Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 1

LILY
"Lil!" Aku mengerjap-ngerjap. Bukan hal yang aneh bagiku mendapat 'serangan kaget' selama mengontrak bersama Diana. "Ngelamun mulu ah! Basi tau!"
"Elo yang kurang ajar." Ku lempar handuk basah yang sejak tadi membungkus rambutku setelah keramas. "Jemurin sekalian!" perintahku dan Diana tak menolak. "Habis ini temenin gue ke Pak Rudi ya!"
"Ngapain?" Tanyanya setengah enggan. "Gue ada urusan sama Agustin,"
Aku menyeruput teh lemonku seraya melempar pandanganku keluar jendela, menghirup udara sebanyak-banyaknya agar memenuhi paru-paruku yang terasa kering. Karir yang telah ku susun hampir empat tahun sedikit demi sedikit harus roboh karena satu hari yang sial. Pikiranku kembali ke satu bulan yang lalu.
***
Andai saja waktu makan siang itu aku bisa lebih sabar menghadapi Elen, teman satu kantorku. Sebenarnya ia bukan teman menurutku, ia lebih bersikap rival dan selalu ingin tahu urusanku. Menurut kawan-kawanku di kantor yang lain, a sangat iri pada diriku yang terkesan diperlakukan primadona di kantor. Kata mereka sifatku itu unik, selalu mengundang tawa dan tak membosankan. Ya, aku akui itu karena aku sangat humoris.
Saat itu kami sedang ada rapat bulanan, dan Elen entah mengapa tumben-tumbenan duduk di dekat 'geng' ku. Kami sedikit canggung lantaran ada Elen yang terkenal dengan sifat 'sok' nya di tengah-tengah kami. Iya aku faham, iya memang keponakan direktur kami. Dan itu juga yang membuatku tak bisa berbuat banyak menghadapi omongan pedasnya. Elen, ia senang mengkritik kami. Firda bahkan sering mendapat ejekan 'kampungan' dengan pakaian yang sering ia pakai pada hari jumat dan sabtu karena kami boleh tak memakai seragam pada dua hari itu.
"Lo masih sama Zaki kan Lil?" tanya Elen tiba-tiba. Aku masih diam, heran mengapa ia bertanya seperti itu. Dan mengapa juga ia bertanya padaku yang dari tadi tak berkata apapun saat di ruang rapat. "Kok, elo enggak pernah kelihatan di sosmed sama dia sih. Lo juga enggak pernah dijemput lagi." Aku memilih diam lagi. Poin tambahan untuk kesialanku adalah Zaki dan Elen dulu satu SMP. "Udah putus ya?"
"Sssst! Pak Boss dateng tuh!" kata Firda menyelamatkanku dari interogasi tolol Elen.
Rapat kali ini hanya membahas rencana kami gathering family bulan depan. Dan ini melibatkan seluruh cabang. Polling terbanyak adalah ke pulau dewata, Bali. Dan salah satu yang setuju ke tempat itu adalah, aku. Ya, ku fikir tak apalah sekali-kali gathering ke luar pulau, walau itu berarti perusahaan ini harus merogoh kantong lebih dalam lagi.
Rapat berakhir tepat jam sebelas siang. Kami semua kembali ke ruang kerja masing-masing. Aku mengecek ponselku, lagi-lagi tak ada yang berubah kecuali pemberitahuan kalau ini tanggal 12 Juni.
"Jadi kalian udah putus ya?" Perempuan ini lagi-lagi muncul. Bak nenek sihir dia menyihirku untuk tak pergi dari kursi kerjaku. "Emang sih Lil, si Zaki dari SMP tuh sering gonta ganti pacar, ato istilahnya...umm apa ya.." Ku lihat Elen sudah berdiri di dekat meja kerjaku. Lagi-lagi dia membahas nama yang sama, mantan kekasihku. "Playboy!" katanya setelah menggaruk-garuk kepala. Mungkin banyak kutu bersarang di rambut keritingnya itu.
"Oh gitu ya." Jawabku. Firda dan Puput terlihat menahan tawa. Ya, aku menang! Kelihatan sekali kalau Elen tak suka dengan reaksiku yang terkesan masa bodoh.
Tapi rupanya Elen tetap gigih, memancing emosiku. "Iya Lil, seleranya tuh tinggi! Kalo cewek biasa-biasa aja mah paling cuma, yaah buat punya-punyaan aja," lanjutnya seraya melihat diriku dari ujung kepala hingga ujung sepatu. "Gue juga dulu hampir kena pesonya loh!" Kali ini Elen terkekeh dan itu sama sekali tak lucu. Sudah cukup kebencianku pada Zaki, untuk apa dia mengungkit? "Tapi gue juga seleranya tinggi, jadi kalo Zaki doang mah enggak gue tanggepin!"
Maksud dia apa?! Jadi seleraku rendah?! "Heh!" Aku berdiri dan membuatnya sedikit mendongak. Kenyataannya perempuan ini adalah perempuan cebol dan tercerewet yang pernah aku kenal. "Lo SMP aja udah mikirin selera, pantes aja nilai ijazah Lo pas-pasan!" Elen melotot. Ia tak dapat menyangkal, Zaki sendiri yang bilang kalau Elen terkenal sekali di sekolahnya, terkenal dengan nilai-nilai pelajaran yang jelek. Nilau ujian nasionalnya pun berada nol koma lima di atas standar. "Apa?! Gue kata Zaki sendiri loh!" Tak terasa suaraku memenuhi ruangan bagian keuangan. Para pegawai lain menatap kami cemas.
"Sembarangan Lo!" Elen sedikit berkaca-kaca. Tapi itu hanya air mata buaya, ia malu bukan menyesal. Aku tak dapat lagi menahan emosiku, ia sudah keterlaluan. Sudah ku beri dia kesempatan untuk menjauh dariku sebelum aku meledak. Dan akhirnya ia sendiri kan yang menangis. Eh dia menangis? "Dasar cewek jalang!"
Oh tidak.
Itu kata-kata yang tak masuk akal. Jelas-jelas dia yang jalang--dan juga tolol. Untuk apa dia memperketat rok seragam kantor kami? Untuk apa dia menggunakan bulu mata di dalam kantor? Untuk apa make up di wajahnya yang terkesan ingin terlihat lebih mencolok. Dia yang jalang.
PLAK!!
Aku. Sungguh aku tak tahu! Apa yang kau lakukan Lily! Elen melotot lebih lebar. Ia memegang pipinya yang merah. Aku ternyata baru saja menamparnya. Aku hendak minta maaf dan siap menerima caci makinya. Ya, tanganku pun merasakan pedasnya, apa lagi pipinya itu. Dia menatapku dengan tatapan kesetanan. "Sialan!" Dia mendorongku hingga kepalaku terbentur ke sandaran kursi. Aku belum bisa melawan karena sekarang Elen duduk di atas kedua pahaku sambil menjambak rambutku. "Rasain ini!" katanya masih terus menarik rambutku.
"Lepasin gue!" erangku. Aku mendorongnya balik dan itu membuanya terjengkang. Kali ini aku hendak menendangnya yang terlihat ketakutan.
"Lily berhenti!!" Kepala bagian keuangan rupanya sudah berada di dekat kami berdua.
***
"Bentar doang, katanya ada kerjaan buat gue." Tak lama kami pun berangkat ke Pak Rudi, teman ibuku di kota ini. Surabaya makin hari semakin panas. Belum lagi ditambah mobil Diana yang butut ini, jangankan AC, jendelanya saja kadang macet. Setiap kali aku protes, ia bilang kalau setelah menikah dengan Agustin ia akan membuang mobil ini ke kotak sampah. Dasar tolol.
Pekarangan rumah pak Rudi cukup luas, jadi aku memutuskan untuk parkir di dalamnya. Istrinya menyuruh kami masuk ke rumah, tapi aku minta di luar saja karena aku tak mungkin mengobrol dengan muka berkeringat seperti habis dari sawah kan? Tak lama pak Rudi keluar bersama anak perempuannya yang membawa dua gelas sirup jeruk yang memancing tenggorokanku yang kering kerontang.
"Makasih," kataku saat anak pak Rudi meletakkan gelas di hadapan kami. Anak itu tersenyum dan langsung menghambur ke dalam rumah. "Anak Bapak?" tanyaku.
"Iya, itu anak saya yang paling kecil." Jawabnya ramah. Aku mengangguk-angguk, begitu juga Diana. "Ayo silakan diminum." senyuman pak Rudi mengembang. Tak lama kami berbincang-bincang, aku langsung mengutarakan maksud kedatanganku hari ini. Iya tersenyum. "Jadi gini Lil," katanya setelah mendengar pertanyaanku tentang tawaran pekerjaan baru. "Temen saya itu kepala humas kepolisian di kota ini, nah katanya ada salah satu detektifnya dia yang lagi butuh partner buat bantuin tugasnya."
"Polisi?!" Aku terkejut. "Ah, saya enggak bisa berantem Pak, nanti saya kena tembak lagi, enggak deh pak!" Tapi ku lihat Diana menatapku dengan tatapan: Tutup mulut Lo monyet! Dengerin dulu orang tua ini mau ngomong apa!
Pak Rudi terkekeh. "Kamu kebanyakan nonton film si Tom Cruise sih, jadi ngayal deh!" Ia menggeleng-geleng masih menahan tawa. "Dia butuh cuma buat bikinin laporan, bikinin dia catatan dan ada pas dia butuhin. Nah, saya jadi inget kamu nih, kerjanya juga enggak formal kok, kamu kan cuma asisten freelance doang, lumayan kan buat nambah-nambahin uang jajan." Pak Rudi tersenyum lagi. Jajan? Apa ia fikir aku masih bocah ingusan. "Gimana?"
"Tapi enggak akan ada tembak-tembakkan kan pak?" Ulangku.
"Ya ampun Lily! Kamu bahkan mungkin cuma berhadapan sama pulpen dan kertas!"
Aku mengangguk. "Menurut Lo gimana Di?" tanyaku pada Diana. Diana mengangguk mantap. "Oke pak, kapan saya bisa mulai kerja?"
***
Tak ada yang lebih baik dari pada kemeja pink polos dengan celana katun berwarna krem yang ku pakai hari ini. Aku memadukannya dengan flatshoes yang berwarna sama dengan celanaku. Ku fikir ini warna yang cocok dengan hari Senin. Warna untuk awal yang bagus!
Ku tatap sekali lagi diriku di dalam cermin. Santai. Aku mengikat rambutku seperti ekor kuda dan ku biarkan poniku yang tebal menggantung di atas alis. "Sempurna!" Seruku lalu ku sambar tas kain bertuliskan Let's Go!
 "Gini doang enggak apa-apa kan?" Tanyaku pada Diana yang sedang menuang sereal ke dalam mangkuk. Diana melihatku dari atas hingga bawah, lalu ia mengangguk-angguk setuju. "Lo hari ini ngajar?" Diana lagi-lagi mengangguk dan itu membuatku kesal. Ia tak sedikitpun berkata dan malah enak makan. "Gue sumpahin bisu beneran mau?"
Diana melotot dan hampir tersedak. "Sumpah jahat banget Lo!" teriaknya setelah meneguk air putih. Aku terkekeh dan mencomot satu sendok sereal yang ada di hadapannya. "Iya gue ngajar! Hari ini ada eskul jadi gue pulang sore, Lo bawa aja mobil gue gih," katanya tersenyum tapi pipinya matanya masih terlihat merah karena tersedak.
"Tumben banget Lo baik."
Tangan kanan Diana mencubit paha luarku dan aku mengaduh kesakitan. "Nanti gue dijemput sama Agus." tuturnya. Aku berubah manyun. Itu berarti nanti malam aku akan sendirian di kontrakan malam ini. Malam minggu kemarin aku berhasil menculik Diana agar menemaniku menonton DVD yang ku sewa dengan alasan itu film horror dan aku takut sendirian, alhasil Agustin malah ikut nonton dengan kami. Tapi untuk nanti malam, aku tak yakin Diana tak akan meninggalkanku. "Malem minggu kemaren kan kita enggak jadi keluar, nah dibayar sekarang deh date gagalnya!" katanya tersenyum seperti bisa membaca pikiranku.
"Oh," Dengusku. Jelas saja aku tak ikhlas. Tega-teganya Agustin membawa teman rumahku. "Ya udah deh, ayo cepetan makannya, gue enggak mau telat!" Aku merebut mangkukknya dan kali ini berhasil mendapat tiga sendok sekaligus. "Sereal buatan Lo, numero uno!" aku menirukan iklan di TV.
"Kampret Lo, makan dulu sonoh, entar lemes lagi."
"Kagak ah." Tolakku. Aku yakin kok, hari ini lambungku bersahabat. Ku teguk air minum Diana beberapa kali, dan aku benar-benar merasa kenyang. "Ayo cepet!"
Hiruk pikuk Surabaya mulai menyeruak di seluruh penjuru, setiap mata berusaha memandang. Padahal Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebenarnya aku tak terlalu suka dengan kota ini, udara panas dimana-mana. Polusi bahkan seperti oksigen yang harus kami hirup tiap detik. Tak ada lagi hijau pohon yang tumbuh liar, yang ada hanya pohon-pohon yang sengaja ditanam dan itu harus tertata di pinggiran jalan. Tidak ada yang bisa disalahkan dengan keadaan ini, karena semuanya mengarah ke era modern, kemajuan atau apalah. Jalan kaki hanya bisa dilakukan waktu car free day yang durasinya pun tak lama. Gedung-gedung bertingkat tumbuh dimana-mana. Semakin hari semakin panas. Bahkan kami tak perlu berselimut untuk tidur.
Sering kali aku membayangkan bagaimana kalau ada wali kota yang berani melakukan penggebrakkan 'go green' secara nyata. Aku tau itu mustahil mengingat ini kota metropolitan. Belum lagi tingkat kriminalitas yang semakin hari semakin parah. Setiap penjuru kota malah bisa dikatakan rawan. Pencurian, penculikkan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan sekarang jadi berita sehari-hari. Seperti nyawa manusia tak lagi ada harganya. Premanisme juga seperti hanya kenakalan biasa. Rasanya kinerja para aparat pengaman masyarakat masih kurang, buktinya ya itu tadi.
"Lo enggak nervous?" tanya Diana tiba-tiba.
Aku tak menoleh ke arahnya dan tetap konsentrasi menyetir. "Lumayan sih," jawabku. Beberapa pejalan kaki bersiap menyebrang ramai-ramai, dan aku terpaksa memelankan laju mobil karena lampu merah menyala dan mendelik ke arah kami. "Masih enggak nyangka aja kerja freelance beginian." kataku terkekeh.
"Sabar." katanya mengelus tangan kiriku yang menggenggam tongkat perseneling. "Gue yakin kok, suatu saat Lo sukses, cuma timing nya aja yang belum tepat. Seseorang kaya Elo enggak pantes buat susah selama hidupnya, Lo tuh cocoknya jadi seseorang yang cemerlang, menginspirasi jutaan mata buat sukses juga lewat tulisan." senyumnya mengembang.
Aku menatapnya sejenak dan tak kuat menahan senyum juga. Ya, bisa dibilang terharu. Begitulah dia, bisa berubah menjadi sesosok sahabat, teman, kakak, ibu bahkan motivator. "Semalem kita enggak nonton Mario Teguh kan?" ledekku dan sukses mendapat jambakkan maut.
***
Kantor polisi belum terlalu ramai menurutku. Belum banyak mobil dan motor yang mengisi parkiran. Beberapa polisi juga masih lalu-lalang dan aku yakin mereka masih mengobrol. "Selamat pagi!" Sapaku sangat semangat pada lelaki yang duduk di dekat pintu masuk, ia sedang membaca koran. Ia lalu sedikit mengangkat alisnya. "Saya..."
"Ini masih pagi Mbak, mau lapor apa? Mobil hilang? Motor hilang? Dirampok?" cerocos polisi di hadapanku dengan senyuman yang begitu lebar.
Untung saja polisi ini lumayan tampan, aku jadi bisa lebih bersabar dan bukannya berkata kasar. "Oh, saya ke sini bukan buat itu!" jawabku seraya membalas senyumannya. Kali ini lelaki itu mengangkat alisnya lebih tinggi. Ayo Mas, lebih tinggi lagi! Kalau perlu alismu berada di antar rambut-rambut cepakmu! "Saya dapet kerjaan di sini."
"Jadi kamu yang gantiin si Sela?" tanyanya. Aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi melihat gelagat lelaki ini, mungkin yang maksud adalah asisten tetap detektif itu. Tak lama aku pun mengangguk dan lelaki itu mengajakku masuk ke dalam. Aku kira ruangannya akan seperti kantor yang begitu formal dan dimana-mana orangnya jutek. Rupanya aku salah, belum-belum masuk beberapa polisi berhamburan dan menjabat tanganku untuk berkenalan. Walau kebanyakan adalah lelaki, tetapi mereka ramah! sangat ramah. "Ini ruangan pak Gatot, ini yang kamu mau temui pastinya." aku tersenyum, dan lagi-lagi tak dapat mengatakan apapun kecuali terimakasih. "Oh iya, nama aku Riga." ia kali ini mengulurkan tangan, aku menjabatnya dan mengetuk pintu ruang pak Gatot.
“Ya masuk!” perintah orang di dalam. Aku menarik nafas dan melihat Riga masih tersenyum padaku. Aku membuka pintunya, aku hanya membuka daunnya setengah dan kembali menutupnya. “Tenang, semuanya sudah saya atur kok, tenang saja.” Ujar lelaki itu kepada seseorang di hadapannya. Lelaki itu mengangguk-angguk, ia berdiri dan hendak pergi. “Nah, itu Lily! Silakan duduk Lil!” pak Gatot memanggilku tepat ketika lelaki itu berbalik ke arahku.
"Ya sudah Pak, saya akan tunggu di luar saja.” kata lelaki itu berlalu.


ZAKI
Aku tak terbiasa mengarang cerita. Pekerjaanku membuatku menjadi seperti manusia paling jujur, atau bisa dibilang robot. Tidak ada yang pernah kututup-tutupi selama ini, tidak ada hal yang ku rahasiakan hingga saat ini. Aku fikir itu baik, karena aku tak punya beban.
Tidak, kecuali yang lalu telah ku kubur dalam-dalam. Aku bahkan harus membuat lubang yang besar untuk penguburan itu. Itu adalah tindakan bodoh dan paling pengecut yang pernah ku lakukan. Tapi setidaknya aku tetap terlihat sebagaimana aku seharusnya. Kuat. Tak ada yang boleh tahu yang ku kubur adalah luka sekaligus kebahagiaan. Tak ada yang boleh tahu kenangan yang ku kubur adalah hal termanis yang pernah ku alami.
Sampai suatu hari, ketika takdir sedang bermain dengan nasib kita. Aku terkekeh melihat jalan Tuhan yang sedang menggelitikku. Tidak bisa ku ampuni diriku yang masih tak percaya. Bukankah diriku telah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi? Dunia ini terlalu sempit untuk masa lalu yang harus terungkap lagi. Dan masa lalu akan menjadi masa lalu jika kau tak menginginkannya. Sayangnya aku tak memiliki banyak pilihan, dan itu artinya aku mau.
“Lo udah dapet asisten baru?” tanya Sela saat aku menjenguk ke rumahnya. Aku meletakkan buah-buahan yang tadi ku beli saat kemari. Perempuan ini masih terlihat galak walau kondisinya sekarang sedang lemah karena kandungannya. Aku menarik nafas panjang dan menggeleng. “Tapi inget! Gue enggak mau Lo milih asal-asalan, gue enggak suka cewek kebanyakan jaman sekarang, pokoknya awas aja Lo!”
Aku terkekeh. “Tapi katanya hari ini pak Gatot udah nemuin sih, mungkin aja orangnya baik. Seenggaknya enggak kaya Lo deh.” Selorohku. Ku lihat Adam, suami Sela memasuki kamar. Ia tersenyum kepada kami. Kedua tangannya sibuk membawa baki berisi makanan yang ku tebak adalah bubur ayam. Beruntung sekali Sela mendapatkan Adam, lelaki tersabar yang bisa menghadapi tingkah Sela. “Oh, pagi-pagi kok udah berani kena omelan istri gue sih Ki?” ledek Adam. Sela menatapnya seperti mangsa.
“Tau nih, padahal niat ngejenguk, eh kena damprat!” tambahku seraya terkekeh. Sela menatap kami garang. “Ya udah lah, berhubung kalian mau suap-suapan, gue mending ngantor dulu deh.” Aku mendapati muka Sela memerah, juga Adam. Mereka baru satu tahun menikah, wajar saja kalau masih dibilang malu-malu.
Adam merangkulku saat aku pamit. Mungkin hanya untuk menambah keakraban kami. “Makasih ya Bro, sorry banget gara-gara ini Lo jadi kerepotan enggak punya asisten lagi.” Katanya masih merangkulku.
“Alaah!” Sela menyangkal. “Bentar lagi juga ada yang gantiin kok Mas, jadi selama cuti doang dia enggak bakal kena omelanku!”
Kami bertiga sama-sama tertawa.
“Tapi sebentar lagi kan punya asisten pribadi?” Adam melirik Sela. Tapi aku tahu yang ia maksud adalah aku. Oh tidak, jangan bahas itu di depan Sela! Dia adalah sepupu yang paling bawel yang harus kuhadapi setiap hari. Aku sangat berterimakasih kau menghamilinya Adam, tapi tolong jangan bahas itu di hadapannya.
“Jangan harap!!” Erang Sela. Benar kan kataku. Ia tak akan mungkin suka. “Gue tetep enggak suka sama cewek itu!” Adam tertawa geli. Ia sebenarnya sudah tahu masalah ini.
Jadi aku telah bertunangan dengan anak teman Ayahku, bisa dibilang ia adalah Pakde ku. Tapi ia selalu menyuruhku memanggilnya Bapak, karena sejak kecil kami telah dekat layaknya anak dan Ayah. Dulu saat aku masih bertugas di Bandung, aku diperkenalkan oleh Pakdeku dengan anaknya yang kuliah di sana juga. Namanya Vania. Belum lama ini kami memutuskan bertunangan, itu hanya siasatku untuk meredam semua permintaan ibuku yang terus menerus menyuruhku meminang gadis itu. Katanya untuk mempererat tali persaudaraan ayah dan pakdeku yang hanya sebatas teman. Awalnya aku menolak, tapi lama kelamaan aku tak enak hati pada Pakdeku yang berfikir aku tak menyukai Vania. Aku tak mau dibilang tak bisa balas budi. Jadi akhirnya ku putuskan untuk bertunangan terlebih dahulu. Ku fikir nanti aku bisa menemukan alasan untuk memutuskan hubunganku dengan Vania suatu saat.
Sebenarnya Vania adalah gadis baik. Dia memiiki aksen sunda yang kuat. Tutur katanya begitu lembut. Wajahnya yang begitu oriental karena ibunya adalah chinese. Tapi mau bagaimana lagi jika aku belum bisa membuka hatiku untuknya, bertahun-tahun setelah mengenalnya aku harus memaksa diriku bersikap baik dan bertingkah seolah-olah aku amat menyukainya. Karena dengan begitu, orang tuaku tak akan terus terusan menodongku. Aku tahu aku orang yang paling berdosa pada Vania. Aku ingin berkata jujur, tapi aku tak sanggup membayangkan ia akan menangis. Aku lebih tak sanggup melihat raut kecewa di wajah orang tuaku dan orang tua angkatku.
***
“Bapak sudah ketemu dengan orangnya?” tanyaku. Setibanya di kantor tadi, orang ini langsung menyuruhku ke ruangannya. Dan tepat seperti dugaanku, ia ingin membertahuku soal asisten baru.
Pak Gatot menggeleng. “Belum sih,” jawabnya singkat. Ia menyodorkan map merah kepadaku. “Ini CV nya dia sama fotokopi sertifikat-sertifikat dia, ada piagam-piagam juga sih, oh iya, dia jago bela diri juga!” tutur pak Gatot. Aku sedikit tertarik untuk melihat isinya. Lembar pertama berisi CV-nya. Aku langsung melihat ke bagian riwayat pekerjaannya. Ternyata ia dulu bekerja di perusahaan Tabloid. Apa dia wartawan? Aku menyimak setiap tulisannya, ia ternyata ingin menunjukkan bagaimana pekerjaannya dulu. Ku rasa ia sangat senang menulis, karena kertas folio di hadapanku hampir terisi penuh oleh tulisan tangan. Dan beruntung, aku selalu mengagumi orang yang menggunakan tulisan tangan. “Dia jago nulis juga, kata temen saya sih orangnya simple, kalian pasti cocok kok.”
Aku menyunggingkan senyum. Sebenarnya aku juga jatuh hati pada pemilik tulisan ini. “Kalau saya ikut keputusan Bapak saja, tapi dia cuma freelance kan? Apa dia enggak keberatan?”
“Tenang, semuanya sudah saya atur kok, tenang saja.” Senyumku memudar kali ini. Foto di tanganku masih menegang dan membuatku harus menarik nafas dua kali lebih lambat. Aku tercekik. Nah, itu Lily! Silakan duduk Lil!” ujar Pak Gatot.
“Ya sudah Pak, saya akan tunggu di luar saja.” Aku berdiri dari kursi dengan berat hati. Ku tundukkan kepalaku seraya berjalan keluar. Aku tau perempuan itu sedang memperhatikan wajahku yang pastinya samar. Untung saja kemarin aku mengurungkan niatku memotong rambut, ku fikir minggu depan saja, dan ternyata ini menolongku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar