Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 8

“Halo Van?” Jawab Riga sambil menempelkan ponselnya di telinga. Tumben sekali Vania meneleponnya, apa lagi malam-malam seperti ini.
“Riigaaaaaaaaa…!!!!!!!” Riga tanpa tunggu aba-aba langsung menjauhkan telinganya dari ponsel agar tak berdarah karena teriakan mematikan itu. “Aku laperrrr!” Rengek Vania. Riga menghembuskan nafas berat, ia sudah hafal makna sebenarnya dari kalimat Vania barusan. Selama tinggal di kota ini, dia lah ibu+kakak+ayah+sahabat bagi Vania. Ia adalah paket yang begitu lengkap seperi menu makanan di restoran cepat saji. Namun, ia tak akan mendapatkan kesempatan menjadi ‘paket spesial’ bagi Vania hingga kapanpun.
Riga mendekatkan telinganya dengan ponsel lagi. “Mau makan apa Ratu Cacing Pita?” Tanyanya.
“Woo mulai berani kurang ajar nih sama majikan! Hmmmm apa yaaa…?Sate ayam boleh juga!” Pekik Vania semangat. Kurang dari satu jam Riga sudah tiba di apartemen Vania dengan dua puluh tusuk sate ayam yang ia beli di tempat langganan. “Hmm wanginyaaaa…yummy…!”
“Dasar cacing karnivora!” Ledek Riga. Vania menjulurkan lidah sambil meletakkan dua piring nasi di hadapan mereka berdua. “Aku kenyang..” Kata Riga ketika tahu Vania akan memaksanya ikut makan. 
Vania menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Riga. “Harus makan! Aku enggak nafsu kalo makan sendiri!” Katanya sambil menyodorkan sepiring nasi pada Riga. “Cukup Zaki yang enggak mau makan sama aku, kalo kamu wajib!”
Riga tersenyum kecut. “Sampe kapan? Sampe nikah?” Vania tak menjawab. “Dia itu calon suami Kamu Van, dia yang harusnya ngelakuin ini, bukan aku.”
“Kamu keberatan?” Tanya Vania. Riga terenyuh, selalu saja gagal untuk bersikap tegas ketika mata cantik Vania memandangnya dengan pandangan seperti itu. “Mungkin dia masih belum biasa Ga, kalo udah nikah mungkin dia bisa ngasih perhatian ke aku.”
Riga tak lagi menyahut, ia mulai makan untuk melampiaskan kekesalannya. Sudah bagus Vania tak tahu kalau ia punya cinta yang begitu besar untuknya, tak perlu Vania membuat rasa terpendam itu ketahuan dan menciptakan masalah diantara mereka bertiga. Dan hal lain yang harus selalu Riga ingat adalah:  Vania akan menganggapnya hanya sahabat, sampai kapanpun. “Iya. Mungkin.” Kata Riga pahit.
Mereka berdua makan dalam diam dan berbicara pada fikiran masing-masing. Jam dinding sudah menunjukkan jam 9 malam ketika Vania selesai mencuci piring di dapur. “Kamu deket enggak sama Lily si asisten yang baru Zaki itu?” Tanya Vania sambil duduk di samping Riga yang sejak tadi menggonta-ganti saluran televisi dengan wajah kusut.
“Lumayan, Kenapa?” Tanya Riga balik.
“Tadi siang kita ketemu, enggak sengaja gitu sih. Eh enggak tahunya dia itu temen dari partner butik aku, hahaha.” Ia merasakan tak ada yang lucu dalam ceritanya. “Tapi yang aneh itu Zaki kaya enggak mood gitu deh. Kenapa ya?”
Riga mengangkat pundaknya. “Setahu aku sih mereka berdua emang suka cekcok, sama-sama keras kepala, sering banget adu mulut tapi anehnya aku pernah ngeliat mereka suap-suapan.”
“Suap-suapan?!”
Oh bodoh.
Cepat-cepat Riga mengoreksi. “Itu kuping udah minta diservis tuh! Aku tadi bilang sepak-sepakkan.” Riga terbata-bata. Sial, hampir aja.
Vania mengerjap-ngerjap. Mungkin ia mulai mengantuk hingga pendengarannya mulai tak jelas. “Hmm..berarti mereka lumayan akrab kalo gitu ya, hubungan atasan sama bawahan kalo kaku malah enggak enak Ga, kalo kaya gitu kan mereka bisa lebih gampang interaksi.” Tutur Vania teringat wajah Lily.
“Dia juga lucu sih, orangnya polos sama apa adanya gitu.” Tambah Riga. “Aku aja sampe klepek-klepek sama dia.” Riga terkekeh.
Vania tersenyum datar. “Tapi kayaknya bentar lagi ada yang mau nembak dia tuh.”
“Siapa?”
“Ricki, orang yang punya salon itu. Tadi siang mereka kelihatan deket banget deh.”
Bibir Riga mengerucut, seolah insting penyelidiknya sedang bekerja. Bukan lawan yang berat. “Tenang, aku enggak mungkin kalah. Tinggal satu step lagi, aku bakal langsung ngajak dia serius.” Riga menepuk dadanya yang membuat Vania tertawa pelan. Riga kini heran sendiri, hanya dengan membahas Lily moodnya berubah drastis. “Ya udah, udah malem nih, aku mending pulang.”
Serius? Apa maksudnya? Alis Vania terlihat berkerut seperti saling beradu.
“Oh ya Ga, nanti kalo kamu udah punya pacar ataupun istri, jangan lupain aku ya.” Itulah yang dikatakan Vania ketika mengantar Riga hingga pintu apartemen. Riga hanya mengangguk, tak sepenuhnya faham apa yang Vania maksud. “Jangan tinggalin aku juga.”
“Iyaa iyaaa Juragan…aku janji!” Riga sambil memberi hormat. “Lagian cewek manja kaya kamu emang bisa apa tanpa aku si sahabat serba ada kaya aku gini ha?” Vania lagi-lagi terkekeh. “Udah, tidur yang nyenyak, jangan lupa kunci pintu ya!” Riga melambai sambil berjalan pergi.
Vania balas melambai. “Salamin ke Lily ya..”  Suaranya tak lagi kuat.
Vania berdiri di balik pintu yang barusan ia tutup. Ia meletakkan kedua tangannya di dada sambil merasakan ada yang begitu sakit di sana. Air matanya perlahan-lahan keluar dari mata lalu jatuh ke pipi. Dan Vania mulai menangis sesenggukan ketika bayangan Riga menikahi perempuan lain.
Mengapa begitu pilu? Mengapa begitu takut?
Seolah aku telah bersiap kehilangan sebelum ada yang mencuri.
***
“Lil, Zaki udah dateng?”
Lily mendongak, ia langsung mengangguk cepat ketika mengetahui itu adalah pak Gatot. Wajah kepala kantor hari ini terlihat begitu serius bagi Lily, tak terlihat sumringah seperti biasanya. “Sudah Pak.” Jawab Lily.
“Tolong suruh ke ruangan saya ya.” Kata pak Gatot lagi sambil berjalan pergi. Lily menghela nafas dan melawan rasa protes dalam dada. Sejujurnya ia tak ingin bertatapan ataupun bicara langsung dengan lelaki itu dulu. Kejadian kemarin membuatnya terguncang, dan itu cukup untuk menyalakan api cemburunya.
Tunggu dulu,
Cemburu?
“Haaahh!!!” Lily menggeleng sendiri. Ia mengepalkan tangannya dan langsung mendapatkan ide agar tak perlu bertatapan muka dengan Zaki. Lily menekan nomor telepon ruangan Zaki, namun tak ada sahutan. Ia mengulang untuk menelepon, namun hasilnya pun sama. Mungkin Zaki sengaja, ia kan hobi sekali membuatku kesusahan, batinnya.
Akhirnya Lily menyerah dan pergi ke ruangan Zaki. “Kamu dipanggil pak Ga...” Kata Lily sambil menutup pintu. Ia tertegun ketika melihat Zaki tak di kursi kerjanya. “Zaki?” Panggil Lily. Suara air keran dari toilet membuatnya tahu kalau Zaki di dalamnya, namun Zaki tak menyahut. “Kiii? Zaki???” Zaki tetap tak menyahut. “Zaki!!” pekik Lily.
“Ehhhmmmmhh??” Hanya lenguhan bak orang kesakitan.
“Kamu kenapa?” Lily menggedor pintu toilet. “Zaki jawab!”
“Henggg…gak aahfa-afffaaah…Hooooeekhh!” suara Zaki yang sedang muntah membuat Lily cemas. “Bentar lagihh, aku keh..luar kok…”
Lily menunggu di depan pintu. Tangannya terasa dingin. Ia ingat kalau Zaki punya magh dan sering kambuh saat ia banyak pekerjaan dan beban fikiran. “Kamu udah makan?” Tanya Lily lagi.
“HOEKKHHHHHH……”
“Zaki aku masuk ya?!” Terlanjur bagi Lily karena ia sudah membuka pintu yang rupanya tak dikunci. Ia segera menghampiri Zaki yang menopang tubuhnya di wastafel sambil membungkuk. Zaki tak mempedulikan Lily yang mulai memijat tengkuknya. “Bawa obat magh?” Zaki menggeleng. “Dasar bego.” Celetuk Lily pelan dan Zaki memandang garang ke arahnya sekilas.
Zaki muntah beberapa kali  dan membuat perutnya merasa baikan. Ia mencuci mukanya yang pasti terlihat pucat dan kusut. “Makasih..” Katanya ketika Lily melepas tangannya dari tengkuk Zaki. Lily mengangguk. “Ada apa?”
“Hmmm?”
Zaki berdecak.  “Kamu ke sini mau ngapain ha?” Ulangnya.
“Oh.......pak Gatot nyuruh Kamu ke ruangannya.” Jawab Lily. Ia menyesal karena Zaki sekarang kembali ketus. Harusnya gue biarin aja nih orang. “Tapi kalo kamu enggak enak badan, aku bisa bilang ke pak Gatot.”
Zaki menggeleng. “Enggak usah, aku baik-baik aja kok.” Ia membenarkan kerahnya sambil berjalan keluar toilet.
Lily memaki-maki dalam hati dan mengikuti Zaki yang berjalan menuju ruangan pak Gatot. “Makanya kalo punya magh ga usah sok buat ga sarapan!” Katanya ketika ia sampai ke meja kerjanya sendiri. Zaki tersenyum samar, ia hendak menimpali namun memilih diam dan menikmati sensasi ini. Lily masih sama cerewetnya seperti dulu, bahkan Lily masih ingat penyakitnya.
***
“Halo cantik!” Sapa Riga.
Lily tersipu. “Apaan sih!” Katanya. “Kamu kok baru dateng?”
Riga mengangguk. “Aku abis ngasih surat ke ibu Katrin,” Jawab Riga sambil memainkan pena Lily yang tadi terkulai di meja. “Kasus ini ditutup.”
“Ditutup??” Alis Lily terangkat tinggi karena saking terkejutnya. “Berarti tersangkanya istri kedua pak Faiz ya, Bu Sonia? Kok enggak ada sidang?”
Kali ini Riga tak mengangguk. “Ditutup sementara sih, kita nunggu bantuan tim pusat. Jadi ya bisa dibilang kasus ini ditunda dulu lah. Istri kedua pak Faiz masih jadi tersangka sementara Lil, kita enggak punya bukti kecuali fakta kalau Faiz dibunuh di rumahnya itu. Kita bakal kalah kalo kasus ini dibawa ke sidang.” Katanya berusaha menjelaskan dengan sesederhana mungkin pada Lily. “Zaki enggak cerita?”
Lily terdiam. Ini kah yang membuat Zaki tadi terlihat tak sehat? Zaki memang punya fisik kuat, tapi kalau punya beban fikiran, ia akan mudah sakit. “Belum, mungkin habis ini dia cerita.”
“Kemana dia?” Lily menggoyangkan dagunya ke ruangan pak Gatot. “Hmmm….” Riga memanggut-manggut. “Oh iya, dapet salam dari Vania tuh. Kalian katanya kemaren ketemuan ya?”
“Eh? I..iya..” Lily tergagap. “Dia cerita ke kamu?”
“Iya,” Riga tersenyum. “Kamu juga katanya sama pacar Kamu ya?”
“Hahaha..” Lily mengeleng-geleng sambil melambaikan tangan. “Bukan, dia tetangga aku, rumahnya depan aku persis.” Katanya. “Vania cantik banget ya, pantes aja..” Lily berhenti. Ia melihat Zaki keluar dari ruangan pak Gatot dengan wajah lesu.
“Hai Bro!”
Zaki tersenyum kecut. “Gimana? Dapet clue?” Canda Zaki. Riga menepuk lengannya. “Lo udah ketemu Bu Sonia?”
“Belum,” Jawab Riga. “Gue terlalu malu buat nunjukin muka kalah di depan pembunuh itu.”
Zaki menghela nafas. “Mana catetan transaksi kemaren? Aku mau lihat.” Katanya pada Lily. Ia segera mengecek catatan panjang itu dan menelitinya satu persatu berdasarkan tanggal.  “Oke, cepet siap-siap, abis ini ikut aku.” Perintahnya sambil membawa catatan itu ke ruangannya dan meninggalkan Riga dan Lily di sana.
Lily mengehembuskan nafas panjang. “Bisa enggak sih dia ngomong ‘tolong’??!” mata Lily berputar, tangannya sedang sibuk membenahi kemeja yang mencuat keluar dari celananya.
Riga tersenyum . “Sabarrr.” Ujarnya dengan tangan menepuk pundak Lily. “Oh iya Lil, kapan-kapan aku mau ke rumah Kamu, boleh?” alis kanannya terangkat, berharap Lily mengizinkan.
“Ya sok atuh!” Logat sunda yang ia buat terdengar konyol, membuat Riga terkekeh dan pipinya merekah. “Kamu kan udah tau rumah aku.”
Riga menggeleng. “Bukan rumah kontrakan Lil, tapi rumah Kamu yang di Malang. Aku pengen kenalan sama orang tua Kamu.”
“….” Lily tertegun, terlalu lamban untuk menerjemahkan maksud Riga. Ia hendak bertanya namun sosok Zaki sudah berdiri di belakang Riga dengan tatapan tajam. “Ayo jalan.” Perintah Zaki sambil berjalan keluar dan tangannya terkepal. Ia merapatkan rahangnya demi menahan getir, membuat gigi-gigi dalam mulutnya saling menghujam satu sama lain.
Lily menyambar tasnya dan segera menyusul Zaki sebelum boss nya itu marah besar. Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan datang dan mencegah lebih baik dari pada mengobati. Lily tak sanggup lagi jika telinganya harus mendengar omelan Zaki. “Sorry ya Ga, nanti kita lanjut ngobrol lagi. Daah..” Lily berlari kecil untuk menyusul Zaki.
Sementara Lily dan Zaki sudah tak Nampak dalam pandangan, Riga lah yang masih tertinggal di sini dan berdiri dengan tatapan heran. Firasatnya berkata ada yang aneh. Ia sudah sering kali menginterogasi tersangka, ilmu psikologi yang ia pelajari di bangku kuliah pun membuatnya gampang membaca kondisi jiwa seseorang, termasuk Zaki. Tapi kali ini,  firasat dan kata hatinya takut kalau itu benar-benar terjadi.
Satu persatu kejadian yang ia kira janggal mulai berkaitan. Dari hari pertama, dimana Zaki yang ia sangat kenal tak mudah marah, namun entah mengapa di hari datang,  Zaki seolah menunjukan sifat barunya yang bisa dibilang 'jutek'. Riga juga ingat dimana mereka berdua terlihat makan bersama. Dan barusan, matanya tak mungkin berbohong. Zaki terlihat marah sekali tadi.
Mungkin dia denger omonganku sama Lily,
Tapi kenapa dia harus marah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar