Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 3

LILY

Aku bahkan belum mengetuk pintu ruangannya. Tapi suara lelaki di dalam baru saja mengagetkanku. “Masuk!” jawabnya. atau tepatnya teriaknya? Karena aku benar-benar belum menyentuh pintunya sedikit pun! Seorang detektif muda, batinku. Ya mungkin saja pendengarannya sangat tajam. Ya, semoga saja begitu karena aku mulai berfikir yang tidak-tidak—bagaimana kalau dia orang yang aneh!

Ku isi paru-paruku dengan oksigen sampai penuh. Kemungkinan besar aku akan susah bernafas kalau berhadapan dengan seseorang— yang aneh, Ups!—seperti dia. Hahaha. Aku mencoba terlihat santai dan memasang senyum lebar. Saat aku menutup pintu, yang ku lakukan adalah memperkenalkan diriku sebelum ia menyuruhku duduk—semoga saja!. “Permisi, Saya..”

Satu.

Pernahkah kalian bertanya: mengapa katak tak pernah berjalan gontai? Mengapa mereka melompat-lompat?

Dua.

Kalau ada balon yang meletus tepat saat kau sedang melamun, apa yang akan kau lakukan?

Tiga.

Saat ini aku ingin menggabungkan katak sedang melamun lalu kaget karena mendengar balon yang meletus keras.

ZAKI

Sudah ku duga kalau ia akan seperti itu. Ekspresinya, aku masih bisa merekamnya. Dia punya banyak ekspresi yang otakku masih simpan hingga sekarang. Aku mengulum bibir bawahku dengan semangat, berharap tak ada tawa yang meluncur.

Ia lucu sekali!

Matanya yang bundar tapi melengkung di ujung-ujungnya, rambutnya yang lurus seperti ekor kuda, tubuhnya yang tinggi dari kebanyakan perempuan. Masih sama, hanya saja ia lebih cantik. Pasti ia akan lebih manis kalau memakai pakaian yang lebih feminim. Pakaian sesederhana seperti itu saja ia manis, apa lagi kalau.

Astaga! Apa yang sedang ku fikirkan?!

“Kau?”

Akhirnya setelah beberapa detik ia bersuara. Aku lega karena setidaknya ia masih menyebut ‘kau’ dari pada ‘monyet’. Ah sudahlah, aku mulai keluar dari rencana yang ku atur sejak tadi. Aku bahkan tak menyangka rasanya lebih mudah, ku fikir ia akan histeris dan pinsan. Oh ya, aku lupa kalau ia tangguh.

Aku berdiri dari kursi kerjaku, menarik nafas sebelum mengatakan sesuatu. Aneh, mengapa aku bahkan tersenyum? Ku tatap sekeliling, bersyukur ruangan ini tak dipasangi kamera CCTV yang seenaknya menonton kami.

“Hai.” Sapaku. Telah lama aku tak merasakan degup jantung berpacu lebih cepat dari ini. Aku bahkan pernah mengatasi kasus yang hampir menyita nyawaku, tapi rasanya tak seperti ini. Yah, mungkin aku berlebihan, tapi aku serius. Kalau bukan mimpi, pasti ini hanya lamunanku.

Ia masih terpaku. Aku membenahi posisi dudukku, ku beri ia isyarat agar duduk di hadapanku. “Apa ini mimpi?” tanyanya. Ingin sekali aku berkata ‘iya’ seraya tertawa lepas. Sayangnya, itu bukan rencanaku hari ini. Ku perhatikan ia enggan untuk duduk walau akhirnya ia melakukannya juga. Lily menyentuh pipinya kasar, seolah dengan begitu ia bisa bangun dari hari ini.

“Harusnya kamu kesini hari senin saja,” kataku.

Ia mengerjap. “Ya, harusnya begitu. Andai aja aku bisa ngulang hari ini,” desahnya menghenyakkan punggung ke sandaran kursi. “Kamu udah lama di sini?” tanyanya.

Aku menggeleng. Ku nikmati pembicaraan kami yang mulai datar. “Yah, lumayan.” Selorohku. “Jadi, apa yang bikin kamu jadi freelance di sini? Bukannya dulu kamu udah kerja dan..”

“Aku dipecat,” potongnya. Itu sedikit membuatku terkejut. “Sebulan yang lalu sih, dan temen Kamu dalangnya, dia enggak bosen bikin aku gondok setiap hari,” cerocosnya. “Elen.” Jawabnya sebelum aku sempat bertanya.

“Hahaha.” Walau terdengar dipaksa, jujur saja aku tak heran. Dari dulu wanita itu memang suka mencari masalah. “Kalau gitu, aku turut berduka cita.” Ku perhatikan ia memasang wajah garangnya.

LILY

Dia masih menyebalkan. Tak ada yang berubah, sedikitpun. Caranya ia tersenyum seperti menyombongkan diri, membuat orang di sekitarnya menciut. Aku terpaksa duduk, tak mungkin selama bicara dengan dia—mantan pacarku, koreksi, calon atasanku—aku harus berdiri. “Siapa yang mati, kalo Elen mati aku malah bersuka cita tuh.” Jawabku ngawur. “Lagi pula, cepat atau lambat aku emang bakal ditendang kok dari perusahaan itu.”

“Kenapa?” ku harap Zaki tidak cuma berbasa-basi bertanya.

Aku menghela nafas. “Dia kan keponakan direktur, sedangkan direktur kayaknya sebentar lagi bakal ngasih wewenang buat si Elen mimpin perusahaan itu, secara Direktur kan punya banyak banget perusahaan.” Tuturku. “Omong-omong, Gimana kabar Kamu?” Nah, ini baru namanya basa-basi. Aku tahu ia akan bilang: Aku baik kok.

Ia menatap ke arah jendela kaca yang memperlihatkan lalu lintas padat. “Enggak baik,” jawabnya. Oke, aku salah. “Kamu?”

“Ya, bisa dibilang baik sebelum ketemu Kamu.” Kataku tersenyum kecut. Demi Tuhan aku baru saja keceplosan. “Bercanda kok.” Kataku cepat-cepat sebelum ia berubah mood. Bagaimanapun aku membutuhkan pekerjaan secepatnya. Aku butuh uang untuk menyambung hidup. “Jadi, bagaiamana nanti aku mulai kerja? Aku enggak bisa apa-apa selain nulis.”

“Kamu bisa nyetir mobil kan?” Aku mengangguk. “Bagus, senin kita mulai kerja, kamu akan jadi sopirku selama kerja.”

“Sopir?” kini giliran Zaki yang mengangguk mantap. “Katanya partner?” tanyaku sedikit kecewa.

Kalau aku tak salah lihat, mata Zaki baru saja berkilat. “Asisten,” koreksinya. “Partner itu kalau kamu juga bantu mecahin kasus. Jadi, nanti tugas kamu adalah mencatat apa yang aku suruh catat, dan merekam seluruh pembicaraan. Setiap balik ke kantor, kamu harus ketik itu ke dokumen dan kamu serahin ke aku sebelum jam pulang. Gimana?”

Aku lumayan faham. Mungkin tak terlalu berbeda dengan sekretaris. “Oke, cuma itu?”

“Kamu harus patuh sama semua instruksi aku, enggak ada yang namanya membantah, faham?”

Aku mengangguk mantap. “Deal!”

***

“Kamu langsung pulang?” Ku lihat Riga menghampiriku setelah aku keluar dari ruangan Zaki.

“Iya,” kataku. “Katanya aku mulai kerja hari senin, lagi pula sabtu kan harusnya libur. Kamu piket ya?”

Riga mengangguk. “Ya udah deh, hati-hati di jalan ya.” Katanya tersenyum lebar. Aku jadi merinding, Riga jadi terlihat lebih tampan. Postur tubuhnya yang tinggi dan ramping itu memperkuat pesonanya. Aku penasaran, bagaimana bisa polwan-polwan di sini kuat menahan pesona Riga?

Aku tersenyum dan melaluinya. “Sampe ketemu hari senin.” Lirihku menyembunyikan rona di pipi.

Hari ini begitu rumit. Aku bertemu lagi dengan orang yang mati-matian ku lupakan. Aku pernah berfikir apa yang terjadi jika aku bertemu dengannya lagi. Dan tadi, semua tampak biasa-biasa saja. Aku bahkan tak melihat ia merasa bersalah sedikitpun. Mungkin ia sudah melupakanku sebagai mantan kekasihnya, aku juga bisa mangerti kalau ia hanya menganggap itu sekadar cinta monyet. Tapi, bukankah itu kejam?

Tujuh tahun memang bukan waktu yang singkat. Tapi walau selama itu kami tak pernah bertemu, apa segitu mudahnya ia melupakan kesalahannya?

Ia pernah pergi dan meninggalkan harapan untukku. Ia pernah berjanji akan kembali. Aku ingat hari itu, hari terakhir kami bertemu. Tak mungkin aku bisa melupakan itu, aku malah sempat yakin kalau ia adalah cinta sejatiku. Aku tahu itu bodoh. Ya, aku bodoh.



Diana rupanya masih peduli padaku. Sekitar jam tujuh malah ia meneleponku untuk bertanya apa yang sedang ku lakukan. Tentu saja aku ingin mendramatisir keadaan dan membuat ia merasa bersalah karena meninggalkanku. “Gua bosen, mendingan gua tidur cepet aja deh.” Jawabku.

Hening sejenak. “Sorry banget Lil, gua kagak mungkin bisa balik sekarang. Agustin pasti bakal manyun satu bulan kalo malem ini gua minta balik ke rumah, lo udah makan belon?”

“Belon.”

“Lo mau gua beliin apa? Pizza?”

“Enggak ada.”

“Lo nonton DVD yang gua baru beli aja, seru kok.”

“Enggak ah.”

“Lily! Lo kok jawabnya jutek gitu sih!” erangnya, aku terkikik geli.

“Udah deh, santai aja, gua biasa aja kok. Udah dulu ya, gua mau mandi.”

***

Ia tak boleh mengeluh, apa lagi kalau sedang di hadapan kekasih. Ia harus menyenangkan. Bila perlu, ia akan berbohong. Ini sudah takdirnya, ia tak akan bisa mengelak. Walau hati berkata lain, walau jiwanya enggan, ia tetap akan melakukan ini. Tentang harapan dan melupakan. Ia telah diajari untuk mewujudkan harapan, ia telah dipaksa melupakan.

Hanya saja tak selalu mulus. Ia harus di uji dan di uji. Keseharusan yang bukan keinginannya. Walau demikian, ia selalu lulus. Tidak setelah ini, ia mengakui kegagalan sebelum ia mencoba. Ia tahu, pengecut itu muncul kala dia dihadapkan dengan ini.

“Sayang, Kamu dengerin aku enggak sih?”

Adalah Zaki yang terbuai udara malam di luar yang memohon untuk disentuh. Seolah-olah jendela ini adalah titik bocor pada balon yang ia suka tiup kala kecil. Ia selalu ingin tahu, bagaimana bisa udara itu membuat benda itu membesar. “Denger kok,” jawab Zaki tapi tak mengubah posisi duduknya.

Makan malam kali ini hambar bagi Vania.”Ada masalah apa? Kok dari tadi murung sih?”

“Enggak ada kok, Sayang.” Jawab Zaki memberi penekanan pada akhir kalimat. Setidaknya itu menghentikan Vania khawatir tentang dirinya. “Gimana keadaan di sana sekarang?” tanyanya. Kening Vania berkerut, ia sadar pertanyaannya barusan terdengar ambigu. “Haha, maksudku Bandung Vani.” Jelas Zaki seraya tersenyum.

Vania memutar matanya. Ia tahu Zaki detektif, gaya bicaranya selalu membuat lawan tak bisa menang. “Yah, kalau yang Kamu tanya tentang penduduk ya lumayan tambah rame,” tutur Vania. “Tapi kalau kamu tanya orang tuaku, mereka sehat dan nanyain Kamu terus. Jadi yang Kamu tanya apa nih?” Vania balik bertanya.

Zaki tergelak, tentu saja jawaban Vania membuatnya tertawa. “Oke deh, itu udah lengkap kok.” Mereka berdua kembali tertawa. Suasana itu akhirnya melengkapi malam minggu ini hingga Zaki mengantar Vania pulang ke apartemennya. “Butik Kamu makin rame ya. Kemarin aku jug abaca di Koran, desain Kamu menang lagi ya tahun ini? Selamat ya!”

Vania tersenyum. Gadis sunda ini tentu lah dulunya seorang putri kerajaan yang lembut kalau saja reinkarnasi itu benar-benar ada. Andai hati Zaki mau tersentuh sedikit saja. Ia harap mulai besok hatinya mau mencintai gadis ini karena ujian segera di mulai. “Makasih Zakh,” sudah kebiasaannya mengakhiri nama lelaki itu dengan ‘H’, lalu Vania tersipu lagi. “Ini juga karena dukungan Kamu kan, dulu aku enggak yakin buat tinggal di sini, tapi sekarang Kamu lihat semuanya berjalan lancar bahkan lebih dari angan-angan aku.”

Zaki menggenggam tangan Vania karena gadis itu mulai berkaca-kaca. Hati Vania pasti lah selembut kapas, bahkan hal yang membahagiakan pun sanggup membuatnya menangis, batin Zaki. “Aku yakin kamu bakal jadi desainer terkenal suatu saat,” katanya disambut pelukan Vania. “Aku yakin itu.”

“Oh iya, kamu udah dapet asisten?”

Zaki seakan berhenti bernafas. Ia belum ingin memulai bab itu sekarang. Bahkan malam ini belum berakhir, ia enggan. “Senin aku baru ketemu,” katanya berbohong. “Ya udah, kamu istirahat aja ya, kamu pasti udah ngantuk.” Ini kedua kalinya ia mengubah topik dengan cepat dalam waktu beberapa jam.

Vania melirik jam tangannya. “Masih jam sembilan kok,” ia ingin lebih lama bersama kekasihnya it, satu minggu ini ia di Bandung dan jarang menelepon Zaki. “Ayo masuk dulu, kamu kan udah lama enggak mampir ke tempatku.” Pintanya.

“Aku ada urusan sebentar,” ia berbohong lagi. Moodnya telah berubah sejak pertanyaan terakhir dari Vania. “Temen kantor katanya mau ke tempatku.” Tambahnya saat Vania hendak bertanya lagi. “Ya udah, good night Sayang.” Cepat-cepat Zaki mencium pipi Vania sebelum perempuan itu protes.

“Hati-hati.” Hanya itu yang Vania bisa katakan kala Zaki langsung kembali ke mobilnya. “Aku yakin, ada sesuatu.” Katanya walau ia tahu Zaki tak mendengar. Zaki melambai dan langsung melaju.

***

“Apa gua salah kalo gua cinta Elo lagi?! Apa gua pernah minta Lo balik lagi ke kehidupan gua? Enggak kan? Jadi jangan salahin gua kalo gua masih cinta Elo!”

“Silakan, gua enggak ngelarang Lo lagi kok, itu hak Elo. Gua Cuma mau ngingetin, gua enggak mau Lo sakit hati lagi karena gua, karena Lo tahu kan, kita enggak mungkin bersatu. Gua juga cinta Elo, tapi ada perasaan orang yang gak bisa gua sakitin juga. Gua minta maaf.”

Lily menyerah dan memilih mematikan DVD yang ia barusan tonton. Selera Diana sangat payah, batinnya. Ia bukannya tak suka drama, hanya saja cerita barusan membuatnya muak. Ia tak suka lelaki yang membiarkan perempuan itu kesusahan karena perasaan cintanya. Seharusnya lelaki itu tegas, kalau memang wanita itu yang dicintainya, harusnya ia harus mempertahankan cintanya itu dan berusaha membuat orang-orang di sekitarnya mengerti. Harusnya begitu.

Ia terkurung dalam malam lagi. Kakinya menarik tubuh untuk bergerak dan menyusuri malam. Lily akhirnya mengikuti kata hati dan memakai piyama tidur ke alun-alun dekat rumah. Kakinya hanya beralas sandal jepit tipis berwarna biru muda. Lily menyanggul rambutnya asal-asalan dan menyisakan sedikit rambut di dekat telinga. Hingga terbentuklah sosok gadis yang tak memperhatikan penampilan.

Langit begitu bersih dan tak ada awan yang menutupi bintang yang sedang berlomba-lomba menyinari.“Sendirian aja Mbak Lily?” Sapa Mang Sapto, tukang bakso yang tiap hari mangkal di alun-alun.

Lily berhenti dan mencium aroma kuah bakso. Seketika perutnya terasa perih karena lapar. “Iya Mang, si Diana lagi kencan.” Jawabnya dengan nada bergurau. “Baksonya satu dong Mang, tapi bayarnya besok ya, saya enggak bawa dompet nih.” Ujarnya, ia bersyukur sedang tak ada pembeli di sana.

Mang Sapto tersenyum. “Alah Mbak, Wong biasanya juga totalan awal bulan toh, monggo duduk di sini!” kata Mang Sapto ramah. “Lagian kemana aja toh, kok ndak pernah makan bakso di sini lagi?” Lily ikut tersenyum miris. Satu bulan ini ia memang hampir tak pernah makan bakso lantaran ia tak punya uang banyak, ia sebenarnya punya tabungan, tapi ia tak sampai hati untuk mengambil tabungan yang ia kumpulkan selama bekerja itu. Setelah di PHK, ia selalu menahan hasrat untuk membeli apapun kecuali makan, itu juga jarang. Diana selalu memaksa untuk mentraktir dirinya, ia memang sahabat yang pengertian, tapi itu malah membuat Lily tak enak.

“Saya lagi banyak masalah Mang, jadi jarang keluar rumah.” Kata Lily berbohong. Ia malu, bahkan orang tuanya sampai saat ini pun belum tahu kalau ia telah di PHK dari perusahaan itu. “Sambelnya yang banyak ya Mang!” sambung Lily mencoba menahan air mata.

Tentu saja ia jadi teringat tadi siang. Ia baru sadar apa yang membuat moodnya kacau tiba-tiba. Sejak pulang ke kontrakan, ia merasa mual seperti habis naik kapal laut. Lelaki itu muncul lagi, dan kini ia harus bertemu dengannya setiap hari. Lily tak pernah membayangkan ini sebelumnya, ya mungkin saja mereka bertemu, tapi bekerja bersama? Itu sangat menyusahkan. Ia harus tunduk pada perintah ‘Boss’nya itu. Secara tak langsung ia dipaksa untuk profesional dan menyampingkan urusan kehidupan.

“Ternyata Elo di sini!” Lily tak berhenti menyantap baksonya ketika suara itu menggelegar. Ia tak mau ambil pusing untuk mendongak sedikit pun. “Duh lahap banget sih sampe enggak mau ngelihat gua!” orang itu menjewer kuping Lily.

“Elo enggak lihat gua lagi makan apa?! Udah pergi sono, gua males ngeliat Lo!”

Tentu saja itu bukan kata kasar, mereka sudah biasa berbicara dengan gaya itu. Lily sukses mendapat jambakan maut dari Ricki, seorang lelaki yang sering Lily panggil Riche. Cowok feminim, begitulah Lily menyebutnya. “Ihh!” erang Rice. “Tadi gua ngelihat si Nad sama pacarnya, tumben Lo enggak ikut?” tanyanya. “Mang, saya juga bakso satu dong!” lanjutnya pada Mang Sapto.

Cucok deh!” Jawab Mang Sapto mengacungkan jempolnya. Rice dan Lily pun tergelak. “Pedes Mas?”

“Salah Mang, yang bener tuh, pedes Cin?” timpal Lily membuat tawa mereka pecah, kecuali Rice yang membogem kepala Lily.

Sementara Mang Sapto membuat porsi untuk Rice, Lily kembali menyantap bakso di hadapannya. “Eh jawab dong, kok tumben Lo enggak ikut si Diana?” Lily tak menggubris. “Oh, jangan bilang kalo Diana udah enggak mau nraktir Lo lagi ya?”

“Sialan,” kata Lily. Ia menyesap teh botol yang baru saja Mang Sapto letakkan di dekatnya bersama semangkuk bakso untuk Rice. “Gua udah kerja, jadi..”

“Apa?! Serius Lo? Kerja di mana??!”

Lily menyesal telah mengatakan itu. Rice adalah orang yang gampang histeris. “Kalo nanya satu-satu dong, Lo pikir gua artis apa diwawancara?!” Rice tersenyum ampun. “Oke, jadi gini, Gua kerja di kantor polisi.” Lily sedikit berbisik. Ia bersukur Mang Sapto mencuci mangkuk-mangkuk di luar tenda, jadi pasti ia tak mendengar. Rice menahan rasa ingin tahunya, dan mendengarkan cerita Lily.

“Oh jadi begitu..” Rice mengangguk-angguk setelah Lily menceritakan asal muasal mengapa ia bisa bekerja di kantor polisi. Ia menceritakan tentang pak Rudy, Riga dan pak Gatot. Tapi ia melewatkan bagian Zaki, ia tak mau lelaki itu tambah histeris. “Ya selamat aja deh, walau itu freelance seenggaknya gua jadi enggak kepikiran Elo terus.”

“Maksud Lo?” Lily menatap sarkatis.

Hanya tawa yang keluar dari mulut Rice. “Berapa Mang?” tanyanya pada Mang Sapto yang baru saja masuk tenda. “Sekalian sama nih anak.” Lanjutnya. Lily tersenyum manis, senang bukan main. Rice keluar tenda setelah membayar lalu diikuti oleh Lily.

“Oh iya, Lo tadi nyariin gua ke kontrakan cuma buat nanya itu doang?” Lily menggigil kedinginan. Angin lembab baru saja menerpa wajah dan tubuhnya. Rice mengangguk, lalu menatap ke bangku taman yang kosong. “Gimana salon Lo?” tanya Lily lagi seraya ikut duduk ke bangku yang dituju Rice. Lelaki ini dari tadi diam dan membuat Lily resah, dan Lily sudah tahu kalau dia memang suka berubah-ubah mood tiap waktu. Rice terlihat tampan kalau lagi diam, batin Lily.

Rice mengeluarkan ponsel dari saku kirinya. “Minggu depan kita kerja sama sama butik  yang mulai terkenal,” jawab Rice mencoba menyebut nama butik yang ia maksud. “Duh gua lupa namanya apaan, mereka suka sama riasan gua, jadi bulan depan salon gua juga punya tabloid bareng mereka.” Tuturnya seraya mengotak atik ponsel. Rice tertegun kala melihat wallpaper ponselnya. “Gila kali ya, wallpaper gua kok jadi gambar monyet gini sih?!”

Lily baru ingat kalau ia pernah meminjam ponsel Rice dan menyetting tema untuk malam hari dengan foto close up ­konyol nya. “Kurang ajar Lo!” ia menjambak rambut Rice. Lily hanya membayangkan betapa lelahnya Rice pulang kerja hingga larut malam dan setidaknya dengan begitu ia bisa tertawa. “Sini, biar gua hapus!”

Rice tak mananggapi dan malah memasukkan ponsel ke sakunya. “Enggak deh, di kamar kontrakan gua ada tikus, kan lumayan..” setelah itu kalimatnya terputus karena Lily menjambaknya dengan kekuatan ekstra hingga tubuh Rice roboh dan terguling di pangkuan Lily.

Mereka berdua terdiam. Mata bertemu mata, begitulah yang akhirnya terjadi. Deruman kendaraan di jalanan mulai terdengar samar. Rice tak tahu mengapa ia tak bisa bangkit, ia hanya membiarkan kepalanya di pangkuan Lily kini. Ia merasa begitu tenang dan menikmati cara Lily menatapnya. Seolah-olah mata Lily adalah sumur yang sanga dalam, membuat Rice tenggelam. “Minggirin kepala Lo, berat tau!” protes Lily.

Rice tersadar dan langsung duduk tegap. “Ayo balik, tadi gua lupa mobil gua udah di kunci apa belon.” Rice berbohong.

Sesampainya, Rice menunggu Lily masuk duluan. Kontrakan mereka memang berhadapan, tapi malam ini Rice tak sedang ingin mampir ke kontrakan Lily, bagaimanapun dirinya adalah laki-laki, apalagi Lily sedang sendirian di rumah itu. “Ya udah, Goog Night Ce!” Lily melambaikan tangan dan menutup pintu.

Rice mematung setelah masuk ke rumah dan menutup pintu. Hampir saja, dia tak boleh tahu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar