapi banyak banget kerjaan, sekarang baru sempet.” Tuturnya.
“Aku ada urusan Ga.” Lily berkilah. Ia membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan juga serak. “Gak ada apa-apa kan?” Tanyanya datar, sebenarnya ia sedikit penasaran dengan Zaki.
“Kamu udah tau kan? Zaki kan masuk Rumah Sakit.” Riga balik bertanya dan membuat Lily tercekat.
Rumah sakit?!  “Ru-Rumah sakit??” Teringatlah Lily akan kesehatan Zaki yang beberapa hari terakhir memburuk karena gangguan lambung yang ia alami.
“Iya Lil, Rumah Sakit Adi Husada itu, katanya sih di ICU, tapi aku belum sempet kesana, banyak banget kerjaan yang di deadline. Aku kira kamu di sana makanya enggak masuk.” Kata Riga lagi dan membuat Lily terdiam.  “Ya udah deh Lil, nanti kalo kamu ke RS bilang aku ya biar aku jemput, nanti aku telfon lagi, ada kerjaan nih. Daaah..” Belum sempat Lily berkata ‘Enggak’ maupun ‘maaf banget, aku gak bisa’, Riga sudah menutup teleponnya.
Ia merutuki diri yang tadi mengangkat telepon dari Riga itu. Harusnya ia menonaktifkan nomornya agar tak ada orang yang dapat menghubunginya saat ini. Dan sekarang, semuanya terasa terlambat. Kenapa juga dia bisa di ICU?! Lily kembali berbaring untuk meredakan kepalanya yang mulai terasa berasap karena ada yang terbakar di dalamnya. Tapi, jangan-jangan ada kerjaan yang musti gue lakuin lagi. Lily mulai kebingungan harus bagaimana. Satu sisi ia masih bertanggung jawab sebagai asisten, satu sisi ia harus mulai melupakan lelaki yang pasti akan ia temui.
“Arrrrgghhh!!!” Erang Lily mengacak-acak rambut lantaran pening. Ada banyak suara dalam dirinya yang saling bersahutan satu sama lain.
***
“Yap!! Bagus!” Pekik Lily kesal ketika ia tersengat terik matahari yang terasa membakar kulit. Ia baru saja turun dari angkot yang berhenti tepat di depan halaman rumah sakit. “Adi Husada” Lily membaca nama rumah sakit yang terpampang di atas gerbang utama.
Lily sempat bingung menyembunyikan matanya yang sembab sebelum berangkat kemari tadi. Ia akhirnya memilih es batu sebagai obat penghilang aibnya tersebut dan mengompres matanya selama lima menit. Dan sekarang, matanya terlihat sedikit membaik dari pada tadi pagi.
Ruang ICU harusnya tak terlalu jauh dari koridor utama. Namun entah mengapa, sejak tadi Lily merasa berputar-putar dalam rumah sakit besat ini. Ia tentu saja mengikuti arah yang tertera pada setiap papan di sepanjang jalan. ICU, belok kanan. Lily kembali berjalan. Ia berjalan terus hingga tak ada lagi penunjuk jalan terlihat di sekitar. “Haha, gue nyasar!” Lily terkekeh sendiri karena kebodohannya. “Lain kali gue harus bawa peta!” Lily berjalan ke setiap kamar yang ada untuk mengecek dan mengintip lewat kaca kecil di setiap pintu. Mungkin aja ruang ICU emang disini.Lily akhirnya berani masuk ke sebuah kamar berpintu kaca besar seperti ruang ICU pada umunya, namun yang ini terasa begitu sepi.
Tanpa membaca lagi nama ruangan tersebut, Lily mengetuk pintu sambil membuka kenopnya lalu menutupnya kembali agar terkesan sopan. “Ma..” Ucap Lily seraya berjalan lebih dalam. Ia hendak berkata ‘maaf mengganggu, saya sedang mencari Bapak Zaki’ sebelum ia tersadar kalau ini bukan kamar pasien maupun ruang ICU. Seluruh pasien di sini tertutup kain putih dan ada bandrol yang menggantung di setiap jempol kaki mereka. “MA-Mayaaaaaaaaaaaaaaat!!!” Pekik Lily melanjutkan perkataannya yang terhenti tadi. Tak butuh lama, Lily berusaha kabur dari kamar menakjubkan itu namun kakinya terasa berat dan menancap di tanah. Ia terlalu ketakutan hingga badannya terasa kaku. “Tolooong!” Lily akhirnya bisa menggerakkan kakinya lagi, tepat sesorang sudah berdiri di belakangnya.
“Kamu ngapain ke sini?” Entah siapapun itu yang jelas ketakutan Lily makin mejadi-jadi. Dari suaranya pastilah makhluk itu laki-laki. Lily memejamkan matanya dan mulai berdoa, ia memilih mengabaikan orang yang sedang berdiri di belakangnya itu. “Lil, Kamu ngapain kesini?” Lelaki itu menyentuh pundak Lily yang tegang.
Lily pun berhenti memajatkan doa dan memberanikan diri membuka mata dan melihat orang—semoga begitu—yang menyentuh pundaknya bukannya langsung menggigit lehernya. Ia langsung bersyukur pada Tuhan ketika tahu itu bukanlah hantu ataupun makhluk halus lainnya melainkan manusia. “Aku enggak tau ini kamar.….” Kata Lily masih belum dapat mengamati dengan jelas, namun ia terhenti karena kepalanya terasa berputar-putar tatkala ia menyadari lelaki itu adalah Zaki. “mayat..” Tambah Lily dengan suara lemah. Kok dia di sini??!
“Aku udah tau itu, tadi aku lihat kamu jalan mondar mandir di sini. Mau manggil Kamu tapi takut salah orang, takutnya Cuma bayangan aku doang.” Zaki menyusupkan tangannya ke dalam saku celana jeans yang ia pakai. Lily hendak berkata tapi Zaki malah menarik tangannya untuk segera keluar dari kamar yang terasa mencekam bagi Lily tersebut. Lily tak mengelak, ia pun merasa harus cepat keluar dari kamar mayat itu sebelum dirinya mati ketakutan. “Aku tau Kamu pasti enggak lihat label kamar ini. Padahal phobia sama mayat, eh main nyelonong aja. Hahaha. Masih tetep ceroboh!” Zaki merasa dirinya begitu terhibur dengan sosok Lily saat ini. Sejak semalam ia tak tidur dan moodnya amatlah buruk. Dasar malaikat bodoh, batinZaki tersenyum.
Lagi-lagi Lily merasa disepelekan. “Aku..” Ia ingin membela diri, tapi wajah Zaki yang congkak membuatnya membatalkan itu. “Jadi begini, bisa ceritain kenapa Riga tadi bilang ke aku kalo Kamu masuk rumah sakit, tapi sekarang? Lihat? Kamu sekarang lagi ketawa!”
“Aku?” Zaki menunjuk dirinya dan Lily mengangguk. “Haha, paling Kamu salah denger, aku lagi di rumah sakit, bukan masuk rumah sakit. Ckckck, masih umur berapa sih udah tuli begitu? Hahaha.” Ejeknya merasa kembali menang. Zaki memang menanyakan Lily pada Riga di kantor, karena ia belum berani menghubungi Lily langsung akibat pertengkaran mereka kemarin. “Oh, atau jangan-jangan saking khawatirnya Kamu sampe enggak fokus terus salah masuk ke kamar mayat ya?? Wah..wah..”
“Stop Zaki!!” Lily melotot. Ia benar-benar merasa malu. Mana bisa ia jadi terlihat tolol bagini, mana mungkin ia salah dengar! “Aku malah seneng tuh misal Kamu emang masuk rumah sakit! Pasti nyenengin banget kalo bisa kerja sama orang yang lebih baik hati, enggak suka ngetawain, enggak suka ngejek, terus…”
“Aku minta maaf.” Potong Zaki tiba-tiba. Ia menatap bola mata Lily dalam-dalam, mencari titik kesedihan yang ia anggap kesalahannya. Andai ia bisa lebih tegas mengenai perasaannya, andai ia lebih cepat mengetahui kenyataan sesungguhnya. Ia harap Lily tak lagi membencinya, karena sekarang Zaki tak dapat merasakan apa-apa lagi kecuali cinta yang ia kubur dalam-dalam kembali muncul ke permukaan setelah tahu selama ini mereka ditipu.
Lily kelihatan linglung karena perkataan Zaki barusan. Ia tak tahu keajaiban apa hingga lelaki di depannya berkata maaf seperti itu. “Oh, kemaren? Aku udah enggak inget lagi kok.” Lily membuang muka, mengantisipasi barangkali Zaki hanya bergurau.
“Bukan.” Kata Zaki cepat lalu menggeleng-geleng sendiri. Belum waktunya. “Itu apa?” Sambungnya tak menghiarukan Lily yang menunggu kelanjutan kalimatnya sambil menunjuk bingkisan yang Lily jinjing sejak tadi.
Lily mengikuti arah mata Zaki, teringat kalau tadi dia memang berniat menjenguk boss jahatnya ini dengan membawakan beberapa buah. “Kembang tabur,” Seloroh Lily. “Kali aja enggak sempet ngelihat kamu lagi jadi sekalian aja aku taburin ini di makam Kamu entar.”
“Haha, kelihatan banget bohongnya!” Zaki terkekeh. “Ikut aku deh,” Lagi-lagi Zaki menggeretnya ke tanpa permisi dulu.
“Kita mau kemana???” Lily berusaha melepaskan cengkraman tangan Zaki, namun kekuatannya tak ada apa-apanya.
“Nurut aja deh, lagian sayang juga kan itu buah kalo enggak jadi buat nyembuhin orang sakit?” Ujar Zaki tanpa menoleh. Beberapa orang termasuk para suster memperhatikan mereka berdua. Ada yang mengira mereka sedang bertengkar, ada yang mengira kalau mereka berdua sedang ikut acara reality show. “Nah, masuk.” Perintah Zaki ketika mereka sampai di sebuah kamar yang Lily pastikan kamar VIP. Lily tak berkata apa-apa ketika melihat papan nama yang bertuliskan nama ayah Zaki di pintunya.
Darwin? Lily rupanya masih mengingat nama itu. “Jadi yang sakit...” Kini ia sadar kalau Riga mungkin salah informasi, karena kenyataannya ayahnya lah yang dirawat di sini.
Wajah Zaki terlihat dipaksa tegar. “Udah, nanti Kamu tau sendiri.” Katanya tersenyum sambil membuka pintu agar Lily bisa masuk. Dan masuklah Lily ke dalam kamar, ternyata sudah ada Hera di dalam bersanma Darwin yang rupanya sudah siuman dan terlihat sedang mengobrol dengan Hera. Keadaan itu hanya semakin membuat Lily tegang. Tapi mending ketemu mereka dari pda ketemu mayat lagi hiiii! batinnya memotivasi diri.
Baik Hera maupun Darwin terlihat tak percaya dengan siapa yang datang bersama Zaki. “Loh?” Tanpa Hera sadari kata itu terlontar dari mulutnya. “Lil-Lily?”
Zaki rupanya faham apa yang sedang Hera fikirkan. “Lily ngira aku yang masuk rumah sakit,” Katanya mengalihkan ketegangan ibunya itu. “Kita keluar aja dulu Buk, biar si Lily bisa ngobrol sama Bapak dulu, katanya dia kangen udah lama enggak ketemu Bapak.” Zaki berbohong lalu dengan tanpa izin dahulu ia mengajak ibunya keluar kamar tersebut.
Dan entah apa yang Lily lakukan sejak tadi karena ia baru sadar kalau hanya tinggal ia dan Darwin di kamar ini. Bagus, Zaki nyelametin dari kamar mayat tapi gue tinggal di sini sendiri. Lily tak tahu harus berbuat apa lagi, dia pun memutuskan duduk di kursi yang Hera duduki tadi tepat berada di sebelah tempat tidur Darwin. “Bapak kok bisa masuk rumah sakit begini? Kenapa Pak?” Tanya Lily ramah.
Darwin sejak tadi hanya memperhatikan Lily yang telah lama ia tak lihat lagi. “Takdir.” Jawab Darwin singkat dan wajahnya terlihat kaku.
Lily bisa merasakan kalau Darwin bersikap dingin padanya. “Bapak mau Apel?”
“Enggak.” Jawab Darwin.
“Jeruk?”
“Enggak.”
“Terus maunya apa dong?”
“Kenyang!” Sentaknya membuat Lily bergidik ketakutan juga kaget, tapi tak lama Darwin terkekeh melihat keputusasaan Lily barusan. “Hmm..Udah lama tinggal di sini Lil?” Akhirnya ia menyerah untuk mengerjai Lily.
Darwin melihat wajah Lily kembali ceria, mungkin perubahan sifatnya membuat Lily kembali nyaman. Lily memang merasa bisa bernafas lega, karena rupanya orang tua ini masih suka humor seperti dulu. “Lumayan lah Pak, sekitar lima tahunan. “ ujarnya tersenyum. “Bapak kok enggak berubah sih? Pake jamu apa biar tetep seger begini Pak? Masih kelihatan muda lagi. Kasih tau dong Pak!” Candanya disambut tawa Darwin.
“Kamu ini bisa aja kalo ngarang, wong Bapak dirawat begini masa dibilang seger!” Ia masih terkekeh. “Kalo keriput iya!”
“Hahahaha.” Lily tergelak. “Tapi buktinya Bapak masih bisa ke Surabaya sama Ibu, tapi Bapak paliiing anti naik bis, berarti kan masih kuat nyetir segitu jauhnya, gimana enggak dibilang seger coba?” Ia tak mau kalah.
Darwin menegakkan tubuhnya sedikit. “Ah Kamu ini, bisa aja.” Senyumnya mengembang. “Udah nikah Kamu?” Tanyanya membuat Lily tertegun sejenak.
“Belum tuh Pak, masih happy sendiri.” Ia tersenyum getir.
“Hmmm...” Gumam Darwin seraya mengangguk-angguk. “Oh iya, Kamu tadi ke sini sama siapa?” Sebenarnya ia juga ingin tahu bagaimana bisa Lily bertemu dengan anaknya lagi di kota besar seperti ini.
 “Tadi si Riga..”
“Riga?!” Tiba-tiba alis Darwin terangkat tinggi, kepalanya tiba-tiba pusing. “Kamu kok bisa kenal Riga?” Kali ini Darwin tak terlihat bergurau lagi. “Tunggu, Riga anak Bandung itu?”
Lily mengangguk perlahan, ia baru sadar kalau Zaki pasti belum bercerita. “Oh, saya satu kantor sama Zaki Pak.” Katanya berhati-hati. “Saya asistennya.”
Pantes aja dia akhir-akhir ini banyak berubah. Darwin masih belum bisa menghilangkan sakit di kepalanya, tapi ia lebih penasaran. “Udah berapa lama kamu ngegantiin Seila?” Lagi-lagi Darwin bertanya, ia mulai bisa memahami situasinya.
“Hmm..Seingiet saya sih udah hampir dua bulan ini Pak kalo gak salah.” Ucap Lily masih sambil berfikir. “Zaki enggak cerita ya?” Gumamnya sendiri.
Sadarlah ia, kalau kini perbuatannya menuai dampak untuknya sendiri. “Enggak. Mungkin Belum.” Darwin menarik nafas berat. Ia memejamkan mata sedikit lama lalu baru membukanya. “Sebenernya bapak yang salah Lil,” Katanya bercerita. “Bapak terlalu keras maksain kehendak bapak ke Zaki selama ini, harusnya ya Bapak dengerin dulu penjelasan dia. Semalem dia tiba-tiba minta pernikahannya dibatalin gitu aja. Bapak marah lah, adu argumen. Terus bapak sadar-sadar udah di sini deh.” Kalimat terakhir disampaikan Darwin dengan santai. “Tapi Bapak emang udah tua, wajar lah kalo sering sakit.” Katanya sedikit bernada gurau, pun ia berharap Lily tak menyalahkan Zaki, anak satu-satunya yang ia banggakan.
Lily tak dapat percaya, Zaki pasti lah lebih merasa berat dari pada dirinya. Hatinya tak dapat menyangkal kalau ia juga bisa merasakan keterpurukan Zaki atas masalah ini. Butuh beberapa detik untuk Lily agar bisa menata kalimat yang ingin ia sampaikan. Ia tahu, dirinya belum lah sembuh apalagi semalam hatinya lagi-lagi diusik. “Mungkin Zaki juga ngerasa bersalah Pak. Saya tau banget gimana Zaki, emmm maksud saya perasaan dia ke Bapak sama Ibu.” Lily mengoreksi. “ Dia itu paling takut ngebikin Bapak kecewa, apa lagi sampe sakit begini. Mungkin kemarin dia lagi ada masalah, bisa jadi sama Vania juga. Tapi saya yakin, Zaki bisa nerima keputusan yang Bapak pilihin buat dia selama itu baik buat dia.” Lily bersyukur kalimatnya selesai tanpa ada air mata yang menggenang. Ia tak tahu berapa lapis daging yang menutupi hatinya yang tergores dan luka. Karena ketegaran yang ia buat terasa begitu nyata, walau sebenarnya itu hanya tipuan.
Darwin justru tersentuh. Bagaimana bisa ia dahulu tega memisahkan anaknya dengan perempuan lugu di sampingnya kini? Bagaimana ia tak tahu kalau perempuan inilah yang mampu membuat Zaki berani mengutarakan isinya seperti semalam? Bagaimana bisa selama ini kepentingannya mengalahkan kebahagiaan anaknya sendiri? “Kamu juga kenal Vania?” Dilihatnya Lily mengangguk dengan mulut terkatup. “Bapak minta maaf Lil.” Katanya pelan, sedikit malu. Lily tak tahu apa maksud Darwin dan memilih mendengarkan dahulu. “Bapak dulu jahat sama Kamu, Bapak yang nyuruh Ibu buat nipu Kalian. Bapak..”
“Pak..” Potong Lily. “Saya udah tau itu kok.” Ia terlalu muak mengingat ini. Ia toh sudah tahu semuanya, bahkan segalanya sangan jelas. Untuk apa lagi diungkit kalau itu hanya akan mengorek rasa pedih yang semakin dalam? “Saya bisa faham, tapi itu kan yang terbaik?” Lily menahan tenggorokannya yang mulai bergetar. Tidak, benteng pertahanannya harus kuat! “Itu udah lama banget Pak, enggak perlu minta maaf.” Lily tersenyum.
Banyak hal yang membuat Darwin terkejut hari ini. Ia tak mengerti mengapa ada orang setabah dan sesabar ini. Tak ada amarah sedikitpun yang tersirat dari cara pandang Lily padanya. “Tapi, andai Bapak enggak ngelakuin itu, mungkin Zaki lebih bahagia Lil.”
Lily menggeleng. “Dia jauh lebih bahagia sekarang Pak,” Katanya perih.
“Tapi Lil, Bapak..”
“Pak,” Lagi-lagi Lily tak mengizinkan orang tua ini melanjutkan. “Saya yang akan ngomong ke Zaki, dia pasti mau mikirin ini. Bapak enggak usah ikut pusing, biar saya nanti yang ngebujuk dia. Sebagai temen lamanya, dia mungkin mau dengerin saya kalo saya yang ngomong.” Darwin tak dapat berkata apa-apa. Perdebatan ini hanya membuat penyesalan baginya.  “Hmmm, saya kayaknya harus balik nih Pak. Temen kontrakan saya udah nungguin.” Ia terpaksa berbohong. Lily berdiri dari kursinya dan langsung meraih telapak tangan Darwin dan menciumnya. “Saya pamit dulu ya Pak, seneng bisa ketemu Bapak lagi.” Lily tersenyum dan langsung melangkah pergi.
“Lil!” Panggil Darwin ketika Lily hendak meraih gagang pintu, ia pun berhenti berjalan. “Makasih ya.” Katanya.
Lily mengangguk lalu keluar secepatnya. Lily buru-buru menyeka air matanya yang hampir saja menetes ke pipi. Gue gali kuburan gue sendiri. Ia berjalan sambil sedikit tertunduk lesu. Dilihatnya kursi tunggu yang terpajang di sepanjang koridor, matanya menangkap seseorang lelaki tidur di atas bangku dengan posisi miring. “Zaki?” Panggil Lily enggan. “Ki..” Panggilnya lagi namun lelaki itu masih tetap tidur. Terlihat sekali kalau Zaki sangat lelah karena ia tak tidur sejak semalam. Lily akhirnya berhenti membangunkan, ia malah membuka sweater yang ia kenakan dan meletakkannya ke tubuh Zaki. Setelah memperhatikan wajah Zaki, Lily pun memutuskan untuk pergi.
“Wah air susu dibales air tuba!” Lily berhenti berjalan dan memandang ke belakang untuk melihat siapa yang berkata demikian. Dilihatnya Zaki sudah bangun dan duduk walau wajahnya kusut. “Ckckck, udah diselametin dari kamar mayat balesannya Cuma gini doang?” Katanya sambil menatap sweater tipis Lily yang menyelimuti tubuhnya tadi, tapi walau begitu hingga detik ini Zaki tak melepasnya.
“Dasar pamrih!” Kata Lily tetap berdiri di tempatnya. “Udah lanjutin aja tidurnya.” Katanya sambil melangkah pergi lagi. Zaki lantas berlari mengejarnya dengan suara derap langkah yang lantang. “Apa lagi sih?!” Katanya tak senang dengan sikap Zaki yang seperti anak TK ini.
“Heh, aku ini masih boss Kamu. Jadi Kamu enggak berhak marah-marah ke aku.” Zaki memarahi. Lily menipiskan bibirnya, geram.
“Bentar lagi aku mau ngundurin diri kok.” Ujar Lily. “Aku enggak bisa kerja sama Kamu lagi.”
“Enggak bisa seenaknya gitu dong. Kontrak Kamu belum habis.” Zaki tak mau kalah. “Bilang aja ada orang yang maksa Kamu berhenti kerja di sekitar aku, ya kan?” Ia teringat amarahnya pada Vania tentang hal ini.
Lily tergagap. “Enggak!” Katanya. “Udahlah, aku mau pulang. Enggak ada lagi yang perlu aku lakuin kan?”
“Ada!” Potong Zaki. Lily melotot sebal.
“Hey!” Tiba-tiba Riga sudah berada di dekat mereka. “Ada apa nih?” Tanyanya heran melihat pemandangan sengit ini. “Perang dunia ketiga belum mulai kan?” Guraunya.
Lily memutar bola mata. “Bilangin ke temen Kamu ini, suruh dia kursus sopan santun.” Kata Lily pada Riga.
“Ouuuuh yeeeeaaahhhh?” Ledek Zaki.
“Hahahaha.” Riga terkekeh, ia sudah lama tak melihat gaya Zaki yang seperti itu.
Zaki menatap Riga dingin. “Lagian Lo kalo ngasih tau orang yang bener dong, Lo enggak tau apa ini orang udah nenek-nenek.” Tunjuknya pada Lily. “Dia hampir pinsan di kamar mayat gara-gara salah denger.”
“ Aku enggak salah denger!!” Lily membela diri.
“Yang bener?” Riga merasa bersalah. “Maaf ya Lil, emang salah aku, aku juga baru tau dari bagian kepegawaian, ternyata bukan Zaki yang izin karena sakit, ada anak bagian kita juga yang enggak masuk karena sakit, aku ngira itu Zaki. Hehehe.”
“Tuh kan?!” Lily menjulurkan lidah pada Zaki.
“Tapi kok kamu ke kamar mayat? Aku enggak salah bilang ICU deh?” tanya Riga heran.
Lily mengutuk dirinya yang bodoh karena Zaki sekarang menyeringai. “Hahahaha, dia ini nenek-nenek tuli plus buta arah bin ceroboh Ga, Lo harus tau! Hahahaha!” Zaki tertawa lepas.
“Iiiiihhh!” Lily mengepalkan tangannya, bersiap meninju.
“Apa? Mau mukul? Pukul nihhh!” Zaki mendekakan pipinya ke arah Lily. “Oh lupa, enggak nyampe ya? Mau aku ambilin kursi? Hahahaha.”
Riga memandangi mereka berdua dan tak sengaja dirinya menikmati kedekatan mereka berdua. Zaki kelihatan beda kalo gini. Sungguh, kalau ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia akan mengira mereka adalah teman akrab. Tapi kenyataannya  lebih. “Kamu mau iku aku ngejenguk ayah Zaki?” Tanya Riga.
“Oh, a-aku udah. Zaki yang ngajak tadi.” Lily terkaget, berusaha menyembunyikan agar Riga tak tahu kalau ia sudah lama mengenal orang itu. “Ini aku mau pulang.” Lily tersenyum ramah pada Riga, dan itu membuat Zaki geram.
“Kalo gitu aku anterin deh, aku nanti ngejenguknya bareng Vania aja.” Kata Riga tapi Lily terlihat bingung.
Zaki menegakkan tubuhnya. “Vania tadi udah ke sini kok Bro. Lo temenenin Bokap gue aja, gue ada perlu nih sama asisten gue. Nanti biar gue yang nganter dia.” Katanya menarik tangan Lily tanpa tunggu lama. Lily terhuyung-huyung tapi tak mengelak, ia melambaikan tangannya pada Riga yang sedang memandangi mereka yang menjauh. Vania, kenapa dia enggak ngabarin gue ya. Riga tertegun lalu melangkah menuju kamar Darwin dirawat.
***
“Lepasin, aku bisa jalan sendiri!” Pekik Lily menarik tangannya, tapi dari tadi tak ada tanda-tanda Zaki akan melepasnya. “Zaki!” Bentaknya.
“Jalan kemana? Ke kamar mayat lagi ha?” Zaki tak peduli petugas parkir rumah sakit yang memperhatikan mereka. Namun ketika matanya melihat api kemarahan di mata Lily, ia melunak. “Oke, aku bakal lepas, tapi Kamu masuk mobil dulu.”
Urat di leher Lily terlihat naik ke permukaan kulitnya. “Mau apa? Jangan maksa kalo aku enggak mau!”
“Aku bilang masuk ya masuk!” Teriak Zaki membuat Lily ternganga sekaligus kaget. Ia tak tahu kalau Zaki bisa menakutkan seperti itu. Tak butuh waktu lama bagi Lily untuk memutuskan, karena setelah Zaki menghentaknya seperti itu, ia pun langsung masuk—terburu-buru. “Haha, kalo digituin baru nurut.” Kata Zaki setelah duduk di kursi pengemudi. Dilihatnya Lily yang masih sedikit ketakutan, “Gaya itu biasanya aku pake kalo ngeinterogasi, tadi aku Cuma bercanda.” Ujarnya sedikit bersalah. “Kamu kaget? Takut?”
Lily menggeleng pelan. “Enggak.” Katanya berkilah singkat, jelas-jelas ia hampir mati berdiri karena suara Zaki tadi sangat keras dan kasar. “Mending cepet omongin apa yang Kamu pengen omongin.” Katanya sambil memandang keluar jendela.
“Hmm.” Zaki bergumam pelan. Ia tak tahu bagaimana memulainya dan mengatakannya. Sikap Lily yang seolah menolak segala upaya baiknya membuat Zaki putus asa. “Oke, tapi jangan di sini.” Zaki menyalakan mesin mobil.
“Mau kemana? Bapak Kamu kan lagi sakit, mending Kamu jagain dia aja!”
“Bentar doang.” Zaki mulai melesat.
Hanya sekitar dua puluh menit dari rumah sakit, Zaki dan Lily datang ke suatu tempat yang lumayan rindang. Banyak pepohonan yang menaungi tempat ini. Ada juga beberapa gazebo yang sengaja dibangun di  bawah-bawah pohon. “Mungkin enggak sama, tapi lumayan mirip kan?” Tanya Zaki ketika ia kembali pada Lily yang sedang menunggunya di parkiran. Tadi ia membeli tiket terlebih dahulu. Rupanya mereka pergi ke kebun raya yang letaknya tak jauh dari kontrakan Lily juga.
“Mirip apa?” Tanya Lily benar-benar tak tahu.
Zaki tersenyum. “Ikut aku.” Katanya lalu berjalan, membiarkan Lily mengekor di belakangnya. Zaki menyerahkan dua tiket berwarna hijau muda itu ke penjaga pintu masuk. “Inget tempat kita piknik pas hari sebelum aku pergi pendidikan?” Tanya Zaki, Lily hanya menatapnya dengan mata lebar. “Aku sering ke sini buat sekadar nginget tempat itu.”
“Buat apa sih, enggak penting.”
“Mungkin bagi Kamu,” Zaki tersenyum. Mereka berjalan ke jembatan berhias tanaman menjalar yang dibawahnya terdapat sungai kecil mengalir. Zaki berhenti di atas jembatan dan bersandar di salah satu tiangnya, sedangkan Lily memilih menempel pada pagarnya. Tak ada kata sedikitpun terdengar dari bibir Lily kala ada dua burung tiba-tiba lalu berdiri saling berdekatan di pagar jembatan itu. “Hushh!” Usir Zaki membuat sepasang burung itu langsung terbang.
“Ih tega banget!” Kata Lily melotot.
Zaki lantas menatap Lily dengan seksama. “Mereka di sini enggak bayar.” Canda Zaki tapi Lily tetap tak dapat menghilangkan kejutekkannya. “Oh iya, ngomong-ngomong surat itu masih di Kamu?”
“Surat?” Ulang Lily. Tak lama ia ingat, “Ohhhh...itu...” Lily berusaha mengarang. “Aku lupa, aku buang kali!”
“That’s not your style, setiap tulisan bagi Kamu itu karya.” Lagi-lagi Zaki hanya menyulut emosi Lily. “Aku nulis itu waktu ketemu Kamu lagi, sebenernya Cuma sekadar puisi doang sih, tapi lama-lama aku pengen ngasih itu ke Kamu setelah tau kalo kita berdua ditipu, Diana yang cerita ke aku kalo Kamu dapet undangan.” Ia berhenti sejenak. “Aku enggak tau Vania tega ngasih itu ke Kamu dan ngedatengin ke Kamu semalem. Aku minta maaf Lil.”
“Dan itu artinya Kamu emang enggak ada niat ngasih tau aku tentang ini kan? Thats the fact Zaki.” Lily memutar bola matanya. “So many things had been changed, termasuk aku!” Katanya memebela diri, Zaki hanya dapat mengulum senyum. “Dan kalo Cuma itu yang pengen Kamu omongin, i will go home now.” Entah ejaannya benar apa salah, fikir Lily kesal. Ia menarik nafas dengan kasar dan bersiap pergi dari sana secepatnya.
“Lil..” Kata Zaki pelan. “Aku udah enggak bisa mikir hal lain lagi selain masalah ini. Aku kira mending aku omongin ini ke Kamu sekarang juga.” Lily mendengarkan. “Aku enggak bisa lagi nahan perasaan ini, aku udah enggak bisa bohongin diri aku lagi Lil, karena kenyataannya aku cinta, aku masih cinta Kamu Lil. Dan aku mau mulai semuanya dari awal lagi sama Kamu.”
Read More..