Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 4

Author's Point Of View
“Pagi!” Lily tersenyum pada seluruh orang yang ia lewati di kantor. Hari pertama. Ia lumayan gugup untuk bertemu dengan Zaki lagi. “Pagi!” sapanya lagi pada seluruh orang yang baru saja datang ke ruangan itu. Aroma pengharum ruangan membuatnya sedikit tenang, ia mencoba melihat sekeliling dan menemukan sebuah meja baru. Ia ingat kalau dekat pintu ke ruang Zaki tak ada meja, dan sekarang meja itu telah di sana.
“Itu tempat kamu.” Riga menebak apa yang sedang Lily fikirkan. “Sabtu kemaren, si Zaki nyuruh office boy buat angkat ini ke sini, itu meja aku.” Tunjuknya pada meja di seberang meja Lily. Ada enam meja di ruangan itu termasuk meja Lily. “Itu namanya Anton, dia orang sumatra lho, kalian pasti nyambung, terus itu Ribka, itu Sandi, nah yang garang itu namanya Anjar, tapi semuanya baik kok.” Riga tersenyum.
Lily meletakkan tasnya, bingung harus berbuat apa. “Apa aku harus ke sana buat kenalan?” riga mengangguk setuju. Ia menemani Lily untuk berkenalan satu persatu dengan para polisi itu. Ternyata benar, mereka semua ramah, termasuk Anjar yang ia paling takuti.
“Kamu bukan asli sini ya?” tebak Anton. Lily mengangguk. “Pantes logatnya enggak medok,” katanya membuat Lily tersenyum saat dia kembali ke meja.
Hampir setengah jam kemudian Zaki masuk ruangan itu. Ia langsung menghampiri Riga dan bercakap sejenak, Lily berusaha mencari kesibukan agar tak memperhatikan Zaki yang berada di seberangnya. Ia memutuskan menulis—lebih tepatnya mencorat-coret—di note kosong miliknya. “Kamu langsung ke ruanganku ya.” Perintah Zaki seraya berlalu dan masuk ke ruangan pribadinya.
Dasar detektif menybalkan! Erang Lily dalam hati karena sikap Zaki yang menurutnya arogan itu. Tok-tok! Lily mengetuk pintu lalu masuk setelah Zaki mempersilakan. “Ada apa?” Tanya Lily sambil duduk.
Zaki rupanya sedang melepas jaket kulitnya lalu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam laci meja kerja. “Ini kunci mobil dinas, hari ini Kamu ikut aku ke TKP.” Tuturnya. Ia memperhatikan perubahan ekspresi Lily. “Kamu enggak takut kan?” tanyanya sarkatis.
Lily menggeleng. Ia mengambil kunci itu. “Mobilnya di mana?”
Hal itu membuat Zaki geli. Ia tahu Lily tegang menghadapinya, hatinya merasa menang karena bisa membuat perempuan itu jadi begitu. “Ada di parkiran belakang,” jawab Zaki.
“Oke, aku tunggu di dalem mobil.” Tanpa basa-basi ia meninggalkan Zaki yang melongo. Kita impas!
***
Zaki mengurut keningnya yang sedikit pening. Sejak Lily meninggalkannya di ruangan itu, ia jadi diam. Itu membuat Lily menyesal, ia tahu itu tak sopan. Tapi rasanya kesal sekali karena Zaki begitu arogan. “Ada apa?” Zaki baru sadar Lily memperhatikannya dari kaca spion. Zaki tadi berniat duduk di depan dengan Lily, tapi karena canggung, ia membatalkan niatnya itu dan duduk di kursi belakang.
“Aku lupa habis lampu merah ini belok kanan apa kiri?”
“Udah berapa lama sih kamu di sini, masa masih enggak tahu jalan juga?” Zaki bertanya balik. Lily hendak membantah. “Kiri, habis ini belok kiri.” Sambungnya. Sisa perjalanan yang memakan waktu setengah jam hanya terisi oleh deruman kendaraan lain. Lily tak berani menyalakan musik apalagi mengeluarkan sepatah katapun. “Itu perumahannya, Blok H-24, pelan-pelan aja.” Instruksi Zaki kala mereka hampir sampai tujuan.
“Ini dia!” sorak Lily ketika akhirnya menemukan nomor 24 terpampang di salah satu pagar beton rumah. Ia menarik rem tangan mendadak dan mambuat Zaki yang sedang tak konsen hampir terlempar.
Bibir Zaki menipis menahan diri agar tak marah. “Itu F-24! Enggak lihat?!” tetap saja ia gagal untuk tetap tenang. Lily tak tahu bagaimana menjawabnya, karena ia memang salah. Dia langsung memajukan mobil dan mencari rumah tersebut. “Ini baru H!” kata Zaki saat mereka melintasi H-11. “Nah, turun.” Perintah Zaki lagi.Lily semakin jengkel. Ia menjulurkan lidah saat berjalan di belakang Zaki. “Ngapain Kamu?” sembur Zaki, Lily ketahuan.
Lily tersenyum, memohon ampun. “Lidahku sariawan,” Lily asal ceplos. “Aku ikut masuk ke rumah?”
Walau hatinya tak lagi geram, ia masih memasang wajah garang. “Iya, tapi inget kamu cuma asisten, kamu enggak boleh ngomong kecuali seperlunya. Faham?” tekan Zaki, Lily cepat-cepat mengangguk. “Sekarang nyalain alat perekamnya.”
Mereka tak menunggu lama di depan gerbang karena seorang wanita tua langsung membukakan gerbang untuk mereka. “Maaf, Mas sam Mbak ini siapa ya?” orang itu masih menahan mereka berdua untuk masuk. Zaki menunjukkan lencananya dan menjelaskan siapa mereka dan apa keperluan mereka kemari. Beberapa detik kemudian mereka dipersilakan masuk.
Rumahnya mewah banget! Lily sebisa mungkin tak melongo kala melihat isi rumah besar yang kini ia masuki. Zaki dan Lily duduk bersebelahan ketika sang pemilik rumah menemui mereka. “Selamat pagi Bu,” kata Zaki berdiri lalu menjabat tangan perempuan yang umurnya mungkin lebih tua dari Zaki lima tahunan. Lily “Saya harap kedatangan kami tidak merepotkan Ibu.”
“Oh tidak, tidak kok. Saya malah berterimakasih karena kasus ini segera ditanggapi,” katanya tersenyum lemah. Lily yang tak tahu namanya mencoba membuka berkas dan mencari tahu siapa orang yang sedang di hadapannya itu dan apa yang telah terjadi di sini. Tulisan Zaki yang sulit dibaca bagi Lily membuatnya putus asa, yang ia tahu adalah nama perempuan ini ternyata Katrin dan suaminya baru saja meninggal karena dibunuh secara tragis. “Hukum harus ditegakkan, pembunuhnya harus membayar ini semua...”
Alm. Faiz, suami dari ibu Katrin, hari kamis lalu ditemukan meninggal di rumah seorang perempuan—yang ternyata istri keduanya—dengan tiga luka tusukan di dada, perut. Setelah diusut, kuat kemungkinan kalau ini adalah pembunuhan terencana. Tersangka sementara adalah istri kedua beliau. Karena saksi-saksi mengaku tak melihat siapapun keluar dan masuk ke rumah tersebut kecuali mereka berdua.
“Berdasarkan otopsi, korban telah meninggal dunia tiga jam sebelum ditemukan. Anda sedang dimana ketika korban dibunuh?” tanya Zaki ketika Lily mulai mencatat.
“Saya ada urusan di toko Mas, perhiasan yang saya pesan sudah jadi.” Mata Katrin mulai berkaca-kaca. “Waktu saya pulang, polisi sudah di sini dan memberitahu kalau suami saya sudah...” suaranya hilang.
Wanita tua yang tadi membukakan gerbang—yang sepertinya pembantu rumah ini—datang dan menyuguhkan dua gelas kopi. “Silakan diminum Mas, Mbak..” senyumnya ramah.
“Trimakasih.” Jawab Lily dan Zaki berbarengan. Hanya saja Lily lebih lembut. Wanita tua itu mengangguk seraya kembali ke dapur. “Kalau begitu, boleh saya minta alamat tokok mas tersebut?”
Katrin mengangguk. Ia mencatatkan alamat pada buku catatan Lily. “Apa saya kasih nomor telepon juga?” tawarnya, iya langsung saja menuliskannya.
Mereka mulai berbincang-bincang lagi, Zaki terus menerus menanyai Katrin, hingga akhirnya Lily sadar kalau pertanyaan Zaki dari tadi itu-itu lagi. “Kamu udah nanya itu tadi!” tegur Lily setengah berbisik. Zaki mengeram, ia tak suka kalau alat perekamnya nanti jadi tak jelas. Lily kembali diam dan bosan. Ia meminta izin ke kamar mandi.
Setelah mengunci pintu kamar mandi barulah Lily menggeliat, ia lelah dari tadi duduk saja. Rasa kantuknya tak lagi dapat dikompromi kalau sudah begini. “Aduh!” Ia berhenti melangkah. Kakinya tersandung sesuatu di dalam plastik hitam. Lily kembali menyandarkan benda yang ternyata gunting rumput itu ke dinding. Dia memutuskan untuk membasuh muka agar kantuknya pergi lalu dan menatap bayang wajahnya di cermin. Baru hari pertama, tapi rasanya sangat membosankan. “Apa dia bener-bener udah ngelupain gua?” tanyanya pada cermin. Kalau sedang sendiri, khayalannya bisa kemana-mana. “Dia dingin banget, cuek, nyebelin! Oh kenapa juga takdir mempertemukan kita!” umpatnya. Ia membasuh lagi mukanya di wastavel itu. Ia merasa stres, lumayan stres. Beberapa detik kemudian dia telah merapikan rambut dan mengeringkan muka dengan handuk. Andai saja sikapnya gak begitu, ini pasti enggak terlalu membosankan! Lily menarik nafas panjang sekali lagi sebelum keluar dari kamar mandi.
Tanya jawab yang membosankan bagi Lily—dan mungkin juga Katrin—itu berlangsung lagi sampai satu jam selanjutnya. Zaki akhirnya memberi aba-aba untuk menghentikan rekaman.
 “Oh iya, tadi saya hampir nginjek gunting rumput Bu, saya kira...”
“Oh, tukang kebun saya pasti teledor, dia mungkin lupa naro itu di tempatnya lagi.” potong Katrin.
Zaki melototi Lily ketika Katrin tak melihat dirinya, ia jengkel karena Lily tak melakukan perintahnya. “Terimakasih atas infonya,” ucap Zaki setelah mereka telah di sini selama tiga jam. “Secepatnya saya akan menghubungi anda dan menemukan pelaku.” Katrin tersenyum lemah seraya mengantar mereka berdua ke depan.
“Sekali lagi kamu bikin aku marah, aku pecat kamu!” bentak Zaki ketika mereka sudah dalam mobil.
Lily menunduk, memandangi bercak di ujung sepatunya. “Yah, mana bisa ilang!” ratapnya karena sepatu flatnya kotor. Itu makin membuat Zaki jengkel karena ia tak mendengarkan omelan Zaki.
“Kamu dari tadi enggak dengerin aku?!” Lily terdiam. Ia mulai hafal sifat tempramental Zaki. “Ini hari pertama kamu kerja, kamu udah mau dipecat?!”
Lily menegakkan tubuhnya. Ia menyalakan mesin mobil dan berusaha tak menatap Zaki. “Gapapa,” selorohnya. “Aku emang enggak cocok buat kerjaan ini, jadi kalo kamu mau mecat aku, aku enggak akan protes.”
Zaki kalah telak. Egonya baru saja melemparnya ke hal yang paling ia benci. Enggak, aku enggak akan ngelepasin kamu! “Kali ini aku maafin, lain kali aku langsung mecat kamu.” Kalimat itu yang ia pilih untuk menyelamatkan egonya lagi. sebenarnya ia begitu menyesal. Ia melihat Lily dari ekor matanya, Lily sejak tadi tak mau menengok kepadanya sedikitpun. Apa dia benar-benar melupkan aku dulu?
Setengah jam mereka habiskan dengan berbicara sendiri di dalam fikiran masing-masing. Tak ada yang berani memecah sunyi di antara mereka berdua. Zaki mengumpat pelan ketika ponselnya berdering nyaring. Lagu kesukaan Vania yang sengaja ia buat ringtone khusus untuk nomor Vania. “Iya, bentar lagi aku kesana.” Jawabnya beberapa saat. Ia memperhatikan Lily yang masih berkonsentrasi menyetir. Ia tahu kalau Lily menyetir terlalu pelan untuknya, tapi entah mengapa ia merasa tak sewas-was kalau Vania yang menyetir. Ia merasa tenang. Ia masih memperhatikan Lily hingga wanita itu menatap balik dan membuatnya tersadar. Zaki berdeham, “Habis ini berhenti di halte depan, aku ada urusan. Jadi kamu naik angkot aja ya ke kantor, udah deket kok.”
Padahal Lily telah berjanji untuk tak menghabiskan tenaganya untuk marah pada sikap Zaki, tapi tetap saja kali ini Lily ingin marah lagi. Tega banget dia, sebegitu bencikah dia sama aku? “Oke,” walau hatinya tentu tak oke. Raut mukanya sangat jelas, ia tak suka. Ia cepat-cepat menarik rem tangan ketika tiba di halte yang dimaksud Zaki. Tanpa basa-basi ia keluar dari mobil dan membiarkan mesinnya tetap menyala. Zaki ternganga melihat ekspresi Lily itu seraya mengikuti Lily yang berdiri menunggu angkot.
“Kamu tau naik angkot apa kan?”
“Iya,” jawabnya melihat jalanan, sebisa mungkin tak menatap Zaki.
“Nanti Kamu langsung bikin laporan aja, formatnya ada di dekstop komputer Kamu.” Tutur Zaki.
“Iya.” Katanya ketika sebuah angkot berhenti di depan mereka berdua. “Aku duluan.” Ia melangkah dan masuk ke dalam angkot. Hatinya getir, tanpa terasa matanya berubah merah dan hendak menangis. Ini cuma sementara, batinnya mencoba menguatkan dirinya sendiri.
***
“Maaf ya, tadi aku..” Kata-katanya terhenti kala ia melihat Vania tersenyum padanya, manis. “Kamu udah pesen?” dan anggukan Vania adalah akhir dari rasa bersalah Zaki. Ia tak perlu menjelaskan mengapa ia terlambat. Karena tak mungkin kalau ia mengatakan: tadi yang nyetir mantan pacarku. Itu hanya akan membuat makan siang ini runyam. Ia tahu, cepat atau lambat Vania akan tahu ini. Bagimanapun dulu Zaki banyak cerita tentang Lily, sebelum mereka akhirnya harus jadi tunangan.
“Aku udah mesenin kamu kayak biasanya,” jawab Vania. Ia mengambil tisue dan mengelap keringat di dahi Zaki. “Ada kasus baru?” Zaki mengangguk. Ia bersandar kala Vania membuang tisue ke dekat tempat cuci tangan. Ia menghela nafas, seperti ada beban di sekitar pundak hingga punggung yang ia ingin buang. Tapi ia tak tahu apa. Sebelumnya hubungannya dengan Vania tak sekaku ini, walau tak juga hangat, tapi ini terasa lebih berbeda. Seolah-olah bertemu Vania adalah hal yang ia takuti.
Sambil menyeruput jus mangga, Vania memperhatikan Zaki yang tertangkap basah melamun. “Kamu tahu gak, kayak ada yang aneh sama Kamu akhir-akhir ini. Semenjak aku balik dari Bandung. Ada apa sih? Kan Kamu udah janji sama aku, kalo ada apa-apa harus cerita.”
Segera tersadar, Zaki tersenyum kecut. Lebih kecut dari mayat yang sering ia lihat di TKP. Senyum busuk. “Aku? Perasaan Kamu aja paling. Oh iya, gimana hari ini? Makin banyak pelanggan?” Vania hendak memotong tapi percuma saja, Zaki terlalu lihai mengintimidasi. “Pasti bentar lagi Kamu sibuk banget!”
Vania menghembuskan nafas, kesal. Setiap Zaki ditanya pasti selalu menghindar. Entah kenapa ia yakin kalau Zaki terlihat lebih aneh. Ya, ia tahu kalau Zaki memang tertutup. Tapi Vania bisa merasakan kalau ada sesuatu. “Iya,” katanya pelan. Jurus terakhir yang ia miliki hanya dengan cara terlihat murung. Biasanya Zaki akan luluh dan mulai membeberkan segalanya.
“Kalo gitu, mending Kamu cepet-cepet balik ke butik!” seru Zaki riang. Benar-benar riang hingga ia lupa kalau ia hampir berteriak. “Zaki berdiri dan mengecup ujung kepala Vania dengan cepat. “Semoga dapet inspirasi, pasti desain Kamu makin terkenal.” Ujarnya diikuti Vania yang lesu. Jurusnya kali ini tak mempan. Ia malah merasa bodoh.
Lambaian tangan Vania menjadi aba-aba untuk Zaki melesat ke kantor. Ia bahkan tak menginjak rem sedikitpun hingga ke kantor. Ngebut. Syetan di kepalanya mulai mabuk dibuat Zaki. Ia kini merapikan rambutnya sebelum turun dan bertemu wanita itu.
***
“Dia jutek?” ulang Riga masih tak percaya. “Enggak mungkin, aku sama Zaki itu udah temenan lama. Aku tahu banget gimana dia Lil. Dan Jutek? Itu bukan Zaki banget. Dia emang pendiem tapi jutek? Si imposible.”
Aku malah lebih lama kenal daripada Kamu, dan aku lebih heran. “Mungkin dia lagi PMS.” Ceplos Lily dan tepat saat itu lelaki berdada bidang itu datang.
Tawa Riga pecah disusul dengan omelan Zaki. “Coba ulangin apa yang kamu bilang barusan, aku enggak denger.”
“P-M-S!” eja Lily dan seketika Zaki menarik hidung pesek Lily. “Arrrgghhh!” erangnya sukses menarik seluruh mata ke arah mereka. “Sakit tauk! Kan cuma bercanda!”
“Iya tapi enggak perlu juga ngomongin orang, enggak takut dosa?!”
Lily manyun dan meletakkan laporannya didepan Zaki. “Kalo salah mohon maklum, namanya juga masih amatir.” Ia berdiri dan meninggalkan Zaki dan Riga yang melongo.
“Mau kemana?”
“Toilet.”
“Emang aku ngizinin?” tanyanya sarkatis.
“Bapak Zaki, bolehkah saya ke toilet? Kandung kemih saya udah mau jebol karena kebelet!”
Zaki tersenyum samar. “Dasar jorok,” ia masih memperhatikan Lily yang menjauh.
 “Lo beneran jutek ke dia? Gue kira si Lily ngada-ngada, tapi ternyata..Lo galak banget men ke dia. Ada apa sih sebenernya?”
Zaki kini bisa tersenyum lepas. “Lo pasti bakal gitu kalo ngadepin dia Bro.” Jawabnya seraya membawa laporan itu ke ruangannya. Ia memandangi cermin di dekat meja kerjanya, memastikan kalau pipinya tak bersemu merah. Ia lantas memandangi tangannya yang tadi spontan menjewer hidung Lily, kini ia tersenyum. Ia jadi tahu apa yang membuatnya begitu ingin cepat sampai kantor tadi, ia rindu Lily dan tak bisa lama-lama untuk bertahan tanpa melihat wanita itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar