Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 13

Untuk pemilik hati serta kasihku terindah, Lily..
Ku tahu kalau ku tak kan bisa menghapusmu karena kau kan ada di sini selamanya, maka ku tuliskan sepenggal kisah dalam secarik kertas ini. Kenangan yang tak akan bisa ku lupa, walau dilampaui waktu…
Ingatkah saat aku melingkarkan cincin ini di jari manismu? Cincin yang kau terima saat ulang tahunmu yang kesembilan belas. Waktu itu ada air mata yang terurai dipipimu, yang berubah menjadi embun kala aku mengusapnya. Sore itu aku membawa keranjang piknik beserta isinya, yang ku curi dari lemari es ibuku.
Aku suka saat pipimu mengembung karena sandwich raksasa yang ku suapkan ke dalam mulutmu. Lalu perlahan ku nyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan bisikan dan suara parau karena hati kacau. Aku sudah tahu kau pasti lupa hari itu adalah hari ulang tahunmu, juga sekaligus hari terakhir kita.
Dan ku katakan perpisahan. Kata itu membuatku hampir mati sesak nafas karena air mataku pun tak mampu ku tahan dengan sempurna saat kau mendekapku. Kau menangis lagi dan itu membuatku makin tersiksa. Perpisahan selalu menjadi mimpi burukku selama itu, namun beruntung kau terlalu sibuk hingga tak menyadari apa yang membuatku menjauh selama ini.
Aku juga suka rasa manis madu kala ku kecup bibirmu. Kau terpejam dan aku dapat melihat kelopak indah milik matamu, ingin ku petik rasanya. Ingin ku simpan raut wajahmu yang sedang terpejam dalam memori ingatanku.
Aku pulang akhirnya sayang, namun mimpi buruk itu benar-benar datang. Nyatanya itu memang lah hari terakhir aku dapat melihat wajahmu sayang, kau telah pergi dan melepas tali. Kau kembalikan cincin pengikat yang kubuat untukmu dan memilih berhenti menungguku.
Tahukah kau aku terluka? Karena benci harusnya ada. Aku membenci hati yang tak dapat melupakanmu seutuhnya, karena cinta masih jelas ku rasa. Dan ku nyanyikan selamat ulang tahun setiap malam ulang tahunmu, berharap aku dapat bertemu denganmu dalam mimpi. Namun mimpi itu tak pernah datang malah jadi kenyataan. Aku melihatmu setelah sekian lama. Aku menemukanmu dengan keindahan yang sama. Hatiku kembali sakit karena rindu di hari itu sayang, namun rasa marahku belum bisa hilang.
Maafkan aku yang tak berkesempatan berkata langsung. Namun di hari ku pakaikan kalung ini di lehermu itu, sungguh hanya ada kata cinta terbesit dalam keindahan. Melihatmu terpejam lagi dalam pandanganku, membuatku mengabadikannya dalam sebuah gambar tentangmu.
Jika cinta itu ilusi. Aku adalah puisi.
Jika cinta itu kesalahan, aku adalah kriminal.
Jika cinta itu dosa, dunia ini telah jadi neraka.
Dengar..
rasakan..
dan nikmati..
cinta juga kasihku hingga akhir waktu tetap  kau selamanya,
Lily.

Lily berhenti membaca, masih ada kalimat di bawah surat itu namun tulisannya terlihat baru. Tintanya masih terlihat basah dan juga hidup. Bahasanya pun tak seperti kalimat terangkai di atas. Tapi Lily tetap membacanya lagi.

NB::: Temui aku di taman dekat rumah kamu, jika kamu setuju untuk melanjutkan cerita kita. Abaikan ini, jika tak ada lagi kesempatan.
-ZAKI-

Tanpa Zaki beritahu pun Lily sudah dapat menebaknya dari kalimat pertama. Walau tulisan awal dan tetakhir lumayan berbeda, Lily tak mau memikirkannya. Matanya terasa panas dan ia ingin menangis sekarang juga. “Apa-apaan ini?!” Tanyanya kesal. Lily meremas surat Zaki tersebut lalu melemparnya ke bawah meja. Ia lantas membanting tubuhnya ke tempat tidur dan memaksa diri tuk terpejam. Diana merangkak untuk mengambil surat itu, ia membacanya juga, dan segalanya terasa semakin jelas.
“Lil..” Sudah saatnya Diana membuka mulut. Lily harus tahu ini.
“Besok gue certain semuanya Di, gue janji.” Lily masih enggan membuka mata ataupun bangkit dari tidurnya. “Maaf karena selama ini gue belum cerita ke Elo tentang Zaki. Tapi hari ini, cukup sampe di sini aja. Gue enggak kuat ngejalanin hari yang berat ini.” Ia bahkan hampir terbawa ilusi dalam sebuah novel. Jangan pula lupakan sikap pemberaninya yang lancang meninggalkan boss-nya di mobil begitu saja. “Beraaaat banget…”
Diana menggeleng. “Kalo Lo kira gue enggak tau apa-apa, Lo salah besar Lil.” Katanya meletakkan surat itu ke dalam kotak lagi. “Gue malah tau lebih banyak.”
“Hmmm?”
“Zaki, dia pernah ke sini.”
Seketika Lily bangkit dan matanya membesar. “Lo enggak marah kan? Lo enggak marah karena gue enggak terbuka ke Elo kan Di??!”
Mata Diana berkaca-kaca. Ia punya kehidupan dan percintaan yang berjalan begitu mulus selama ini. Beberapa kali ia hampir kehilangan Agustin, tapi Lily lah yang menyadarkannya. Apa dunia pernah tak adil? Mengapa pula sahabatnya tak bernasib sebaik dirinya? “Gue malah yang harusnya minta maaf Lil. Gue enggak berani ceritain ini ke Lo.” Ujarnya seolah bisa tersenyum sedikit. “Tapi udah saatnya Lo tau ini.”
“Apaan sih Di? Gue enggak faham! Jadi…?” Lily enggan mengulang, lebih baik tak percaya. “Jadi Lo serius kalo Lo pernah ketemu dia?” Kali ini ia harap Diana berkata tidak.
“Iya.”
Lily menganga. “Kapan? Dimana?” Tanyanya cemas. Apa yang Zaki lakukan? Apa yang mereka bicarakan hingga Diana malah tak marah padanya seperti biasa?
Diana menarik nafasnya lebih dalam. Butuh kekuatan untuk berusaha terlihat benar-benar tegar di hadapan sahabatnya ini. Salah sedikit, topeng ketegaran itu akan sobek. “Waktu Lo sama Riga ke bioskop. Inget?” Lily mengangguk. “Waktu itu juga Ricki ke sini bawa martabak. Enggak lama kemudian, dia dateng. Zaki, sumpah demi apapun gue enggak percaya bisa ngelihat dia lagi.”
Keterkejutannya mulai mereda. “Dia ngomong apa?”
“Kayaknya dia awalnya ke sini buat ngikutin Elo sama Riga. Atau itu Cuma perasaan gue aja sih. Tapi,” Diana berhenti. Tapi Apa? Tanya Lily tanpa suara. “Dia bilang: kenapa Lily dulu ninggalin gue?!
“Apa? Gu..Gue?” Lily tak faham. Apa lagi ini? Sejak kapan polisi itu pikun?! “Gue yang ninggalin dia?!”
“Gue juga enggak terima Lil awalnya. Tapi pas dia ngejelasin kalo undangan yang Lo terima dari nyokapnya itu dia sama sekali enggak tahu, barulah gue faham.” Diana memastikan sahabatnya masih mendengarkan. “Kalian berdua ditipu Lil, mentah-mentah.”
Lily mengernyit. Tiba-tiba ada rasa sakit menyerangnya tepat di kepala, menjalar ke kerongkongan lalu peru-paru. “Mmm-maksudnya?”
“Imajinasi Lo tinggi Lil, pasti Lo bisa bayangin sendiri lah.”
“Diana!” Erang Lily tak sabar. “Cepet ceritain!”
Diana tersenyum perih. “Undangan itu, Cuma tipuan Lily.” Ulang Diana. “Undangan itu sengaja dibikin khusus buat Lo, bahkan sang mempelai juga kaga tau ada undangan dengan nama mereka!” Diana mengambil tangan Lily lalu menggenggamnya. “Inget gimana hancurnya perasaan Lo waktu itu? Sampe-sampe Lo enggak kepikiran buat ngehubungin Zaki dulu? Inget emosi yang bikin Lo kalang kabut? Sampe-sampe Lo harus masuk rumah sakit gara-gara kecelakaan hari itu juga?”
“Jadi…” pupil Lily terlihat menerawang. Hari buruk itu terputar lagi di otaknya. “Jadi..”
“Betul Lil. Itu siasat! Orang tua Zaki pengen kalian bubar! Ini konspirasi!”
“Tapi kenapa???”
“Karena mereka pengen orang lain yang jadi menantunya lah! Apa lagi coba?!” Lily terdiam. Air matanya runtuh begitu saja. Apa yang salah padanya hingga orang tua Zaki bertindak seperti itu? “Matre mungkin. Zaki bilang mereka punya hutang budi sama keluarga perempuan itu!”
Lily berusaha mengingat dan merangkai tiap kalimat yang Diana lontarkan. Semuanya berhubungan satu sama lain. Pantas saja Riga bilang Zaki dan Vania bertunangan dua tahun belakangan, padahal ia menerima undangan itu tiga tahun yang lalu. “Vania? Jadi Vania itu..” Lily mengerti. Ia kembali teringat cerita Riga pada saat itu.
Lily menatap kotak perhiasan di pangkuan Diana. Di sana cincin itu masih tersimpan indah. Bukti kalau Zaki tak sepenuhnya melupakan Lily. dan kalung itu?! Ia tak memberikannya pada Vania. Lily mengusap air mata ketika rasa menyesalnya meraung-raung di dasar hati.
***
Si lelaki itu harus menelan rasa sakit. Wanita yang ia puja kabarnya telah diperistri oleh orang lain selama ia pulang ke Belanda. Para kerabat permpuan itu telah dibayar dan harus tutup mulut, tak boleh ada berita yang bisa didapat oleh pria malang ini. Kini di tangannya ada sebuah kalung perempuan itu. Kalung yang pernah ia belikan di pasar di hari ketika mereka memadu kasih sembunyi-sembunyi. Kalung yang ia janjikan tak akan ia lepas hingga nyawanya melayang. Namun hari ini, bibinya menyerahkan kalung itu padanya. “Dia telah menemukan orang lain anakku.”Bibinya terlihat ikut bersedih.
Ia marah, sangat marah. Cintanya dikhianati oleh jarak dan waktu.
Bukankah ia telah berjanji akan pulang dan melamar perempuan itu ketika kembali? Namun mengapa begini? Dia telah hilang bak ditelan bumi. Bumi yang rakus akan harta dan kuasa.
“Lebih baik kau menikah dengan dia, calon yang telah ku pilihkan untukmu Nak. Dia bisa membuat keluarga kita makin Berjaya, dia penuh dengan keunggulan politik!”
Cintanya tak lagi dapat diselamatkan. Pun ketika ia menerima penawaran dari keluarga dan juga orang tuanya untuk menikah dengan sesama bangsanya yang mereka bilang sederajat. Bukan karena cinta, ini amarah. Pernikahan itu membuatnya kehilangan jiwa, tak lagi segagah dan berbiwa seperti dulu. Ia berubah menjadi pemabuk, pemarah, dan bertingkah layaknya gelandangan. Ia akan pergi dari rumah pagi haru untuk menghabiskan hari ke bar, memenuhi tubunya dengan minuman haram hingga malam menjelang dan menidurkannya lagi.
Bertahun-tahun kemudian, datanglah seorang perempuan tua. Dia mengaku kakak dari perempuan yang telah lama meninggalkannya. “Dia sedang sekarat, tapi ini permintaannya terakhir. Dia ingin bertemu denganmu.” Kata kakak perempuan itu masih dengan kebencian pada sosok lelaki di hadapannya. Sosok penjajah yang membuat adiknya lupa diri.
“Katakan padanya, aku tak mau menemuinya lagi! Buang jauh-jauh pemikiran itu! Dan..biarkan saja dia mati bersama lelaki pilihannya itu!”
“Lelaki mana yang kau maksud?! Dia hidup sendiri bertahun-tahun! Dia menunggumu pulang dari Belanda, namun keluargamu malah menganiaya kami karena mereka bilang, adikku harus mati karena kau telah menikah di Belanda sana!”
Sadarlah, mereka berdua ditipu. Pernikahan itu hanya karangan.
Lelaki itu berlari, mengejar waktu yang mungkin masih tersisa. Ia mendapati nyawa perempuan tercantik dalam hidupnya tengah meradang nyawa. Matanya terpejam namun wajahnya masih tetap terlihat menawan. “Kau datang?”
“Ya, aku datang.” Lelaki itu menangis. “Maafkan aku.”
“Bukankah kita pernah bermain ini? ku bilang kau Romeo dan sekarang aku harus menjadi Juliet. “ Perempuan itu tersenyum. “Maukah kau berjanji untuk menjagaku di perjalanan ini?” Perempuan itu terbatuk. Air mata lelaki yang ia cintai telah berurai bahkan jatuh di wajahnya juga. “Aku mencintaimu, dan penipuan ini tak dapat membutakan cinta kita. Aku lega bisa melihatmu lagi.”
“Berhenti. Berhenti bersikap seolah kau akan pergi!” Erang lelaki itu. Ia berlari keluar, mencari pertolongan. Namun keluarganya tak dapat berbuat apa-apa. Kanker itu telah menjalar ke tubuhnya. Selama ini penyakit itu tertutup semangat akan penantian cintanya yang tak kunjung datang. Namun setelah tahu lelaki itu benar-benar menikah juga, kanker itu pun berulah kembali. “Ku mohon, jangan pergi lagi!!”
“Aku tidak pergi, aku hanya berjalan duluan.” Perempuan itu terbatuk, kini lebih parah. “Aku akan menunggumu di sana, kita akan bertemu lagi. Terimakasih telah datang, aku bahagia sekali di akhir hayatku ini.”
“Aku akan mencari tabib!”
“Tak ada tabib yang dapat mengalahkan Tuhan. Kau lah obatku, kau telah di sini.” Tak terasa suara perempuan itu melemah. Ia mencari tangan lelaki itu dan menggenggamnya. “Cinta ini, izinkan aku membawanya ke syurga.” Matanya terpejam, bersamaan dengan genggamannya yang lepas.
“Tidaak tidaaaaak! Bangun Julietku! Banguuun!!!”
Lily menangis hebat, ia teringat novel yang ia beli barusan.
Tak mau kisahnya harus berakhir tragis seperti itu, membuatnya harus lebih kuat dan berani dari pada perempuan yang ditulis dalam novel. Seandainya tadi siang ia tak gegabah dengan meninggalkan Zaki begitu saja. “Ini jam berapa??” Tanyanya cemas. Pasti Zaki udah lama nunggu disana! Lily mengambil ikat rambutnya di meja. Setengah sepuluh malam.“Di, gue pergi dulu ya.” Ujar Lily tanpa menunggu respon Diana. Ia berlari, tak mempedulikan kakinya yang tak lagi beralas. Enggak, aku enggak kehilangan Zaki lagi! Aku enggak mau!
Kakinya terhenti dengan beberapa goresan batu kerikil di telapak hingga tumit. Lily terengah-engah namun matanya tetap awas tuk melihat. Satu kilo meter ia tempuh dengan telanjang kaki, membuatnya merasa kehabisan nafas. “Zaki, kamu di mana?!” pekiknya ketika tak ada siapa-siapa di sana. Lily memegang pinggannya sebagai pegangan. “Aku dateng Ki, aku dateng!”
PAKH..PAKH…PAKH…!!!!
Entah dari mana itu berasal, yang jelas ada yang tengah bertepuk tangan di belakangnya. Lily memutar tubuh, ia baru menyadari ada seseorang duduk di sebuah bangku di belakangnya sejak tadi. Ia duduk dalam kegelapan dengan tatapan dingin. Namun bukanlah Zaki. Rambutnya terurai, menyanyat setiap angin yang berusaha menembusnya. “Kamu dateng juga ternyata.” Perempuan masih menepuk-nepukkan tangannya. “Aku enggak bisa percaya.”
“Vania??!” Lily tercekat. Apa lagi ini?!
***
Petang tadi Zaki memang dihujani ribuan pertanyaan dari ibunya. Tentu saja tentang Lily yang ibunya lihat bersamanya tadi pagi. Namun rupanya Zaki telah siap, ia menjawab satu-persatu pertanyaan dari ibunya tersebut, walau perasaannya sedang tak baik. “Apa Ibu enggak ngerasa ini emang udah takdir kita? Bahkan kita masih bisa ketemu padahal kita udah ditipu begitu.” Tanya Zaki nanar.
Hera memeluk dirinya sendiri karena dingin juga gemetar. “Yah..Ibu yakin ini bukan kebetulan.” Ibunya setuju, matanya terlihat sayu. “Tuhan tau mana yang bener. Kebohongan lama kelamaan bakal ketahuan,” Lirihnya. “Zaki…” Panggil Hera ketika melihat anaknya tertegun menatap langit-langit dengan kepala tersandar di sandaran sofa.
 “Sebenernya ibu sama bapak ngelakuin ini terpaksa Zaki. Andai kata bapaknya Vania enggak mohon-mohon buat ngejodohin kamu sama Vania, enggak bakalan kita tega begini. Lagian dulu kamu kan masih muda, kita fikir kamu belum terlalu serius sama Lily.” Tutur ibunya. “Kita terpaksa Nak.”
“Tapi Bapak harap Kamu enggak ngambil tindakan ceroboh apapun itu.” Tambah seseorang. Zaki duduk tegap. Perasaanya tak enak. Dan benar saja, ayahnya telah datang entah sejak kapan.
“Enggak bisa Pak, aku mau nyelesain hubungan ini sama Vania.” Ucap Zaki santai.
Ayah Zaki masih belum dapat percaya dengan pernyataan anaknya barusan. “Kamu tahu kalo kamu ini ngomong ngawur kan Nak?” Ayahnya terdengar geram.
Zaki tertunduk. Baginya ayahnya lebih menakutkan dari pada peluru. “Aku serius Pak. Aku enggak bisa nikahin Vania. Aku enggak bisa.” Ia sudah bercerita banyak ke ibunya tentang keputusan ini petang tadi, di mana fikirannya kacau dan tak dapat fokus kecuali masalah Lily.
“Tapi udah terlanjur Zaki!” Ayah Zaki menghantam mejanya. “Mau ditaro dimana muka Bapak sekarang?! Kamu bikin Bapak kecewa tau enggak?!”
“Pak, jangan bertidak seolah-olah aku yang salah. Jelas-jelas Ibu sama Bapak yang tega nipu aku buat bikin aku nerima Vania. Inget kan?! Aku enggak pernah setuju dari dulu, dan aku terpaksa ngelakuinnya!”
Hera menangis tersedu-sedu. Perseteruan dua lelaki yang ia cintai membuat hatinya terasa perih. “Pak..biarin aja Zaki milih jalannya sendiri. Kita bisa minta maaf ke mereka. Jangan korbanin perasaan anak kita Pak.” Rintih Hera sambil menyentuh lengan suaminya tersebut.
“Padahal Cuma kamu harapan Bapak Ki, Cuma Kamu.” Ayahnya masih tak dapat menerima. “Kalau begini sudah lama harusnya Bapak enggak terima bantuan ayahnya Vania itu, kita enggak bakal bisa bayar hutang budi ke mereka kecuali dengan pernikahan ini..”
“Pak!” Zaki kesal. Ia mendapat pekerjaannya, jabatannya, juga pangkatnya karena jerih payahnya selama ini. Ia tak pernah mengeluhkan rasa lelahnya ke siapapun, ia hanya ingin punya masa depan cerah bersama orang dicintainya kelak. Dan itu bukan Vania. “Jangan pernah lagi jadiin aku alasan Pak!” Matanya merah, kemarahannya terdengar jelas dari suaranya yang mengelegar. “Aku tau kalo Ayah Vania lah yang maksain Bapak buat jadiin Vania istri aku kan?!” Bentak Zaki, tangannya mengepal. Ia sudah muak menjadi bahan alasan demi alasan ini, sangat muak! Namun ia pun tak mau memperpanjang keributan ini, mulai sekarang ia berhak menetukan jalan hidupnya. Zaki lalu berjalan, hendak pergi entah kemana.
Ayah Zaki terlihat terkejut. Memang kenyataannya begitu. Namun ia tak pernah menyangka anaknya akan bicara terang-terangan seperti itu, apalagi dengan suara lantang. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, parun-parunya seperti terlilit oleh tali tambang yang mengekang. Kepalanya juga entah mengapa terasa berat, membuat dirinya terasa makin buruk.
“Ki!!!!!!!” Teriak Hera ketika suaminya tiba-tiba ambruk sambil memegangi dadanya yang sesak. Ayah Zaki terengah-engah, sesuatu menusuk jantungnya dan rasanya sakit. “KI BAPAK KIII!!!!!!!” Teriak Hera lagi namun Zaki yang masih di dekat pintu langsung datang dan menolong. “Bapak kenapa kii???!” Hera menangis lagi. Susah payah Zaki mengangkat tubuh ayahnya yang sudah tak sadarkan diri ke dalam mobil. “Paak, bangun Pak!!” Hera masih menangis dan sepertinya tak akan berhenti.
“Tenang Bu..Bapak pasti baik-baik aja kok,” Zaki menyetir ke rumah sakit terdekat sambil berusaha menenangkan ibunya. Walau dirinya sendiri juga panik, ia tak mau ibunya makin menjadi lemah karena peristiwa ini. Zaki semakin mempercepat laju mobilnya di jalanan yang lumayan mulai sepi sambil berdoa dalam hati.
***
“Ngapain Kamu di sini Van??” Lily mengerjap-ngerjap. Kakinya yang terasa perih semakin menjadi-jadi. Ketakutannya makin tak menemui ujung. Semoga ini Cuma kebetulan. Semoga!
“Kenapa Kamu kaget begitu sih Lily?” Vania tersenyum datar. Ia memandangi Lily walau dalam cahaya remang. “Udah kamu baca semua suratnya Lil?”
Akhirnya pertanyaan yang paling ia takutkan terjawab. Lily gelagapan dan takut. Ia belum sesiap itu untuk menjelaskan ini pada Vania. “Kamu?? Kamu tau surat itu?? Kamu tau apa aja Van??”
Vania terkekeh, seperti pemain antagonis dalam film-film. “Harusnya Kamu udah antisipasi ini dong? Kamu udah ngambil keputusan buat kerja bareng sama Zaki, otomatis resiko orang bakal tahu tentang masa lalu kalian itu gede kan?” Tangannya terkepal, geram. Ia menunggu Lily membantah, sayangnya perempuan itu diam saja. “Aku udah lama curiga, tapi aku kira kamu orang baik. Dan andaikan kamu tadi enggak dateng, pasti aku masih bisa maafin kamu!”
Hancur. Itu lah kata tersingkat dan yang paling tepat menggambarkan suasana hati Lily sekarang. Ia lagi-lagi ditipu namun ia lagi yang harus dibilang salah. “S..si-siapa yang nulis surat itu?!” Vania hanya membalas dengan senyuman penuh kemenangan. “Siapa?!” Bentak Lily bosan dengan gelagat Vania.
“Itu  memang surat Zaki!” Balas Vania sama kerasnya. “Kamu kaget aku yang ada di sini? Iya kan??” Lily bergeming. “Harusnya kamu fikir dulu, kamu cermati dulu, yang terakhir itu tulisan siapa. Ini apa? Terlalu ambisius buat balik sama masa lalu kamu itu sampe enggak ada rasa curiga sedikit pun hah?! Sadar Lil, itu mustahil! Kalian hanya sejarah doang!”
“Tega Kamu Van.” Timpal Lily. ia bahkan merasa ada kulit kakinya yang robek karena kerikil juga tanah yang kasar. Ia tadi buru-buru karena takut Zaki sudah terlalu lama menunggu. Ia memang tak mau kisah cintanya tragis, tapi ia juga tak berfikir untuk merebut Zaki kembali. “Kamu mainin perasaan orang  seenaknya.”
“Apa?! Kamu nyadar gak sih Lil? Kamu yang bikin perasaan orang sakit! Kamu itu masalah besar buat hubungan aku sama Zaki!” Vania berkacak pinggang. “Dan kalian berani-beraninya nyembunyiin ini di belakang aku. Jujur aja deh Lil, akhir-akhir ini kalian jadi lebih deket kan?” Tudingnya. “Padahal harusnya kamu sadar, dia itu udah jadi milik aku. Dan Kamu, percuma kamu mau berurusan sama aku Lil, kamu bakal kalah. Telak!”
Milik? Seolah Zaki adalah benda yang sudah dibandrol dengan harga tertentu dan dipersiapkan hanya untuk satu pelanggan. Miris! Lily tertawa. “Terus apa yang kamu takutin lagi? Kamu punya banyak uang kan buat ngebeli Zaki?” Lilly membuat Vania makin terbakar api amarah. “Jadi kenapa masih takut Van?” Ejeknya balik.
“Karena Kamu, udah ngambil dua hati orang yang aku sayang!” Jawab Vania tegas dan membuat Lily ternganga.
Riga? Oh ya aku inget kalo Riga dulu pernah cerita tentang perasaannya ke Vania juga. “Kamu itu orang kaya apa sih Van? Dua hati yang kamu pengen Kamu punya sekaligus??!” Lily terheran-heran. “Jelas-jelas ada Riga yang sayang ke Kamu. Dan kamu juga ternyata punya hati ke Riga, jadi buat apa lagi mengharap cinta Zaki Van?!”
“Enggak usah sok tahu dan ikut campur! Ini urusan aku!” Vania rupanya tak tersentuh sedikitpun. “Sekarang, aku minta kamu jauhin Riga sama Zaki.  Kalo enggak..”
“APa? Kalo enggak kenapa?” Tantang Lily.
“Kalo enggak, terpaksa mereka harus kehilangan karir mereka mulai saat ini juga.” Ancam Vania membuat Lily kalah hingga mulutnya kembali terkunci. “Jauhin mereka, kalau perlu pergi dari kota ini dan jangan buka mulut tentang apapun ini! Jangan sampe Zaki atau Riga tau kalo aku udah ngomongin ini ke Kamu!” Lily bungkam, harga dirinya terhempas. “Kalo kamu mau uang, aku bisa kasih itu!”
“Enggak perlu.” Jawab Lily singkat seraya tersenyum pahit. Senyum yang ia gunakan ketika membaca undangan tipuan itu. Ia pernah berkelahi dengan Elen, orang yang punya kuasa seperti Vania ini. Dan itu berakhir dengan kehidupannya yang menjadi lebih buruk. Kali ini, ia tak mau masuk dalam lubang yang sama. Sudah menjadi takdir untuknya sepertinya, karena lagi-lagi Lily harus mengalah dan menelan pahitnya rasa kegetiran. “Aku bakal pergi secepat mungkin.” Lily melarang dirinya yang memohon untuk dapat menangis dalam suasana ini. “Secepat mungkin.”
“Bagus, itu berarti Zaki maupun Riga bisa berterima kasih ke Kamu suatu saat, karena aku enggak akan minta orang deketku buat ngehentiin karir mereka.” Vania tersenyum senang. “Aku harap kamu tepat janji.” Tak lama Vania pergi meninggalkan Lily di sana sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar