“Lo beneran enggak apa-apa?” Tanya Diana cemas. Hari ini dia telah izin ke pihak sekolah dengan alasan ada keperluan mendesak, namun dirinya telah berjanji akan kembali mengajar setelah jam makan siang. “Jawab ngapa Lil..”
Begitulah Lily. sejak menangis hebat dan bercerita apa yang terjadi pada Diana semalam, ia tak mau berkata apapun. Ia juga tak mau makan bahkan sekadar keluar dari kamar. Hanya berdiam diri dalam selimut sampai siang hari. “Iya, Lo kerja aja sana. Gue gapapa.” Akhirnya Lily bicara jugawalau terdengar malas. Matanya terlihat sayu. “Kunci aja pintunya dari luar.”
Diana menyerah, mendengar Lily yang mau bicara saja sudah membuatnya bersyukur. Tadi pagi ia sempat bercerita pada Ricki tentang apa yang terjadi pada Lily sejak semalam. Ia minta pendapat Ricki, namun nyatanya lelaki itu menyuruh Diana untuk membiarkan Lily menenangkan fikirannya dulu. “Ya udah jangan lupa makan nanti Lo sakit, Lo juga jangan mikirin itu dulu ya. Nanti..”
“Iya.” Potong Lily. Diana mengatupkan mulutnya, tak lagi mendebat lalu pergi dari kamar sahabatnya itu. “Sorry Di..” Lirih Lily menyesal. Ia pun tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ini. Kepalanya sakit setiap berfikir, seperti ada palu besar yang akan menghajar otaknya jika berani berputar.
Lily membalik tubuhnya dan memejamkan mata. Hari ini ia sengaja tak masuk dan tak mengabari siapapun di kantornya tentang ketidakhadirannya hari ini. Tekadnya sudah bulat, ia akan pergi. Bukan karena ancaman Vania semalam, tapi ia tak sanggup untuk bertemu dengan Zaki lagi. Lily menyesal karena ia membiarkan hatinya terbang terlalu tinggi karena membaca surat itu. Ia tahu Zaki lah yang memang menulisnya, tapi kenyataannya Zaki selama ini menyembunyikannya. Itu berarti Zaki pun sadar kalau cinta yang pernah terjadi diantara mereka hanya sebatas kenangan. Hanya itu.
Cause there’ll be no sunlight…if I lose you Babe…
Lily mengernyit lalu perlahan membuka matanya yang mengantuk karena tak dapat tidur sejak semalam. Pasti Diana, tebak Lily sambil duduk dengan malas dan menatap jam dinding yang menunjukkan sudah sangat siang. Ia mengulurkan tangan ke atas meja untuk mengambil ponselnya kemudian Lily tercekat setelah tahu siapa yang meneleponnya. “Ha..”
“Kamu kok enggak masuk?” Riga terdengar memelankan suaranya. Atau kuping Lily lah yang mulai berkurang kualitasnya?! “Aku dari tadi mau nelepon Kamu, tapi banyak banget kerjaan, sekarang baru sempet.” Tuturnya.
“Aku ada urusan Ga.” Lily berkilah. Ia membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan juga serak. “Gak ada apa-apa kan?” Tanyanya datar, sebenarnya ia sedikit penasaran dengan Zaki.
“Kamu udah tau kan? Zaki kan masuk Rumah Sakit.” Riga balik bertanya dan membuat Lily tercekat.
Rumah sakit?! “Ru-Rumah sakit??” Teringatlah Lily akan kesehatan Zaki yang beberapa hari terakhir memburuk karena gangguan lambung yang ia alami.
“Iya Lil, Rumah Sakit Adi Husada itu, katanya sih di ICU, tapi aku belum sempet kesana, banyak banget kerjaan yang di deadline. Aku kira kamu di sana makanya enggak masuk.” Kata Riga lagi dan membuat Lily terdiam. “Ya udah deh Lil, nanti kalo kamu ke RS bilang aku ya biar aku jemput, nanti aku telfon lagi, ada kerjaan nih. Daaah..” Belum sempat Lily berkata ‘Enggak’ maupun ‘maaf banget, aku gak bisa’, Riga sudah menutup teleponnya.
Ia merutuki diri yang tadi mengangkat telepon dari Riga itu. Harusnya ia menonaktifkan nomornya agar tak ada orang yang dapat menghubunginya saat ini. Dan sekarang, semuanya terasa terlambat. Kenapa juga dia bisa di ICU?! Lily kembali berbaring untuk meredakan kepalanya yang mulai terasa berasap karena ada yang terbakar di dalamnya. Tapi, jangan-jangan ada kerjaan yang musti gue lakuin lagi. Lily mulai kebingungan harus bagaimana. Satu sisi ia masih bertanggung jawab sebagai asisten, satu sisi ia harus mulai melupakan lelaki yang pasti akan ia temui.
“Arrrrgghhh!!!” Erang Lily mengacak-acak rambut lantaran pening. Ada banyak suara dalam dirinya yang saling bersahutan satu sama lain.
***
“Yap!! Bagus!” Pekik Lily kesal ketika ia tersengat terik matahari yang terasa membakar kulit. Ia baru saja turun dari angkot yang berhenti tepat di depan halaman rumah sakit. “Adi Husada” Lily membaca nama rumah sakit yang terpampang di atas gerbang utama.
Lily sempat bingung menyembunyikan matanya yang sembab sebelum berangkat kemari tadi. Ia akhirnya memilih es batu sebagai obat penghilang aibnya tersebut dan mengompres matanya selama lima menit. Dan sekarang, matanya terlihat sedikit membaik dari pada tadi pagi.
Ruang ICU harusnya tak terlalu jauh dari koridor utama. Namun entah mengapa, sejak tadi Lily merasa berputar-putar dalam rumah sakit besat ini. Ia tentu saja mengikuti arah yang tertera pada setiap papan di sepanjang jalan. ICU, belok kanan. Lily kembali berjalan. Ia berjalan terus hingga tak ada lagi penunjuk jalan terlihat di sekitar. “Haha, gue nyasar!” Lily terkekeh sendiri karena kebodohannya. “Lain kali gue harus bawa peta!” Lily berjalan ke setiap kamar yang ada untuk mengecek dan mengintip lewat kaca kecil di setiap pintu. Mungkin aja ruang ICU emang disini.Lily akhirnya berani masuk ke sebuah kamar berpintu kaca besar seperti ruang ICU pada umunya, namun yang ini terasa begitu sepi.
Tanpa membaca lagi nama ruangan tersebut, Lily mengetuk pintu sambil membuka kenopnya lalu menutupnya kembali agar terkesan sopan. “Ma..” Ucap Lily seraya berjalan lebih dalam. Ia hendak berkata ‘maaf mengganggu, saya sedang mencari Bapak Zaki’ sebelum ia tersadar kalau ini bukan kamar pasien maupun ruang ICU. Seluruh pasien di sini tertutup kain putih dan ada bandrol yang menggantung di setiap jempol kaki mereka. “MA-Mayaaaaaaaaaaaaaaat!!!” Pekik Lily melanjutkan perkataannya yang terhenti tadi. Tak butuh lama, Lily berusaha kabur dari kamar menakjubkan itu namun kakinya terasa berat dan menancap di tanah. Ia terlalu ketakutan hingga badannya terasa kaku. “Tolooong!” Lily akhirnya bisa menggerakkan kakinya lagi, tepat sesorang sudah berdiri di belakangnya.
“Kamu ngapain ke sini?” Entah siapapun itu yang jelas ketakutan Lily makin mejadi-jadi. Dari suaranya pastilah makhluk itu laki-laki. Lily memejamkan matanya dan mulai berdoa, ia memilih mengabaikan orang yang sedang berdiri di belakangnya itu. “Lil, Kamu ngapain kesini?” Lelaki itu menyentuh pundak Lily yang tegang.
Lily pun berhenti memajatkan doa dan memberanikan diri membuka mata dan melihat orang—semoga begitu—yang menyentuh pundaknya bukannya langsung menggigit lehernya. Ia langsung bersyukur pada Tuhan ketika tahu itu bukanlah hantu ataupun makhluk halus lainnya melainkan manusia. “Aku enggak tau ini kamar.….” Kata Lily masih belum dapat mengamati dengan jelas, namun ia terhenti karena kepalanya terasa berputar-putar tatkala ia menyadari lelaki itu adalah Zaki. “mayat..” Tambah Lily dengan suara lemah. Kok dia di sini??!
“Aku udah tau itu, tadi aku lihat kamu jalan mondar mandir di sini. Mau manggil Kamu tapi takut salah orang, takutnya Cuma bayangan aku doang.” Zaki menyusupkan tangannya ke dalam saku celana jeans yang ia pakai. Lily hendak berkata tapi Zaki malah menarik tangannya untuk segera keluar dari kamar yang terasa mencekam bagi Lily tersebut. Lily tak mengelak, ia pun merasa harus cepat keluar dari kamar mayat itu sebelum dirinya mati ketakutan. “Aku tau Kamu pasti enggak lihat label kamar ini. Padahal phobia sama mayat, eh main nyelonong aja. Hahaha. Masih tetep ceroboh!” Zaki merasa dirinya begitu terhibur dengan sosok Lily saat ini. Sejak semalam ia tak tidur dan moodnya amatlah buruk. Dasar malaikat bodoh, batinZaki tersenyum.
Lagi-lagi Lily merasa disepelekan. “Aku..” Ia ingin membela diri, tapi wajah Zaki yang congkak membuatnya membatalkan itu. “Jadi begini, bisa ceritain kenapa Riga tadi bilang ke aku kalo Kamu masuk rumah sakit, tapi sekarang? Lihat? Kamu sekarang lagi ketawa!”
“Aku?” Zaki menunjuk dirinya dan Lily mengangguk. “Haha, paling Kamu salah denger, aku lagi di rumah sakit, bukan masuk rumah sakit. Ckckck, masih umur berapa sih udah tuli begitu? Hahaha.” Ejeknya merasa kembali menang. Zaki memang menanyakan Lily pada Riga di kantor, karena ia belum berani menghubungi Lily langsung akibat pertengkaran mereka kemarin. “Oh, atau jangan-jangan saking khawatirnya Kamu sampe enggak fokus terus salah masuk ke kamar mayat ya?? Wah..wah..”
“Stop Zaki!!” Lily melotot. Ia benar-benar merasa malu. Mana bisa ia jadi terlihat tolol bagini, mana mungkin ia salah dengar! “Aku malah seneng tuh misal Kamu emang masuk rumah sakit! Pasti nyenengin banget kalo bisa kerja sama orang yang lebih baik hati, enggak suka ngetawain, enggak suka ngejek, terus…”
“Aku minta maaf.” Potong Zaki tiba-tiba. Ia menatap bola mata Lily dalam-dalam, mencari titik kesedihan yang ia anggap kesalahannya. Andai ia bisa lebih tegas mengenai perasaannya, andai ia lebih cepat mengetahui kenyataan sesungguhnya. Ia harap Lily tak lagi membencinya, karena sekarang Zaki tak dapat merasakan apa-apa lagi kecuali cinta yang ia kubur dalam-dalam kembali muncul ke permukaan setelah tahu selama ini mereka ditipu.
Lily kelihatan linglung karena perkataan Zaki barusan. Ia tak tahu keajaiban apa hingga lelaki di depannya berkata maaf seperti itu. “Oh, kemaren? Aku udah enggak inget lagi kok.” Lily membuang muka, mengantisipasi barangkali Zaki hanya bergurau.
“Bukan.” Kata Zaki cepat lalu menggeleng-geleng sendiri. Belum waktunya. “Itu apa?” Sambungnya tak menghiarukan Lily yang menunggu kelanjutan kalimatnya sambil menunjuk bingkisan yang Lily jinjing sejak tadi.
Lily mengikuti arah mata Zaki, teringat kalau tadi dia memang berniat menjenguk boss jahatnya ini dengan membawakan beberapa buah. “Kembang tabur,” Seloroh Lily. “Kali aja enggak sempet ngelihat kamu lagi jadi sekalian aja aku taburin ini di makam Kamu entar.”
“Haha, kelihatan banget bohongnya!” Zaki terkekeh. “Ikut aku deh,” Lagi-lagi Zaki menggeretnya ke tanpa permisi dulu.
“Kita mau kemana???” Lily berusaha melepaskan cengkraman tangan Zaki, namun kekuatannya tak ada apa-apanya.
“Nurut aja deh, lagian sayang juga kan itu buah kalo enggak jadi buat nyembuhin orang sakit?” Ujar Zaki tanpa menoleh. Beberapa orang termasuk para suster memperhatikan mereka berdua. Ada yang mengira mereka sedang bertengkar, ada yang mengira kalau mereka berdua sedang ikut acara reality show. “Nah, masuk.” Perintah Zaki ketika mereka sampai di sebuah kamar yang Lily pastikan kamar VIP. Lily tak berkata apa-apa ketika melihat papan nama yang bertuliskan nama ayah Zaki di pintunya.
Darwin? Lily rupanya masih mengingat nama itu. “Jadi yang sakit...” Kini ia sadar kalau Riga mungkin salah informasi, karena kenyataannya ayahnya lah yang dirawat di sini.
Wajah Zaki terlihat dipaksa tegar. “Udah, nanti Kamu tau sendiri.” Katanya tersenyum sambil membuka pintu agar Lily bisa masuk. Dan masuklah Lily ke dalam kamar, ternyata sudah ada Hera di dalam bersanma Darwin yang rupanya sudah siuman dan terlihat sedang mengobrol dengan Hera. Keadaan itu hanya semakin membuat Lily tegang. Tapi mending ketemu mereka dari pda ketemu mayat lagi hiiii! batinnya memotivasi diri.
Baik Hera maupun Darwin terlihat tak percaya dengan siapa yang datang bersama Zaki. “Loh?” Tanpa Hera sadari kata itu terlontar dari mulutnya. “Lil-Lily?”
Zaki rupanya faham apa yang sedang Hera fikirkan. “Lily ngira aku yang masuk rumah sakit,” Katanya mengalihkan ketegangan ibunya itu. “Kita keluar aja dulu Buk, biar si Lily bisa ngobrol sama Bapak dulu, katanya dia kangen udah lama enggak ketemu Bapak.” Zaki berbohong lalu dengan tanpa izin dahulu ia mengajak ibunya keluar kamar tersebut.
Dan entah apa yang Lily lakukan sejak tadi karena ia baru sadar kalau hanya tinggal ia dan Darwin di kamar ini. Bagus, Zaki nyelametin dari kamar mayat tapi gue tinggal di sini sendiri. Lily tak tahu harus berbuat apa lagi, dia pun memutuskan duduk di kursi yang Hera duduki tadi tepat berada di sebelah tempat tidur Darwin. “Bapak kok bisa masuk rumah sakit begini? Kenapa Pak?” Tanya Lily ramah.
Darwin sejak tadi hanya memperhatikan Lily yang telah lama ia tak lihat lagi. “Takdir.” Jawab Darwin singkat dan wajahnya terlihat kaku.
Lily bisa merasakan kalau Darwin bersikap dingin padanya. “Bapak mau Apel?”
“Enggak.” Jawab Darwin.
“Jeruk?”
“Enggak.”
“Terus maunya apa dong?”
“Kenyang!” Sentaknya membuat Lily bergidik ketakutan juga kaget, tapi tak lama Darwin terkekeh melihat keputusasaan Lily barusan. “Hmm..Udah lama tinggal di sini Lil?” Akhirnya ia menyerah untuk mengerjai Lily.
Darwin melihat wajah Lily kembali ceria, mungkin perubahan sifatnya membuat Lily kembali nyaman. Lily memang merasa bisa bernafas lega, karena rupanya orang tua ini masih suka humor seperti dulu. “Lumayan lah Pak, sekitar lima tahunan. “ ujarnya tersenyum. “Bapak kok enggak berubah sih? Pake jamu apa biar tetep seger begini Pak? Masih kelihatan muda lagi. Kasih tau dong Pak!” Candanya disambut tawa Darwin.
“Kamu ini bisa aja kalo ngarang, wong Bapak dirawat begini masa dibilang seger!” Ia masih terkekeh. “Kalo keriput iya!”
“Hahahaha.” Lily tergelak. “Tapi buktinya Bapak masih bisa ke Surabaya sama Ibu, tapi Bapak paliiing anti naik bis, berarti kan masih kuat nyetir segitu jauhnya, gimana enggak dibilang seger coba?” Ia tak mau kalah.
Darwin menegakkan tubuhnya sedikit. “Ah Kamu ini, bisa aja.” Senyumnya mengembang. “Udah nikah Kamu?” Tanyanya membuat Lily tertegun sejenak.
“Belum tuh Pak, masih happy sendiri.” Ia tersenyum getir.
“Hmmm...” Gumam Darwin seraya mengangguk-angguk. “Oh iya, Kamu tadi ke sini sama siapa?” Sebenarnya ia juga ingin tahu bagaimana bisa Lily bertemu dengan anaknya lagi di kota besar seperti ini.
“Tadi si Riga..”
“Riga?!” Tiba-tiba alis Darwin terangkat tinggi, kepalanya tiba-tiba pusing. “Kamu kok bisa kenal Riga?” Kali ini Darwin tak terlihat bergurau lagi. “Tunggu, Riga anak Bandung itu?”
Lily mengangguk perlahan, ia baru sadar kalau Zaki pasti belum bercerita. “Oh, saya satu kantor sama Zaki Pak.” Katanya berhati-hati. “Saya asistennya.”
Pantes aja dia akhir-akhir ini banyak berubah. Darwin masih belum bisa menghilangkan sakit di kepalanya, tapi ia lebih penasaran. “Udah berapa lama kamu ngegantiin Seila?” Lagi-lagi Darwin bertanya, ia mulai bisa memahami situasinya.
“Hmm..Seingiet saya sih udah hampir dua bulan ini Pak kalo gak salah.” Ucap Lily masih sambil berfikir. “Zaki enggak cerita ya?” Gumamnya sendiri.
Sadarlah ia, kalau kini perbuatannya menuai dampak untuknya sendiri. “Enggak. Mungkin Belum.” Darwin menarik nafas berat. Ia memejamkan mata sedikit lama lalu baru membukanya. “Sebenernya bapak yang salah Lil,” Katanya bercerita. “Bapak terlalu keras maksain kehendak bapak ke Zaki selama ini, harusnya ya Bapak dengerin dulu penjelasan dia. Semalem dia tiba-tiba minta pernikahannya dibatalin gitu aja. Bapak marah lah, adu argumen. Terus bapak sadar-sadar udah di sini deh.” Kalimat terakhir disampaikan Darwin dengan santai. “Tapi Bapak emang udah tua, wajar lah kalo sering sakit.” Katanya sedikit bernada gurau, pun ia berharap Lily tak menyalahkan Zaki, anak satu-satunya yang ia banggakan.
Lily tak dapat percaya, Zaki pasti lah lebih merasa berat dari pada dirinya. Hatinya tak dapat menyangkal kalau ia juga bisa merasakan keterpurukan Zaki atas masalah ini. Butuh beberapa detik untuk Lily agar bisa menata kalimat yang ingin ia sampaikan. Ia tahu, dirinya belum lah sembuh apalagi semalam hatinya lagi-lagi diusik. “Mungkin Zaki juga ngerasa bersalah Pak. Saya tau banget gimana Zaki, emmm maksud saya perasaan dia ke Bapak sama Ibu.” Lily mengoreksi. “ Dia itu paling takut ngebikin Bapak kecewa, apa lagi sampe sakit begini. Mungkin kemarin dia lagi ada masalah, bisa jadi sama Vania juga. Tapi saya yakin, Zaki bisa nerima keputusan yang Bapak pilihin buat dia selama itu baik buat dia.” Lily bersyukur kalimatnya selesai tanpa ada air mata yang menggenang. Ia tak tahu berapa lapis daging yang menutupi hatinya yang tergores dan luka. Karena ketegaran yang ia buat terasa begitu nyata, walau sebenarnya itu hanya tipuan.
Darwin justru tersentuh. Bagaimana bisa ia dahulu tega memisahkan anaknya dengan perempuan lugu di sampingnya kini? Bagaimana ia tak tahu kalau perempuan inilah yang mampu membuat Zaki berani mengutarakan isinya seperti semalam? Bagaimana bisa selama ini kepentingannya mengalahkan kebahagiaan anaknya sendiri? “Kamu juga kenal Vania?” Dilihatnya Lily mengangguk dengan mulut terkatup. “Bapak minta maaf Lil.” Katanya pelan, sedikit malu. Lily tak tahu apa maksud Darwin dan memilih mendengarkan dahulu. “Bapak dulu jahat sama Kamu, Bapak yang nyuruh Ibu buat nipu Kalian. Bapak..”
“Pak..” Potong Lily. “Saya udah tau itu kok.” Ia terlalu muak mengingat ini. Ia toh sudah tahu semuanya, bahkan segalanya sangan jelas. Untuk apa lagi diungkit kalau itu hanya akan mengorek rasa pedih yang semakin dalam? “Saya bisa faham, tapi itu kan yang terbaik?” Lily menahan tenggorokannya yang mulai bergetar. Tidak, benteng pertahanannya harus kuat! “Itu udah lama banget Pak, enggak perlu minta maaf.” Lily tersenyum.
Banyak hal yang membuat Darwin terkejut hari ini. Ia tak mengerti mengapa ada orang setabah dan sesabar ini. Tak ada amarah sedikitpun yang tersirat dari cara pandang Lily padanya. “Tapi, andai Bapak enggak ngelakuin itu, mungkin Zaki lebih bahagia Lil.”
Lily menggeleng. “Dia jauh lebih bahagia sekarang Pak,” Katanya perih.
“Tapi Lil, Bapak..”
“Pak,” Lagi-lagi Lily tak mengizinkan orang tua ini melanjutkan. “Saya yang akan ngomong ke Zaki, dia pasti mau mikirin ini. Bapak enggak usah ikut pusing, biar saya nanti yang ngebujuk dia. Sebagai temen lamanya, dia mungkin mau dengerin saya kalo saya yang ngomong.” Darwin tak dapat berkata apa-apa. Perdebatan ini hanya membuat penyesalan baginya. “Hmmm, saya kayaknya harus balik nih Pak. Temen kontrakan saya udah nungguin.” Ia terpaksa berbohong. Lily berdiri dari kursinya dan langsung meraih telapak tangan Darwin dan menciumnya. “Saya pamit dulu ya Pak, seneng bisa ketemu Bapak lagi.” Lily tersenyum dan langsung melangkah pergi.
“Lil!” Panggil Darwin ketika Lily hendak meraih gagang pintu, ia pun berhenti berjalan. “Makasih ya.” Katanya.
Lily mengangguk lalu keluar secepatnya. Lily buru-buru menyeka air matanya yang hampir saja menetes ke pipi. Gue gali kuburan gue sendiri. Ia berjalan sambil sedikit tertunduk lesu. Dilihatnya kursi tunggu yang terpajang di sepanjang koridor, matanya menangkap seseorang lelaki tidur di atas bangku dengan posisi miring. “Zaki?” Panggil Lily enggan. “Ki..” Panggilnya lagi namun lelaki itu masih tetap tidur. Terlihat sekali kalau Zaki sangat lelah karena ia tak tidur sejak semalam. Lily akhirnya berhenti membangunkan, ia malah membuka sweater yang ia kenakan dan meletakkannya ke tubuh Zaki. Setelah memperhatikan wajah Zaki, Lily pun memutuskan untuk pergi.
“Wah air susu dibales air tuba!” Lily berhenti berjalan dan memandang ke belakang untuk melihat siapa yang berkata demikian. Dilihatnya Zaki sudah bangun dan duduk walau wajahnya kusut. “Ckckck, udah diselametin dari kamar mayat balesannya Cuma gini doang?” Katanya sambil menatap sweater tipis Lily yang menyelimuti tubuhnya tadi, tapi walau begitu hingga detik ini Zaki tak melepasnya.
“Dasar pamrih!” Kata Lily tetap berdiri di tempatnya. “Udah lanjutin aja tidurnya.” Katanya sambil melangkah pergi lagi. Zaki lantas berlari mengejarnya dengan suara derap langkah yang lantang. “Apa lagi sih?!” Katanya tak senang dengan sikap Zaki yang seperti anak TK ini.
“Heh, aku ini masih boss Kamu. Jadi Kamu enggak berhak marah-marah ke aku.” Zaki memarahi. Lily menipiskan bibirnya, geram.
“Bentar lagi aku mau ngundurin diri kok.” Ujar Lily. “Aku enggak bisa kerja sama Kamu lagi.”
“Enggak bisa seenaknya gitu dong. Kontrak Kamu belum habis.” Zaki tak mau kalah. “Bilang aja ada orang yang maksa Kamu berhenti kerja di sekitar aku, ya kan?” Ia teringat amarahnya pada Vania tentang hal ini.
Lily tergagap. “Enggak!” Katanya. “Udahlah, aku mau pulang. Enggak ada lagi yang perlu aku lakuin kan?”
“Ada!” Potong Zaki. Lily melotot sebal.
“Hey!” Tiba-tiba Riga sudah berada di dekat mereka. “Ada apa nih?” Tanyanya heran melihat pemandangan sengit ini. “Perang dunia ketiga belum mulai kan?” Guraunya.
Lily memutar bola mata. “Bilangin ke temen Kamu ini, suruh dia kursus sopan santun.” Kata Lily pada Riga.
“Ouuuuh yeeeeaaahhhh?” Ledek Zaki.
“Hahahaha.” Riga terkekeh, ia sudah lama tak melihat gaya Zaki yang seperti itu.
Zaki menatap Riga dingin. “Lagian Lo kalo ngasih tau orang yang bener dong, Lo enggak tau apa ini orang udah nenek-nenek.” Tunjuknya pada Lily. “Dia hampir pinsan di kamar mayat gara-gara salah denger.”
“ Aku enggak salah denger!!” Lily membela diri.
“Yang bener?” Riga merasa bersalah. “Maaf ya Lil, emang salah aku, aku juga baru tau dari bagian kepegawaian, ternyata bukan Zaki yang izin karena sakit, ada anak bagian kita juga yang enggak masuk karena sakit, aku ngira itu Zaki. Hehehe.”
“Tuh kan?!” Lily menjulurkan lidah pada Zaki.
“Tapi kok kamu ke kamar mayat? Aku enggak salah bilang ICU deh?” tanya Riga heran.
Lily mengutuk dirinya yang bodoh karena Zaki sekarang menyeringai. “Hahahaha, dia ini nenek-nenek tuli plus buta arah bin ceroboh Ga, Lo harus tau! Hahahaha!” Zaki tertawa lepas.
“Iiiiihhh!” Lily mengepalkan tangannya, bersiap meninju.
“Apa? Mau mukul? Pukul nihhh!” Zaki mendekakan pipinya ke arah Lily. “Oh lupa, enggak nyampe ya? Mau aku ambilin kursi? Hahahaha.”
Riga memandangi mereka berdua dan tak sengaja dirinya menikmati kedekatan mereka berdua. Zaki kelihatan beda kalo gini. Sungguh, kalau ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia akan mengira mereka adalah teman akrab. Tapi kenyataannya lebih. “Kamu mau iku aku ngejenguk ayah Zaki?” Tanya Riga.
“Oh, a-aku udah. Zaki yang ngajak tadi.” Lily terkaget, berusaha menyembunyikan agar Riga tak tahu kalau ia sudah lama mengenal orang itu. “Ini aku mau pulang.” Lily tersenyum ramah pada Riga, dan itu membuat Zaki geram.
“Kalo gitu aku anterin deh, aku nanti ngejenguknya bareng Vania aja.” Kata Riga tapi Lily terlihat bingung.
Zaki menegakkan tubuhnya. “Vania tadi udah ke sini kok Bro. Lo temenenin Bokap gue aja, gue ada perlu nih sama asisten gue. Nanti biar gue yang nganter dia.” Katanya menarik tangan Lily tanpa tunggu lama. Lily terhuyung-huyung tapi tak mengelak, ia melambaikan tangannya pada Riga yang sedang memandangi mereka yang menjauh. Vania, kenapa dia enggak ngabarin gue ya. Riga tertegun lalu melangkah menuju kamar Darwin dirawat.
***
“Lepasin, aku bisa jalan sendiri!” Pekik Lily menarik tangannya, tapi dari tadi tak ada tanda-tanda Zaki akan melepasnya. “Zaki!” Bentaknya.
“Jalan kemana? Ke kamar mayat lagi ha?” Zaki tak peduli petugas parkir rumah sakit yang memperhatikan mereka. Namun ketika matanya melihat api kemarahan di mata Lily, ia melunak. “Oke, aku bakal lepas, tapi Kamu masuk mobil dulu.”
Urat di leher Lily terlihat naik ke permukaan kulitnya. “Mau apa? Jangan maksa kalo aku enggak mau!”
“Aku bilang masuk ya masuk!” Teriak Zaki membuat Lily ternganga sekaligus kaget. Ia tak tahu kalau Zaki bisa menakutkan seperti itu. Tak butuh waktu lama bagi Lily untuk memutuskan, karena setelah Zaki menghentaknya seperti itu, ia pun langsung masuk—terburu-buru. “Haha, kalo digituin baru nurut.” Kata Zaki setelah duduk di kursi pengemudi. Dilihatnya Lily yang masih sedikit ketakutan, “Gaya itu biasanya aku pake kalo ngeinterogasi, tadi aku Cuma bercanda.” Ujarnya sedikit bersalah. “Kamu kaget? Takut?”
Lily menggeleng pelan. “Enggak.” Katanya berkilah singkat, jelas-jelas ia hampir mati berdiri karena suara Zaki tadi sangat keras dan kasar. “Mending cepet omongin apa yang Kamu pengen omongin.” Katanya sambil memandang keluar jendela.
“Hmm.” Zaki bergumam pelan. Ia tak tahu bagaimana memulainya dan mengatakannya. Sikap Lily yang seolah menolak segala upaya baiknya membuat Zaki putus asa. “Oke, tapi jangan di sini.” Zaki menyalakan mesin mobil.
“Mau kemana? Bapak Kamu kan lagi sakit, mending Kamu jagain dia aja!”
“Bentar doang.” Zaki mulai melesat.
Hanya sekitar dua puluh menit dari rumah sakit, Zaki dan Lily datang ke suatu tempat yang lumayan rindang. Banyak pepohonan yang menaungi tempat ini. Ada juga beberapa gazebo yang sengaja dibangun di bawah-bawah pohon. “Mungkin enggak sama, tapi lumayan mirip kan?” Tanya Zaki ketika ia kembali pada Lily yang sedang menunggunya di parkiran. Tadi ia membeli tiket terlebih dahulu. Rupanya mereka pergi ke kebun raya yang letaknya tak jauh dari kontrakan Lily juga.
“Mirip apa?” Tanya Lily benar-benar tak tahu.
Zaki tersenyum. “Ikut aku.” Katanya lalu berjalan, membiarkan Lily mengekor di belakangnya. Zaki menyerahkan dua tiket berwarna hijau muda itu ke penjaga pintu masuk. “Inget tempat kita piknik pas hari sebelum aku pergi pendidikan?” Tanya Zaki, Lily hanya menatapnya dengan mata lebar. “Aku sering ke sini buat sekadar nginget tempat itu.”
“Buat apa sih, enggak penting.”
“Mungkin bagi Kamu,” Zaki tersenyum. Mereka berjalan ke jembatan berhias tanaman menjalar yang dibawahnya terdapat sungai kecil mengalir. Zaki berhenti di atas jembatan dan bersandar di salah satu tiangnya, sedangkan Lily memilih menempel pada pagarnya. Tak ada kata sedikitpun terdengar dari bibir Lily kala ada dua burung tiba-tiba lalu berdiri saling berdekatan di pagar jembatan itu. “Hushh!” Usir Zaki membuat sepasang burung itu langsung terbang.
“Ih tega banget!” Kata Lily melotot.
Zaki lantas menatap Lily dengan seksama. “Mereka di sini enggak bayar.” Canda Zaki tapi Lily tetap tak dapat menghilangkan kejutekkannya. “Oh iya, ngomong-ngomong surat itu masih di Kamu?”
“Surat?” Ulang Lily. Tak lama ia ingat, “Ohhhh...itu...” Lily berusaha mengarang. “Aku lupa, aku buang kali!”
“That’s not your style, setiap tulisan bagi Kamu itu karya.” Lagi-lagi Zaki hanya menyulut emosi Lily. “Aku nulis itu waktu ketemu Kamu lagi, sebenernya Cuma sekadar puisi doang sih, tapi lama-lama aku pengen ngasih itu ke Kamu setelah tau kalo kita berdua ditipu, Diana yang cerita ke aku kalo Kamu dapet undangan.” Ia berhenti sejenak. “Aku enggak tau Vania tega ngasih itu ke Kamu dan ngedatengin ke Kamu semalem. Aku minta maaf Lil.”
“Dan itu artinya Kamu emang enggak ada niat ngasih tau aku tentang ini kan? Thats the fact Zaki.” Lily memutar bola matanya. “So many things had been changed, termasuk aku!” Katanya memebela diri, Zaki hanya dapat mengulum senyum. “Dan kalo Cuma itu yang pengen Kamu omongin, i will go home now.” Entah ejaannya benar apa salah, fikir Lily kesal. Ia menarik nafas dengan kasar dan bersiap pergi dari sana secepatnya.
“Lil..” Kata Zaki pelan. “Aku udah enggak bisa mikir hal lain lagi selain masalah ini. Aku kira mending aku omongin ini ke Kamu sekarang juga.” Lily mendengarkan. “Aku enggak bisa lagi nahan perasaan ini, aku udah enggak bisa bohongin diri aku lagi Lil, karena kenyataannya aku cinta, aku masih cinta Kamu Lil. Dan aku mau mulai semuanya dari awal lagi sama Kamu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar