Minggu, 07 September 2014

Silent Ring Part 16



Hening.
Suasana setenang dan sesunyi ini biasanya dapat membuat Lily damai, tapi tidak kali ini. Padahal ia sudah mengomando seluruh syaraf untuk tak tegang, tak perlu menanggapi, namun kenyataannya seluruhnya menolak perintahnya. “Aku enggak ngerti maksud Kamu,” Ia kembali bergeming. “Mending kita balik aja lah dari pada buang-buang waktu, terus Kamu temenin Bapak Kamu di rumah sakit.” Lily mengepalkan tangannya dan mulai melangkah seraya menggigit bibir guna meneguhkan hatinya, tapi ketika ia hendak mengambil langkah kedua, tubuhnya dihentikan dengan rengkuhan tangan Zaki yang begitu cepat, kini lelaki itu sudah berdiri tepat di belakang tubuh Lily yang menegang. “Zaki, lepas!!” Lily sedikit memelankan suaranya karena takut orang mengira macam-macam, ia hampir terdengar seperti berbisik.
“Andai Kamu tahu, rasa hancur aku waktu ngeliat cincin itu lagi.” Ujar Zaki tak mempedulikan Lily yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya. “Aku enggak percaya Kamu setega itu.” Katanya lagi. “Aku fikir, apa salah aku, apa yang bikin Kamu sampe ninggalin aku.” Ia tetap kokoh memeluk Lily dari belakang. “Sampe ibuku bilang kalo Kamu udah enggak bisa nunggu aku lagi lagi, aku baru nyadar. Aku terlalu lama ninggalin Kamu, aku tau aku yang salah karena enggak ngasih kabar apapun, aku ngerasa nyesel saat itu. Dan aku akhirnya milih enggak nyari ataupun nemuin Kamu lagi karena pasti rasanya lebih sakit.”Zaki berusaha menjelaskan dengan sejujurnya. Matanya terlihat kelabu, teringat hari yang begitu berat itu ternyata sebuah rekayasa, ia tak menyadari kalau dirinya sedang bermain film selama ini.
Lily sekarang tak lagi memberontak atau berusaha melepaskan dirinya, itu membuat Zaki merasa lebih lega dan tenang. Karena sekarang Lily terlalu lemah untuk memaksa diri agar tak terpengaruh. Ia sudah bisa memahami, tak ada yang salah di antara mereka berdua, hanya saja takdir tak mengizinkan mereka bersatu. “Aku udah ngelupain itu.” Kata Lily pelan. Menahan sayatan-sayatan belati yang ingin membunuhnya perlahan. “Sekarang yang Kamu perlu Cuma ngelupain ini, ngelupain aku.”
Zaki bergetar, ia penuh emosi saat ini. “Aku udah berusaha ngebenci dan ngelupain Kamu sejak hari itu Lil! Enggak semudah itu Lil! Bertahun-tahun itu berlalu, tapi sampe sekarang aku masih enggak bisa Lil.” Zaki mengeratkan dekapannya, ia menyandarkan kepalanya ke pundak Lily yang lunglai. “Please,kasih aku kesempatan sekali lagi. Kamu adalah alasan aku jadi Zaki yang sekarang, Kamu lah kekuatan aku buat pergi jauh selama itu. Dan asal Kamu tau juga, alasan aku nerima Vania dulu itu karena sakit hati aku ke Kamu. Dan..” Zaki merasakan matanya basah, entah sudah berapa kali ia mengatakan kata ‘dan’ dari tadi, bayangan akan hari di mana ibunya bilang kalau Lily memilih mengakhiri segalanya kembali lagi. “Dan aku enggak mungkin bisa ngelupain Kamu kedua buat kalinya!” Bulir air matanya jatuh begitu saja di pundak Lily.
“Untuk apa lagi Zaki?” Tanya Lily merasakan sesuatu membasahi bajunya dan ia tahu hujan tak sedang turun, ketegarannya tak lagi dapat membendung rasa. Ia pun ikut menangis bersama Zaki yang mulai terisak. “Kamu udah punya masa depan yang jelas. Dan aku enggak ada di situ!” Katanya terisak. “Vania emang yang terbaik buat Kamu, bukan aku!” Katanya lagi, dengan kekuatan tersisa. “Ya, aku emang udah tau semuanya, tapi mau bagaimana lagi? Anggep aja itu kenyataan yang harus kita jalani! Walau pun Kamu dan aku enggak suka.”
Zaki merasakan tubuh Lily terguncang, ia tahu perempuan yang sedang ia peluk kini menangis juga. “Aku masih mau berjuang. Aku enggak bisa pasrah gitu aja. ” Ia mengusap air matanya, naluri lelakinya kembali lagi. Ia tak pantas terlihat seperti ini, ia harus lebih kuat di depan perempuan yang mengikat isi fikirannya ini.
“Itu percuma.” Lily mengelap air matanya dengan gusar. “Itu Cuma ngebikin aku tambah salah di mata orang. Aku bakal dibilang ngehancurin pernikahan orang yang di depan mata, aku ngerusak kedamaian orang lain, aku ngerusak masa depan orang lain. Kamu faham? Itu Cuma bikin aku kehilangan harga diri.”
“Harga diri?” Zaki mendengus. Ia membalikan tubuh Lily dan menatap kedua matanya. “Apa harga diri lebih penting dari kisah ini?! Apa janji kita buat hidup bersama dulu udah ilang dari ingatan Kamu?” Tanyanya sarkatis. “Ini tentang kehidupan kita ke depan, tentang kebahagiaan! Kita berhak bahagia Lil!”
“Kalo gitu aku lebih bahagia kalo Kamu pergi dari hidup aku!”
“Bohong! Aku yakin masih ada cinta buat aku, sama kaya cinta aku ke Kamu, sama kaya perasaan aku pas pertama kali ngeliat Kamu lagi , walaupun aku belum tau kebenaran tentang itu, aku buktinya tetep cinta dan peduli ke Kamu, rasa benci itu hilang gitu aja. Aku bener kan?!”
“Enggak, itu salah!” Lily hampir berteriak, karena ia takut suara hatinya lebih keras dari pada suara yang keluar dari pita suaranya. “Aku udah terlalu sadar, kita beda kasta! Ada tembok tebel yang misahin kita! Dan, aku rasa—” Ketika Lily hendak menyelasaikan kalimat ‘aku udah enggak punya perasaan lagi ke Kamu’, Zaki sudah mengecup bibirnya secepat kilat. Tangan kanan Zaki mencengkeram kepalanya dengan kuat namun lembut, membuat bantalan khusus untuk kepala Lily yang rasanya dipukul-pukul oleh godam raksasa. Lily tak dapat mengelak, sebuah sensasi menyengat dari bibirnya yang tengah dilumat, menyuntikkan sebuah rasa yang tak terdefinisikan. Rasa itu lah yang kini menggetarkan tubuhnya, membuat kakinya melunglai seketika. Makin lama ia makin tak kuat, dirinya menyandarkan sedikit berat tubuhnya kepada Zaki. Beberapa detik berlalu, tangannya tiba-tiba telah melingkar di pinggang Zaki yang sama-sama terpejam.
Zaki menekan kepalanya lebih dalam, menjelajahi setiap permukaan halus dan lembut bak kembang gula yang sangat manis, sesekali ia menggigitnya dengan pelan. Tanpa ia sadari tangannya telah menangkup kedua pipi Lily untuk membawanya terbang lebih tinggi. Lidahnya mulai memaksa masuk untuk menyecap ketika mulut Lily sedikit terbuka. Rasa manis yang lebih dan lebih lagi setiap ia menyesap bibir Lily membuatnya mabuk dan tak mau menyudahi ini. Ia sedikit melangkah hingga membuat tubuh Lily bersandar ke pagar jembatan yang sedang mereka pijak saat ini. Keduanya menikmati kesunyian dengan deru nafas membara. “Kamu sering bohong ke aku.” Kata Zaki melepaskan bibirnya dari bibir Lily untuk sementara. Kedua mata itu bertemu, seolah mencari kepastian. Dan yang Zaki tak dapat duga adalah bagaimana Lily tiba-tiba menyentuh wajah Zaki dan air matanya berlinang lagi. “Jangan nangis lagi.” Ia mengusap air mata Lily sambil menempelkan kening mereka berdua.
“Apa yang harus aku lakuin?” Lily menatap mata Zaki. “Kamu tau ini salah Ki, ini salah.” Ulangnya ketakutan. Ia tak membayangkan apa kata orang kalau Zaki benar-benar serius untuk kembali padanya padahal ia telah menjadi milik orang. Ia tak tahu rasa malu apa yang akan ia dapatkan nantinya. “Aku takut.”
Zaki mengusap pipi Lily dengan kedua ibu jarinya yang tadi sempat basah karena air mata gadis itu. “Bilang kalo Kamu cinta aku, itu cukup.” Senyumnya mengembang dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Selanjutnya biar aku yang ngadepin orang-orang yang bikin Kamu takut itu.” Lily perlahan tersenyum. Kalimat Zaki barusan tak kurang dari perkataan sang pangeran dalam dongeng-dongeng yang pernah ia baca dulu.
Cukup lama Lily terdiam karena ada keraguan yang tiba-tiba menghampiri. Ia sudah berjanji pada Vania dan Darwin untuk membuat Zaki kembali pada jalur menuju masa depan yang dibuatkan untuknya. Bukannya membuat Zaki semakin keras dan tak terlawan seperti ini, bukan pula memberinya segenap cinta yang ia pernah kubur. Lily memejamkan mata, sekelebat bayangan muncul di fikirannya, di antaranya adalah rencana yang ia susun secara kilat barusan. Rencana besar.
Tapi dilihatnya wajah Zaki yang menunggu dan penasaran, terlalu tak mungkin baginya untuk tak luluh. Ia pun menarik nafas. “Oke.” Lily menatap wajah Zaki serius. “Aku—aku enggak bisa ngasih cinta ke Kamu lagi Zaki,” Katanya membuat Zaki terpana saking terkejutnya. “Karena dari dulu cinta itu udah aku kasih ke Kamu dan sampe sekarang pun tetep di Kamu.” Senyumnya mengembang bersamaan dengan kelegaan yang terlihat dari wajah Zaki, dan lelaki itu langsung tertawa bahagia ke arahnya lalu menarik dagu Lily, kembali mencium bibir Lily lagi dan melumatnya lebih lembut dan perlahan.
“Hampir aja aku jantungan!”
***
“Lain kali kita cari kontrakan yang lebih bagus.” Komentar Zaki saat Lily selesai menyiapkan makanan untuk dibawanya ke rumah sakit, katanya ia khawatir ibu Zaki itu lupa makan jadi ia buatkan itu khusus untuk Hera, sedangkan Zaki tadi sudah ia paksa makan bersamanya di dapur. “Dan jauh dari bencong itu.” Tunjuknya pada rumah Ricki di seberang. “Kalo perlu aku pindahin Kamu ke apartemenku, eh maksud aku satu apartemen sama aku.” Koreksinya cepat.
“Hahaha!” Lily terkekeh, Zaki berbicara seolah mereka sudah benar-benar pasangan yang telah lama menjalin kasih. “Dia itu sahabat aku Zaki, dan dia bukan bencong, dia Cuma sedikit lebih lembut dari cowok biasanya.” Omelnya. “Baru pertama kali maen ke sini udah banyak protes!” Ia meletakkan bekal itu di depan Zaki yang dari tadi menikmati kopi buatannya.
“Ini udah kedua kalinya hoy, yang pertama pas Kamu kencan sama si Riga.” Zaki terkaget. “Ops keceplosan.” Koreksi Zakicepat-cepat menutup mulutnya. Kepulan asap menghiasi cangkir itu, membuatnya merasa ketakutan kalau ini mimpi dan tak lama lagi akan terbangun.
Lily lagi-lagi tak dapat menahan tawanya. “Itu artinya waktu itu  Kamu ngikutin kita berdua dong? Wah wah..” Lily menggeleng-geleng lalu menjulurkan lidahnya. “Udah mending sekarang cepetan ke Rumah Sakit terus kasihin ini ke ibu, jangan sampe ada yang sakit lagi.” Tunjuk Lily pada makanan yang ia masak kilat tadi sepulang dari kebun raya.
Zaki kembali menyesap kopi yang Lily buatkan, lalu ada sesuatu seperti bayangan manusia terlihat sekilas di jendela ruang tamu mencuri perhatiannya, keningnya sedikit berkerut, ia mencoba mengingat gerak-gerik dan tipe mata yang ia rasa pernah dilihat sebelumnya itu. “Udah tujuh tahun nih enggak minum kopi buatan orang oon, jadi harus dihabisin.” Katanya membuat Lily melotot sekaligus tertawa.  Tak lama ia menatap arloji yang melingkar di tangannya lalu ia pun menyerah pada waktu, karena Lily akan marah kalau titahnya tak dituruti. “Ya udah, besok aku jemput ya?” Katanya dengan alis terangkat, menunggu Lily mengangguk. 
“Iyaaaaa.” Angguk Lily dihiasi senyuman.
Zaki kembali tersenyum lalu menatap jendela ruang tamu yang kini terlihat sepi tak seperti tadi. Ia kini mulai mengerti. Mereka tadi memang sedang diawasi, namun ia kini tak perlu khawatir karena ia sudah tahu siapa yang mengawasi mereka berdua tadi, ia sudah ingat tipe mata orang itu. Tidak, orang-orang itu.
Zaki mulai berjalan keluar diikuti Lily di belakangnnya.  “Hmm, kenapa sih enggak ikut? Kan kamu bisa tidur di kamar Bapak nanti? Kalo enggak nanti aku anter pulang?” Tanyanya lagi dengan nada memohon, kentara sekali ia masih rindu pada Lily, seolah tak ingin sedetik pun Lily tak berada di sisinya.
Padahal baru saja Lily mengangguk untuk Zaki dan sekarang terpaksa menggeleng sembari mengatup mulutnya. “No.” Katanya singkat membuat Zaki gusar, bak anak kecil yang balonnya baru saja dipecahkan oleh orang dewasa. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya, namun itu menggelikan dan lucu.
You know i couldn’t sleep tonight ‘cause these happiness are playing inside my mind.” Lily tergelak sambil bersedekap. Zaki lantas menarik tubuhnya untuk lebih dekat dengan Lily dan menangkup wajah Lily, kebiasaan barunya mulai hari ini. “Masih pengen liat Kamu.” Katanya sedikit manja.
Lily lagi-lagi teringat rencananya. “Masih ada besok.” Ia menunduk sejenak membuyarkan bayangan itu untuk sementara. “Lagian ibu Kamu kasihan sendirian.”
“Hmmm.” Gumam Zaki mengangguk setuju, namun masih terlihat ia kecewa. “Good night, tidur yang nyenyak karena besok aku pasti semangat. Jangan kira aku bakal baik, aku bakal lebih galak!” Katanya berusaha menakuti, namun yang ia ajak bicara hanya terkekeh. Sebenarnya ia hendak menanyakan mengapa seperti ada sesuatu yang Lily masih sembunyikan darinya. Seperti ada kabut di dalam mata Lily yang tertahan untuk menyembunyikan sesuatu itu. Tapi, Zaki memilih membiarkannya hingga esok, karena hari ini terlalu panjang bagi mereka berdua. Ia harap, apa pun yang sedang membuat Lily tampak ragu itu hanyalah belum terbiasanya Lily dengan keadaan ini.
“YES SIR!!” Jawab Lily memberi hormat pada Zaki bak anggota militer.
Zaki tersenyum. “Oke, jangan lupa kunci pintu ya.” Pesannya lalu mulai berjalan pergi. Ia sudah hampir keluar dari teras, namun sesuatu mengurungkan perjalanannya menuju mobil. “Oh iya. Ada yang lupa.” Katanya berbalik dan menatap Lily yang masih berdiri di ambang pintu. Sesaat Zaki menatap rumah Ricki dan tersenyum mengejek, namun entah pada siapa senyuman itu ia persembahkan. “Mmmmmmmmuah!” Katanya mengecup kening Lily dengan cepat lalu segera berari kencang ke mobilnya yang sudah tak terkunci. Ia tak berani melihat wajah Lily yang pasti akan merah—bukan karena malu ataupun merona, melainkan marah pastinya.  “Jangan tidur malem-malem, mimpiin aku ya!” Katanya berteriak dari jendela mobil yang mulai berjalan pelan. Pasti mereka suka endingnya tadi hahaha. Zaki tersenyum sendiri dalam mobilnya.
“Dasar!” Lily masih berdiri di ambang pintu, menatap lampu belakang mobil Zaki yang makin lama makin tak terlihat. Matanya terasa perih, mulutnya tiba tiba mengatup bersamaan gigi yang saling menghujam satu sama lain. Ia teringat rencana besar yang ia fikirkan tadi siang, bersamaan saat ia membuka hatinya lagi untuk Zaki. Hanya ia dan Tuhan yang tahu apa yang ia sedang fikirkan saat ini, yang jelas dia harus melakukannya demi orang-orang yang ia sayangi juga cintai.
***
“Halo, apa kabar Nona super BT? Udah ada perubahan gede-gedean nih kayaknya!” Rupanya Diana yang sudah berada di kamar Lily dan meyibak seluruh tirai jendela seluruh penjuru rumah kontrakan mereka berdua. Tampak sekali kalau sahabat Lily itu sedang semangat, namun Lily malas menanyakannya. Karena hanya Agustin dan gaji bulanan yang dapat membuat Diana sesumringah seperti ini. “Jangan masuk ke sini Sayang, ada anak ayam baru bangun tidur!” Katanya pada Agustin yang juga datang bersamanya sekitar sepuluh menit yang lalu.
“Kampret Lo!” Sembur Lily duduk di atas tempat tidurnya. “Btw, kemana Lo semalem? Maen nginep-nginepan mentang-mentang bentar lagi mau merit, udah lupa ya kalo kalian belom ngasih undangan ke gue? Belum sah tuh!”
“Ada juga gue kali yang nanya ke Elo, kenapa bisa Lo sama Zaki ke rumah barengan? Enggak salah tuh kalian keliatan banget mesra begitu?”
Lily tiba-tiba merasa malu sekaligus ketakutan. “Kok Lo bisa tau?”
“Nih!” Tunjuk Diana pada kepalanya sendiri. “TELEPATI!”
“Gila Lo!” Lily sedikit tertegun, ia mulai dihantui perasaan bersalah.
Diana terkekeh. “Gue semalem balik, mau ngecek Lo masih idup apa udah bablas ke yang Maha Kuasa, niat hati sih bawain makanan sama kain kafan kalo ternyata terlambat. Eh pas gue ke sini ada mobil yang pernah Zaki pake pas ke sini pertama kali, ya gue enggak jadi masuk lah, kirain kalian diskusi besar atau berantem atau debat atau panco atau apa lah tentang masalah kalian. Dari pada kita kena getahnya, terpaksa gue sama Agus ke rumah Ricki, gue kasih deh tuh makanan ke Ricki, eh eh eh pas kita ngintipin Zaki sama Lo keluar dari dalem rumah, ada acara cium kening. Apa-apaan tuh? Kita yang salah sangka apa kalian yang salah baca skenario drama? Kok selama ini Lo enggak cerita kalo kalian udah balikan? Kemana aja ya gue selama ini? Hmmm.”
Lily berkedip-kedip mendengar ocehan sahabatnya yang lebih cepat dari burung beo cerdas milik boss-nya dulu—bedanya kalau Diana tak akan semahal burung Beo itu kalau dijual. Ia tak percaya sahabatnya membuat kesimpulan seperti itu. “Sotoy Lo ah!” Katanya menjitak kepala Diana lumayan keras. “Semuanya salah!” Lily duduk bersila, ia mulai menceritakan kejadian kemarin pada Diana, dimulai dengan telepon dari Riga yang membuatnya khawatir hingga pergi ke Rumah Sakit hingga keputusan besar yang ia ambil di kebun raya kemarin. Ia pun tak lupa menceritakan bagaimana mereka berciuman di tempat yang indah itu, membuat Diana terlihat meneguk liurnya saking memperhatikan dan menghayati cerita Lily. “Dan semalem kayaknya si Zaki Cuma kegirangan sampe ada cium kening segala.” Lily membela diri. “Btw, Lo doang kan yang ngintip?”
Diana tersenyum lebar. “Si Ricki sama Agustin juga ikutan hehehe.” Katanya menggaruk kepalanya. “Eh Lo tau gak, si Ricki kayaknya biasa aja tuh semalem. Dia kayaknya tau tentang Lo sama Zaki dulunya, kayaknya dia tau dari Vania deh.”
Lily tertegun, satu hal lagi membuat beban fikirannya bertambah. “Tau dari mana Lo?”
“TELEPATI!” Tunjuk Diana pada kepalanya lagi.
“WOOOOOH!” Lily berubah beringas. “Sekali lagi Lo ngomong begitu, gue tonjok idung Lo biar bengkok sampe hari pernikahan Lo entar!!” Katanya mengejar Diana yang mulai berlari terbirit-birit.
“Sayaaang! Lily kumaaaatttt!!! Toloooong Lily kesurupaaan!!!” Teriak Diana menghambur ke tubuh Agustin yang sedang menonton berita pagi di Televisi.
“Gus! Lo batalin nikah sama nih orang! Dia punya bakat bikin emosi, bisa-bisa Lo mati muda kalo serumah ama dia!” Lily mengincar Diana yang berlindung di samping tubuh Agustin yang kini memeluknya. Diana menjulurkan lidahnya pada Lily.
“Hahaha.” Agustin tergelak, bukan pertama kalinya ia menjadi benteng pertahanan Diana seperti ini. Mereka terlalu sering ribut hingga Agustin tak dapat menghitungnya. “Ada yang udah punya niat bikin sarapan? Karena perut gue mulai kelaperan nih.” Katanya mengalihkan perang dunia yang sedang terjadi.
***
“Hmmm, kalian berdua kenapa enggak bikin restoran aja sih? Masakan kalian tuh enak-enak tau gak.” Puji Agustin.
Lily menggeleng. “Bisa-bisa restoran runtuh kalo kokinya berantem kaya pas tadi pagi.”
“Hahaha.” Diana terkekeh sambil mengangguk-angguk. “Gue enggak bisa bayangin para pelanggan lari tunggang langgang kalo si Lily kumat kaya tadi.” Ditatapnya Lily dengan tatapan mengejek. Lily hendak meninju lengan Diana tepat bell rumah mereka berbunyi. “Siapa?” Tanya Diana sembari memandang ke ruang tamu.
Lily langsung berlari ke depan dan membukakan pintu. “Hai.” Sapa Zaki dengan senyuman mengembang.
“Jam rumah Kamu masih jalan kan?” Tanya Lily, namun Zaki tak faham. “Ini masih pagiii...” Katanya membuat Zaki terkekeh.
“Aku enggak sabar ngantor dari semalem, emang kenapa? Ga boleh??” Ledeknya.
“Hmmm, udah sarapan?” Tanya Lily mempersilakan Zaki masuk ke dalam rumah. Zaki menggeleng dan tak lama ia di dorong oleh Lily ke dapur. “Nah kalian bisa ngintip kita secara langsung sekarang mumpung ada orangnya nih.” Kata Lily pada Diana dan Agustin yang sedang menyantap sarapan mereka masing-masing.
Diana terperangah, tidak seperti Agustin yang terlihat santai. “Mereka semalem udah ngintip deket kok, di jendela ruang tamu.” Kata Zaki datar, membuat Diana hampir melotot karena kaget. “Aku sempet ngeliat sekilas.” Ujar Zaki dengan polosnya, tak memperhatikan wajah Diana dan Agustin yang memucat karena malu.
“HA?” Lily menganga. “Heh, jadi semalem Lo ngintip di teras?! Lo bilang Lo ngintip di rumah Ricki?!”
Diana terkekeh, jenis tawa terhambar yang pernah ia lakukan. “Abis kita penasaran kalian ngapain aja. Hehehe. Iya enggak say?” Tanyanya pada Agustin yang mengangguk-angguk setuju.
“Gila, padahal kita udah ngumpet. Kok masih ketahuan sih?” Agustin mengangkat pundaknya heran. “Oh iya, Lo kan detektif ya, pantes aja mata Lo bisa awas banget begitu. Hmmm, lain kali kita ngintip pake teropong aja Say.” Katanya pada Diana.
“WOOYYY! KALIAN MAU NGINTIP APAAN LAGI EMANG?! ENGGAK ADA YANG PERLU KALIAN INTIP LAGI! GUE SUMPAHIN MAU?!” Teriak Lily membahana, membuat Zaki tertawa.
“Ampun Maaak ampuuun!” Diana menangkupkan kedua telapak tangannya. Dilhatnya Lily tak lagi melotot. “Lo udah sarapan? Nih gabung bareng kita.” Katanya ramah pada Zaki.
Zaki menatap Lily lalu tanpa ragu duduk di salah satu bangku kosong tersisa. “Besok aku lebih pagi kesininya.” Candanya pada Lily saat meletakkan piring di hadapannya. “Kalo perlu aku bantu masak deh.”
“Say besok aku juga kesini lebih pagi.” Canda Agustin tak mau kalah.
“Kalian berdua bakal gue usir kalo berani bangunin kita pagi-pagi. Faham?!” Diana melotot.
“Hahahaha.” Tawa mereka seketika pecah.
Sarapan pagi ini berlangsung menyenangkan. Mereka bagai sedang melakukan double date layaknya pasangan pada umumnya. Namun sebelum berangkat ke kantor, Lily mengajak Diana ke kamarnya untuk mengobrol sebentar.“Ada apa sih?” Tanya Diana.
“Tampar gue.” Kata Lily tiba-tiba.
“HA?” Diana terenyak. “Oh oke.” Dan PLAK! Tangannya berhasil menampar pipi mulus milik Lily. Sebenarnya ia sudah lama memimpikan bisa menampar Lily, selama ini kalau mereka ribut, Diana lah yang selalu jadi korban. Karena kenyataannya Lily pernah belajar di perguruan silat, dan tak butuh susah payah bagi Lily untuk membanting Diana ke lantai dan membuatnya kesakitan.
Lily meringis, Diana lumayan tangkas. Perintahnya itu dilaksanakan dalam waktu kurang dari tiga detik. “Aw!” dengusnya. “Makasih, lain kali gue bakal minta lagi.” Katanya hendak meninggalkan Diana yang melongo.
“Tunggu dulu!”
“Apa lagi?” Tanya Lily kali ini, ia sedang terburu-buru.
Diana memutar bola matanya. “Tadi pas masak gue enggak ngasih racun serangga ke nasgor, kenapa Lo jadi somplak begini?” Jelas ia heran dengan tingkah laku Lily yang tak wajar.
“Oh.” Lily sebenarnya tahu arah pembicaraan ini. “Itu penebusan dosa gue, kesalahan gue. Nanti lah gue cerita, sekarang gue buru-buru. Ada misi penting!” katanya sok ceria.
Percuma bagi Diana, karena Lily kalau sudah bilang begitu tak dapat diubahnya. “Oke, yang penting Lo cerita ya.”
Lily mengangguk dan mencium pipi Diana. “Bye!” Lily berlari kecil. Ia mengatupkan mulutnya, ciri kalau fikirannya terasa penuh dan siap luber. Ini penebusan rasa bersalah gue ke Vania sama yang lainnya Di, biar gue enggak terlena terlalu lama sama si Zaki Di.
***
Zaki memelankan musik di mobil yang sedang ia kendarai. Ditatapnya Lily sejenak, lalu ia kembali tersenyum. Kembali lagi ia manatap wajah Lily, Zaki pun tersenyum lagi. Barulah ketiga kalinya Zaki melakukan itu, Lily berkata. “Mukaku bisa bolong kalo Kamu liatin terus.” Protes Lily sadar kalau dirinya diawasi. “Ada apa sih? Ada bekas makanan?” Tanyanya sembari mengecek wajahnya sendiri di kaca spion.
“Bolong? Mata aku bukan Loop!” Kata Zaki menyalakan sen kiri mobilnya namun tak dapat menyembunyikan senyumannya yang sejak tadi mengembang dan enggan hilang. “Feels like i dreamed too long, i still cant believe.”
Well wake up and realize!” Tambah Lily. Ia lantas menggeleng-geleng. “Ya gini lah hidup, satu menit yang akan datang pun kita enggak tau.”
Zaki mengangguk setuju. “Makasih ya.” Katanya singkat.
“Kenapa?”
“Karena kesempatan ini, kepercayaan ini.” Zaki tersenyum tulus. Namun ketika dilihatnya Lily yang gelisah, membuat dirinya bertanya-tanya. Ia tahu Lily sejak lama, wajah Lily tak sepintar para penjahat yang suka mengelabuhinya. Lily tak dapat menyembunyikan kalau dirinya sedang memikirkan sesuatu, di luar sana, hal yang ia harap tahu tanpa bertanya.
Lily lantas berusaha tersenyum. “Tuhan yang lagi baik ke kita.” Jenis jawaban yang bahkan Lily tak fahami. Tapi ia bersyukur Zaki tak bertanya lagi karena mereka sudah sampai ke kantor. Zaki berjalan di sisinya, tak seperti sebelum-sebelumnya, ia lebih terlihat ramah dan hangat. Lily bahkan merasa diawasi setiap mata, seolah menyudutkannya. “Kayaknya semuanya ngeliatin kita deh.” Gumam Lily.
“Siapa? Siapa?” Tanya Zaki berlagak melindungi anak kecil. “Biar aku hajar.”
“Ih!” Lily sebal, membuat Zaki tertawa lebar. Mereka tak berkata apa-apa lagi hingga masuk ke ruangan. Zaki hendak masuk ke ruangannya namun pak Gatot buru-buru menghentikannya. Ia terlihat serius dan meminta Zaki masuk ke ruangannya. Namun sebelum masuk, pak Gatot memperhatikan Lily dengan bibir terkatup. Sementara Zaki hanya mengangkat pundak sembari menatap Lily ramah, kemudian ia mengikuti atasannya tersebut.
“Hei cewek-yang-salah-masuk-kamar-mayat, selamat pagi!” Tiba-tiba Riga sudah berdiri di hadapan Lily yang tertegun memandangi ruang pak Gatot yang tertutup. Ia tak tahu sejak kapan namanya diubah, namun itu justru membuatnya sedikit lebih santai dan terhibur. “Sehari enggak ngelihat Kamu di kantor rasanya enggak seru.” Katanya jujur. “Kemaren dia beneran nganter Kamu?”
Lily faham maksud Riga. “Iya, kenapa emang?” Tanya Lily balik.
“Dia kemaren kelihatan capek, biasanya kalo udah gitu Vania aja dia enggak peduliin.” Riga menatap Lily, memperhatikan reaksi Lily yang sudah bisa ia bayangkan. Dan ternyata Lily memang terlihat gugup. “Tapi mungkin karena Kamu asistennya dia enggak keberatan nganter Kamu kali ya.” Lanjut Riga tak mempedulikan wajah Lily yang menegang.
“Ehm.” Lily berdeham. “Kemaren di kantor enggak ada apa-apa kan?” Riga menggeleng. “Kok Zaki dipanggil pak Gatot ya, mukanya serius gitu kelihatannya.”
“Oh itu..” Riga menduga, pastilah Vania yang melakukan ini. Padahal ia sudah berusaha sekeras mungkin agar Vania tak gegabah dahulu. Ya, semalam Vania datang ke apartemen Riga dan menceritakan seluruhnya. Vania menceritakan bagaimana Zaki yang marah karena tahu ia mendatangi Lily dengan cara membohonginya lewat surat itu. Vania juga menceritakan bagaimana dinginnya Zaki saat mengatakan kalau ia ingin membatalkan pernikahan. Vania telah mengadukan itu pada ayahnya, yang mana kenal dekat dengan para petinggi lainnya di Kepolisian kota ini, termasuk pak Gatot. Ayah Vania minta bantuan pak Gatot agar Zaki diperingatkan dan ditegur, posisi Zaki sekarang dalam bahaya kalau ia tetap seperti itu.
Riga semalam memohon pada Vania agar tak melakukan itu, tapi usahanya gagal. Ia sedikit kecewa pada sikap Vania yang dianggapnya merendahkan dirinya sendiri karena cinta yang dipaksakan. walaupun begitu, sebagian hati Riga terasa sesak karena orang yang ia cintai diperlakukan seperti itu, tapi ia juga tak bisa membohongi diri kalau yang Zaki lakukan itu haknya yang tak orang lain dapat larang. Riga kini serba salah, mereka berdua adalah sahabatnya.
“Ada yang mau aku omongin ke Kamu.” Kata Riga pada Lily, tersadar ia sedang melamun di hadapan Lily. “Tapi jangan di sini.” Bisik Riga.
Lily panik, ia tak mau Zaki nanti mencarinya karena tak izin dahulu. “Sekarang? Tapi..”
“Percaya aku, ini penting.” Katanya pelan. Ia sudah siap masuk ke dalam pusaran masalah ini. “Ini tentang Zaki.” Riga terhenti. Udah saatnya. “Dan Kamu.” Katanya lagi, membuat Lily tercekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar