LILY
Aroma ini sama seperti aroma beberapa tahun silam. Manis dan menggiurkan. Membuatku terpejam ketika melalui lelaki yang kini telah berada di luar ruangan ini. Kepalaku terlalu pusing untuk menatap sekeliling akibat parfum yang ku cium barusan. Aku sama sekali tak bisa menghilangkan aromanya yang kini menguap di dalam paru-paruku. Aku terlalu sakit untuk menolak fakta kalau ini bukan wangi miliknya. Aku tahu ia bukan satu-satunya pemilik parfum beraroma manis seperti ini. Tapi seperti terkena sebuah komando, seluruh organ tubuhku menerima sinyal untuk mengangkut serpihan-serpihan kenangan itu ke otak dan memutarnya kembali. Sudah ku coba membuat komando ulang, berhenti! Tapi mereka semua enggan dan terus menerus memutar sebuah film di otakku. Aku menahan nafas, berharap mereka semua tahu kalau aku adalah komandan sebenarnya pada tubuh ini, tapi tak bisa. Sekelebat kenangan pun membuatku terhanyut ke beberapa tahun lalu...
***
Aku tak pernah menduga ini hari adalah hari yang tak akan ku lupakan. Aku selalu berharap kalau seluruh hariku memang hari yang tak akan terlupakan dan siapa tahu aku bisa menulisnya ke dalam buku. Aku terlalu senang untuk penasaran pada hari ini. Apa yang akan ia lakukan? Apa ia akan menyiapkan sebuah meja lengkap dengan dua kursi, dimana di atas mejanya ada makanan yang enak. Piring-piring cantik berpinggiran emas dan sendok garpunya berukiran bunga-bunga indah. Gelasnya bertangkai panjang dan berdiri di antara buah-buahan, anggur, jeruk, juga sedikit apel. Bukannya ingin ku makan tapi aku pasti hanya memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
Saat itu umurku masih dua puluh tahun. Tak terlalu tua untuk merasakan jatuh cinta, apa lagi jatuh cinta pada kekasih sendiri. Aku menarik nafas beberapa kali saat tiba di hamparan rumput hijau yang berhias pohon-pohon besar. Aku mengintai setiap arah, berusaha mendapatkan bayangan Zaki yang pasti telah menungguku. Tapi nyatanya kosong, tak ada seseorang telah kesini karena alang-alangnya belum rusak terinjak. Aku lantas berjalan gontai seraya menyeberangi lautan ilalang, dia sepertinya terlambat. Tak apa, aku bisa memahaminya. Aku menyandarkan kepalaku di sebuah pohon yang tak terlalu besar tapi rindang. Ku lempar tas selempang ke samping.
Menit-menit berlalu dan hanya menyisakan suara riuh daun-daun yang bergesekkan karena angin. Tak sengaja mataku menatap semut-semut yang berjalan bersama-sama, sepertinya mereka ingin berdemo pada sang Presiden. Musim hujan telah merobohkan rumah-rumah yang mereka bangun di dalam tanah di bawah pohon. Pasti beberapa semut itu juga banyak yang kehilangan keluarganya. Kasihan sekali. “Tumben enggak telat?” Suara itu membuyarkan kontak batinku dengan kerajaan semut. Kakiku ku lipat dan sekarang aku duduk bersila. “Biasanya kan aku yang nunggu di sini.” Kata Zaki duduk di sebelahku. Aku tak menggubrisnya. Ku henyakkan lagi tubuhku ke batang pohon. Sebenarnya aku kecewa karena hari ini berarti tak akan ada yang spesial, hanya seperti bisanya untuk menikmati senja dan matahari yang tenggelam. Tapi aku terlalu berharap akan ada hal romantis seperti di FTV yang sering ku tonton. “Ciyee ngambek!” ledeknya mencubit pahaku. Aku masih bergeming. Zaki lantas membuka ranselnya dan mengeluarkan seluruh isinya.
Aku tahu itu botol cola yang besar. Juga beberapa roti tawar yang wanginya menghajar hidungku hingga tiba-tiba aku merasakan lapar. Zaki juga mengeluarkan dua botol selai, coklat dan kacang seraya bersamaan. Tak lama ia juga mengeluarkan beberapa botol air mineral juga tissue. Aku masih bingung menatap seluruh makanan yang ia bawa. “Nyolong kulkas ibu Kamu ya?” tanyaku tapi hanya dapat jawaban senyum simpulnya. Zaki membeber kain biru putih kotak-kotak yang mirip seperti kotak catur selebar empat meter persegi. Ia mengeluarkan selada, keju dan mayonese. “Oh ya ampun, Kamu ngapain sih?!” aku benar-benar penasaran.
Tapi Zaki hanya memberikan senyuman khasnya, siapapun melihatnya pasti terpesona! Aku masih tak menyangka bagaimana bisa kami sudah berpacaran dua tahun tapi setiap aku menatap mukanya jantungku berdentum-dentum tak karuan seperti anak ABG yang masih pendekatan! “Katanya pengen piknik?” sergahnya ketika aku memasang tampang ‘YA UDAH KALO ENGGAK MAU NGASIH TAU, GUE ENGGAK PEDULI!’ beberapa saat kemudian. “Kan aku mau nepatin janji aja.” Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum yang mampu melumpuhkan kedua lututku. Lumer!
“Piknik? Di sini? Ini hutan!” protesku dan Zaki mengangguk setuju. Ia bahkan mengangguk sangat kencang hingga aku takut kepalanya lepas. Ku tatap sekali lagi benda-benda atau lebih tepatnya makanan yang kini ia tata di atas sprei. Setiap warna yang bertumpuk di dalam lapisan roti itu, membuatku mabuk dan keroncongan. “Aku laper banget.” Gumamku ketika Zaki masih sibuk membuat sandwich.
“Makanan siap!” katanya keras sekali membuatku terkekeh. Ia mengambil Dettol hand sanitizer ke telapak tanganku. Aku langsung menggosok-gosok kedua telapak tanganku hingga kering. “Ini buat kamu,” lanjutnya memberiku sandwich berukuran besar. Aku tergelak karena kesusahan menggigit rotinya. Air mataku hampir tumpah ketika menyadari ini lebih manis dari pada candle light dinner.
“Kenapa kamu tiba-tiba so sweet gini?”
Zaki berkedip. Menahan rahangnya rapat. Butuh ketekunan untuk membujuk Zaki bercerita. Apa lagi kalau masalah rumah dan keluarganya, ia akan sangat tertutup. Ia adalah pribadi misterius.
“Kenapa?” tanyaku. Kali lebih serius. Aku hanya ingin memastikan tak ada apa-apa, aku terlalu sering menonton drama korea Boys Before Flower, ada adegan si Geum Jan Di mengajak Goo Joon Pyo piknik sebelum akhirnya ia meninggalkan Joon Pyo. Itu tragis, membuatku menangis setiap menonton adegan itu. Tapi lagi-lagi Zaki seperti enggan berkata apapun. Ia tak seperti biasanya, walau kami sudah lama tak bertemu, kurang lebih dua bulanan, tak mungkin ia berubah sikap secepat itu. “Oke, aku minta maaf sebelumnya.” Pancingku. Barangkali ia memang berniat meninggalkanku karena masalah dua bulan yang lalu. Zaki terlalu misterius, harus ku ingat ia adalah Playboy sebelum denganku dulu. tapi tak mungkin selama dua tahun ini sifat Playboynya masih ada dalam dirinya. Semoga saja ia tak berniat meninggalkanku.
Dua bulan yang lalu, tepatnya bulan Maret. Aku tahu aku yang salah, aku tak terlalu memperhatikannya karena pekerjaan dan tugas kuliah yang menumpuk. Itu memang resiko yang ku tanggung karena memutuskan kuliah sambil kerja setelah lulus SMA. Sayangnya pekerjaanku bukan part time, karena aku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan, aku malah mengambil kuliah sabtu dan minggu. Tak ada hari libur bagiku. Aku bahkan tak mampu menelpon Zaki setelah beberapa bulan menjalani rutinitas kerja dan kuliah, karena tak sempat juga gengsiku. Ditambah lagi aku sering meninggalkan dirinya tidur lebih dulu saat kami SMS-an. Ia pasti merasa ditinggal, itu lah mengapa sebabnya ia memilih mendiamkanku hingga dua bulan.
Aku bodoh karena tak langsung meminta maaf dan memperbaiki jarak yang semakin jauh di antara kami. Ia hanya butuh perhatian. Aku tahu keluarganya sedang ada masalah, orang tuanya. Harusnya aku ada walau sekadar menghibur lewat telepon, harusnya aku mengerti kalau ia hanya ingin aku, harusnya aku tahu ia lebih sering mengalah pada perasaannya demi aku, harusnya aku bisa membalas sikapnya yang begitu peduli padaku. Bodoh. Hingga kini rasa penyesalan menghantuiku.
“Enggak usah minta maaf, enggak usah bahas itu lagi.” Jawabnya. Ku fikir aku salah omong lagi karena nada bicaranya meninggi. Tapi ternyata tidak karena Zaki sekarang menggenggam jemariku seraya tersenyum, menautkannya bersama jari-jarinya yang tak lebih kokoh dan hangat. “Yang lalu biar lah berlalu.” Senyumnya mengembang. Membangkitkan gejolak dalam dadaku untuk bangkit dan menciumnya dalam-dalam.
Aku tak mungkin melakukan itu. Aku bukan tipe agresif, tentu saja. “Terus kenapa? Aku kan penasaran kenapa kamu gini, ini manis banget! Kalau bukan hal spesial, pasti enggak mungkin deh.” Ku balas genggaman tangannya lebih erat. Aku meletakkan kepalaku ke bahunya perlahan, begitu nyaman saat ia merendahkan tubuhnya agar aku bisa leluasa menyandar.
Dan lagi-lagi Zaki masih mengulur-ulur waktu. Tapi aku suka. Ia selalu berhasil membuatku penasaran. “Aku besok berangkat,” suara Zaki terdengar parau. Aku tercekat dan kini terduduk tegak, rasanya seperti baru saja terjatuh dari lantai sepuluh.
“Apa?” sebenernya bukan kata itu yang harus keluar.
Zaki kini memutar kakiku yang bersila hingga kami saling berhadapan. Itu mudah baginya karena ia memang kuat. “Kamu inget kan, aku bakal pendidikan.”
Oh!
“Kemana?” tanyaku cemas. Aku memang sudah tahu kalau cepat atau lambat ia akan berangkat pendidikan, tapi aku belum siap. Tapi ia bilang besok? “Kemana?!” Aku berharap ia tak menyebutkan kota lain selain Malang.
Bukan Zaki kalau senyumannya tak bisa membuatku tenang. Ia seperti sudah mengenal jin yang ada dalam tubuhku ketimbang aku. Ia bahkan tahu bagaimana mengontrol emosiku daripada aku sendiri. “Bali,” jawabnya singkat. Aku terhenyak, mataku tiba-tiba terasa basah dan pandanganku kabur, mengantarkanku ke waktu yang lebih lama.
Saat itu kami telah dinyatakan lulus dari SMA oleh pihak sekolah. Semua temanku sudah sibuk mendaftar kuliah bahkan ada yang sudah melamar kerja. Semua kecuali aku dan Zaki. Tapi ku bilang pada Zaki, kalau aku sangat berharap memiliki pendamping seorang yang bekerja untuk mengabdi pada Negara, seperti Polisi dan Tentara. Aku sangat tergila-gila pada kedisiplinan mereka. Mereka mempunyai tubuh yang segar dan kuat, juga tegap. Bagiku itu keren, apa lagi mereka tak akan memanjangkan rambut mereka lebih dari dua senti, hal yang paling ku suka.
Jadi tak lama kemudian Zaki memutuskan mendaftar menjadi Polisi dan dia dapat dukungan penuh dari orang tuanya juga aku. Tak ku sangka, waktu begitu cepat berlalu. Aku baru menyadari kalau aku telah bekerja sampir setengah tahun, dan ia harus menganggur menungu hasil tes demi tes yang memakan waktu selama itu juga. Aku kini faham, andai aku di posisinya, pasti aku juga akan jengkel. Ia bahkan tak ada teman untuk sekadar mengusir bosan karena teman-temannya sibuk kuliah juga. Apa yang aku lakukan? Mengapa aku begitu tolol membiarkannya kesepian. Tapi semua rasa sesal itu kini hanya menjadi abu yang tertiup angin. Terlambat untuk menyesal karena waktuku telah habis.
Ku rasakan kepalaku diusap pelan oleh tangan Zaki yang lembut. Ia menata rambutku hingga berjejer di punggungku yang begitu lunglai. “Hey, kok nangis sih? Kan ini juga keinginan Kamu toh?” ia mendekatkan kepalanya ke wajahku seperti hendak menyudul bola. Kini kening kami saling menempel. Aku tak bisa menjawab, air mataku tumpah lebih banyak. Itu sangat membuatku tambah menyesali semuanya. Hatiku terasa sesak untuk menahan air mata. “Lily sayaang,” godanya berusaha menghentikan air mataku. Ia menyeka air mataku yang kini jatuh ke pipinya.
“Apa aku boleh minta kamu buat jangan pergi?” tapi itu tak terdengar seperti itu. Yang keluar hanyalah suara tak jelas karena tenggorokanku perih akibat menangis. “affhh aughh bowh minffh kahu bat jan pegi?” suaraku terdengar seperti suara monyet ya kan?
Sungguh Zaki memang ditakdirkan untuk diriku. Ia bahkan mengangguk-angguk, seakan ia bisa menerjemahkan bahasa monyetku barusan. “Ini juga kan buat kita, enggak mungkin aku terus-terusan nganggur toh? Kapan aku bisa ngelamar kamu kalo aku kere?” dan itu sukses membuatku tersenyum lebar. Aku hampir tak bisa menahan diri tuk mencium pipnya yang basah karena air mataku mengalir ke sana. “Gitu kan cantik!” ia menarik kepalaku dan kalian pasti tahu apa yang terjadi. Hahaha.
Oke-oke, aku jelaskan. Jadia saat ia menarik kelapaku, tangannya menyentuh kedua daun telingaku yang menimbulkan rasa geli yang nyaman. Secara tak sadar aku begitu saja memejamkan mataku. Ku rasakan bibirnya menempel di bibirku yang begitu terasa kering akibat menangis tadi, ia mengecup bibirku dengan lembut, seperti memakan kembang gula yang gampang susut. Aroma parfumnya juga sama lembutnya, parfum khasnya begitu lembut hingga membuatku menyentuh pipinya hingga lenganku melingkar di lehernya, seolah tak ingin membiarkannya menyudahi ini. "Selamat ulang tahun Sayang..." bisiknya lirih di telingaku.
Aku tersenyum getir. Bagaimana aku lupa kalau hari ini aku genap berumur 20 tahun! "Kamu kado perpisahan? Manis banget ya.." Kataku masih sama getirnya.
Zaki terkekeh dan mendekapku lebih erat. "Selamat ulang tahun..Lily ku sayang..." Ia mulai melantunkan lagu ulang tahun versinya dan membuatku semakin terbawa suasana haru. "Selamat ulang tahun dan kesepian....semoga sejahtera jangan selingkuuuhh...Selamat ulang tahun dan berbahagia...."
"Haha! Dasar geblek."
***
“Lil?”
Aku mengutuk otakku yang tega-teganya membuatku seperti ayam linglung. Melongo di hadapan orang yang bahkan belum pernah bertemu denganku sebelumnya, membuatku terlihat tolol. “Iya Pak?” aku harap ia belum bercerita panjang lebar karena aku tak tahu sudah berapa menit aku terlihat bodoh karena melamun barusan.
Pak Gatot tersenyum. “Kamu asli mana?” tanyanya.
“Sumatra Pak!” jawabku semangat. Mengusir murung akibat lamunan tadi. “Palembang.” Tambahku.
“Waah, bisa bikin pempek dong?” ia makin terlihat sumringah. Aku mengerti maksud lelaki tua ini. Itu artinya kapan-kapan ia ingin aku membuatkan dirinya pempek yang mana aku masih belum tergiur membuat di kontrakkan. Biasanya aku membuatnya bersama ibuku.
Aku mengangguk, tersenyum getir karena memahami maksud semua ini.
“Anak saya juga nikah sama orang Palembang, tapi karena menantu saya udah lama enggak ke Palembang, dia jadi enggak bisa bikin pempek.”
“Saya janji deh, kalo saya bikin, Bapak pasti aku kasih!” aku terpaksa berkata begitu karena tak kuasa melihat raut muka pak Gatot seperti orang putus asa. Aku saja tak terlalu hobi makan itu, mengapa dia terlihat sangat suka. Lagi pula kan ia bisa membeli di restoran yang rasanya tak kalah enak buatan asli orang Palembang.
Kami mengobrol panjang pagi itu. Ia menceritakan kalau masa kecilnya dulu pernah merantau ke Sumatra, Bandar Lampung hingga Palembang. Ia bilang belum bisa melupakan suasana di sana hingga saat ini. Sayangnya ia tak mungkin ke sana lagi karena itu bukan tempat lahirnya, dulu ia ikut temannya karena penasaran. Waw, itu rasa penasaran yang keren hingga bisa menyebrang pulau di umur belasan tahun.
“Kamu sudah tahu kerjaan kamu nanti?”
Aku melirik tasku yang ku letakkan di kursi kosong di sebelahku hanya umtuk meyakinkan diriku lagi, aku tahu sulit bagiku menerima pekerjaan sebagai freelance, tapi dari pada menganggur, ini jauh lebih baik. “Asisten?” tanyaku ragu. Aku harap pak Rudi tak memberi info yang keliru kemarin. Sangat tak lucu kalau ternyata aku bekerja di bagian cleaning service nyatanya kan?
Ia tersenyum. “Bisa dibilang partner,” tambahnya. Lalu sepertinya ia menangkap tanda tanya di wajahku karena ia langsung menjelaskan dengan siapa aku bekerja nanti. “Tadi, lelaki yang barusan keluar tadi, dia itu detektif.” Tuturnya. Aku merasa ada yang tak beres dengan tatapan pak Gatot kali ini. “Dia agak susah akrab sama orang, dia enggak suka basa-basi, tapi santai aja, dia baik kok, Cuma jarang ngomong.”
Deg!
Selalu saja otakku ini lebih cepat bereaksi ketimbang diriku sendiri. Fikiran negatif tentang siapa sosok lelaki itu mulai memenuhi seluruh ruangan. Bagaimana bayang-bayang kalau nanti ia akan bersikap ‘galak’ dan senang memerintah. Bagaimana kalau dia diktator dan senang memukuli orang, termasuk aku jika membuat kesalahan. Karena aku adalah orang yang ceroboh, yang biasanya membuat kesalahan sepele hingga fatal.
Aku ingin sekali dapat kesempatan sekali saja untuk memilih dengan siapa aku bekerja nanti. aku pasti akan memilih lelaki yang tadi mengantarku ke ruang ini—oh iya namanya Riga. Tapi itu mustahil, mengingat aku bisa bekerja lantaran lelaki yang barusan melewatiku. Yah, setidaknya aku harusnya berterima kasih. “Selamat bergabung!” kata pak Gatot kala aku menjabat tangannya untuk keluar dari sini. Itu artinya setelah ini aku harus memperkenalkan diri kepadanya.
“Nama dia siapa Pak?” tanyaku setengah iseng. Aku tentu harus tetap berkenalan walau telah tahu nama lengkap orang itu.
“Nani kamu tahu kok.” Kata Pak Gatot dan aku pun tak dapat protes. Ku buang langkahku jauh-jauh. Menutup pintu pak Gatot perlahan agar terkesan sopan dan lembut.
“Gimana?” Aku hampir meloncat karena seseorang telah berdiri di belakangku. Aku menyesal karena selama menganggur aku mengkonsumsi DVD di rumah yang bercerita tentang Vempir, karena sekarang aku curiga kalau Riga ini juga vampir. Ku tarik nafasku dan berharap semoga jantungku benar-benar masih kuat karena barusan rasanya seperti lepas. “Kaget ya? Maaf ya..”
Aku menggeleng-geleng. Well, sebenarnya aku saja yang sedikit kagetan. “Lily, Nama saya Lily.” Sambungku karena ia masih bingung mengakhiri kalimatnya barusan.
Dia tersenyum. Menampilkan gigi-gigi putih yang cemerlang. Mungkin waktu kecil ia sering ikut lomba sikat gigi yang baik dan benar sekecamatan. “Oh, selamat bergabung ya!” katanya mengulurkan tangan. Dua kali aku mendapat kata selamat bergabung dalam hari ini. Aku hanya bisa mengira-ngira calon partnerku nanti akan berkata seperti itu juga. Aku memanggut-manggut seraya tersenyum palsu, karena jelas dalam fikiranku aku sama sekali belum yakin bisa bergabung. Mereka terlihat cerdas dan keren dan kuat dan tangguh. Kebanyakan sih terlihat sudah berkeluarga, tapi tetap saja mereka terlihat keren. “Kamu mulai kerja hari ini?” dan aku lagi-lagi mengangguk! Aku masih bingung menggunakan kata yang cocok dengan lelaki—tampan—di hadapanku ini. Seingatku tadi pagi kami memakai kata ‘Saya’ dan ‘Mbak’ deh, lalu dia sekarang memanggilku ‘Kamu’? “Ayok kita ngopi dulu, toh bos baru kamu masih keluar. Oh iya, kalian udah kenalan?”
“Belum.” Singkat padat dan berisi. “Tapi tadi kita udah ketemu kok, yah bisa dibilang papasan saja.”
Riga kali ini mengangguk-angguk. “Mau enggak?” rupanya ia masih bersikeras mengajakku minum kopi. Tanpa fikir panjang aku bilang mau dan berharap bisa lebih tahu tentang polisi yang akan jadi bosku itu.
Riga memesan dua cangkir kopi beserta roti isi yang katanya lumayan enak di kantin kantor ini. Ku fikir mereka memang sengaja membuat kantin agar para polisi di sini tak perlu bingung mencari makan tapi lihat saja, ini jelas-jelas kafe, bukan hanya kantin. Pastinya menu di sini juga bukan seperti menu warteg dan lumayan menggaruk isi dompet. Kafe ini lumayan cantik karena temboknya hampir terbuat dari kaca semua. Memungkinkan bagi kami untuk melihat ke dalam kantor sekaligus. Mungkin yang merancang adalah seorang polisi yang malas duduk dalam kantor sehingga ia dapat mengantor di kafe.
“Biar aku tebak, umur kamu pasti 23!” katanya membuka pembicaraan. Waw, itu sama sekali tak meleset tapi justru membuatku terkekeh dan berhenti meniup kepulan asap di atas cangkir kopi. “Kok ketawa? Salah ya?”
Aku menggeleng. “Bener kok, cuma lucu aja, langsung ke umur, biasanya kan nanya alamat, asal, pekerjaan sebelumnya apa, baru deh umur.” Tuturku masih menahan senyuman agar tak lebih lebar lagi.
Riga pun kali ini terkekeh. “Kan polisi kalo mengidentifikasi korban langsung ke jenis kelamin sama umur.” Candanya. Aku masih terkekeh. “Oke deh, aku ikut umum aja. Rumah kamu dimana?”
Dan setelah itu kami mulai saling mengenal. Ia menceritakan tentang keTak butuh lama untukku akrab dengan pria satu ini, ia pribadi yang ramah dan humoris ternyata, pribadi yang aku suka tentunya. Sebelum kembali ke ruang kerja, ia meminta nomor ponselku. Dan lucunya ia menuliskan nomornya di ponselku juga. “Siapa tahu butuh!” katanya menjelaskan tanpa ku tanya. Haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar