Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 12


“Kamu dari mana toh?” Tanya Hera, ibu Zaki. Ia terlihat khawatir melihat anak semata wayangnya baru pulang di jam segini. Zaki lantas hanya tersenyum, membuat Hera kebingungan. “Dari mana?” Ulangnya. Ia takut kalau senyuman Zaki ini akibat dari pengaruh obat anti depresi ataupun minuman keras.

Zaki membanting tubuhnya di sofa empuk lalu meletakkan kakinya di atas sofa itu juga. “Ada perampokkan di rumah sakit Bu,” Katanya. Ia tak bisa melarang pipinya yang masih terasa mengembung. Bibirnya berkali-kali berkedut, seolah ia habis disentrum tegangan tinggi. Ia memang tegang, tapi tadi. Sekarang yang ia rasakan ia tak dapat berjalan lurus ataupun tegak, ia seperti balon yang telah ditiup dan siap terbang. Melayang. “Hari ini juga kasusnya ditutup.”

Hera membantu melepas kaus kaki Zaki yang menggantung di telapak kakinya. “Tau enggak kamu tuh kaya orang mabok?!” Zaki terkekeh. “Kamu enggak ngapa-ngapain kan?”

“Hahaha.” Zaki tertawa. “Emang ada yang salah Bu? Ada yang salah ya kalo aku keliatan ceria begini?”

“Hmmmh!” Hera menggeleng. Percuma saja berdebat dengan anak kesayangannya ini. “Ya udah mandi dulu gih, terus makan malem, itu udah ibu bikinin rendang buat kamu.” Katanya melangkah pergi. Zaki masih melamun sampai ibunya keluar kamar lagi untuk melihat dirinya. “Kamu ini kenapa sih Zakh?”

“Bu..” Hera mendengarkan dengan seksama. Ia tahu betul kalau anaknya sudah memanggilnya begitu, pastilah ada yang ingin ia sampaikan. “Bapak mana?”

“Bapak balik ke Malang, ada kerjaan. Kenapa?”

“Tentang pernikahan aku sama Vania, aku masih belum siap Bu. Aku minta diundur waktunya.” Ia memandang ibunya yang terlihat kaget. Bila perlu dibatalin. “Aku masih banyak kerjaan yang belum tuntas. Apa kata yang lain kalo aku sebagai ketua penyelidik, seenaknya ambil cuti padahal kasus masih numpuk segitu banyaknya?”

Hera menunduk. Tak salah apa yang barusan Zaki bicarakan padanya. Bagimanapun pernikahan adalah kemauan hati, bukan pemaksaan. “Kamu tenangin pikiran kamu dulu Zaki, baru nanti bisa omongin ini lagi.” Zaki mengangguk dan melaksanakan titah ibunya. Ada sedikit beban yang berkurang dalam dirinya setelah bercerita pada ibunya.

“Kamu kok udah rapi??” Tanya Hera esok paginya ketika ia melihat anaknya sudah memakai seragam padahal hari masih pagi. Zaki mengangkat bahu, enggan menjawab. “Ada kasus apa lagi?”

“Hahaha. Zaki sengaja dateng pagi Bu, ada urusan. Lagian mobil aku di kantor, jadi hari ini pake taksi. Pasti macet nih, makanya mending berangkat pagi.” Katanya cuek walau lidahnya terasa pahit karena berbohong. Ia sebenarnya tak sabar bertemu dengan pencuri hatinya, Lily. setelah bertahun-tahun ia berusaha melupakan, Lily kembali lagi untuknya. Tapi benarkah untuknya?

“Kamu enggak makan dulu??”

“Nanti aja Bu di kantin.” Jawab Zaki cepat sambil mengenakan sepatu. “Ya udah ya Bu, Zaki berangkat dulu.” Ia mencium tangan dan pipi ibunya lalu berjalan cepat ke arah pintu.

***

Diana tampak bingung memperhatikan sahabatnya, Lily, yang terlihat aneh sejak pulang kerja tadi. Ia tak tahu apa penyebabnya, yang jelas sekarang baginya Lily tampak kurang waras. Diana pura-pura tak memperhatikan Lily yang menggonta-ganti chanel TV dengan tatapan kosong, sementara Diana sendiri membaca majalah tak fokus. Beberapa kali Lily menepuk wajahnya sendiri lalu mengaduh kesakitan. Diana hendak bertanya apa yang terjadi tepat ketika Lily berteriak: Aaaaakkkhhhhh!!!!!!

“Buset ada apa sih?!” Diana tampak kaget. “Lo kesurupan Jin asal mana?! Cepet bilang gue!!!”

Lily makin manyun. “Kayaknya gue setress nih!!”

“Ember!” timpal Diana sok cuek. Sebenarnya dalam hati ia menebak sesuatu sudah terjadi pada sahabatnya itu.

“Gue pusing!” rengeknya memelas. Diana meletakkan majalah kosmetik yang terbit sekali setiap bulan itu di meja. Ia mendekati Lily yang duduk lunglai di sofa sebelah. Tangan Lily menutupi wajahnya sendiri, seolah dapat membuang fikirannya yang kacau. “Gue bingung..” Terlintaslah bayangan Zaki yang besamanya di dalam taksi tadi. Lily sampai sekarang tak dapat mempercayai kecerobohannya. Seharusnya ia langsung menghentikan apa yang Zaki perbuat terhadapnya. Namun entah apa yang membuat akal sehatnya terpelanting jauh dari kepala, ia malah membiarkan dirinya terbuai. Tapi, benarkah ia terbuai? Lalu mengapa tadi tangannya sudah memeluk Zaki?!

Bertahun-tahun mereka bersahabat, Diana menjadi hafal tentang Lily. ia sudah mengenal Lily sejak masa OSPEK di SMA dulu, dan itu membuatnya tak bisa dibohongi. Sahabatnya ini sangat resah, dan itu sangat jelas di mata Diana. “Ada apa?” Tanyanya lembut seraya mengusap punggung Lily. “Ceritain ke gue.”

Tidak. Tidak. Lily melarang hatinya yang membujuk untuk jujur. Ia tahu perbuatannya ini salah, tapi Lily masih belum siap memberitahu Diana tentang Zaki. “Gue kangen nyokap.” Katanya berbohong. Diana masih tetap menatap wajah Lily yang tertutup kedua tangannya sendiri. “Gue mau balik ke Malang pas libur nanti,” Akhirnya Lily membuka wajahnya. Memasang wajah ‘aku tak apa-apa’ pada Diana.

“Yakin?” Diana merasa bukan itu yang membuat Lily resah begini. Lily mengangguk. “Ya udah, nanti gue temenin balik.” Lily tersenyum lalu merangkul sahabatnya dengan berat. Seolah bebannya terserap dengan stok ketegaran yang Diana simpan. “Tapi Lo yang nyetir. Hehehe.” Candanya hampir membuat Lily terharu.

***

Lily pagi-pagi sekali harus bangun karena teriakan  yang menggelegar Diana. Sudah lama mereka tak jalan-jalan pagi, kata Diana. Dan hari itu, Diana memaksa Lily bangun agar mengantarnya memilih sayur mayur dan bahan makanan lainnya untuk persediaan di kulkas. “Bawa dompet Lo juga!” Perintah Diana ketika Lily akhirnya bangun lalu mengikat rambutnya. Peraturan di rumah ini adalah uang Lo uang gue, uang  gue boleh kok Lo pake. Namun akhir-akhir ini, mereka berdua terlihat cukup dengan kondisi keuangan mereka. Tak ada yang perhitungan dalam rumah ini, itu lah mengapa persahabatan mereka dijamin kekal.

Puluhan ibu-ibu sudah memenuhi pasar tradisional semi modern di pagi sebuta ini. Kedua perempuan itu sudah mendapatkan segala keperluan kulkas, hanya tinggal ikan dan ayam potong aja. Mereka sengaja membeli kedua bahan lauk itu terakhir karena takut amis. “Lo beli ayam, gue yang beli ikan.” Diana berbagi tugas. Lily setuju dan langsung pergi berlawanan arah dengan Diana yang sudah melesat ke kios penjual ikan segar.

Lily akhirnya tiba di tempat penjual ayam potong yang begitu ramai. Ia tampak kagok karena ibu-ibu lain saling berebut, minta dilayani duluan. Lily hanya bisa berdiri di belakang punggung ibu-ibu itu seraya menunggu lumayan sepi. Ia masih menunggu hingga ponsel di sakunya berdering, menyanyikan lagu favoritnya. “Halo?” Angkatnya setelah melihat siapa yang menelpon.

“Lo dimana sih?” Sembur Ricki.

Lily terkekeh. “Di pasar, kenapa kangen Lo ya?”

“Cepetan balik, listrik mati nih. Gue kagak bisa masak!”

Lily menatap layar ponselnya, memastikan saat ini pukul berapa. “Dasar Lo, ngerepotin aja! Makanya beli kompor gas juga!” Lily balik menyembur. “Udah Lo ke kamar gue aja, terus congkel jendelanya, enggak gue kunci kok. Hehehe!”

“Dasar mantan maling!” semprot Ricki langsung mematikan ponselnya disambut tawa Lily. Ia sepertinya sudah memaki-memaki pintu kontrakan rumah Diana dan Lily yang terkunci rapat.

Lily hanya menahan senyuman sambil memperhatikan beberapa ayam potong di hadapannya. “Ayamnya satu kilo Pak.” Pesan Lily. Si penjual mengangguk seraya tersenyum. Lily meletakkan ponselnya di meja berlapis kramik di depannya untuk bebas menekan permukaan daging ayam. Dulu ia pernah membaca cara membedakan ayam ‘tiren’ dan ayam segar. Dan setelah meneliti, ia yakin ayam di hadapannya masih segar. “Berapa Pak?”

“Dua tiga Mbak..” Jawab penjual berumur lima puluhan tersebut.

“Makasih Pak..” Lily tersenyum sambil menyerahkan uangnya pada penjual. Ketika membalik tubuhnya, rupanya Diana sudah berdiri disana. Mereka pun berjalan pulang dengan belanjaan di tangan yang lumayan berat. “Ah itung-itung olah raga hahaha.” Ucap Lily pada Diana yang kelihatan lelah. Diana hanya menghembuskan nafas panjang.

 “Lagian Lo kan bisa beli makan di luar!” Omel Diana setelah sampai di rumah beberapa menit. Ia meletakkan roti tawar yang telah diisi dengan segala bahan ‘halal’ di dalamnya. Ricki masih saja mendumel tak jelas karena perutnya lapar bukan main.

Lily menengahi. “Udahlah, gak usah ribut. Kita kan tetangga, jadi harus rukun.” Ujarnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia masih belum nafsu untuk sarapan pagi ini.

Ricki memutar bola matanya. Telur mata sapi yang Ricki masak setengah matang membuat permukaan rotinya basah. “ckck, sok banget Lo ngomong begitu!” Timpal Ricki. “Lain kali, kalo mau kemana-mana pas masih pagi itu lapor dulu sama gue.”

“Siapa Lo?!” Sahut Diana mengunyah dengan kasar. Serpihan roti terlihat meluncur dari mulutnya.

Ricki terkekeh. “Oh...Lo belom kenal gue?? Kenalin, gue calon Lurah disini!” Tunjuknya ke dadanya sendiri.

Diana tertawa terpingkal-pingkal. “Hahaha!” Lily menjambak Ricki hingga kepalanya hampir menabrak meja makan. “Dasar sedeng!” katanya lalu ikut makan bersama kedua temannya itu. Mereka mulai mengoceh tentang hal yang tak jelas hingga jam dinding menunjukkan pukul tujuh lima belas.

***

Sudah lima belas menit Zaki memasang telinganya sambil memejamkan mata, berharap bisa mendengar suara langkah kaki Lily yang sangat ia kenal suaranya. Apa dia marah karena aku cium? Batinnya mulai was-was. Namun, menginjak menit ke dua puluh, akhirnya wajah Lily muncul dari pintu ruangannya tersebut, “Da-da-rimana?” Tanya Zaki gugup. Ia tak mau rasa khawatirnya mencolok.

“Ponselku hilang.” Jawab Lily cemberut namun kepala tertunduk. Sama dengan Zaki, kejadian kemarin adalah beban berat untuknya. ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena sejujurnya ia cukup menikmati itu. Lily menahan rasa tamparan di pipi seraya berjalan ke arah Zaki.

“Hilang????” Zaki mendadak histeris. Bukan karena harga ponsel tersebut. Tapi kemarin dia mati-matian berjuang untuk memotret dirinya bersama Lily untuk kejutan kalau-kalau nanti dirinya menelpon. Dan kabar barusan menghempaskan ‘niat jahil’ itu. “Dimana?!”

Lily tertunduk lesu. Banyak sekali foto-foto di dalamnya, kontak, juga lagu-lagu favoritnya. “Kalo aku tau namanya bukan ilang!” Sergah Lily.

Zaki mendegus lalu berdiri dari kursinya dan mulai melangkah, beruntung walaupun Lily terlihat tak mood ia masih mengikuti Zaki. Tak ada pilihan lain kecuali diam dan mengalah. Sisi lelakinya tak suka ada orang yang berkata dengan ketus seperti itu, namun sisi ‘hatinya’, apapun yang Lily lakukan termaafkan. “Pake sabuk pengaman Kamu.” Perintah Zaki ketika mereka sudah beberapa kilometer dari kantor. “Jangan bunuh diri Cuma gara-gara ponsel.”

Lily menggigit bibirnya geram. “Aku belum segila itu.” Tapi ia tetap melakukan perintah Zaki barusan. “Itu ponsel banyak banget kenangannya,” lirih Lily sambil membuang muka. ada rekaman kamu nyanyi di sana. 

Zaki mulai memasukkan gigi empat. Ada foto aku mau nyium Kamu malah! Tau gak sih itu butuh perjuangan!

Zaki telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap baik pada Lily mulai hari ini. Bukan karena momen manis kemarin tentunya, tapi keberanian dirinya lah yang ingin berbuat begitu. Lily tak bersalah, begitupun dirinya. Ia yakin cinta mereka masih sama, masih ada, dan masih membara seperti dulu. Keadaan lah yang membuat orang tuanya menipu mereka berdua.

“Nanti aku ganti.” Ujarnya lembut dan sungguh-sungguh. Andai saja kemarin Riga tak ikut mobil mereka, tentu ia dan Lily lebih bisa dekat. Zaki tersenyum lagi, teringat bagaimana rasa bibir Lily yang ranum membekas di bibirnya.

Lily tertawa datar. “Thanks but I don’t need it.” Ia menyibak poni yang mulai runtuh ke wajah. “Kita mau kemana?”

Zaki menyungginkan senyum kecut, niat baiknya dianggap lelucon begitu saja . “Kita cari ponsel Kamu dulu.” Sebelum Lily mendebat, ia sudah menggeleng untuk memperingatkan Lily kalau dirinya tak dapat di lawan.

***

Hari ini Hera sudah menentukan menu untuk makan malam nanti. Rencananya ia ingin mengundang Vania ikut bergabung makan malam bersama di apartemen anaknya untuk membicarakan pernikahan anaknya itu. Ia sudah lumayan sadar sejak semalam, Zaki selama ini yang tak pernah meminta apa-apa padanya, sekarang ia minta dimengerti. Ia tahu anaknya semalam berbohong tentang pekerjaan, ia tahu anaknya hanya belum siap ataupun belum yakin.

Belanjaan yang Hera bawa membuatnya berjalan lumayan kewalahan. “Pak ayamnya dua kilo ya, paha sama dada aja.” Pesan Hera sambil mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Ia hendak mengambil ayam potong yang telah diwadahi plasti bening dari sang penjual, tepat sebuah lagu terputar lumayan nyaring. Ia melihat sekeliling, memastikan dari mana asal suara tersebut. Namun matanya berhenti ketika ia melihat sebuah ponsel tergeletak begitu saja di meja keramik di hadapannya. “Itu punya siapa Pak?”

Penjual ayam tersebut membenahi pecinya yang sedikit miring. “Enggak tau Bu, tadi pagi ada orang ketinggalan HP-nya, tapi saya cari keliling orangnya udah enggak ada. Makanya saya taro di situ aja, barangkali anaknya balik lagi. Dari tadi itu HP bunyi terus, tapi saya mau angkat enggak ada tombolnya.” Hera mengerti maksud penjual di hadapannya. Sama dengan dirinya, ia tak terlalu mengerti mengoperasikan ponsel canggih seperti itu. Ia sebenarnya punya satu, dibelikan Zaki sebagai kado ulang tahunnya yang ke lima puluh. Namun hingga saat ini, ia hanya tau caranya menelepon dan mengirim pesan. Gaptek lah istilah Zaki kalau mengatakan sosok ibunya itu. “Saya mau minta tolong ke orang, takutnya malah diambil.”

Hera mendekatkan kepalanya ke layar ponsel. Matanya yang mulai rabun membuatnya sedikit kesusahan untuk melihat gambar siapa yang muncul di layar itu. Tak lama, setelah berusaha melihat dengan jelas, Hera mendapati dirinya terkejut. “Ini, ini foto anak saya!”

“Loh? Kok bisa Bu?”

Hera menggeleng, ia tak tahu juga. “Apa yang kesini tadi itu perempuan??” Tanya Hera memastikan. Lelaki di hadapannya mengangguk mantap. “Apa jangan-jangan ini punya Vania ya?” Tanyanya dalam hati ketika ponsel itu berhenti berdering bersamaan layarnya yang mati. “Pak, gini aja, HP ini saya bawa dulu. Kalo ada apa-apa, Bapak bisa telepon saya.” Hera menuliskan nomor ponselnya pada sebuah struk belanjaan tak terpakai dari dalam dompet. “Ini nomor saya.”

Penjual ayam itu setuju. Ia awalnya memang sedikit ragu, namun dilihat dari gerak-gerik perempuan di hadapannya, ia akhirnya percaya. Lagi pula para pembeli mulai berdatangan lagi. “Iya Bu, nanti kalo orangny nyari saya kabarin.”

Hera tersenyum sambil membawa ponsel itu di tangannya. Sopir taksi yang ia minta untuk menunggunya terlihat mengantuk. “Pak balik ke apartemen tadi ya.” Pesannya ketika ia sudah duduk dalam taksi dan belanjaannya sudah ia letakkan di dekat kaki, sang sopir itu pun mengangguk. Hera memandangi ponsel yang ia genggam, berharap ponsel itu berdering sekali lagi namun tak ada tanda-tanda kalau layarnya akan menyala. Hera memutuskan untuk menyalakan layarnya untuk mencari tahu informasi di dalamnya, barangkali ada foto Vania di sana. Namun sayangnya, ia harus bersabar karena layarnya terkunci dan membutuhkan sandi.

Cause there’ll be no sunlight..

if I lose you babe..

There’ll be no clear sky….

if I lose you babe..

Penelpon yang sejak tadi Hera tunggu akhirnya menelpon ponsel yang ia temukan ini. Keningnya terlihat berkerut ketika membaca kontak tersebut. Sayangku?

 Hera menarik nafas. Sudah Pasti ini Vania, kerna kontk bernama Sayangku ini jelaslah foto Zaki.“Halo??” Angkat Hera lega. “Ini siapa ya?”

“Loh, saya yang mau Tanya. ini siapa ya? Kok ponsel saya bisa di……..Ibu?”

Hera melihat layar ponsel itu sekilas. “Saya tadi nemu HP ini di pasar, ini Nia??”

“Nia??” Penelpon itu terdengar linglung. “Bukan..bukan..” Terdengar gemerisik di sana. “Gini aja Bu, saya minta alamat Ibu supaya saya bisa ambil ponsel saya. Gimana?”

Hera berfikir sejenak. Apa ia salah lihat? Tapi ia yakin sekali kalau itu foto Zaki. Dan mana mungkin ada orang yang mempunyai foto Zaki yang hendak mencium kening perempuan tersebut. Tapi, apa perempuan dalam foto ini Vania? Hera memutuskan untuk mencari tahu siapa perempuan pemilik ponsel tersebut, barangkali orang ini teman Vania yang harus mengembalikan ponselnya pada Vania. Ia harap begitu. “Oh boleh kalo gitu, saya tinggal di Swinghill Apartment,” Hera menyebutkan nama apartemen Zaki pada perempuan di sana. “Saya tunggu di lobi ya.”

“Makasih ya Bu, saya berterimakasiiiiih banget!” Hera tersenyum, karena suara perempuan itu lucu. Ia lupa masalah ‘foto’ Zaki dalam ponsel perempuan itu dan tenggelam dalam rasa ingin tahu.

***

“Swinghill??” Zaki terkejut. Lily menyerahkan ponsel Zaki untuk menghubungi ponselnya yang hilang. Lily mengangguk mantap. Ia lumayan heran penemu ponsel tersebut tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya. “Kok bisa sih? Kamu Tanya dia tinggal di nomor berapa gak?”

Lily memandangnya lesu. “Udah syukur itu orang mau ngebalikin ponselku, kalo tanya detail gitu malah dikira enggak sopan tauk!” Zaki terkekeh. Mereka akhirnya sampai di halaman gedung apartemen Zaki. “Kamu tunggu di sini aja.” Lily keluar mobil setelah mobil Zaki tak bergerak lagi. “Aku Cuma bentar.”

“Enggak ah, siapa tau itu orang enggak bener,” Ujar Zaki protektif.  “Akhir-akhir ini kan banyak kasus hipnotis, bisa aja orang itu emang sengaja ngambil ponsel kamu tadi pagi biar bisa ketemu lagi sekarang. Nah, kalo di tempat kaya gini kan dia bisa lebih leluasa.”

“Ckckck. Detektif sih detektif, tapi kalo fikirannya selalu jelek mulu mah enggak baik juga.” Lily mengeleng-geleng dan membiarkan Zaki berjalan di sisinya. Mereka berdua tak berkata apa-apa lagi sampai tiba di lobi. “Pinjem ponsel lagi dong.” Pinta Lily. Zaki memasang wajah masamnya untuk menggoda Lily. “Please…Sekali ini doang. Hehehe” Tak lama Zaki menyerahkan ponselnya untuk menghubungi nomor Lily. “Halo Bu, saya sudah di lobi. Ibu dimana ya?”

“Oh sebentar lagi saya turun, ini saya masih di dalam apartemen. Kamu pake baju apa?”

Lily mengamati pakaiannya sendiri. “Emm…Hijau muda Bu.” Kata Lily. mereka berdua duduk di salah satu sofa yang tersedia. Zaki tertegun, ia mencoba menebak-nebak siapa gerangan yang berhasil menemukan ponsel Lily tersebut.

“Zaki??” Ujar seorang wanita berumur lima puluhan lebih keluar dari lift apartemen.

Zaki begitu kenal suara itu. “Ibu??” Ia kini mulai ketakutan. Apa mungkin??! Kini Zaki mengutuk kesialan yang menimpanya. Kalau sejak tadi Lily menelpon nomornya sendiri dengan ponselnya, pastilah ibunya melihat foto Zaki itu di layar ponsel Lily yang ditemukan itu. Rasa penyesalannya menghantui dirinya saat ini juga. Andai saja ia tak sejahil itu. Ibunya tentu tak dapat mempercayai kalau anaknya berfoto seperti itu dengan gadis lain. Apa lagi itu Lily.

“Kamu kok di sini?” Tanya Hera dengan tangan menggenggam ponsel Lily. Ia pun mengamati perempuan yang duduk di sebelah Zaki itu dengan seksama. Kepalanya terasa berdenyut kencang ketika ia mulai ingat siapa perempuan itu. “Li…Lily?”

Sama seperti Hera, Lily pun sama terkejutnya sejak detik Hera datang ke hadapannya. Ia belum dapat menjawab namun matanya sudah menangkap bayangan ponselnya dari genggaman tangan ibu Zaki itu. Mana bisa?! “Apa kabar Bu?” Hanya itu yang dapat Lily lontarkan alih-alih kalimat ‘terimakasih karena mengembalikan ponsel saya’.

“Sebentar, jadi ini HP kamu?” Tanya Hera. Lily mengangguk setuju. Ia mengamati wajah dua orang di hadapannya satu per satu. Sulit dimengerti. Bagaimana bisa mereka sekarang duduk bersebelahan? Ia bisa mengerti kalau mereka mungkin sudah bertemu karena beberapa waktu yang lalu Zaki menanyakan kebenaran tentang hilangnya Lily selama ini. Namun untuk mereka yang terlihat akrab begini, Hera tak bisa menduga. “Terus, kenapa kalian…”

“Dia asisten aku Bu, yang gantiin Sela selama ini.” Jawab Zaki faham kemana arah perkataan ibunya. “Maaf aku belum sempet cerita.”

Hera mengerjap-ngerjap sejanak, memaksa fikirannya kembali tenang karena ia mulai merasa pusing hebat. Hera lalu mengulurkan ponsel itu pada Lily dengan ragu. “Kalian mau balik lagi ke kantor?” Zaki mengangguk, Lily hanya menunduk lemah. “Ya udah, Ibu mau ke atas. Ibu lupa udah matiin kompor apa belum.” Kata Hera berkilah. Ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya yang terbaca oleh Zaki maupun Lily, namun ia juga tak mau berkata apa-apa lagi. Setidaknya untuk saat ini.

***

Dunia mau kiamat.

Itulah yang dikatakan Lily dalam hatinya. Ia sudah bisa menerima kenyataan kalau Zaki lah yang menyelamatkan kehidupannya yang terasa hancur dengan menerimanya sebagai asisten. Tapi semenjak bertemu dengan ibu Zaki tadi, batinnya tak bisa berhenti meracau. “Kamu pasti kaget?” Tanya Zaki. Mereka sudah mengarah ke rumah yang terbakar dua hari yang lalu. Polisi baru bisa mengusut hari ini karena diduga masih ada beberapa benda, contohnya tabung gas utuh, yang belum meledak. Untuk menghindari kecelakaan, penyelidikan ditunda hingga status aman.

Satu tarikan nafas berhasil membuat paru-paru Lily terisi penuh. Ia merasa sempit di sana sini. “Kenapa?” Tanyanya balik, matanya sedang tak fokus karena melamun. Ponselnya masih di genggamannya sejak tadi. Ia tak lagi memikirkan ponselnya yang baru saja kembali. Ia malah menyesal mengapa tak membiarkan ponselnya itu hilang begitu saja supaya tak bertemu dengan ibu Zaki lagi. “Apa karena ibu Kamu yang nemuin ini?” Lily mengangkat ponselnya. Dia lalu tersenyum. “Bukan, bukan itu.” Katanya menggeleng pelan.

“Lil..” Zaki berusaha menenangkan Lily. ia sendiri tak tahu mengapa Lily terlihat begitu gelisah, padahal harusnya Zaki lah yang terlihat seperti itu, karena sepulang kerja nanti pasti ibunya akan memburu dirinya. “Enggak usah difikirin..” Katanya lagi.

“Fikir? Aku enggak mikirin itu kok.” Lily berusaha riang. “Enggak ada apa-apa lagi kan? jadi buat apa aku fikirin.” Katanya berbohong lagi.

Zaki memelan lalu menghentikan mobilnya di bahu jalan. Ia ingin berbicara serius. “Enggak ada apa-apa?!” Ulangnya dengan suara lantang. Lily menatapnya dengan mata bulat, ia merasa Zaki akan meledak. “Lil, mungkin Kamu lupa, tapi kemarin kita..”

“Stop!” Lily melarang.

“Enggak, aku udah enggak bisa nahan ini Lil!” Zaki tak mau. Ia melepas sabuk pengamannya agar leluasa duduk mengahadap perempuan ini. “Dari hari pertama aku berusaha biasa Lil, dan kemarin, kemarin itu bukti aku masih ada rasa ke Kamu!” Lily tertegun, matanya terlihat berkabut, seolah ada kepahitan di sana. “Kamu mungkin bisa bohongin aku atau siapapun, tapi sikap Kamu selama ini,” Zaki menelan ludah. “Sikap ketus, sikap dingin bahkan cemburu kamu itu enggak bisa ngebohongin perasaan Kamu Lil. Jujur Lil, kamu juga masih ngerasain itu kan?”

Lily menggeleng. “Aku mohon, jangan bahas ini sekarang.” Ucap Lily dengan mata terpejam.

“Enggak Lil, aku udah terlanjur.” Zaki tetap kukuh untuk meluapkan perasaannya. “Lebih baik Kamu omongin semuanya, sebelum semuanya telat.”

“Oke.” Lily membuka matanya untuk menatap Zaki sekilas. Ia lalu melepas sabuk pengamannya juga. “Dengerin aku. Aku-enggak-ada-rasa-lagi. Aku udah ngebenci Kamu, Zaki. Sejak kamu putusin hubungan ini lewat undangan bisu yang ibu Kamu kasih. Sejak kamu minta aku berhenti nunggu Kamu lagi, sejak Kamu milih Vania daripada Aku! Aku udah benci Kamu Zaki. Inget itu!!” Cerca Lily, membuat Zaki bungkam. Ia kini baru ingat, Lily belum tahu apapun tentang kebenaran yang disembunyikan selama ini.

 “Jangan sampe hubungan kerja ini harus aku tambahin rasa benci lagi. Karena aku di sini Cuma sebentar, aku Cuma asisten pengganti.” Zaki mengatup mulutnya yang hampir menganga. Ia tak menduga kalimat Lily akan terasa sepedas itu. “Maaf, hari ini aku ijin, tiba-tiba badanku enggak enak. Aku pergi duluan.” Ia lantas keluar dari mobil Zaki dan segera menyetop taksi yang lewat.

***

Sudah memasuki jam makan siang tapi Zaki masih tak dapat dihubungi. Informasi yang ia dapat dari Riga mengatakan tunangannya itu semakin hari semakin hangat dengan Lily. Vani menggigit sedotan dari gelas itu dengan perasaan geram. Tangannya mengepal keras sambil memikirkan apa yang akan terjadi kalau ia tak segera bertidak. “Halo Ga?”

“Apa Van?” Jawab Riga. Ia berhenti mengamati reka ulang TKP. Hari ini ia sedang mengusut kasus penganiayaan seorang ibu pada anak tirinya.

“Kamu bisa ke sini? Sebentaaaar aja.”

Riga menarik nafas berat. “Aku sibuk banget sekarang Van, ada apa sih?”

Vania terlihat kecewa. “Zaki..enggak bisa dihubungi, kenapa ya?”

Riga tersenyum kecut. Sudah ia duga Vania hanya akan menelponnya kalau ia butuh informasi Zaki. “Aku enggak sama dia Van. kita beda tugas.” Ucapnya sedikit ketus. “Kenapa Kamu enggak telepon asistennya?”

“Hmmmmhh.” Vania kesal. “Aku masih enggak mau Lily tahu ini, biar dia ngira aku masih enggak tau siapa dia sebenernya!” Tangannya kembali terkepal, buku-buku jarinya terlihat memutih. “Ya udah lah, bye Ga.” Tutupnya kesal. Ia melihat sekitar dan mendapati Ricki sudah tak bersama pelanggannya. “Rick!”

Ricki menoleh dan mendekati Vania. “Ada apa Mbak?” Vania mengerutkan alis, mengingatkan Ricki untuk tak lagi memanggilnya seperi itu. “Hehehe, ada apa Van??”

Kini Vania lumayan terobati. “Kamu mau pulang?” Ricki mengangguk sambil menatap jam tangannya. “Aku bisa minta tolong nitip ini buat Lily?” Ricki terlihat penasaran dengan sebuah kotak yang Vania ulurkan padanya. “Tolong kasih ke dia ya, taro aja di pintu rumahnya kalo nanti dia belum pulang.” Tambahnya mengantisipasi pertanyaan Ricki.

“Apa ini Van?” Ricki berusaha menebak namun Vania menggeleng tak mau menjawab. Lagi pula sejak kapan mereka mulai dekat hingga Vania memberikan sesuatu untuk Lily begini? Ricki mengira-ngira isinya dengan menimbang berat kota tersebut. Sayangnya ia tak dapat memastikan apa isi kotak itu karena terbungkus kertas kado. “Apa sih??”

“Udahlah…sekali ini doang aku minta tolong.” Vania terkekeh.

“Hmmmhh..” Ricki harus menerima kalau rasa penasarannya harus ia kubur dalam-dalam. Tak mungkin juga Vania akan memberikan sesuatu yang aneh pada sahabatnya itu. Paling hanya jam tangan atau apalah, mungkin Vania ingin memberi hadiah pertemanan. “Iya deh, ya udah aku balik dulu ya.” Vania mengangguk seraya tersenyum.

Hari sudah gelap ketika Ricki sampai di kontrakannya. Ia membawa kotak itu sambil keluar dari mobil dan menguncinya. “Liiiiil!” Panggil Ricki. “Liiiiil ada paket nih buat Lo!” Tak ada sahutan. Bisa jadi Lily belum pulang. Sahabatnya itu belum tuli akut. “Diiiiiii! Diana! Buka woyyy!” Lagi-lagi tak ada sahutan. Ricki mencoba mengintip ke dalam dari gorden yang sedikit tersingkap. Rupanya hanya lampu ruang tamu juga teras yang menyala, itu artinya mereka berdua belum pulang. Terpaksa, Ricki meletakkan kotak itu di depan pintu sesuai usul Vania tadi.

***

Kakinya terasa pegal karena berjalan lumayan jauh. Setelah keluar dari mobil Zaki, Lily memutuskan untuk pergi ke sebuah toko buku. Ia butuh menjernihkan fikirannya dari rekaman ucapan Zaki yang masih terngiang di telingannya. Ia menenggelamkan wajahnya ke sebuah buku yang telah disediakan di rak untuk dinikmati para calon pembeli. Dan Lily ternyata memilih sebuah novel yang dulu pernah ia baca.

Novel bersampul merah tua ini menceritakan sebuah kisah cinta berlatar zaman Kolonial Belanda, sebuah cinta yang harus terpisah karena paksaan orang tua kedua pihak. Sang lelaki yang dianggap lebih tinggi derajatnya karena anak dari keluarga Belanda harus mengalami kepahitan ketika orang tuanya menolak keras perempuan yang ia pilih, seorang pribumi yang berprofesi sebagai petani biasa. orang tua pihak perempuan pun menolak, mereka takut kalau lelaki itu hanya berniat mmpermainkan anaknya tersebut seperti kebanyakan Belanda lainnya. Pelampiasan nafsu belaka. Mereka sendiri sudah punya calon untuk anaknya yang lumayan mapan, anak seorang Kyai di desanya.

Lily tak butuh waktu lama untuk sampai ke halaman di tengah novel itu. Air matanya berlinang ketika membaca bagian yang paling ia suka. Si perempuan meminta lelaki itu untuk menaati orang tuanya dan melupakannya. Namun lelaki itu menolak, ia tak mau mengorbankan perasaan yang ia miliki.

“Aku adalah masa indah Kamu, tapi aku hanya ada di khayalan.” Ujar si perempuan. “Dan sekarang kita harus kembali ke dunia nyata, tak lagi bermain peran Romeo dan Juliet.”

“Aku lebih berani dari Romeo. Aku tak akan meminum racun.” Lelaki itu menyentuh pipi si perempuan. “Tapi jika mati adalah pilihan, aku ingin mati di jalan Tuhan dan membela negaraku, bukan jalan mereka.” Begitulah jawaban lelaki ini. “Dan sekarang, aku akan pulang ke Belanda untuk pamit pada mereka. Berkemaslah karena aku masih belum tahu akan membawamu kemana.”

Sang lelaki itu pulang ke rumah dan menawarkan penawaran terakhir. “Aku tak bisa memilih selain dia. Dan sekarang, aku akan tetap tinggal di sini jika Ibu dan Ayah bisa menerimanya.” Lelaki itu akhirnya mendapatkan dirinya terusir sudah. Penawarannya ditolak mentah-mentah. Ia akhirnya pergi menjemput perempuan itu dengan sisa uang yang tersisa dari rampasan ayahnya. Namun, hatinya hancur ketika rumah perempuan itu telah terbakar habis. Ia tahu pelakunya pastilah kerabat orang tuanya yang tinggal di negeri ini.........



“Mbak?”

Lily mengusap air matanya. “Iya??”

“Bentar lagi mau tutup. Jadi beli yang ini?” pramuniaga terlihat ramah namun membuat Lily tersudut. Lily mengerjap-ngerjap dan menyadari dirinya hampir seharian duduk di sini. Ia mengerang hebat ketika mencoba berdiri dari duduknya, pinggangnya terasa retak akibat duduk terlalu lama. Lily meringis sambil berjalan ke kasir dan membayar buku yang sebenarnya sudah ia hafal isinya. “Makasih, silakan datang kembali.” Ucap kasir itu ketika Lily selesai membayar. Mirip dengan minimarket yang menjamur akhir-akhir ini, batin Lily.

Lily memilih naik angkot ketimbang taksi yang bisa menguras dompetnya kalau keseringan. Tak sampai setengah jam, Lily sudah berada di depan kontrakannya. Ia tahu pasti Diana belum pulang karena tak ada mobil Diana yang terparkir di halaman. Lily membuka pintu rumah namun langkahnya terhenti ketika kakinya menumbuk sesuatu. “Apaan nih?” Lily mengambil kotak di teras itu. Mungkin paket kiriman buat Diana, fikirnya, karena Diana sering sekali belanja online.

“Itu barang Lo?” Tanya Lily ketika Diana pulang beberapa menit kemudian. Lily sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer  setelah mandi tadi.

Diana melongo. “Gue enggak mesen apa-apa.” Jawab Diana. Ia melihat kotak itu di meja rias Lily. “Ini buat Lo tuh.” Ujarnya ketika melihat tulisan ‘for: Lily’ di bawah kotak tersebut.

“Ha? Masa sih? Seinget gue, ulang tahun gue masih bulan depan deh.” Katanya lalu mematikan hairdryer yang meraung-raung di telinga. Tanpa tunggu lama Lily merobek kertas kado tersebut dan mendapati isinya yang berkilau. Matanya seketika terbelalak. “Ini kan??” Sebuah cincin dan kalung yang sangat ia tahu dari siapa. “Ini cincin gue dari Zaki waktu itu!”

Diana sama terkejutnya. Ia mengambil sebuah kertas dari dalam kotak itu. “Ini ada tulisan, kayaknya surat deh.” Diana mengulurkannya pada Lily enggan. Dengan satu gerakan, Lily membuka kertas tersebut dan mulai membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar