“Maksud Kamu apa sih Van?!!” Ricki tiba-tiba masuk ke ruangan dan langsung menghantam meja kerja Vania, sementara sang pemiliknya terlihat terkejut sekali setelah itu. “Jadi itu emang rencana kamu buat bikin Lily kaya gitu?! Dia salah apa sih sama Kamu?!” Ricki menarik nafas, menurunkan suaranya yang sangat ‘laki-laki’, terlalu kencang dan menakutkan untuknya sendiri. “Kenapa kamu enggak bilang ke aku dulu kalo itu surat dari Zaki?!” Teringat bagaimana mata sembab Lily yang menakutkan baginya. Yang amat ia kesalkan adalah Vania pun tahu apa yang dirinya ketahui tentang Lily dan Zaki.
Vania terkekeh, tak terlihat ketakutan sedikitpun walau sebenarnya ia pun heran sejak kapan rekan kerjanya tersebut mampu menghardik seperti itu. “Sebelumnya..maaf aku lupa bilang.” Lagi-lagi ia terkekeh. “Hmm..jadi Kamu juga udah tau tentang mereka ya Rick?” Ricki mengunci mulutnya, ia merutuki dirinya yang bodoh. Tadi pagi Ia harus menahan hatinya teriris melihat wajah dingin Lily yang pasti sama dengan perasaannya juga. Ternyata Lily semalam dijebak Vania dan dilabrak habis-habisan, begitulah cerita Diana tadi pagi. Namun Ricki belum dapat bercerita kalau dirinya lah kurir pengantar kotak berisi malapetaka tersebut. Ia takut Lily dan Diana mengira dirinya bersekongkol dengan Vania. “Lagian, kamu dapet untung juga loh Rick, seenggaknya saingan kamu berkurang. Lily semalem janji buat ngejauh dari kehidupan...” Vania berhenti, mencoba menyusun kalimat yang tepat. “Aku sama Zaki.” Sambungya menghilangkan nama Riga di dalamnya.
Ricki berhasil meredakan amarahnya. Ia tak mau dikira kurang ajar karena membawa urusan pribadi di dalam tempat kerja. “Gue enggak kayak Lo Van, ngelakuin segala cara Cuma karena berharap dicintain.” Ujar Ricki pedas sambil berjalan dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Vania terlihat tertusuk dengan kalimat terakhir Ricki tersebut. Ia hendak menanggapi namun ponselnya tiba-tiba berdering kuat. Sebelum menjawab, terlihat keningnya mengernyit. “Halo Bu??" Ia mendengarkan. "Kok bisa Bu?! Kalo gitu, habis ini saya kesana!” Vania segara menjinjing tasnya yang tergeletak di meja. “Rumah Sakit Adi Husada ya Pak.” Perintah Vania pada sang sopir taksi.Tak lama ketika dirinya tiba, ia segera menuju ruang ICU sesuai dengan informasi yang ia terima. Hanya empat menit, Vania sudah berhasil menemukan ibu Zaki yang tertunduk lesu sambil menunggu. “Bapak kenapa Bu??” Tanya Vania.
Hera menatapnya lalu menangis. “Jantungnya Van, kumat lagi.” Tuturnya seraya terisak. Vania segera duduk di sampingnya dan mengusap-usap punggung Hera. “Ibu takuut banget Van..”
“Bapak pasti bakal sembuh Bu..” Kata Vania menegarkan. Mereka terlihat berbincang beberapa saa Ia lalu melihat sekeliling untuk mencari-cari. “Zaki mana Bu??” Tanya Vania penasaran. Gak mungkin kan dia kerja? Batinnya cemas sadar kalau sejak tadi lelaki itu tak terlihat di sini.
“Semaleman dia ngejaga Bapak, enggak tidur. Ibu suruh pulang enggak mau, sekarang dia kayaknya di kantin rumah sakit.” Tutur Hera dengan mata sayu. Vania mengangguk-angguk faham, lalu ia berniat menemui Zaki di kantin rumah sakit berdasarkan informasi dari ibunya tersebut. “Oh iya Van..” Hera membuat Vania berhenti melangkah.
“Iya Bu?”
“Kalau nanti Zaki bilang sesuatu sama Kamu, ibu harap Kamu bisa ngertiin dia ya..”
“Mm..maksud Ibu apa?”
Hera menarik nafas. “Soal undangan itu, Zaki udah tau.” Vania terkejut bukan main. Ia sudah merasa harinya dirobek olah kabar yang tak mengenakkan baginya. “Dia marah banget, tapi kamu tenang aja. Zaki belum tau kalo Kamu juga sebenernya tau undangan itu.”
“Oh..” Hembusnya dengan nafas berat. Nasibnya terasa buruk.
“Dan ibu juga udah ketemu Lily langsung, mereka ternyata satu kantor ya.” Hera tersenyum kecut. “Ibu enggak nyangka pepatah itu bener, kebohongan lama kelamaan akan tercium juga.”
“Belum Bu. Belum. kita masih punya kesempatan.” Mata Vania terasa panas. Ia ingin meledak sekaligus marah. Entah pada siapa. Mungkin takdir. Ia pun pergi dari sana dan menemui Zaki sedang melamun di hadapan sebuah cangkir kopi yang tak lagi mengepulkan asap. Matanya terlihat sembab karena kurang tidur, atau mungkin ia tak tidur semalaman. “Zakh??” Vania menyentuh lengan Zaki, sebuah senyum palsu terukir di wajahnya. “Kamu udah makan?” Tanyanya perhatian.
Zaki menggeleng. “Nanti aja.” Jawabnya singkat.
Vania menghela nafas lalu duduk di hadapan Zaki. “Nanti Kamu juga sakit loh kalo begini, aku ambilin makan nanti aku suapin mau??” Tawarnya seperti kepada anak TK.
Lagi-lagi Zaki menggeleng. Aku udah sakit sejak lama Van. Ia tak butuh perhatian dari Vania sekarang ini. “Enggak, nanti aja.” Ulang Zaki membuat Vania putus asa. “Ibu yang ngasih kalo kita lagi di sini?” seolah ia tak menginginkan berkata rumah sakit maupun ICU.
Vania mengangguk sambil tersenyum. “Iya, aku prihatin banget. Ngomong-ngomong, Bapak bisa kambuh kenapa sih?” Ia mulai penasaran.
“Karena Aku.” Jawab Zaki datar. Lambat laun juga semuanya menyadari itu kan? “Aku semalem minta Bapak batalin pernikahan kita, kalo kamu mau tau detilnya sih.” Zaki menyesap kopi dinginnya. “Dan, mungkin ia shock sampe darahnya langsung naik terus kena gejala stroke ringan.”
Vania ternganga, bukan karena kabar penyakit itu tentunya. “Ke..kenapa Zakh? Kenapa?!” Matanya mulai berkaca-kaca. Apa Lily sudah bercerita? “Ini pasti karena Lily kan?! Semalem dia cerita apa ke Kamu?!”
Zaki terperangah. Bagaimana Vania bisa mengerti kalau Lily lah alasan kenapa ia bangkit untuk keluar dari penjara ini. “Lily? Kamu ngapain semalem sama Lily?!” Zaki malah balik bertanya.
Dan akhirnya Vania menyesal. Rupanya Zaki belum tau tentang kejadian semalam dan itu berarti Lily belum bercerita. Ia menyesal, karena pertanyaannya tadi justru membuat Zaki tahu ini. “Oh...Aku..” Vania tersenyum kecut. “Jujur, aku nemuin surat dalem kotak di kamar Kamu waktu kita makan malem di apartemen Kamu. Aku enggak sengaja ngelihat itu di laci Kamu, dan aku baca.” Vania mulai bercerita, sementara Zaki makin tak dapat mengendalikan kecemasannya. “Aku udah tau sekarang Zakh, semuanya jelas banget tapi aku bisa ngertiin kok. Makanya aku temuin dia semalem, kita cuma ngobrol semalem, aku minta dia enggak usah ngebikin Kamu bimbang apa lagi menjelang pernikhan kita, cuma itu! Dan dia mau kok ngejauh dari Kamu.” Ujar Vania berusaha terlihat jujur.
“Tapi ini enggak ada sangkut pautnya sama Lily, Van! Buat apa Kamu omongin tentang itu ke dia?!” Tangan Zaki menghantam meja, membuat Vania terlonjak.
Vania terdiam beberapa saat. Tadi Ricki sekarang Zaki, habis ini siapa lagi yang mau kasar ke aku?! “Surat itu buat Lily kan? Apa salahnya aku kasihin ke dia? biar kamu lega!” Sergah Vania dengan suara bergetar. “Kamu kenapa marah ke aku?! Aku cuma ngelakuin apa yang seharusnya aku lakuin! Aku cuma mau nyelametin pernikahan kita! Kamu tau gak sih, semenjak ada dia, Kamu itu banyak berubah!”
“Silakan kamu salahin aku atau lakuin apapun yang kamu pengen buat marah ke aku, tapi mulai sekarang. aku minta pernikahan ini dibatalin. Aku udah sadar, aku masih enggak bisa bener-bener nerima Kamu Van, apalagi atas kejadian ini, mengecewakan banget.” Ia tak lagi berkata keras, karena itu hanya akan memperburuk masalah. Ia kini penasaran tentang gadis itu, sejak kemarin mereka tak bicara lagi karena pertengkaran kecil itu, dan sekarang ia tahu kalau perempuan itu tentunya sedang terluka lagi. Ingin sekali Zaki menghubunginya di saat-saat batinnya sedang kacau seperti ini. “Cukup undangan itu aja Van, jangan sakitin dia lagi. kamu enggak berhak buat ngusik dia.”
Undangan?!
Vania terlonjak, ia tak tahu bagaimana cara keluar dari situasi ini. Ia berusaha tenang namun usahanya itu sia-sia. “Zakh..aku bisa jelasin itu, sebenernya itu ide ibu aku sama ibu Kamu. Aku cuma tau dan sebatas setuju aja.” Ia gelagapan. "Aku mohon, jangan tinggalin aku. Aku janji aku bakal minta maaf ke dia Zakh. Aku mohon..." Air matanya kembali berurai. Hatinya terasa diterjang mendengar kata-kata Zaki yang minta membatalkan pernikahan mereka yang tinggal beberapa minggu lagi.
Zaki, entah apa yang membuatnya tak tersentuh, biasanya ia akan luluh melihat air mata orang lain. Namun sepertinya rasa sakitnya tak termaafkan lagi. "Jelasin apa lagi? Apa kamu lupa aku ini siapa? Bahkan penjahat sekalipun aku bisa tau kalo dia bohong. Aku heran, aku bisa nangkep penjahat, tapi aku gak sadar ada orang licik di sekitar aku selama ini.” Zaki tersenyum datar walau Vania terlihat begitu terpukul. “Aku heran kenapa Kamu serendah itu Van. Aku fikir Kamu baik dan mau berusaha bikin aku tulus ke Kamu, tapi..”
Vania tertawa kering walau air mata menghiasi pipi. "Aku penipu?!" Ia mengepalkan tangan. "Aku terpaksa Zakh, orang tua kita pengen banget kita dijodohin. Dan Aku cuma bisa nurut!" Ia berhenti sejenak. “Enggak! Kamu bisa Zakh! Kamu enggak bisa seenaknya sendiri!” Vania menggeleng kuat. Beberapa orang yang memperhatikan tak ia pedulikan. “Dia cuma masa lalu Kamu! Dia bukan siapa-siapa kamu lagi!” Vania membiarkan air matanya terus menerus meluncur dan tak berniat menghapusnya. “Kamu bisa lupain dia selama dia enggak ada di sekitar Kamu!”
“Kamu yakin?” tanya Zaki sarkatis. “Apa Kamu enggak inget gimana sikap aku ke Kamu sebelum-sebelumnya, padahal aku belum ketemu dia lagi? Bahkan sebenci-bencinya aku ke dia, aku nyaman deket dia padahal kamu tau sendiri kan? Kita berdua udah ditipu sama kalian...”
“Oh..jadi Kamu berharap bisa balik ke dia?! Itu enggak mungkin! Enggak mungkin!! ” Potong Vania sambil menatap Zaki dengan mata lebar. “Kamu inget Zakh, Kamu enggak bisa seenaknya! Lihat ayah Kamu sekarang, itu ulah Kamu!” Vania mengusap air matanya dengan kasar. Ia pun berdiri dan hendak pergi. “Fikirin ini Zakh, masih ada beberapa minggu lagi. Kamu sendiri inget kan? tujuan pernikahan kita ini apa..” ujar Vania berlalu dengan air mata yang telah kering. "Ini demi keluarga Kamu juga."
“Brengsek!” Umpat Zaki kesal lalu ia memejamkan matanya sejenak. Ketika ia sudah bersiap pergi, Hera meneleponnya untuk memberitahu kalau ayahnya sudah membaik dan sudah dipindahkan kamar biasa. Proses itu tak membutuhkan waktu lama, karena yang mengurus para perawat dan juga dokter yang Zaki kenal.
“Bu, aku keluar dulu.” Zaki pamit sambil menatap wajah ayahnya yang sedang tertidur. Hera mengangguk. Dan di sinilah Zaki sekarang. Duduk di sebuah bangku di deretan orang yang sedang menunggu dengan perasaan bimbang, juga takut. Separuh hatinya yang berkarakter kuat memaksanya maju dan melanjutkan keinginannya itu. Separuh hatinya yang lemah dan lembut, ingin ia berhenti menciptakan masalah dan mengikuti saja apa yang orang perintahkan. Seperti air yang mengalir begitu saja. Tak lama, Zaki pun pergi dari tempat duduknya setelah berfikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Nah, malaikatku dateng, batinnya ketika ia melihat orang yang sangat ia kenal dan tanpa ia sadari hatinya sudah menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar