“Pagi..”
Lily mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa yang baru saja menyapanya. paru-parunya terasa mengembung kala melihat Zaki sedang tersenyum manis padanya, bak matahari bersinar di pagi tadi. “Pa..Pagi..” Balas Lily tergagap. Tumben? Ini bukan hari terakhir dia kan kok baik begini? “Oh iya, ini surat dari Rumah Sakit Prasetya Husada.” Lily mengulurkan surat itu pada Zaki. Ia memperhatikan Zaki yang langsung membaca surat itu di hadapannya. “Ada apa?” Tanya Lily ketika melihat Zaki mengangkat alisnya seraya menatap surat itu.
“Ini udah diurus bagian administrasi?” Tanya Zaki balik.
Lily menggeleng. “Mereka bilang Kamu harus baca dulu baru setelah itu konfirmasi ke mereka.”
“Oke kalo gitu tolong bikinin surat tugas untuk timku, terus minta stempel ke bagian administrasi, habis itu kita ke sana.”
Apa enggak salah denger nih? Dia bilang tolong?? “Kemana?” Tanya Lily lagi sambil bersiap-siap menutup telinga karena Zaki pasti akan membentaknya karena terus menerus bertanya.
“Ke sana Lily, it’s our new case.” Zaki tersenyum lalu berjalan ke ruangannya membuat Lily mengerjap-ngerjap.
Enggak ada bentakan dan dia tadi senyum?! Ya ampun ini pasti hari keberuntungan gue!
Lily berjalan ke arah Riga yang baru saja datang dan sedang meletakkan tasnya di meja. “Ga coba cubit aku deh.” Riga mengernyit namun tetap melaksanakan permintaan Lily. ia lalu mencubit pipi Lily dengan gemas. “AWWW!!!” Pekik Lily kesakitan karena cubitan Riga ternyata lumayan pedas. Ia sendiri lupa kalau kemungkinan besar polisi dilatih bukan untuk mencubit kulit, tapi merobeknya.
“Lagian ada apa sih?” Tanya Riga penasaran. Ia duduk di kursinya sambil terkekeh. “Pagi-pagi udah bikin orang ngakak aja hahaha.”
Lily memasang wajah pura-pura ketus namun hanya menambah Riga tertawa. “Cuma ngecek ini nyata apa mimpi doang kok.” ujar Lily sambil mengelus pipinya dan kembali ke mejanya. Ia menatap cermin dan memperhatikan bayangan wajahnya yang merah merona, bukan dari blush on tentunya. Lily mengedit sedikit draft surat tugas lalu mencetakknya dua rangkap untuk dibawa ke bagian administrasi. Ia menjulurkan lidah ketika melewati meja Riga yang masih meledeknya dengan menunjuk pipi Lily.
“Udah siap?” Tanya Zaki setelah Lily masuk ke ruangannya untuk memeberikan surat tugas yang selesai ia buat. Lily lalu mengangguk cepat tanpa berkata apa-apa. Ia langsung menyusul Zaki yang berjalan perlahan tak seperti biasanya.
“Tunggu!” Teriak Riga membuat polisi lainnya menoleh. “Aku ikut kalian.”
Alis kiri Zaki terangkat. “Bareng?” Tanya Zaki enggan. Riga mengangguk kencang dan langsung merangkul Lily yang terlihat pegal karena mendongak melihat dirinya dan Zaki yang lebih tinggi. “Biar aku aja yang nyetir, Kamu duduk di sana aja.” Perintah Riga pada Lily yang hendak duduk di bangku kemudi. Lily tersenyum lalu duduk di sebelah bangku kemudi, tak menyadari Zaki sedang memperhatikan ‘drama’ ini dengan tangan terkepal dan belum masuk mobil juga.
“Gue aja yang nyetir.” Zaki membuka pintu kasar, ia tak akan tahan melihat Lily duduk bersebelahan dengan Riga dari belakang.
Riga tak mendebat dan langsung keluar untuk pindah ke jok belakang. Ia sekilas tersenyum teringat curhatan Vania tentang Zaki semalam. Andai Lo semalem liat Vania nangis karena ulah Lo itu. “Lil, zodiac Kamu apa?”
Lily menoleh ke belakang untuk melihat wajah Riga. “Leo, kenapa?”
Riga mengangguk-angguk seraya menatap layar ponselnya. Ia membaca ramalan di internet untuk mengusir rasa bosan yang menghampiri karena sejak tadi hanya ada hening. “Leo itu kuat dan punya daya tarik sendiri. Cewek Leo biasanya banyak yang suka karena cara bergaul mereka yang simple. Mereka dikenal banyak gebetan dan sering gonta-ganti pasangan. Tapi kalo udah nemuin seseorang yang pas, Leo enggak akan ngelepasin orang itu.”
“Hahaha masih percaya ramalan kaya gitu?” Lily menutup mulutnya agar berhenti tertawa. Riga mengangkat bahu seraya tertawa. “Cewek Leo kek, cewek Gemini kek, semuanya tergantung kepribadian juga kan?” Lily memperhatikan Zaki yang fokus menyetir dan tak berkata sedikitpun.
“Haha iya juga sih,” Riga menggaruk kepalanya. “Kalo Zaki cuti Kamu tetep ke kantor Lil?” Lily terlihat tak faham. “Kan bentar lagi Zaki bakal cuti tuh, jadi dari pada Kamu bengong di kantor, mendingan aku pinjem Kamu jadi asisten aku.” Kelakar Riga. Ia memperhatikan wajah Zaki yang resah dari spion dan hatinya seketika merasa senang.
“Cuti?” Tanya Lily.
“Iya, Bentar lagi bos kamu itu kan mau nikah Lil.”
GREEEKKKKKHHH!!!
Zaki tiba-tiba menarik rem tangan hingga membuat Lily hampir terjungkal. Beruntung di belakang mereka tak ada kendaraan lain.“Sok tau Lo!” koreksi Zaki kesal. Ia memejamkan mata sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam lalu melajukan mobil dengan cepat.
Riga terkekeh, pura-pura tak tahu Zaki mulai tak suka dengan pembicaraan ini. “Yee bukannya Bokap Lo sendiri yang bilang gitu semalem?” Rahang Zaki terlihat semakin keras karena menahan emosinya. Untuk apa juga Riga membahas ini di dekat Lily?! “Lil? Kok diem aja?”
“Eh?” Lily tersadar dari lamunannya. “O..oh…Iya tetep masuk dong!” pekiknya dipaksa walau sedikit tak nyambung, setidaknya suaranya terdengar riang hingga tak kentara kalau hatinya kacau. Pernikahan. Kabar pernikahan dari orang yang ia kenal selalu membuat Lily ikut bahagia, namun kali ini ia berharap dirinya tadi tiba-tiba tuli hingga tak perlu mendengar kabar itu. Pelan-pelan, Lily memejamkan mata seraya mengehenyakkan tubuh di sandaran.
“Ini jelas sindikat perampok itu.” Seloroh Riga. Ia mengecek hasil foto-foto dari TKP. Rumah sakit itu beru saja dirampok dan kehilangan beberapa alat-alat kesehatan berharga yang diimpor dari luar negeri. Dua brankas pun mereka jebol dan berhasil membawa uang ratusan juta rupiah, beruntung beberapa dokumen penting luput dari aksi mereka yang diperkirakan berjumlah 6 orang.
Zaki memperhatikan beberapa polisi lain yang baru saja selesai memasang garis polisi di TKP. Ia menyuruh Lily menunggunya di ruang tunggu rumah sakit dengan alasan agar tak mengkontaminasi sidik-sidik jari yang tercecer di beberapa benda. Namun sesungguhnya hanya ia dan Tuhan yang tahu kalau Zaki ingin Lily berada di tempat aman dan ramai. “Lo bener.” Kata Zaki seraya memasang sarung tangannya. Ia memperhatikan pintu brankas yang rusak. “Tapi kali ini mereka juga make linggis.” Zaki tersenyum nanar.
***
Penyelidikan bisa dibilang berjalan mulus hari ini, karena hari itu juga Zaki dan Riga bersama aparat lainnya sudah mendapatkan tersangka di balik perampokan ini. Dua security rumah sakit inilah yang memuluskan aksi enam perampok tadi malam. Mereka berdua pura-pura ketakutan dan membiarkan para perampok masuk dan mengambil barang-barang berharga serta uang yang ada dalam brankas. Security yang lain sempat melawan, namun karena para perampok bersenjata, mereka hanya bisa pasrah dan berharap selamat. Beberapa dokter dan suster yang mendapat shift malam memberi kesaksian mereka tentang kejadian semalam.
“Melelahkan..” Komentar Lily sambil mengurut keninggnya seraya mencari dua sosok polisi yang bertanggung jawab mengantarnya kembali ke markas.
Kemana sih mereka?
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat ketika ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang mewawancarai Riga di koridor seberang. Ia memasukkan catatannya lalu pergi ke arah Riga yang sepertinya tak terlalu suka dengan kamera yang menyoroti wajahnya. “Firda?!” Lily pun tak percaya bisa melihat Firda dengan recorder di tanggannya, padahal dia bukan wartawan lapangan.
“Apa yang akan Bapak dan Aparat lakukan untuk mengantisipasi terjadinya perampokan?” Tanya Firda yang masih tak menyadari Lily sudah di dekatnya. Riga lantas menyuruh Lily berdiri di sebelahnya karena ia merasa gugup. Biasanya Zaki lah yang sering menjawab ratusan pertanyaan wartawan. Walaupun hampir selalu memasang wajah dingin di hadapan kamera, Zaki tak pernah terlihat gugup. “Lily?!” Firda mematikan recorder dan menyuruh camera-man untuk berhenti merekam. “Kok Lo bisa di sini sih?!” Belum sempat Lily menjawab, Firda menyerbunya untuk memeluk teman sekantornya dulu itu.
Lily tersenyum, ia pun bisa merasakan Riga merasa lega karena sesi wawancara ini akhirnya selesai. Ia mengangkat bahu dan memperlihatkan penampilan dirinya yang kini terlihat seperti wartawan juga. “Yang ada gue nanya Elo, kok Lo bisa di sini sih?” Sindirnya. Tak ada niat untuk menghina atau apapun. “Jangan bilang Lo juga keluar dari kantor ngikutin gue.”
Firda melepaskan pelukannya. “Enggak Lil, gue enggak seberani Elo. Kita waktu itu demo ke direktur sama pengurus lainnya, kita minta Elo dibalikin ke kantor lagi sebagai editor. Tapi, bukannya didenger, kita malah hampir di PHK gara-gara si Elen yang pastinya bikin konspirasi sama Direktur. Sebagai ganti, ya udah deh, gue diturunin jabatan.” Tuturnya hampir tersenyum. Firda merasa ini lebih baik ketimbang harus menjadi tim kreatif si Elen itu.
“Ya ampun..” Lily menutup mulutnya karena hampir menganga lebar. “Kok kalian kaya gitu sih? Kalian enggak perlu ngelakuin itu! Nah sekarang lihat, gara-gara gue Lo malah jadi wartawan!” Tangannya terkepal. Sudah kelewatan kelakuan Elen ini.
“Kita enggak ngelakuin apa-apa Lil, kita cuma nuntut keadilan. Se-galaksi bima sakti juga tau kali kalo yang bikin gara-gara itu si Keriting!” Maksudnya Elen. “Udah lah, nanti kita ada acara kumpul-kumpul, entar Lo gue kabarin lagi. Eh, by the way, Lo kerja jadi apa sih?”
Riga terkekeh. Ia menatap Lily yang kelimpungan untuk menjawab. “Dia sekarang jadi Asisten rahasia Mbak.” Celetuk Riga. Ia sengaja menambahkan kata rahasia untuk memberi kesan seperti pada agen rahasia. Dimana mereka biasanya adalah pemeran utama. “Keren kan?”
Firda mengangguk-angguk. “Hebat Lo Lil, keluar dari sini dapet yang beginian.” Bisiknya seraya terkikik. Lily mencubit paha Firda yang terbungkus celana jeans hitam. “Ya udah deh, kapan-kapan kalo ada kasus Lo kasih tau gue ya. Enggak percuma gue jadi wartawan!” Candanya. Ia memeluk dan mencium pipi Lily sebelum pergi dengan pembawa kamera yang sejak tadi di sampingnya.
Lily memperhatikan Riga yang masih tersenyum. “Kenapa?”
“Itu temen Kamu?” Tanya Riga sambil berjalan. Lily mengangguk. “Lain kali kalo wawancara bilangin jangan nanyain tentang kasus mulu, sekali-kali tanya ke kita itu: Bapak sudah makan? Apa Bapak punya pacar? Apa bapak capek hari ini?”
“Hih! Emang kamu kira itu wartawan apaan?!” Sembur Lily disambut tawa Riga.
Zaki menahan geram ketika melihat Riga dan Lily berjalan ke arahnya. Mereka berjalan berdampingan dan terlihat menertawakan sesuatu. Kedekatan mereka seperti itu membuat naluri lelakinya bangkit. Ia tak bisa kalah begitu saja. “Lo balik ke kantor?” Tanya Zaki. Riga mengangguk. “Nih bawa aja, gue langsung balik ke rumah aja.” Zaki melempar kunci mobil pada Riga, beruntung tak mendarat di kening.
Riga memperhatikan rahang Zaki yang mengeras lalu tersenyum. “Kan mobil Lo masih di sana?”
Zaki menggeleng sambil mengambil kamera dari tangan Lily. “Iya tapi biar besok aja lah, gue capek banget.”
“Hmm..Ok deh.” Ujar Riga memanggut-manggut. “Ya udah deh, sampe ketemu besok di kantor. Ayo Lil.” Riga hampir menggandeng tangan Lily, namun aksinya gagal karena reflek Zaki yang cepat. Ia menarik Lily duluan ke sebelahnya.
“AW!!” Pekik Lily akhirnya ketika lengannya hampir putus ditarik begitu saja. Ia mundur selangkah dari Zaki. “Apaan sih?” Lily terlihat tak suka cara Zaki menarik tubuhnya mendekat. Ia protes namun tak dapat mengelak, lagi pula Zaki tak dapat di lawan. Lily berfikir sejenak, ia bisa merasakan Riga juga tak suka Zaki bersikap seperti itu padanya. “Iya deh Ga, Kamu pulang aja dulu, Aku masih harus ikut Zaki.”
“Emang tugas kamu kali.” Koreksi Zaki membuat Lily memutar bola matanya. Beberapa suster yang sedang lewat di koridor itu memperhatikan mereka sambil berjalan.
Riga tak tersenyum, wajahnya datar dan terkesan dingin. “Hmm..ya udah lah. Tapi inget Zak, dia tuh Cuma asisten biasa.” Riga lantas mulai meninggalkan dua tubuh yang bergeming itu. “Bukan asisten pribadi Lo.” Tambahnya lirih.
Zaki tak tuli. Walau Riga barusan berkata pelan, tentu saja ia masih dapat mendengarnya. “Lo sebaiknya juga enggak terlalu banyak pake farhum mahal itu.” Tandas Zaki dengan tangan terkepal, sayangnya Riga telah terlalu jauh untuk mendengar.
“Oke, apa lagi yang harus aku lakuin?” Tanya Lily, tak faham dengan omongan dua lelaki yang dikenal telah lama bersahabat itu. “Kalo bisa aku mau kerjain cepet, aku ada urusan.” Zaki menatapnya sekilas tanpa kata. “Apa?” matanya membelalak, seolah berani.
Lelaki yang lebih tinggi dari Lily ini lantas mendekatkan wajahnya ke Lily dengan pandangan tajam. “Teleponin taksi buat kita pulang.” Kata Zaki singkat. Ia mulai berjalan ke halaman depan dengan kedua tangan yang terbenam dalam saku celana.
“Cuma itu??!” Erang Lily disambut tubuh Zaki yang terguncang karena tertawa senang. Lily pergi menyusul Zaki dengan kaki yang ia hentak-hentakkan karena kesal. “Awas ya Lo!” desisnya sambil menelpon nomor perusahaan taksi bercat biru di kota lalu memesan sebuah taksi untuk menjemput mereka.
***
Dengan duduk bejauh-jauhan di jok belakang dan jalanan macet yang sepertinya tak akan membiarkan siapapun tiba di rumah kurang dari satu jam, mereka berdua terlihat saling mengacuhkan. Zaki baru saja menyuruh sopir taksi untuk ke kontrakan Lily duluan, walau awalnya Lily sempat menolak. Jika Lily melakukan itu karena masih menyangka Zaki tak tahu dimana letak persis rumah kontrakannya, ia sudah salah besar.
Zaki beberapa kali sengaja lewat sana untuk sekadar melihat kondisi rumah itu. Ia bersyukur karena Lily serumah dengan Diana, rasa khawatirnya sedikit berkurang jadinya. Kalau tidak, kemungkinan besar Zaki akan mencari apartemen yang lebih dekat dengan kontrakan Lily atau ia harus memata-matainya dengan kamera tersembunyi. Hanya Tuhan dan penulis yang tahu kalau Zaki sudah berencana seperti itu. Dan kini Zaki sadar, rasa cemburu, rasa khawatir, rasa rindu, rasa kesal, semuanya adalah alibi. Ia hanya cinta. Hanya itu!
“Enggak ah, Lo aja yang biru, gue yang merah!” Zaki terkaget ketika suara Lily membuyarkan lamunannya. Ia berhenti memandangi jalanan dari balik kaca jendela. Ia tersenyum ketika mata sopir mengawasi mereka dari kaca spion. Lily mengigau dalam tidurnya dengan kepala sudah miring seratus tiga puluh lima derajat. Hampir benar-benar terlentang.
Lelaki ini tersenyum lagi. Ia sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Lily. Ia tak berniat membangunkan asistennya itu, ia malah membiarkan Lily perlahan-lahan bersandar ke bahunya. “Dasar gampang ngorok.” Lirih Zaki dengan wajah tersenyum jahil, teringat perkataan itu sering ia lontarkan ketika mereka masih pacaran. Zaki menarik tas di sebelah Lily dan mencari ponsel asisten yang tengah tidur itu. “Ketemu!” katanya girang namun tetap dengan suara pelan. Zaki berusaha membuka ponsel, namun sayang, ia tak tahu password ponsel Lily. Zaki mencoba-coba, memasukkan segala angka sesuai insting. Namun sayang, tiga kali ponsel mengatakan ‘maaf, password salah’ sehingga ia harus menunggu satu menit untuk memasukkan password kembali. Dan itu membuatnya frustasi.
Lalu ia ingat. Lily tetap lah Lily. “Hoy password ponsel kamu apa?!” tanyanya di telinga Lily. lily tetap bergeming. Dasar kebo. Lily tetaplah sukar dibangunkan, tak ada yang berubah kecuali dirinya yang makin cantik. “Hoy! Passwordnya apaaa?!!!”
"1 0 1 0!!” Balas Lily masih mengigau walau suaranya lumayan kencang. Sang sopir lagi-lagi terlihat curiga, namun Zaki berhasil tersenyum meyakinkan kalau tak ada apa-apa. Zaki lantas memasukkan kode tersebut dan memang itulah passwordnya. Ia tak mengira kalau Lily menggunakan 1010 juga sebagai sandinya. Sejarah 1010 sendiri berasal dari tanggal dan bulan kelahiran mereka yang dijumlahkan. Zaki lahir tanggal 8 Februari (8,2) sedangkan Lily tanggal 2 Agustus (2,8). 8+2=10, 2+8=10. Sandi tersebut ia gunakan sebagai kode masuk ke apartemennya hingga pin ATM dan kartu kredit, tentu saja ia tambahkan dua angka lagi.
Masih dengan senyum kemenangan, Zaki menjelajahi isi ponsel Lily. Ia begitu penasaran hingga matanya tak berkedip sementara Lily yang masih saja pulas tertidur di bahunya. Zaki membuka kontak dan melihat nomornya tak Lily beri nama. Ia memperhatikan Lily dengan bibir menipis, geram. Ia lalu melihat kontak Riga yang ditulis dengan nama lengkap, ada juga Ricki yang foto kontaknya terlihat bersama dengan Lily. Jengkel, Zaki memulai aksi jailnya lebih parah dari rencananya tadi sebelum ia dapat membuka ponsel Lily. Ia menghapus nama nomor Riga dari daftar kontak Lily, lalu ia menghapus foto kontak Ricki, terakhir ia mengubah nama kontak dirinya dengan nama: SAYANG.
Zaki terkekeh sendiri. Ia tahu ini jahat, tapi moodnya sedang tinggi dan itu jarang terjadi, sehingga ia tak bisa mengurungkan kejahilannya ini. And you’ll regret after see this thing! Hahaha. Zaki mulai berpose, mendekatkan wajahnya ke kening Lily yang sedikit tertunduk ke dadanya. Ia berpose seperti orang yang hendak mengecup kening kekasihnya sendiri, ia sengaja tak memperlihatkan bibirnya yang mengambang di atas kening Lily agar kelihatan asli.
Klik!!
Begitulah suara kamera ponsel Lily yang baru saja memotret moment itu. Zaki melihatnya hasilnya sekilas seraya tersenyum puas lalu menjadikan foto tersebut sebagai foto kontaknya di ponsel milik Lily itu. Nah, kalo gini kan gue menang dari si tukang salon itu! Katanya dalam hati seraya memasukkan ponsel Lily ke tasnya lagi. Zaki memperhatikan wajah Lily yang lelap, kelopak mata indahnya menggoda untuk dikecup. Bibirnya merekah, seolah ada darah mengalir deras di balik itu. Pipinya yang merona, seperti kepulan awan selembut kapas. Ia kini terpana.
Ah enggak..enggak..
Zaki menggeleng-geleng, mengguncang otak, menghapus fikiran yang entah dari mana datangnya. Fikiran yang membisiki hatinya untuk mencicipi manis bibir perempuan cantik yang sedang tidur itu. Ia lalu sedikit menjauhkan kepalanya dari wajah Lily, namun tenggorokannya terasa tercekik kuat. Ia pernah mengecup Vania dan memeluk Vania, tapi tidak dengan rasa yang sebrutal ini. Ia takut kehabisan nafas kalau terus melawan. Kepalanya terasa sakit, seolah dirinya telah berubah jadi vampire yang haus darah. Dan taring-taringnya telah keluar. Zaki tak dapat lagi mengelak, paru-paru yang terhimpit menyiksanya hingga ke tenggorokan. Zaki menurut, tak lagi melawan pemilik rasa.“Sekali saja…”
“Jangan Zakiii!!!” Hanya sebagian hati kecilnya yang berani berteriak seperti itu ketika Zaki sudah mendekatkan lagi wajahnya ke arah wajah Lily. Bak pesawat yang sedang mendarat ke bumi, ia berhasil mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Lily dengan mulus ketika hati kecil itu menghilang berganti sang surya menyinari. Tidak, ada dua surya. Dua surya yang terlihat marah!
Lily telah terjaga! Matanya melotot dan siap memberontak. Zaki berdegup kencang lagi, tapi tak sekencang seperti tadi. Yang ia tahu sekarang Lily emang terjaga namun tetap bergeming. Entah, apa ia masih sedang mengigau atau otaknya masih memproses tentang kejadian ini. Yang jelas, Lily hanya bisa melihat wajah Zaki yang, sangat dekat. Dan kini ia baru merasakan kaget, ia sedang berciuman!
Zaki pun sama kagetnya dengan Lily. Bedanya rasa kagetnya perlahan memudar berganti dengan sensasi yang bibir Lily berikan untuknya. Rasa yang tak akan ditemukan dalam kata di kamus apapun di seluruh dunia. Rasa yang hanya dimengerti oleh syaraf yang menegang, juga dokter syaraf tak tahu namanya. Rasa yang hanya dimengerti oleh bahasa hati yang bersorak sorai bersama dengan organ tubuh lainnya. Rasa yang ada karena cinta.
Lily masih bergeming ketika Zaki perlahan menyentuh dagunya lalu naik ke pipinya, membelai, membuai, memintanya untuk memejamkan mata. Dan Lily perlahan menutup kelopak mata, ia terpejam lagi, bukan tertidur. Ia ikut merasakan irama indah yang Zaki putar dan salurkan lewat bibir mereka yang kini berpagutan. Seolah mereka sedang mereunikan para organ tubuh dan syaraf-syaraf yang telah lama tak bertemu. Lily terpejam, dan tangannya mulai melingkar di pinggang Zaki.
Zaki melepasnya sejenak, tak sampai dua mata itu terbuka lagi. Ia menarik nafas sedikit untuk mengembungkan paru-parunya yang mengempis lalu kembali melumat habis bibir yang sudah basah itu. Zaki tak membiarkan sesentipun kulit bibir Lily luput dari lumatannya, ia melenguh hebat ketika mulut Lily sedikit terbuka, membiarkannya masuk lebih dalam.
Aku rindu…
Mereka telah meninggalakan dunia. Dunia yang hanya bisa bicara ketika ada fakta. Dunia yang hanya ingin terikat dengan kenyataan. Imajinasi dan keinginan hanyalah bunga tidur dalam dunia yang meliputi mereka berdua. Beberapa malaikat yang baik hati mencoba menyatukan tapi garis takdir begitu keras tuk diterjang. Sama seperti sopir yang tengah mengantar mereka terbang lebih tinggi dengan memelankan laju di jalanan macet. Sang sopir tersenyum samar, senyuman yang sama ketika ia masih sama mudanya dengan dua merpati di belakangnya. Senyuman yang hanya akan ia tunjukkan ketika melihat istrinya di rumah. Senyuman cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar