Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 7


Enam pasang mata berkumpul dalam ruang seluas lima kali empat meter ini. Ketiganya masih saling bermain dengan fikiran masing-masing walau mata mereka sudah tak sabar untuk beradu. “Kenapa selama ini Ibu enggak pernah cerita ke aku?” Tanya Zaki setelah mendengarkan penjelasan ibunya.

“Karena Kamu pasti marah.” Ayahnya yang memilih menjawab sambil menatap Zaki. “Ibu kamu enggak salah, bapak yang nyuruh Ibu bohong ke Kamu. Tapi, asal kamu tahu ini juga buat kebaikan kamu Ki.”

Pipi Zaki terasa ditampar. “Kebaikan aku? Aku dibohongin dan Bapak masih bilang ini demi kebaikan aku?!” Nada suaranya mulai meninggi. Urat di kepala Zaki mulai terlihat menyembul. Zaki marah.

“Ki, jangan emosi dulu!” Ibunya mengingatkan.

Ayah Zaki hanya menggeleng pada istrinya, ia sangat tahu sifat anaknya itu. Zaki mirip sekali dengan dirinya, gampang marah namun cepat reda. “Bapak enggak ada pilihan Nak, sebenernya Bapak juga nyesel. Kamu tahu sendiri kondisi ekonomi keluarga kita waktu itu gimana kan? Cuma kamu yang bisa nolong Ki.”

Benar apa yang baru saja ayah Zaki fikirkan, amarah anak itu seketika lenyap berganti dengan rasa menyesal karena bersikap tak sopan pada orang tuanya sendiri. Kini Zaki hanya menunduk dan menatapi jari-jari kakiknya di lantai, seolah mereka saling bicara satu sama lain dan menggosipkan dirinya sendiri. “Zaki ke kamar dulu.” Ia melangkah tanpa memandang kedua orang tuanya lagi.

***

Lily memperhatikan mobil Riga yang menjauh sekali lagi sebelum ia masuk ke dalam. Baru saja ia hendak mengeluarkan kunci pintu dari dalam tas, Diana sudah membukakan pintu untuknya.

“Tumben Lo belum tidur?” Tanya Lily sambil menutup pintu. Diana tak menyahut dan malah meninggalkna Lily ke kamarnya. Mungkin dia BT gara-gara gue tinggal, batin Lily. Ia berhenti ketika melihat bekas  runtuhan pasir yang pasti berasal dari sepatu seseorang. “Siapa yang abis ke sini?” Lily berdiri di ambang pintu kamar Diana.

Haruskah gue bilang itu Zaki?

“Ricki tadi ngasih martabak buat Lo.” Jawab Diana malas. Ia sedang pusing dan tak mau bicara. Ia juga bingung harus bagaimana. Satu sisi ia tak mau Lily kembali bersedih karena tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya, satu sisi ia juga tak mau berbohong. “Gue cuma makan sedikit doang.” Tambahnya agar Lily tak merasakan kerisauan Diana.

Lily mengatupkan mulutnya sambil berfikir. Ia tahu bukan Ricki yang tadi datang kesini, karena Ricki sangat pembersih. Lagi pula Ricki sudah tahu kalau di rumah ini ada aturan ‘dilarang menginjak teras dengan alas kaki’. Lalu siapa? Agustin kah? “Dia enggak ngomong apa-apa?” Tanya Lily lagi, berusaha melupakan masalah pasir sepele itu.

Diana akhirnya menyerah untuk berpura-pura tak acuh pada sahabatnya itu. “Kayaknya sih dia jealous gitu pas gue bilang  kalo lo lagi kencan,” Diana nyengir.

“Kencan?!” Lily menunjuk dirinya sendiri. Diana mengangguk. “Kok lo bilang gitu sih? Lo kan tau perasaan dia!” Terbayang sudah wajah Ricki yang baik hati itu di benaknya. Jujur saja, rasa seperti ini lah yang ia takuti. Rasa bersalah.

Diana mengangkat pundaknya sambil duduk bersedekap di atas tempat tidur. “Hmmm...Ya mau enggak mau dia harus terima kan Lil?”

“Gue enggak tega aja Di, dia itu baik banget ke gue.” Katanya berjalan mendekati Diana. Lily melempar tas ke meja lantai lalu tidur di sebelah Diana. “Gue jadi makin ngerasa bersalah deh.”

Diana kini tahu langkah apa yang harus ia ambil. Ia tak boleh diam saja dengan semua ini. Takdir sudah begini dan tak akan mungkin dirubah lagi. “Antara Riga sama Ricki, hati Lo lebih nyaman ke siapa?” tanyanya.

Lily lantas tertawa terbahak-bahak. Ia berguling dan menutup mukanya dengan boneka berbentuk pisang raksasa kesayangan Diana. “Gila lo ah!” Masih tak dapat menyembunyikan kekagetan atas pertanyaan Diana barusan. “Hmmh..” gumamnya ketika Diana masih menunggu jawaban. “Jujur ya, sebenernya dari kenal Riga sih gue udah lumayan tertarik, inget ya! cuma tertarik. Tapi lama kelamaan, gue ngerasa dia itu cocok jadi temen doang deh.”

“Weleh... Kenapa?”

Bibir Lily mengerucut berbentuk corong. “Dia udah suka sama cewek lain.” Jawab Lily. Vania lah yang ia maksud. Vania yang telah menjadi milik Zaki.  “Ya walau cewek itu enggak mungkin jadi milik dia juga sih.” Katanya sambil menerawang ke percakapan dirinya dengan Riga di mobil. Ia jadi begitu penasaran seperti apa perempuan yang mampu merebut dua hati lelaki itu. Sesempurna apakah perempuan itu hingga cinta Zaki yang ia yakini adalah cinta sejati tiba-tiba hilang begitu saja.

“Haduuhh.” Diana menggeleng-geleng sebal. “Gue nanya serius eh Elo malah ngelamun!” Semprotnya ketika melihat wajah Lily yang termenung.

“Hehehehe...” Lily hanya memasang wajah konyolnya.

“Kalo Ricki gimana?”

“Hmmm???” Lagi-lagi Lily bergumam. “Gue sayang sama dia, tapi ya sebatas sahabat doang Diana, Lo kan tau itu.”

“Apa salanya Lo coba? Cinta itu kan tumbuh kalo dipersilakan tumbuh. Lah kalo hati Lo aja nutup nama Ricki buat mampir ke hati Lo itu, gimana cinta mau tumbuh??”

“Lo abis kesambet apaan bisa ngomong kaya gitu?” Timpal Lily membuat Diana meninju lengannya hingga ia sedikit terhuyung lalu kembali tertidur. Lily terkekeh dan hanya mengangkat pundaknya lalu mulai memaksa matanya terpejam. “Kasih Ricki kesempatan Lil..” Kata Diana

***

Minggu yang cerah. Awal yang tepat untuk memulai rencana manis bin brilian dari Diana. Ia sudah mengatur segalanya agar semua berjalan mulus. Ini semua demi sahabatnya, demi kebahagiaan Lily. Walau itu berarti Diana harus berbohong.

“Udah siap belum sih? Keburu siang nih. Bukannya sehat yang ada malah gosong!” Lily berkacak pinggang di depan kamar Diana. Pagi ini mereka berdua berniat ikut ke event car free day di dekat alun-alun kota.

Diana menekan tombol send di layar ponselnya, pesan untuk Ricki agar segera kemari. “Perut gue tiba-tiba mules banget nih!!” Kata Diana sambil memegang perutnya. “Kayaknya gue enggak kuat deh kesana.” Diana masih menekan perutnya. Akting yang lumayan bagus karena sekarang Lily terlihat panik.

“Lo mau dateng bulan paling.” Ujar Lily sambil melihat kalender tergantung dekat pintu.

Diana menatapnya nanar, kalau bukan karena pura-pura pasti ia sudah menghajar perempuan ini. “Kok lo bisa hafal sih?” Tanyanya sarkatis.

“Iya lah, buktinya lo belum nyuruh gue beliin pembalut!” semburnya mengundang tawa Diana, hampir saja ia ketahuan. “Ya udah lah, good bye car free day, saatnya kita nonton kartun!”

“Lo pergi aja sana, mumpung libur..” Bantah Diana. “Lo pergi aja sama si Ricki.”

Lily menjadi linglung sendiri. “Ah enggak ah, gue nemenin Lo aja.” Katanya sambil duduk di sebelah Diana yang keadaannya kelihatan membaik. “Siapa tahu Lo entar langsung kontraksi terus enggak ada yang nganter ke rumah sakit.”

PLAK!!

“Aduh!!” Ucap Lily sambil mengelus pahanya yang pedas karena tabokan Diana. “Sakit!!!”

“Lo kira gue mau ngelahirin apa! Udah deh mending Lo pergi sama Ricki enggak usah pake bantah, lagian bentar lagi juga si Agustin mau ke sini.” Tambahnya. “Gue diajak ke rumahnya.”

Lily manyun. “Huh!” Dengusnya. “Tapi kan si Ricki pasti ke salon.”

“Selamat pagiiiii cewek cewek kurang gizi dari planet pluto!!” Belum sempat Diana menjawab Ricki sudah memasang wajah di hadapan mereka. “Ayo Lil, mumpung gue lagi banyak duit nih, gue traktir es cendol satu baskom.”

Diana terkekeh.

“Hmm..Ya udah, gue pergi dulu ya Di..” katanya sambil mencium pipi Diana lalu berjalan di belakang Ricki yang sejak tadi menatap wajah Diana. “Yuk!” Lily terlihat bersemangat dan mengaitkan tangannya di lengan Ricki.

“Gue titip Lily ya Bro!” Pekik Diana. Ricki hanya mengangkat jempolnya tanpa membalik tubuhnya lagi.

***

“Panassssshhhh!!!!!!!!!!!!!” Erang Lily seperti vampire ketika tersengat matahari.

Ricki langsung menangkupakan kedua tangannya di atas kepala Lily yang lebih pendek darinya. “Lo kan udah lama di sini Lil, masa enggak tahu Surabaya panasnya kaya apa.” Tangan Ricki masih melindungi kepala Lily.

Lily menatap wajah Ricki sejenak. “Udah ah, Lo mayungin gue malah bikin orang ngira gue sarimin tauk.” Katanya. Ricki lantas tertawa lebar. Lily terpaku pada anak anjing yang sedang ikut berlari dengan pemiliknya. “Lucu banget ya..”

“Kaya gue?”

“Ih narsis!” Timpal Lily. Mereka kini mulai berjalan dan melihat begitu banyak para penjual. Dari pakaian, tanaman, hingga hewan peliharaan. “Gue haus banget nih.” Dumelnya ketika sampai di alun-alun. Hari ini ia tidak berniat joging, dia hanya ingin jalan-jalan dan menyegarkan fikirannya. Jadi untuk apa ia harus berkeringat sebanyak ini?

“Mau es krim?” Tawar Ricki. Lily menggeleng. “Es campur?” Lily menggeleng. “Apa terus???” Tanya Ricki mulai dongkol.

“Bir!!!!”

PLETAK!!

Sukses sudah ia mendapat jitakan dari Ricki. “Es cendol aja deh!” Tutur Lily sambil mengusap kepalanya.

“Ya udah tunggu di sini ya..” Ucap Ricki lalu pergi.

Lily mengeluarkan ponselnya. Ia duduk di salah satu bangku dan mulai bermain hingga lupa dengan keadaan sekitar.

“Permisi?” Seorang perempuan sudah berdiri di dekat Lily sekarang duduk dan asyik memainkan game. “Boleh saya duduk di sini?” Tanya perempuan itu ketika melihat Lily tetap mengabaikan dirinya.

Lily berhenti dari dunia pertanian di layar ponselnya, mengurungkan niat menyiram tanaman yang dapat menghasilkan emas dalam dunia permainan itu. “Oh?” Mulut Lily hanya dapat mengeluarkan itu ketika matanya pertama kali melihat rambut panjang dan indah milik perempuan ini. “Bo..leh kok..” Tambahnya.

Perempuan itu tersenyum lalu duduk di sebelah Lily. “Dari tadi aku muter-muter nyari tempat duduk, eh semua bangku penuh, terus pas aku lihat kamu sendirian, aku nekat deh minta bolehin duduk, capek banget berdiri .” Tutur perempuan itu seraya tersenyum. Lily hanya memanggut-manggut memahami perempuan di sebelahnya tentu bukanlah orang yang suka menghipnotis lalu mengambil perhiasan orang lain.

“Aku enggak sendiri kok.” Kata Lily. Ia menebar pandangan dan mencari sosok Ricki yang rasanya tak akan kembali sebelum mendapatkan es cendol permintaannya tadi. “Temenku lagi nyari es cendol.”

“Es apa? Es cendol? Emang masih ada ya es cendol di jaman ini?” Perempuan itu memasang wajah lugu untuk bergurau.

Mereka berdua tertawa. “Ya mungkin dia sekarang lagi nyari di museum benda bersejarah. Hahaha!” Lily tertawa lebar dan tak bias berhenti ketika melihat seorang lelaki datang ke arah mereka.

“Vania!” Teriak seseorang.

Lily masih tertawa sambil mencari sumber suara tersebut. Tawanya langsung terhenti dan terdengar seperti decitan ban mobil ketika mengerem mendadak. “Za-k-k-ki?”

Perempuan di sebelah Lily menoleh mengikuti arah mata Lily memandang. “Loh, Kamu kenal Zaki?” Tanya perempuan itu, sama-sama terkejutnya seperti Lily.

“Lily??” Zaki terpana ketika ia melihat jelas siapa perempuan di sebelah Vania sekarang. Ia tadi meninggalkan Vania sendirian ke parkiran karena lupa mengunci mobil, dan sekarang tunangannya sudah bersama Lily??  “Kamu kok..”

Vania memandangi mereke berdua bingung. “Bisa jelasin enggak sih apa yang aku enggak tahu di sini?” Tanyanya karena masih tak faham dengan keadaan ini.

“Dia temen aku,” Kata Zaki pelan. Penyesalan lagi-lagi menghantuinya. Mengapa pula ia mengajak Vania kemari kalau itu membuat dirinya bertemu dengan perempuan ini. “Dia yang aku bilang asisten baru aku.”

“Oooohhh…” Vania mengangguk-angguk dengan mulut melongo. “Kenapa kamu enggak bilang sih?” Katanya menepuk lengan Lily.

Lily kaku. Ada rasa lega dan kelu beradu di dalam sini semenjak Zaki mengucapkan kata ‘teman’ barusan. Ia lega karena Zaki tak bilang ‘mantan’, tapi detik berikutnya ada rasa kelu. “Aku kan..” Lili berhenti, matanya masih terjerat dalam pandangan Zaki. “Aku kan enggak tahu kalo kamu tunangannya..”

“Hahaha..Kenalin, nama aku Vania.” Vania mengulurkan tangannya pada Lily. “Aku tunangan boss kamu ini nih,” Katanya sambil memandang manja kepada Zaki.

Pantas saja logatnya terdengar berbeda, ia orang sunda rupanya. “Aku Lily,” Jawab Lily singkat. Ia berdiri, bersiap pergi dan berlindung. Ia merasa tubuhnya mulai menciut sekarang. Doanya terkabul sudah, rasa penasarannya semalam pun telah terobati karena sekarang ia dipertemukan langsung dengan siapa perempuan yang mendapatkan lelaki yang pernah ia puja. Ia tak mau menangis untuk momen seperti ini. Lily tahu dirinya sekarang sakit, tapi menangis hanya akan membuat rasa kecewanya kembali teringat. “Aku pergi dulu ya..”

“Loh kata Kamu tadi Kamu lagi nunggu temen Kamu..?” Vania berusaha menahan Lily sedangkan Zaki mematung. Apakah Diana sudah menceritakan semuanya pada Lily? Tidak, pasti belum. Lily pasti sudah menghubunginya dan meminta penjelasan kalau ia sudah tahu. Ia ingat betul kalau Lily bukan orang yang bisa bersabar dan rasa penasarannya sangat tinggi. “Mending Kamu nungguinnya bareng kita, kan lebih enak ada temennya. Sayang, cariin minum dong, kita berdua kehausan nih.”

Sayang? Haha. Lily merasa lemas dan terpaksa duduk lagi. Sudah terlanjur, hari ini adalah hari sial yang harus ia lewati.

“Loh loh loh? Mbak Vania??!”

Ricki telah datang dengan dua gelas plastik berisi es cendol yang menggoda tenggorokan.

“Jangan bilang kamu juga kenal sama Zaki??” Celoteh Vania.

Ricki memandangi lelaki bretubuh tinggi dan macho di sebelahnya. “Hmm? Aku kesini sama Lily Mbak.” Ricki memberikan segelas es pada Lily. “Pas balik kok malah udah duduk bareng Mbak Vania Hehe.”

“Ya ampun!” Vania menepuk jidatnya. “Dunia ini sempit ya!!”

Lily memandangi Vania dan Ricki. “Jadi kalian saling kenal??”

“Iya, Mbak Vania ini pemilik butik yang kerja sama dengan salon gue Lil,” Katanya pada Lily. “Dan ini temen aku yang aku sering certain ke Mbak..” Kini ia berkata pada Vania.

“Ohhh….! Jadi ini ya perempuan yang kamu sering beliin baju dari butik aku??? Ciee Ricki!” Ujarnya dengan mata berkedip. Ricki hanya tersipu, tak berani memandangi Lily untuk saat ini.

“Lo bilang itu baju dikasih?!” Lily memasang wajah garang. “Aduh kalo gue tau itu baju Vania kan pasti gue enggak bakal ngatain itu baju aneh! Aduh maaf banget ya Van, abis Ricki bilangnya itu baju bekas sih!”

Vania hanya mengangguk-angguk, memaklumi bagaimana perasaan Ricki pada perempuan bernama Lily. “Sayang, aku kan bilang minta minum..” Katanya melihat Zaki yang sejak tadi mematung.

Zaki masih diam.

“Ini buat Mbak aja, rame banget, beli minum aja antri Mbak.” Katanya menyerahkan gelas satunya pada Vania.

“Makasih yaa…” Vania langsung mengambil itu. Rasa hausnya mengalahkan rasa sungkan. “Kamu itu udah aku bilangin jangan panggil aku Mbak, masihhh aja!”

Ricki mengelus kepala bagian belakangnya. “Habis, kaya enggak sopan aja Mbak..”

“Ih ga pantes kalo dia dipanggil Mbak kali Ricki, Vania kan masih muda, tuaan juga Elo kalo.” Bela Lily, membuat Vania tersenyum senang.

“Iya deh iyaaa…” Ricki kalah kalau sudah berdebat dengan Lily. “Mulai sekarang aku manggil Vania tok deh.”

“Tuh Lil, Ricki nurutnya Cuma sama kamu doing.” Vania menggeleng-geleng gemas. “Kalo udah jadian jangan lupa traktirannya ya!”

Jadian? Sial. “Ayo kita jalan lagi Van, keburu siang.” Akhirnya Zaki berkata juga.

“Mumpung kita barengan kaya gini, kita jalan bareng aja berempat!”

“ENGGAK!!” Pekik Lily dan Zaki berbarengan.

Vania dan Ricki melongo.

“Aku sama Ricki udah niat balik kok,” Kata Lily gugup.

“Kita kan baru nyampe Lil.” Bantah RIcki.

Lily menginjak kaki Ricki. “Katanya kita mau nonton???!!” Lily berkedip. “Udah lama kan kita enggak ke bioskop.” Lily berbohong padahal semalam ia dan Riga baru saja kesana.

“oh? oh Iya..” Ricki mengagguk cepat.

“Kalo gitu kita duluan ya Van, seneng deh bisa ketemua kamu.” Lily tersenyum pada Vania lalu mencuri pandang ke Zaki sejenak.

“Hmmm..Hati-hati ya..” Vania tersenyum juga. Ricki menggandeng tangan Lily dan melambai pelan pada Vania dan Zaki. “Kamu kok tadi diem aja sih? Aneh banget tau.” Katanya pada Zaki ketika Ricki dan Lily berjalan menjauh.

Zaki masih memandangi punggung Lily dan lelaki itu yang semakin tak terlihat. “Aneh apanya, biasa aja kok.”

“Tapi aku bisa ngerasain kamu jadi aneh, kamu diem, kamu kikuk!”

Zaki menghembuskan nafasnya. Ia bukan diam, ia marah! Mengapa beraninya lelaki itu membawa pergi Lily. Berani sekali ia menceritakan Lily pada orang lain, mengapa berani sekali lelaki itu menunjukkan rasa sukanya pada Lily. “Kita balik aja yuk, ibuku di rumah enggak ada temen, bapakku tadi ke rumah temen lamanya.” Katanya mengalihkan pembicaraan. Jurus jitu kalau pertanyaan Vania sudah tak dapat ia jawab. Vania kesal namun tak ada pilihan lain kecuali mengikuti Zaki yang mulai berjalan.
Mungkin Riga bisa ngasih tau aku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar