Suasana semakin larut ketika Lily terbujur di sofa sambil membaca Koran yang memuat berita tentang kasus yang kini ia dan Zaki usut. Pembunuhan itu rupanya cukup mendapat perhatian dari media massa lantaran korban adalah seorang pengusaha kaya raya dan cukup dikenal sebagai pribadi yang baik di masyarakat. Menurut berita yang disebutkan dalam Koran, tim kepolisian belum bisa menemukan tersangka lain dalam kasus ini. Dugaan terkuat adalah istri muda Faiz lah yang tega membunuhnya. Motif sementara adalah perempuan itu ingin mendapatkan harta yang lebih dan ingin menguasai beberapa perusahaan yang suaminya pimpin itu.
Tak lama mata Lily sedikit membulat kala membuka sambungan berita yang terletak di halam belakang. Di sana ada foto Zaki yang sedang diwawancara kemarin siang. Ia menggerutu sebal karena dirinya tak terlihat dalam foto itu.
“Lo baca apaan sih?” tiba-tiba Diana berada di sampingnya dengan semangkuk es krim. Lily cepat-cepat duduk dan menutup Koran itu. Ia belum ingin memberitahu Diana tentang Zaki, selama ini ia hanya tahu kalau atasanku seorang detektif dan tugasku hanya membuat laporan. Hanya itu. “Itu es krimnya udah jadi, ambil sendiri gih!” perintahnya kala Lily mulai mangap minta disuapi.
“Hmmm, gue maunya disuapin Elo tuh.” Kata Lily manja.
Diana menggeleng sesaat. Ia lantas menyendok penuh es krim rasa strawberi itu dan menyuapkan ke mulut Lily. Ia tertawa kala Lily kini mangap-mangap karena dingin. “Eh Lil, Lo kapan nih berhenti nyendirinya?” Lily jadi bingung. “Bentar lagi gue sama Gustin mau merit, kalo enggak ada gue nanti siapa yang bakal merhatiin Lo?” wajah Diana lesu. Dibalik seluruh kecerewetannya, ia punya rasa keibuan bagi Lily.
“Buset omongan Lo kaya udah mau mati aja.” Sembur Lily. Dan detik berikutnya Diana mencubit kakinya yang hanya mengenakan celana pendek. “Aw ampuuun ampuuuun!!!”
“Lagian Elo sih enggak bisa serius!” Diana menyendok es krim untuknya sendiri. “Gue takut Lo entar semberono kalo gue tinggal Lil. Entar makan jarang, mandi jarang, bersih-bersih jarang, eh pas gue mampir kemari, ini rumah udah jadi hutan dan Lo jadi tarzan lagi.”
Lily mangap lagi, meminta amunisi. “Jadi Lo tega ninggalin gue gitu?” Diana tak menjawab. “Ya udah, kalo kalian nikah ya gue tinggal ikut aja nebeng di rumah baru kalian.” Ujarnya tak tahu serius atau tidak. “Lagian kapan sih Lo nikahnya?” Diana mengangkat bahu dan sukses membuat dirinya ditertawakan Lily.
“Kurang ajar Lo!”
***
“Kasus ini kenapa lama banget sih tuntasnya?” Lily mengoceh sendiri. Riga menatapnya dari seberang meja. “Ga, kalo kata Kamu siapa sih yang salah?”
“Istri mudanya mungkin, sekarang juga kan dia udah ditahan.” Kata Riga. Mereka berdua memperhatikan Zaki yang baru datang lengkap dengan jaket kulit favoritnya. “Hai cowboy!” sapa Riga.
Zaki hanya menyalami Riga dan terdiam sesaat saat melihat Lily yang berpura-pura mencatat. “Siapkan mobil, habis ini kita ke toko perhiasan.” Perintah Zaki sambil berlalu.
“Tuh kan lihat deh! Harusnya dia itu minta tolong, bukan merintah sambil jalan kaya aku babunya!” omel Lily membuat Riga terpukau. Lily lantas berjalan dan berhenti di hadapan Riga. “Harusnya dia itu begini: Lily, tolong siapkan mobil. Setelah ini kita akan pergi ke toko perhiasan. Oh iya, Kamu udah sarapan belum?” Lily mencoba menirukan suara Zaki dengan gaya yang berbeda.
Riga terkekeh dan mukanya berubah merah karena Lily terus saja menirukan gaya Zaki hingga membuatnya geli sendiri. Tak lama Riga terdiam dan berhenti menertawakan lelucon yang Lily buat.
“Lily, kamu udah sarapan? Kalo belum gih cepet sarapan soalnya aku mau ngajak kamu ke tempat latihan. Kebetulan aku udah lama gak adu jotos, kamu mau jadi lawanku kan?” Zaki berkata di dekat telinga Lily.
Oh tidak.
Lily tak berani memutar tubuhnya. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Tanpa tunggu lama ia langsung menyambar kunci mobil di meja dan melesat ke parkiran mobil.
***
Mereka berdua tiba di alamat toko yang pernah diberikan Katrin. Ia menyuruh Lily pura-pura membeli perhiasan dan menggali informasi tentang Katrin, barangkali ada pegawai yang lumayan dekat dengannya. Awalnya Lily tak mau, ia lebih suka menunggu sampai bosan dari pada melihat emas yang menyilaukan mata dalam waktu yang lama. Tapi apa boleh buat, Zaki adalah atasan yang tak akan berbaik hati pada dirinya. Lily berjalan malas dan mulai berinteraksi dengan salah satu pegawai laki-laki. Si pegawai menatap Lily cemas, mungkin karena penampilannya yang biasa-biasa saja, dan terlihat tak punya. Uang.
“Aku mau lihat kalung yang paling bagus di sini.” Kata Lily, berusaha terdengar berkelas.
“Berapa budget You?” tatapannya merendahknan.
“Umm..sepuluh..” Lily asal ceplos saja. Ia kesal mengapa bukan Zaki saja yang melakukan ini. Pasti ia akan mampu membuat pegawai sombong ini berubah jadi gay.
Si pegawai itu menuntunnya ke etalase setinggi perut dan menampilkan beberapa kalung di leher manekin. “Ini Sembilan juta, emas dua puluh empat karat.” Jawab lelaki itu. Lily ternganga, ia tak percaya ada orang yang mau membeli itu. Tapi ketika ia melihat ke orang di sebelahnya yang sedang mengeluarkan segepok uang untuk membeli, ia menyerah dan pasrah.
“Terlalu biasa banget.” Sergahnya menunjuk ke liontin kalung berbentuk hati itu. Lily berteriak dalam hati saking girangnya bisa berkata seperti itu. Ia lupa kalau di dompetnya hanya tinggal dua lembar orang yang sedang memtik daun teh dan tiga lembar gambar perempuan yang sedang memetik kecapi dan lelaki tua bersorban lusuh. “Kok bisa ya toko ini rame padahal koleksinya begini-begini aja.” Tambahnya.
Lelaki itu berubah geram. “Pasti You enggak tahu siapa pelanggan tetap kita kan? Kamu kenal nyonya Sonia? Dia istri pak Faiz, pengusaha perhotelan yang kaya raya itu!” nadanya berubah melengking.
Jadi orang ini lebih kenal si Sonia ketimbang Katrin. Berarti Sonia lebih sering kesini dari pada Katrin“Ah mana mungkin!”
“Yeeee!” lelaki itu tak terima. “Kalo enggak percaya lihat aja sendiri!” ia mengambilkan album foto millik toko perhiasan ini. Di sana terpampang jelas gambar istri kedua Faiz berfoto dengan perhiasan dari toko ini. “Cantik kan??!” Lily menahan diri. Membiarkan lelaki yang ternyata benar-benar lembekini membeberkan informasi yang perlu ia dapatkan untuk Zaki. “Tapi semenjak kasus itu, dia enggak pernah kesini lagi.” Raut wajahnya
“Jadi kamu udah tahu ya?”
Ia kembali menatap Lily sinis. “Walaupun eike begini, tapi eike suka baca Koran!” Seolah ia mengerti anggapan Lily tentang dirinya. Banci. Lily menahan untuk tak tersenyum geli. “Jadi beli enggak?!” katanya membuat Lily terpojok.
“Oh iya..” Lily mengaduk-aduk tasnya. Berharap bisa mendapatkan alasan yang tepat untuk menutupi harga diri, ia bokek! “Dompetku ketinggalan!” bukan alasan yang mudah dipercaya bagi si pegawai banci ini.
Wajah si pegawai semakin terlihat muram. Dari tatapannya pada Lily, ia tahu kalau hati banci itu sedang berkata: “Huh! Dari tadi Cuma ngabisin waktu eike aja You!”
“Aku yang mau beli kalung itu.” Tiba-tiba tanpa disadari Zaki telah berdiri di belakang Lily. Si pegawai itu tersenyum lebar. Bukan jenis senyuman ketika ada pelanggan, tapi senyuman kala ada cowok ganteng yang bersiul padamu.
Si banci berhenti melangkah. Ia tertegun melihat seorang polisi tampan yang kini berdiri di samping Lily, yang tadinya ia fikir kere. Pacarnya boleh juga. “Tentu! Kalo buat Kamu, aku ada yang lebih cucuok.” matanya mengerling pada Zaki membuat Lily ternganga. Mereka berdua mengikuti si banci ke tempat koleksi kalung yang lebih lengkap. “Nah…ini koleksi terbaru toko kita. Bagus-bagus kan?” tawarnya genit. Zaki tak menjawab dan memilih serius.
“Jangan bikin aku tambah malu! Sok-sok’an mau beli lagi. Tadi sebelum kamu kesini aku udah bilang kalo aku enggak bawa dompet!” bisik Lily. Matanya tetap memperhatikan si banci yang sepertinya bentar lagi akan meneteskan liur karena Zaki.
Zaki tetap bersikap cool dan mengabaikan ada perang mata antara pegawai banci dan asistennya itu. Ketika selesai memilah dan memilih, tangannya memutar paksa tubuh Lily dengan mudahnya. Lily semakin terkejut kala Zaki memasangkan kalung itu di lehernya dengan cekatan. Kalung dengan berlian putih bening di tengahnya. Sederhana tapi terlihat indah. “Pas.” Komentar Zaki . “Aku beli yang ini.” Ujar Zaki tanpa melepas kalung dari leher Lily. Si banci tersenyum senang dan langsung membuatkan nota.
“Kamu udah gila?!” desis Lily. Ia tak menyangka kalau Zaki rela mengeluarkan uang demi mengusut kasus ini. “Enggak lihat harganya berapa?!” matanya menunjuk pada bandrol di kalung itu.
Zaki tersenyum, hanya sebentar lalu beralih ke pegawai toko. “Ini kartu kreditku,” katanya mengulurkan sebuah kartu dari dompetnya ketika si banci terlihat hendak meminta uangnya. “Oh iya, aku bisa minta tolong?” tanyanya pada pegawai itu sambil memasukkan pin.
“Oh pasti, aku bisa bantu apa?” matanya masih saja genit, membuat Lily ingin mengeluarkan pulpen dari tasnya dan mencolok-coloknya.
“Kamu kenal dengan Katrin kan? Istri pertama Faiz.” si pegawai banci pun mengangguk mantap sambil menyodorkan kotak merah dan nota.
“Hmm, lumayan…”
“boleh aku lihat rekap laporan toko ini?”
“Buat apa?”
“Aku yang ngusut kasusnya, dan aku harap Kamu bisa berkerja sama. Aku mau jadi langganan di sini kalau Kamu berbaik hati nunjukin seluruh daftar kunjungan dan data transaksi toko ini.” Ia tersenyum, mencoba membuat banci ini tergoda. “Oh iya nama Kamu siapa?” tanyanya sok manis agar Wendi lebih mudah dimanfaatkan, saking manisnya Lily ingin muntah di sana sekarang juga.
“Aku Wendi. Tapi Kamu bisa panggil aku Wewen.” Ujar Wiwin tapi terlihat khawatir. Hening sesaat.
“Udahlah, dia gak akan mau!” pancing Lily karena sepertinya Wendi atau Wewen ini tak bisa membantu, berpura-pura menarik lengan Zaki untuk pulang.
“Ehhhh!” si banci ternyata mudah ditipu. “Oke, ayo ikut aku.” Mereka berdua mengikuti si banci. “Tapi cukup Pak Polisi aja, Kamu tunggu di luar.” Lily ingin marah tapi Zaki menggeleng dan menyuruhnya menunggu di mobil. Kesal, Lily berjalan bak anak kecil yang sedang mengamuk.
Dalam mobil, Lily hanya memandangi bayangan dirinya di spion. “Enggak selamanya aku benci emas.” Ia samar-samar tersenyum sambil mengusap permukaan berlian itu.
***
Cukup lama si pegawai itu mencari-cari berkas yang Zaki minta di sebuah ruangan yang lebih mirip kantor. Zaki sendiri sebenarnya sudah tak sabar dan ingin membantu mencarinya saking lamanya menunggu. Ia merapatkan rahang giginya sambil memperhatikan jam dinding yang tergatung di atas pintu masuk ruangan. Ia semakin tak sabar, Zaki berniat pergi dan datang lain waktu saja. Tapi suara si pegawai menghentikannya. “Nah kunci lemarinya udah ketemu!” si pegawai mengacungkan sebuah kunci yang sejak tadi sudah berada di atas meja kerja itu. Apa dia sengaja ngelama-lamain nyari itu doang?! Zaki menggeleng-geleng. Kalau ia detektif swasta, sudah lama ia membuat pegawai banci ini pinsan dan ia sendiri yang akan membuka lemari dengan pistolnya.
Si pegawai membawa berkas dari lemari yang baru saja ia buka. “Ini semuanya?” Tanya Zaki. Si pegawai mengangguk sambil melihat sekeliling. Kalau-kalau atasannya sudah datang ke toko dan masuk ke ruang administrasi. Melihat begitu tebal daftar kunjungan dan transaksi, Zaki pun berniat meminjam dan membawanya ke kantor untuk di selidiki lebih seksama.
“Tapi jangan lama-lama ya pinjemnya.” Zaki mengangguk. “Oh iya, itu kalung itu buat dia ya?” ada nada kecewa dalam kalimatnya.” Zaki hanya tersenyum. Ia hendak pergi. “Dia itu pacar kamu ya?” rupanya si pegawai masih ingin tahu.
Zaki mengangkat berkas-berkas itu dengan tangan kiri. Tangan kanannya terbenam dalam saku celana. “Aku mau ngelamar dia.” Jawab Zaki ngawur, dan itu membuat si banci patah hati. Kena deh, rasain karena udah berani ngejek Lily! “Ya udah, makasih ya Wen…” katanya sambil berlalu. Zaki pun hanya senyum-senyum sendiri. Ia tak menyangka berani berkata demikian. Ada sebuah sensasi tersendiri bagi Zaki waktu melontarkan kalimat itu. Lo mulai gila Zaki.
Ketika ia membuka pintu mobil, Zaki melihat Lily yang sedang tertidur. Pasti dia capek nunggu. Zaki mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah rileks Lily , terfokus ke leher dengan kalung melingkar di sana. ia tersenyum dan mulai melajukan mobil.
“Hoaaaammmhhhh….” Lily menggeliat, meregankan otot. Dan ketika matanya terbuka, ia tahu kalau ia baru saja melakukan kesalahan. “Ma..af…” katanya tertunduk. Tak tahu apa yang akan tertjadi selanjutnya. Pasti sebentar lagi dia bakal ngomel.
“Lain kali, kalo tidur jangan lupa kunci mobil.”
Lily mengerjap-ngerjap. Mimpi apa gue semalem, tumben banget si Zaki enggak garang. “Tapi nanti aku takut enggak denger kamu gedor-gedor kaca mobil.” Lily bersiap menutup kupingya. Nah, sekarang pasti dia bakal ngebentak. Satu..dua…tiga!
“Pokoknya kunci pintu kalo mau tidur, titik. Sekarang perampok sama penjahat ada di mana-mana. Apa lagi di daerah toko perhiasan itu, pasti banyak yang ngincer.” Tutur Zaki. Matanya tetap ke jalanan.
“Tumben banget kamu enggak marah-marah kalo ngomong?”
Zaki menatap Lily sebal. Ini anak gue baikin salah, gue kasarin juga salah. “Kamu maunya dibentak? Kalo kamu maunya gitu sih ya gapapa…” cepat-cepat Akila menggeleng sekuat tenaga. Zaki terkekeh melihat itu, langan kiri yang bebas dari setir mobil itu tiba-tiba mengusap kepala Lily lembut. “Gitu dong..”
Lily seketika merasa jantungnya hendak meloncat. Tuhan, apa dia salah minum obat? Tapi ia memilih diam dan menyembunyikan wajahnya yang merona saat tangan Zaki kembali ke setir.
***
“Banyak banget!” protes Lily saat Zaki menyuruhnya membawa seluruh berkas milik toko perhiasan dari dalam bagasi. “Berat tauk!” omelnya. Zaki melotot, tetap memaksa. Lily mendengus dan mengangkat semua itu dengan kedua tangannya yang terasa lemas. Zaki membiarkan wanita itu berjalan duluan dan menikmati pemandangan Lily yang berjuang membawa segalanya dengan susah payah.
“Gini aja enggak kuat!” zaki mengejarnya dan merebut berkas-berkas dari tangan Lily. “Ayo cepet ikut aku ke ruanganku.” Perintahnya. Lily kembali komat-kamit tak jelas, segala sumpah serapah untuk Zaki terlontar dalam hatinya yang berkecamuk. Sedetik baik, sedetik suka marah-marah. Heran gue ada orang kaya Lo!
Lily memandang sekitar, hanya tinggal Ribka yang masih menelepon seseorang, mungkin pacar. Sepertinya orang-orang sudah pergi makan siang, termasuk Riga. Ia masih mengikuti Zaki yang kini duduk di sofa kecil dalam ruangan pribadinya “Kamu cari nama Katrin di daftar, catet tanggal, hari dan apa yang dia lakuin.” Zaki meletakkan daftar kunjungan di meja.
“Sonia juga pelanggan tetap di sini.” Tambah Lily.Lily yang dengan canggung terpaksa duduk di sebelahnya. Ia mengambil buku catatan dan mulai meneliti.
“Kalo gitu catet mereka berdua.” Zaki fokus pada data transaksi, ia memotret segala transaksi Sonia dan Katrin untuk dokumentasi.
“Emang ini bisa ngebantu buat mecahin kasus ini?” Tanya Lily setelah cukup lama hening, matanya tetap mencari nama Sonia dan Katrin. Ia pun sudah tak bisa menerka-nerka. Si pembunuh tak meninggalkan sedikitpun sidik jari atau pun sehelai rambut di TKP. Tim Riga juga kewalahan mengecek segala sudut rumah, dari gagang pintu hingga lantai. Ini sudah pasti pembunuhan terencana. Dan pembunuhnya pastilah sudah lumayan berpengalaman karena kehati-hatian.
“Sonia belum bisa jadi tersangka pasti,” Zaki berhenti sejenak. Sudah setengah jam mereka meneliti berkas-berkas itu, membuat matanya lelah. “Kita butuh bukti yang kuat kalo dia itu pembunuhnya.” Ujar Zaki. Ia memegang perutnya yang mulai lapar.
“Nah, terus buat apa Katrin di bawa-bawa? Dia kan enggak ada sangkut pautnya.” Ia menatap tangan Zaki yang berada di perutnya sambil tersenyum kecut. “Di rumah itu Cuma ada Sonia sama Faiz. Toh waktu diintrogasi, Sonia juga enggak bisa bilang siapa yang kira-kira membunuh Faiz.” Lily pun tahu kalau perutnya lapar. “Kamu laper?” Tanya Lily. Zaki menggeleng, harga dirinya jauh lebih pentinng. Lily tak menunggu jawaban dari polisi itu, ia malah keluar dan mengambil bekal di laci meja kerjanya. “Ini tadi aku masak ikan goring sama sambel teri balado.” Ia menyodorkan kotak bekal pada Zaki.
“Kamu masih suka masak?”
Tiba-tiba Lily menyesal. Mengapa juga ia sok bersikap baik kalau nantinya Zaki akan membahas itu. Dengan terpaksa Lily mengangguk. “Yah, sama bantuan Diana sedikit sih.”
“Diana? Kamu masih sahabatan sama dia?” rupanya Zaki pun masih hafal nama sahabat Lily dari SMA itu juga. Lily mengangguk. “Kalian satu kontrakan?” Lily sudah bercerita pada Zaki kalau ia pindah dari kota Malang ke Surabaya dan mengontrak, tapi ia belum menceritakan kalau ia tinggal satu rumah dengan Diana. “Udah berapa lama Kamu di Surabaya?”
“Semenjak kita putus.” Jawab Lily ketus. “Kapan kamu makannya kalo ngomong terus?!”
Zaki muram dan mulai makan. Ia tahu kalau masakan Lily adalah menu yang ia rindu beberapa tahun ini. Dulu saat mereka masih pacaran, Lily sering memaksa Zaki untuk makan masakannya, walaupun terkadang kegosongan, keasinan, dan hambar. Tapi mungkin karena itu masakan Lily, ia tak pernah protes—kecuali menghina. Dan sekarang, masakan Lily membuat kenangan itu sedikit menyala-nyala. “Kamu ngasih garem satu kilo ya? Asin banget!” komentar Zaki saat menyicipi sambel teri.
Lily terperangah. Ia yakin betul kalau tadi pagi ia sudah mencicipi dan rasanya pas. “Masa sih?” Lily merebut sendok dari tangan Zaki dan merasakan. “Enggak ah, lidah kamu aja tuh dari dulu enggak pernah bener! Ini enak kok!” ia mulai menyendok nasi juga.
Zaki tertawa. “Dari dulu kamu pasti ngejelek-jelekin lidah aku!” Zaki merebut sendok itu lagi.
“Emang lidah kamu parah kok, akut!” Lily mencoba merebut kembali, tapi malah sendoknya terpental jauh ke dekat pintu. Ia hendak marah, tapi Zaki menjulurkan lidah. “Uhh..” geramnya.
Zaki merebut kotak makan dan mulai makan lagi. Sebenarnya ini enak, walau sederhana. “Ikannya juga gosong nih!” tunjuk Zaki ke ikan mas yang sedikit coklat itu.
“Ini enggak gosong Zakii!” protes Lily.
Zaki lantas ke meja kerjanya dan mengambil hand sanitizer dan mencuci tangannya dengan itu. “Cobain aja sendiri!” Zaki mencuil daging ikan dengan tangannya dan menyuapkannya ke mulut Lily.
Lily terdiam sembari mengunyah.
“Gimana?” Tanya Zaki. “Gosong kan?” Sebenarnya Lily bukan terdiam karena rasa sedikit pahit ikan yang katanya gosong itu. Tapi ketika Zaki menyuapinya barusan dengan tangannya. Tak lama Lily mengangguk dan hendak pergi ke toilet, membiarkan Zaki meneruskan makan sendiri. Tapi Zaki malah menyuapi Lily lagi, membuat Lily tertegun.
“Buka mulut kamu!”
Lily menurut, ia mulai makan bersama Zaki dan mematikan saklar hatinya. Biasa aja Lil, biasa aja…ujarnya komat-kamit membaca mantra penangkal jatuh hati yang selalu ia baca kalau Zaki mulai membuatnya tersentuh dan teringat masa lalu. “Kok dari tadi Kamu nyuapin aku nasi sama sambel doang sih!” Lily sadar sejak tadi Zaki sengaja melakukan itu.
“Abis kamu goring ikannya Cuma satu sih! Kan aku enggak kebagian!” Zaki kini menyuapkan nasi dan ikan ke muluntnya sendiri.
“Tadi kayaknya kamu bilang ikan aku gosong deh, tapi kok lahap banget!”
“Kan Cuma ada ikan doang, jadi ya terpaksa deh.” Bantah Zaki. Lily hendak protes lagi tapi Zaki segera menjejalkan nasi dan ikan itu ke mulutnya, suapan yang lumayan besar hingga mulut Lily penuh.
Kalian enggak ma…” Tanya Riga lumayan keras yang tiba-tiba sudah membuka pintu ruang Zaki. “Kan..” lanjutan kalimat yang tepotong. Ia terpana melihat Zaki yang tangannya masih memaksakan nasi-nasi di tangannya masuk ke mulut Lily. Mereka berdua pun sama kagetnya. “Oh, ya udah deh lanjutin dulu.” Riga menutup pintu kembali. Ia kaget ketika ada sendok di dekat kakinya. Ia menjumput itu dan membawanya keluar. Cukup hanya Vania, Zakh..
***
Riga memandangi Lily yang sedang membuat laporan sebelum masuk ke ruangan Zaki. “Kalian tadi kemana?”
“Toko perhiasan.” Jawab Lily masih canggung karena kejadian siang tadi. “Kamu?” Lily balik bertanya.
“Aku ke rumah Sonia, Cuma buat ngecek kalo aja si pembunuh diem-diem balik ke sana buat ngelihat keadaan. Tapi masih belum ada sidik jari baru. Kita juga ngeintrogasi tetangganya, mereka semua emang bener enggak tau.” Tutur Riga lesu. “Oh iya, nanti malem ada acara enggak?”
“Aku..” Lily tahu kalau Riga ada maksud.
“Aku mau ngajak nonton, udah berapa minggu ini aku pusing gara-gara kasus ini. Mau ya?? Please..” Riga menangkupkan kedua tangannya. “Pleaseee….”
Lily mengangguk dan membuat Riga kegirangan. “Sip, aku jemput abis magrib!” katanya lalu masuk ke ruangan Zaki.
Walau mata Zaki sibuk pada catatan yang Lily buat tentang kunjungan Sonia, ia tahu kalau Riga sudah duduk di hadapannya. “Udah nemu sesuatu Bro?”
Zaki menggeleng. “Belum,” jawabnya lesu. Kalau dalam minggu ini tak ada peningkatan, kasus ini akan diserahkan ke pusat dan mungkin ditunda. Kalau sudah begitu, reputasi Zaki lah yang jadi taruhan. “Lo?”
“Seperti yang udah-udah, gue ngintrogasi para tetangga. Mereka emang enggak tahu dan gak terlibat, alat pendeteksi kebohongan enggak pernah bunyi.” Tuturnya. “Si Sonia sama Katrin juga enggak kedeteksi. Bingung gue.”
“Haha.” Zaki terkekeh. Sudah lama ia kenal Riga, kasus kali ini sebenarnya tak terlalu besar. Tapi entah mengapa kali ini Riga terlihat putus asa.
Riga lahir dan besar di Bandung. Entah keberuntungan apa atau siasat apa yang membuat Riga bisa mendapat tugas pertama di kota itu juga, hingga ia dipertemukan Zaki dalam satu kantor dan tim. Mereka sama-sama satu angkatan di tahun itu, semangat mereka sama besarnya. Riga juga teman Zaki selama kuliah dan pendidikan tambahan demi menaikkan pangkat. Ia dan Riga selalu saling mendukung dan membantu dalam satu tim dulu. Ketika ada mutasi, mereka pun dimutasi bersama ke kota ini walau bukan dalam satu tim lagi. Mereka sudah seperti botol bertemu tutupnya, saling melengkapi dan memerlukan.
“Gue jadi pengen balik ke Bandung.” Kata Riga tiba-tiba membuat Zaki hanya terdiam. Ia sudah faham kalau Riga ingin pulang, berarti ia sudah jenuh dengan kasus ini. “Oh iya, katanya Vania abis ke sana ya?”
“Udah lama kok.” Jawab Zaki datar. Riga dan Vania sudah lumayan dekat karena dulu ayah Vania adalah ketua tim Zaki dan Riga. “Cuma bentar juga.”
“Hmm..” Riga mengangguk-angguk. “Kalian kapan sih nikahnya? Dari dulu tunangan doang, keburu tua tau!”
Zaki akhirnya berhenti meneliti. Ia memandangi Riga sinis. “Gue belum tau, dan asal lo tahu kita baru setahun tunangan.” Hatinya sudah kesal. Ia tak pernah suka kalau orang-orang membahas ini. Baginya ini privasi, tak ada yang boleh sesukanya mempertanyakan ini, termasuk sahabat.
“Masa iya gue salip.” Cibir Riga.
“Lo kan jomblo, mau nikah sama kambing?” Sembur Zaki seraya tertawa mengejek. Satu kosong Riga!
Riga menarik nafas. “Gue mah enggak suka pake tunangan-tunangan segala..” katanya sungguh-sungguh. “Gue mau langsung ngelamar aja.”
Kini Zaki makin tertawa terpingkal-pingkal. “Ngelamar kambing? Hahahaha!” Dua kosong Lo sekarang Hahaha!
Riga melotot. “Kampret Lo!” ia menunggu Zaki ikutan serius.
“Hehehe…Oke-oke..emang udah punya sasaran?” Tanya Zaki basa-basi.
Riga mengangguk. “Gue masih nunggu kesempatan buat nyatain perasaan gue ke dia.” Tuturnya. Zaki hanya mendengarkan dan tak mau membuat Riga marah karena tak ditanggapi serius. “Udah beberapa minggu ini gue merhatiin dia dan kontak sama dia. Gue jatuh hati banget ke sifat dia itu.” Kentara sekali Riga sedang kasmaran dari rona di wajahnya.
“Siapa sih?” Zaki tak sabar. “Gue kenal juga?”
Riga lagi-lagi mengangguk mantap. “Lily..” ujarnya pelan, tapi bagi Zaki itu adalah petir yang menyambar telinganya. “Doain gue ya Bro…” kata Riga tersenyum optimis lalu meninggalkan Zaki sendiri.
Jadi, sekarang seratus kosong? Zaki mengepalkan tangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar