Hening.
Suasana setenang
dan sesunyi ini biasanya dapat membuat Lily damai, tapi tidak kali ini. Padahal
ia sudah mengomando seluruh syaraf untuk tak tegang, tak perlu menanggapi,
namun kenyataannya seluruhnya menolak perintahnya. “Aku enggak ngerti maksud
Kamu,” Ia kembali bergeming. “Mending kita balik aja lah dari pada buang-buang
waktu, terus Kamu temenin Bapak Kamu di rumah sakit.” Lily mengepalkan
tangannya dan mulai melangkah seraya menggigit bibir guna meneguhkan hatinya,
tapi ketika ia hendak mengambil langkah kedua, tubuhnya dihentikan dengan
rengkuhan tangan Zaki yang begitu cepat, kini lelaki itu sudah berdiri tepat di
belakang tubuh Lily yang menegang. “Zaki, lepas!!” Lily sedikit memelankan
suaranya karena takut orang mengira macam-macam, ia hampir terdengar seperti
berbisik.
“Andai Kamu
tahu, rasa hancur aku waktu ngeliat cincin itu lagi.” Ujar Zaki tak
mempedulikan Lily yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya. “Aku enggak
percaya Kamu setega itu.” Katanya lagi. “Aku fikir, apa salah aku, apa yang
bikin Kamu sampe ninggalin aku.” Ia tetap kokoh memeluk Lily dari belakang.
“Sampe ibuku bilang kalo Kamu udah enggak bisa nunggu aku lagi lagi, aku baru
nyadar. Aku terlalu lama ninggalin Kamu, aku tau aku yang salah karena enggak
ngasih kabar apapun, aku ngerasa nyesel saat itu. Dan aku akhirnya milih enggak
nyari ataupun nemuin Kamu lagi karena pasti rasanya lebih sakit.”Zaki berusaha
menjelaskan dengan sejujurnya. Matanya terlihat kelabu, teringat hari yang
begitu berat itu ternyata sebuah rekayasa, ia tak menyadari kalau dirinya
sedang bermain film selama ini.
Lily
sekarang tak lagi memberontak atau berusaha melepaskan dirinya, itu membuat
Zaki merasa lebih lega dan tenang. Karena sekarang Lily terlalu lemah untuk
memaksa diri agar tak terpengaruh. Ia sudah bisa memahami, tak ada yang salah
di antara mereka berdua, hanya saja takdir tak mengizinkan mereka bersatu. “Aku
udah ngelupain itu.” Kata Lily pelan. Menahan sayatan-sayatan belati yang ingin
membunuhnya perlahan. “Sekarang yang Kamu perlu Cuma ngelupain ini, ngelupain
aku.”
Zaki
bergetar, ia penuh emosi saat ini. “Aku udah berusaha ngebenci dan ngelupain
Kamu sejak hari itu Lil! Enggak semudah itu Lil! Bertahun-tahun itu berlalu,
tapi sampe sekarang aku masih enggak bisa Lil.” Zaki mengeratkan dekapannya, ia
menyandarkan kepalanya ke pundak Lily yang lunglai. “Please,kasih aku kesempatan sekali lagi. Kamu adalah alasan aku jadi Zaki yang sekarang, Kamu lah kekuatan
aku buat pergi jauh selama itu. Dan asal Kamu tau juga, alasan aku nerima Vania
dulu itu karena sakit hati aku ke Kamu. Dan..” Zaki merasakan matanya basah,
entah sudah berapa kali ia mengatakan kata ‘dan’ dari tadi, bayangan akan hari
di mana ibunya bilang kalau Lily memilih mengakhiri segalanya kembali lagi.
“Dan aku enggak mungkin bisa ngelupain Kamu kedua buat kalinya!” Bulir air
matanya jatuh begitu saja di pundak Lily.
“Untuk apa
lagi Zaki?” Tanya Lily merasakan sesuatu membasahi bajunya dan ia tahu hujan
tak sedang turun, ketegarannya tak lagi dapat membendung rasa. Ia pun ikut
menangis bersama Zaki yang mulai terisak. “Kamu udah punya masa depan yang
jelas. Dan aku enggak ada di situ!” Katanya terisak. “Vania emang yang terbaik
buat Kamu, bukan aku!” Katanya lagi, dengan kekuatan tersisa. “Ya, aku emang udah
tau semuanya, tapi mau bagaimana lagi? Anggep aja itu kenyataan yang harus kita
jalani! Walau pun Kamu dan aku enggak suka.”
Zaki
merasakan tubuh Lily terguncang, ia tahu perempuan yang sedang ia peluk kini
menangis juga. “Aku masih mau berjuang. Aku enggak bisa pasrah gitu aja. ” Ia
mengusap air matanya, naluri lelakinya kembali lagi. Ia tak pantas terlihat
seperti ini, ia harus lebih kuat di depan perempuan yang mengikat isi
fikirannya ini.
“Itu
percuma.” Lily mengelap air matanya dengan gusar. “Itu Cuma ngebikin aku tambah
salah di mata orang. Aku bakal dibilang ngehancurin pernikahan orang yang di
depan mata, aku ngerusak kedamaian orang lain, aku ngerusak masa depan orang
lain. Kamu faham? Itu Cuma bikin aku kehilangan harga diri.”
“Harga
diri?” Zaki mendengus. Ia membalikan tubuh Lily dan menatap kedua matanya. “Apa
harga diri lebih penting dari kisah ini?! Apa janji kita buat hidup bersama
dulu udah ilang dari ingatan Kamu?” Tanyanya sarkatis. “Ini tentang kehidupan
kita ke depan, tentang kebahagiaan! Kita berhak bahagia Lil!”
“Kalo gitu
aku lebih bahagia kalo Kamu pergi dari hidup aku!”
“Bohong! Aku
yakin masih ada cinta buat aku, sama kaya cinta aku ke Kamu, sama kaya perasaan
aku pas pertama kali ngeliat Kamu lagi , walaupun aku belum tau kebenaran
tentang itu, aku buktinya tetep cinta dan peduli ke Kamu, rasa benci itu hilang
gitu aja. Aku bener kan?!”
“Enggak, itu
salah!” Lily hampir berteriak, karena ia takut suara hatinya lebih keras dari
pada suara yang keluar dari pita suaranya. “Aku udah terlalu sadar, kita beda
kasta! Ada tembok tebel yang misahin kita! Dan, aku rasa—” Ketika Lily hendak
menyelasaikan kalimat ‘aku udah enggak punya perasaan lagi ke Kamu’, Zaki sudah
mengecup bibirnya secepat kilat. Tangan kanan Zaki mencengkeram kepalanya
dengan kuat namun lembut, membuat bantalan khusus untuk kepala Lily yang rasanya
dipukul-pukul oleh godam raksasa. Lily tak dapat mengelak, sebuah sensasi
menyengat dari bibirnya yang tengah dilumat, menyuntikkan sebuah rasa yang tak
terdefinisikan. Rasa itu lah yang kini menggetarkan tubuhnya, membuat kakinya
melunglai seketika. Makin lama ia makin tak kuat, dirinya menyandarkan sedikit
berat tubuhnya kepada Zaki. Beberapa detik berlalu, tangannya tiba-tiba telah
melingkar di pinggang Zaki yang sama-sama terpejam.
Zaki menekan
kepalanya lebih dalam, menjelajahi setiap permukaan halus dan lembut bak
kembang gula yang sangat manis, sesekali ia menggigitnya dengan pelan. Tanpa ia
sadari tangannya telah menangkup kedua pipi Lily untuk membawanya terbang lebih
tinggi. Lidahnya mulai memaksa masuk untuk menyecap ketika mulut Lily sedikit
terbuka. Rasa manis yang lebih dan lebih lagi setiap ia menyesap bibir Lily
membuatnya mabuk dan tak mau menyudahi ini. Ia sedikit melangkah hingga membuat
tubuh Lily bersandar ke pagar jembatan yang sedang mereka pijak saat ini.
Keduanya menikmati kesunyian dengan deru nafas membara. “Kamu sering bohong ke
aku.” Kata Zaki melepaskan bibirnya dari bibir Lily untuk sementara. Kedua mata
itu bertemu, seolah mencari kepastian. Dan yang Zaki tak dapat duga adalah
bagaimana Lily tiba-tiba menyentuh wajah Zaki dan air matanya berlinang lagi.
“Jangan nangis lagi.” Ia mengusap air mata Lily sambil menempelkan kening
mereka berdua.
“Apa yang
harus aku lakuin?” Lily menatap mata Zaki. “Kamu tau ini salah Ki, ini salah.”
Ulangnya ketakutan. Ia tak membayangkan apa kata orang kalau Zaki benar-benar
serius untuk kembali padanya padahal ia telah menjadi milik orang. Ia tak tahu
rasa malu apa yang akan ia dapatkan nantinya. “Aku takut.”
Zaki
mengusap pipi Lily dengan kedua ibu jarinya yang tadi sempat basah karena air
mata gadis itu. “Bilang kalo Kamu cinta aku, itu cukup.” Senyumnya mengembang
dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Selanjutnya biar aku yang ngadepin
orang-orang yang bikin Kamu takut itu.” Lily perlahan tersenyum. Kalimat Zaki
barusan tak kurang dari perkataan sang pangeran dalam dongeng-dongeng yang
pernah ia baca dulu.
Cukup lama
Lily terdiam karena ada keraguan yang tiba-tiba menghampiri. Ia sudah berjanji
pada Vania dan Darwin untuk membuat Zaki kembali pada jalur menuju masa depan
yang dibuatkan untuknya. Bukannya membuat Zaki semakin keras dan tak terlawan
seperti ini, bukan pula memberinya segenap cinta yang ia pernah kubur. Lily
memejamkan mata, sekelebat bayangan muncul di fikirannya, di antaranya adalah
rencana yang ia susun secara kilat barusan. Rencana besar.
Tapi
dilihatnya wajah Zaki yang menunggu dan penasaran, terlalu tak mungkin baginya
untuk tak luluh. Ia pun menarik nafas. “Oke.” Lily menatap wajah Zaki serius.
“Aku—aku enggak bisa ngasih cinta ke Kamu lagi Zaki,” Katanya membuat Zaki terpana
saking terkejutnya. “Karena dari dulu cinta itu udah aku kasih ke Kamu dan
sampe sekarang pun tetep di Kamu.” Senyumnya mengembang bersamaan dengan
kelegaan yang terlihat dari wajah Zaki, dan lelaki itu langsung tertawa bahagia
ke arahnya lalu menarik dagu Lily, kembali mencium bibir Lily lagi dan
melumatnya lebih lembut dan perlahan.
“Hampir aja
aku jantungan!”
***
“Lain kali
kita cari kontrakan yang lebih bagus.” Komentar Zaki saat Lily selesai
menyiapkan makanan untuk dibawanya ke rumah sakit, katanya ia khawatir ibu Zaki
itu lupa makan jadi ia buatkan itu khusus untuk Hera, sedangkan Zaki tadi sudah
ia paksa makan bersamanya di dapur. “Dan jauh dari bencong itu.” Tunjuknya pada
rumah Ricki di seberang. “Kalo perlu aku pindahin Kamu ke apartemenku, eh
maksud aku satu apartemen sama aku.” Koreksinya cepat.
“Hahaha!”
Lily terkekeh, Zaki berbicara seolah mereka sudah benar-benar pasangan yang
telah lama menjalin kasih. “Dia itu sahabat aku Zaki, dan dia bukan bencong,
dia Cuma sedikit lebih lembut dari cowok biasanya.” Omelnya. “Baru pertama kali
maen ke sini udah banyak protes!” Ia meletakkan bekal itu di depan Zaki yang
dari tadi menikmati kopi buatannya.
“Ini udah
kedua kalinya hoy, yang pertama pas Kamu kencan sama si Riga.” Zaki terkaget. “Ops
keceplosan.” Koreksi Zakicepat-cepat menutup mulutnya. Kepulan asap menghiasi
cangkir itu, membuatnya merasa ketakutan kalau ini mimpi dan tak lama lagi akan
terbangun.
Lily
lagi-lagi tak dapat menahan tawanya. “Itu artinya waktu itu Kamu ngikutin kita berdua dong? Wah wah..”
Lily menggeleng-geleng lalu menjulurkan lidahnya. “Udah mending sekarang
cepetan ke Rumah Sakit terus kasihin ini ke ibu, jangan sampe ada yang sakit
lagi.” Tunjuk Lily pada makanan yang ia masak kilat tadi sepulang dari kebun
raya.
Zaki kembali
menyesap kopi yang Lily buatkan, lalu ada sesuatu seperti bayangan manusia
terlihat sekilas di jendela ruang tamu mencuri perhatiannya, keningnya sedikit
berkerut, ia mencoba mengingat gerak-gerik dan tipe mata yang ia rasa pernah dilihat
sebelumnya itu. “Udah tujuh tahun nih enggak minum kopi buatan orang oon, jadi
harus dihabisin.” Katanya membuat Lily melotot sekaligus tertawa. Tak lama ia menatap arloji yang melingkar di
tangannya lalu ia pun menyerah pada waktu, karena Lily akan marah kalau
titahnya tak dituruti. “Ya udah, besok aku jemput ya?” Katanya dengan alis
terangkat, menunggu Lily mengangguk.
“Iyaaaaa.”
Angguk Lily dihiasi senyuman.
Zaki kembali
tersenyum lalu menatap jendela ruang tamu yang kini terlihat sepi tak seperti
tadi. Ia kini mulai mengerti. Mereka tadi memang sedang diawasi, namun ia kini
tak perlu khawatir karena ia sudah tahu siapa yang mengawasi mereka berdua
tadi, ia sudah ingat tipe mata orang itu. Tidak, orang-orang itu.
Zaki mulai
berjalan keluar diikuti Lily di belakangnnya.
“Hmm, kenapa sih enggak ikut? Kan kamu bisa tidur di kamar Bapak nanti?
Kalo enggak nanti aku anter pulang?” Tanyanya lagi dengan nada memohon, kentara
sekali ia masih rindu pada Lily, seolah tak ingin sedetik pun Lily tak berada
di sisinya.
Padahal baru
saja Lily mengangguk untuk Zaki dan sekarang terpaksa menggeleng sembari
mengatup mulutnya. “No.” Katanya singkat membuat Zaki gusar, bak anak kecil
yang balonnya baru saja dipecahkan oleh orang dewasa. Kekecewaan terlihat jelas
di wajahnya, namun itu menggelikan dan lucu.
“You know i couldn’t sleep tonight ‘cause
these happiness are playing inside my mind.” Lily tergelak sambil
bersedekap. Zaki lantas menarik
tubuhnya untuk lebih dekat dengan Lily dan menangkup wajah Lily, kebiasaan
barunya mulai hari ini. “Masih pengen liat Kamu.” Katanya sedikit manja.
Lily
lagi-lagi teringat rencananya. “Masih ada besok.” Ia menunduk sejenak
membuyarkan bayangan itu untuk sementara. “Lagian ibu Kamu kasihan sendirian.”
“Hmmm.”
Gumam Zaki mengangguk setuju, namun masih terlihat ia kecewa. “Good night,
tidur yang nyenyak karena besok aku pasti semangat. Jangan kira aku bakal baik,
aku bakal lebih galak!” Katanya berusaha menakuti, namun yang ia ajak bicara
hanya terkekeh. Sebenarnya ia hendak menanyakan mengapa seperti ada sesuatu
yang Lily masih sembunyikan darinya. Seperti ada kabut di dalam mata Lily yang
tertahan untuk menyembunyikan sesuatu itu. Tapi, Zaki memilih membiarkannya
hingga esok, karena hari ini terlalu panjang bagi mereka berdua. Ia harap, apa
pun yang sedang membuat Lily tampak ragu itu hanyalah belum terbiasanya Lily
dengan keadaan ini.
“YES SIR!!”
Jawab Lily memberi hormat pada Zaki bak anggota militer.
Zaki
tersenyum. “Oke, jangan lupa kunci pintu ya.” Pesannya lalu mulai berjalan
pergi. Ia sudah hampir keluar dari teras, namun sesuatu mengurungkan
perjalanannya menuju mobil. “Oh iya. Ada yang lupa.” Katanya berbalik dan
menatap Lily yang masih berdiri di ambang pintu. Sesaat Zaki menatap rumah
Ricki dan tersenyum mengejek, namun entah pada siapa senyuman itu ia
persembahkan. “Mmmmmmmmuah!” Katanya mengecup kening Lily dengan cepat lalu
segera berari kencang ke mobilnya yang sudah tak terkunci. Ia tak berani
melihat wajah Lily yang pasti akan merah—bukan karena malu ataupun merona,
melainkan marah pastinya. “Jangan tidur
malem-malem, mimpiin aku ya!” Katanya berteriak dari jendela mobil yang mulai
berjalan pelan. Pasti mereka suka
endingnya tadi hahaha. Zaki tersenyum sendiri dalam mobilnya.
“Dasar!”
Lily masih berdiri di ambang pintu, menatap lampu belakang mobil Zaki yang
makin lama makin tak terlihat. Matanya terasa perih, mulutnya tiba tiba
mengatup bersamaan gigi yang saling menghujam satu sama lain. Ia teringat
rencana besar yang ia fikirkan tadi siang, bersamaan saat ia membuka hatinya
lagi untuk Zaki. Hanya ia dan Tuhan yang tahu apa yang ia sedang fikirkan saat
ini, yang jelas dia harus melakukannya demi orang-orang yang ia sayangi juga cintai.
***
“Halo, apa
kabar Nona super BT? Udah ada perubahan gede-gedean nih kayaknya!” Rupanya
Diana yang sudah berada di kamar Lily dan meyibak seluruh tirai jendela seluruh
penjuru rumah kontrakan mereka berdua. Tampak sekali kalau sahabat Lily itu sedang
semangat, namun Lily malas menanyakannya. Karena hanya Agustin dan gaji bulanan
yang dapat membuat Diana sesumringah seperti ini. “Jangan masuk ke sini Sayang,
ada anak ayam baru bangun tidur!” Katanya pada Agustin yang juga datang
bersamanya sekitar sepuluh menit yang lalu.
“Kampret
Lo!” Sembur Lily duduk di atas tempat tidurnya. “Btw, kemana Lo semalem? Maen
nginep-nginepan mentang-mentang bentar lagi mau merit, udah lupa ya kalo kalian
belom ngasih undangan ke gue? Belum sah tuh!”
“Ada juga
gue kali yang nanya ke Elo, kenapa bisa Lo sama Zaki ke rumah barengan? Enggak
salah tuh kalian keliatan banget mesra begitu?”
Lily
tiba-tiba merasa malu sekaligus ketakutan. “Kok Lo bisa tau?”
“Nih!”
Tunjuk Diana pada kepalanya sendiri. “TELEPATI!”
“Gila Lo!” Lily
sedikit tertegun, ia mulai dihantui perasaan bersalah.
Diana
terkekeh. “Gue semalem balik, mau ngecek Lo masih idup apa udah bablas ke yang Maha Kuasa, niat hati sih
bawain makanan sama kain kafan kalo ternyata terlambat. Eh pas gue ke sini ada
mobil yang pernah Zaki pake pas ke sini pertama kali, ya gue enggak jadi masuk
lah, kirain kalian diskusi besar atau berantem atau debat atau panco atau apa
lah tentang masalah kalian. Dari pada kita kena getahnya, terpaksa gue sama
Agus ke rumah Ricki, gue kasih deh tuh makanan ke Ricki, eh eh eh pas kita
ngintipin Zaki sama Lo keluar dari dalem rumah, ada acara cium kening.
Apa-apaan tuh? Kita yang salah sangka apa kalian yang salah baca skenario
drama? Kok selama ini Lo enggak cerita kalo kalian udah balikan? Kemana aja ya
gue selama ini? Hmmm.”
Lily
berkedip-kedip mendengar ocehan sahabatnya yang lebih cepat dari burung beo
cerdas milik boss-nya dulu—bedanya kalau Diana tak akan semahal burung Beo itu kalau
dijual. Ia tak percaya sahabatnya membuat kesimpulan seperti itu. “Sotoy Lo
ah!” Katanya menjitak kepala Diana lumayan keras. “Semuanya salah!” Lily duduk
bersila, ia mulai menceritakan kejadian kemarin pada Diana, dimulai dengan
telepon dari Riga yang membuatnya khawatir hingga pergi ke Rumah Sakit hingga
keputusan besar yang ia ambil di kebun raya kemarin. Ia pun tak lupa
menceritakan bagaimana mereka berciuman di tempat yang indah itu, membuat Diana
terlihat meneguk liurnya saking memperhatikan dan menghayati cerita Lily. “Dan
semalem kayaknya si Zaki Cuma kegirangan sampe ada cium kening segala.” Lily
membela diri. “Btw, Lo doang kan yang ngintip?”
Diana
tersenyum lebar. “Si Ricki sama Agustin juga ikutan hehehe.” Katanya menggaruk
kepalanya. “Eh Lo tau gak, si Ricki kayaknya biasa aja tuh semalem. Dia
kayaknya tau tentang Lo sama Zaki dulunya, kayaknya dia tau dari Vania deh.”
Lily
tertegun, satu hal lagi membuat beban fikirannya bertambah. “Tau dari mana Lo?”
“TELEPATI!”
Tunjuk Diana pada kepalanya lagi.
“WOOOOOH!”
Lily berubah beringas. “Sekali lagi Lo ngomong begitu, gue tonjok idung Lo biar
bengkok sampe hari pernikahan Lo entar!!” Katanya mengejar Diana yang mulai
berlari terbirit-birit.
“Sayaaang!
Lily kumaaaatttt!!! Toloooong Lily kesurupaaan!!!” Teriak Diana menghambur ke
tubuh Agustin yang sedang menonton berita pagi di Televisi.
“Gus! Lo
batalin nikah sama nih orang! Dia punya bakat bikin emosi, bisa-bisa Lo mati
muda kalo serumah ama dia!” Lily mengincar Diana yang berlindung di samping tubuh
Agustin yang kini memeluknya. Diana menjulurkan lidahnya pada Lily.
“Hahaha.”
Agustin tergelak, bukan pertama kalinya ia menjadi benteng pertahanan Diana
seperti ini. Mereka terlalu sering ribut hingga Agustin tak dapat
menghitungnya. “Ada yang udah punya niat bikin sarapan? Karena perut gue mulai
kelaperan nih.” Katanya mengalihkan perang dunia yang sedang terjadi.
***
“Hmmm,
kalian berdua kenapa enggak bikin restoran aja sih? Masakan kalian tuh
enak-enak tau gak.” Puji Agustin.
Lily
menggeleng. “Bisa-bisa restoran runtuh kalo kokinya berantem kaya pas tadi
pagi.”
“Hahaha.”
Diana terkekeh sambil mengangguk-angguk. “Gue enggak bisa bayangin para
pelanggan lari tunggang langgang kalo si Lily kumat kaya tadi.” Ditatapnya Lily
dengan tatapan mengejek. Lily hendak meninju lengan Diana tepat bell rumah
mereka berbunyi. “Siapa?” Tanya Diana sembari memandang ke ruang tamu.
Lily
langsung berlari ke depan dan membukakan pintu. “Hai.” Sapa Zaki dengan
senyuman mengembang.
“Jam rumah
Kamu masih jalan kan?” Tanya Lily, namun Zaki tak faham. “Ini masih pagiii...”
Katanya membuat Zaki terkekeh.
“Aku enggak
sabar ngantor dari semalem, emang kenapa? Ga boleh??” Ledeknya.
“Hmmm, udah
sarapan?” Tanya Lily mempersilakan Zaki masuk ke dalam rumah. Zaki menggeleng
dan tak lama ia di dorong oleh Lily ke dapur. “Nah kalian bisa ngintip kita
secara langsung sekarang mumpung ada orangnya nih.” Kata Lily pada Diana dan
Agustin yang sedang menyantap sarapan mereka masing-masing.
Diana
terperangah, tidak seperti Agustin yang terlihat santai. “Mereka semalem udah
ngintip deket kok, di jendela ruang tamu.” Kata Zaki datar, membuat Diana
hampir melotot karena kaget. “Aku sempet ngeliat sekilas.” Ujar Zaki dengan
polosnya, tak memperhatikan wajah Diana dan Agustin yang memucat karena malu.
“HA?” Lily
menganga. “Heh, jadi semalem Lo ngintip di teras?! Lo bilang Lo ngintip di
rumah Ricki?!”
Diana
terkekeh, jenis tawa terhambar yang pernah ia lakukan. “Abis kita penasaran
kalian ngapain aja. Hehehe. Iya enggak say?” Tanyanya pada Agustin yang
mengangguk-angguk setuju.
“Gila,
padahal kita udah ngumpet. Kok masih ketahuan sih?” Agustin mengangkat
pundaknya heran. “Oh iya, Lo kan detektif ya, pantes aja mata Lo bisa awas
banget begitu. Hmmm, lain kali kita ngintip pake teropong aja Say.” Katanya
pada Diana.
“WOOYYY!
KALIAN MAU NGINTIP APAAN LAGI EMANG?! ENGGAK ADA YANG PERLU KALIAN INTIP LAGI!
GUE SUMPAHIN MAU?!” Teriak Lily membahana, membuat Zaki tertawa.
“Ampun Maaak
ampuuun!” Diana menangkupkan kedua telapak tangannya. Dilhatnya Lily tak lagi
melotot. “Lo udah sarapan? Nih gabung bareng kita.” Katanya ramah pada Zaki.
Zaki menatap
Lily lalu tanpa ragu duduk di salah satu bangku kosong tersisa. “Besok aku
lebih pagi kesininya.” Candanya pada Lily saat meletakkan piring di hadapannya.
“Kalo perlu aku bantu masak deh.”
“Say besok
aku juga kesini lebih pagi.” Canda Agustin tak mau kalah.
“Kalian
berdua bakal gue usir kalo berani bangunin kita pagi-pagi. Faham?!” Diana
melotot.
“Hahahaha.”
Tawa mereka seketika pecah.
Sarapan pagi
ini berlangsung menyenangkan. Mereka bagai sedang melakukan double date
layaknya pasangan pada umumnya. Namun sebelum berangkat ke kantor, Lily
mengajak Diana ke kamarnya untuk mengobrol sebentar.“Ada apa sih?” Tanya Diana.
“Tampar
gue.” Kata Lily tiba-tiba.
“HA?” Diana
terenyak. “Oh oke.” Dan PLAK! Tangannya berhasil menampar pipi mulus milik
Lily. Sebenarnya ia sudah lama memimpikan bisa menampar Lily, selama ini kalau
mereka ribut, Diana lah yang selalu jadi korban. Karena kenyataannya Lily
pernah belajar di perguruan silat, dan tak butuh susah payah bagi Lily untuk
membanting Diana ke lantai dan membuatnya kesakitan.
Lily
meringis, Diana lumayan tangkas. Perintahnya itu dilaksanakan dalam waktu
kurang dari tiga detik. “Aw!” dengusnya. “Makasih, lain kali gue bakal minta
lagi.” Katanya hendak meninggalkan Diana yang melongo.
“Tunggu
dulu!”
“Apa lagi?”
Tanya Lily kali ini, ia sedang terburu-buru.
Diana
memutar bola matanya. “Tadi pas masak gue enggak ngasih racun serangga ke
nasgor, kenapa Lo jadi somplak begini?” Jelas ia heran dengan tingkah laku Lily
yang tak wajar.
“Oh.” Lily
sebenarnya tahu arah pembicaraan ini. “Itu penebusan dosa gue, kesalahan gue. Nanti
lah gue cerita, sekarang gue buru-buru. Ada misi penting!” katanya sok ceria.
Percuma bagi
Diana, karena Lily kalau sudah bilang begitu tak dapat diubahnya. “Oke, yang
penting Lo cerita ya.”
Lily
mengangguk dan mencium pipi Diana. “Bye!” Lily berlari kecil. Ia mengatupkan
mulutnya, ciri kalau fikirannya terasa penuh dan siap luber. Ini penebusan rasa bersalah gue ke Vania
sama yang lainnya Di, biar gue enggak terlena terlalu lama sama si Zaki Di.
***
Zaki
memelankan musik di mobil yang sedang ia kendarai. Ditatapnya Lily sejenak,
lalu ia kembali tersenyum. Kembali lagi ia manatap wajah Lily, Zaki pun tersenyum
lagi. Barulah ketiga kalinya Zaki melakukan itu, Lily berkata. “Mukaku bisa
bolong kalo Kamu liatin terus.” Protes Lily sadar kalau dirinya diawasi. “Ada
apa sih? Ada bekas makanan?” Tanyanya sembari mengecek wajahnya sendiri di kaca
spion.
“Bolong?
Mata aku bukan Loop!” Kata Zaki menyalakan sen kiri mobilnya namun tak dapat
menyembunyikan senyumannya yang sejak tadi mengembang dan enggan hilang. “Feels like i dreamed too long, i still cant
believe.”
“Well wake up and realize!” Tambah Lily.
Ia lantas menggeleng-geleng. “Ya gini lah hidup, satu menit yang akan datang
pun kita enggak tau.”
Zaki
mengangguk setuju. “Makasih ya.” Katanya singkat.
“Kenapa?”
“Karena
kesempatan ini, kepercayaan ini.” Zaki tersenyum tulus. Namun ketika dilihatnya
Lily yang gelisah, membuat dirinya bertanya-tanya. Ia tahu Lily sejak lama,
wajah Lily tak sepintar para penjahat yang suka mengelabuhinya. Lily tak dapat
menyembunyikan kalau dirinya sedang memikirkan sesuatu, di luar sana, hal yang
ia harap tahu tanpa bertanya.
Lily lantas
berusaha tersenyum. “Tuhan yang lagi baik ke kita.” Jenis jawaban yang bahkan
Lily tak fahami. Tapi ia bersyukur Zaki tak bertanya lagi karena mereka sudah
sampai ke kantor. Zaki berjalan di sisinya, tak seperti sebelum-sebelumnya, ia
lebih terlihat ramah dan hangat. Lily bahkan merasa diawasi setiap mata, seolah
menyudutkannya. “Kayaknya semuanya ngeliatin kita deh.” Gumam Lily.
“Siapa?
Siapa?” Tanya Zaki berlagak melindungi anak kecil. “Biar aku hajar.”
“Ih!” Lily
sebal, membuat Zaki tertawa lebar. Mereka tak berkata apa-apa lagi hingga masuk
ke ruangan. Zaki hendak masuk ke ruangannya namun pak Gatot buru-buru
menghentikannya. Ia terlihat serius dan meminta Zaki masuk ke ruangannya. Namun
sebelum masuk, pak Gatot memperhatikan Lily dengan bibir terkatup. Sementara
Zaki hanya mengangkat pundak sembari menatap Lily ramah, kemudian ia mengikuti
atasannya tersebut.
“Hei
cewek-yang-salah-masuk-kamar-mayat, selamat pagi!” Tiba-tiba Riga sudah berdiri
di hadapan Lily yang tertegun memandangi ruang pak Gatot yang tertutup. Ia tak
tahu sejak kapan namanya diubah, namun itu justru membuatnya sedikit lebih
santai dan terhibur. “Sehari enggak ngelihat Kamu di kantor rasanya enggak
seru.” Katanya jujur. “Kemaren dia beneran nganter Kamu?”
Lily faham
maksud Riga. “Iya, kenapa emang?” Tanya Lily balik.
“Dia kemaren
kelihatan capek, biasanya kalo udah gitu Vania aja dia enggak peduliin.” Riga
menatap Lily, memperhatikan reaksi Lily yang sudah bisa ia bayangkan. Dan
ternyata Lily memang terlihat gugup. “Tapi mungkin karena Kamu asistennya dia
enggak keberatan nganter Kamu kali ya.” Lanjut Riga tak mempedulikan wajah Lily
yang menegang.
“Ehm.” Lily
berdeham. “Kemaren di kantor enggak ada apa-apa kan?” Riga menggeleng. “Kok
Zaki dipanggil pak Gatot ya, mukanya serius gitu kelihatannya.”
“Oh itu..”
Riga menduga, pastilah Vania yang melakukan ini. Padahal ia sudah berusaha
sekeras mungkin agar Vania tak gegabah dahulu. Ya, semalam Vania datang ke
apartemen Riga dan menceritakan seluruhnya. Vania menceritakan bagaimana Zaki
yang marah karena tahu ia mendatangi Lily dengan cara membohonginya lewat surat
itu. Vania juga menceritakan bagaimana dinginnya Zaki saat mengatakan kalau ia
ingin membatalkan pernikahan. Vania telah mengadukan itu pada ayahnya, yang
mana kenal dekat dengan para petinggi lainnya di Kepolisian kota ini, termasuk
pak Gatot. Ayah Vania minta bantuan pak Gatot agar Zaki diperingatkan dan
ditegur, posisi Zaki sekarang dalam bahaya kalau ia tetap seperti itu.
Riga semalam
memohon pada Vania agar tak melakukan itu, tapi usahanya gagal. Ia sedikit
kecewa pada sikap Vania yang dianggapnya merendahkan dirinya sendiri karena
cinta yang dipaksakan. walaupun begitu, sebagian hati Riga terasa sesak karena
orang yang ia cintai diperlakukan seperti itu, tapi ia juga tak bisa membohongi
diri kalau yang Zaki lakukan itu haknya yang tak orang lain dapat larang. Riga
kini serba salah, mereka berdua adalah sahabatnya.
“Ada yang
mau aku omongin ke Kamu.” Kata Riga pada Lily, tersadar ia sedang melamun di
hadapan Lily. “Tapi jangan di sini.” Bisik Riga.
Lily panik,
ia tak mau Zaki nanti mencarinya karena tak izin dahulu. “Sekarang? Tapi..”
“Percaya
aku, ini penting.” Katanya pelan. Ia sudah siap masuk ke dalam pusaran masalah
ini. “Ini tentang Zaki.” Riga terhenti. Udah
saatnya. “Dan Kamu.” Katanya lagi, membuat Lily tercekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar