Riga sudah menunggu Lily di depan kantor sambil bersandar dan sesekali melirik jam tangannya. Ia juga sesekali melihat ke arah pintu utama kantor itu, barangkali Lily sudah keluar. Riga terus melihat kearah lain hingga tak menyadari ada seorang perempuan sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. “Derr!!”
Riga memekik kaget sambil memegangi dadanya. “Lily!” ia membatalkan mengeluarkan sumpah serapah dan menelannya hingga wajahnya terlihat memerah. “Ngagetin aja sih!”
Lily terkekeh. “Abis kamu dari tadi lihat ke sana mulu sih!”
“Aku kan nungguin Kamu, eh ternyata kamu lewat pintu belakang,” katanya pura-pura kesal. “Ya udah ayok masuk mobil.”
Lily mengikuti Riga sambil sedikit merona. Satu jam yang lalu Riga mengiriminya sms untuk pulang bersama. “Oh iya, nanti kamu pake baju ini ke bioskop?” Tanya Lily tiba-tiba.
Riga menggeleng sambil wajahnya menunjuk ke kursi belakang. “Waduh, kalo aku pake baju dinas gini bisa-bisa orang ngira tawuran di sana! hehehe. Anak muda dan gaul kaya aku mah kudu siap baju bebas.”
“Gaul? Weeekkk narsis banget!” sembur Lily. Mereka tertawa sejenak sebelum akhirnya Riga menyalakan mesin dan siap menuju rumah Lily.
***
“Lily kalo di kantor suka gila enggak?” Tanya Diana setelah ia dikenalkan dengan Riga beberapa menit yang lalu. Diana tak menyangka sahabatnya ini secepat itu menjalankan perintah untuk tidak menyendiri lagi. Ia bahkan langsung membawa lelaki itu ke rumah.
Riga terkekeh. “Gila gimana?” tanyanya balik. Ia melihat Lily sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan ke kamar sambil melambai padanya. rambut sebahu Lily yang basah membuatnya tak bisa menahan diri untuk makin terpikat.
“Dia suka ribut, dia udah punya musuh belum di sana?” Diana makin sok serius.
“WOOOOYYY KUPING GUE PANAS LO GOSIPIN TERUS DARI TADI!” Lily keluar dari kamarnya lagi. Ia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan ke ruang tamu. Ia menatap Diana garang. “Riga, Kamu mandi aja deh sana. Nanti handuknya nyusul.” Perintah Lily. Riga terkekeh dan langsung menuruti perintah calon ratunya itu.
“Kuping Lo aja tuh yang terlalu tajem!” dengus Diana. Ia ikut masuk ke kamar Lily yang kini sedang mencari pakaian yang tepat. “Kalian mau kemana sih?”
“Nonton.” Jawab Lily datar. “Kenapa? Emangnya Lo doang yang bisa kencan?” tambahnya sambil meletakkan pakain dalam di tempat tidur di dekat Diana.
Diana melempar pakaian dalam Lily ke pintu. “Masih aja Lo dendam ya ke gue!”
Lily menjulurkan lidah dan mengambil pakaian-pakaian malang itu. “Gue enggak dendam kok, ini cuma pembalasan!” ujarnya menggelegar sambil memakai celana dalam berwarna putih. Diana mendumel. “Lagian siapa suruh Lo nyuruh gue cepet-cepet enggak nyendiri lagi? Sekarang rasain deh kesepian kaya gue waktu itu.”
“Ihhh siapa juga yang bilang gue bakal kesepian? Gue bisa telponan sama Agustin kok. Wekkkk!”
***
“Kalian kalo di rumah emang suka ribut gitu?” tanya Riga setelah melajukan mobil dari kontrakan Lily. Ia menangkap bayangan sebuah mobil di kaca spion. Ia sangat ia kenal siapa pemiliknya. Ada apa sih Zaki ngikutin kita?
Lily terkekeh. “Ya gitu deh, tapi kita enggak pernah berantem kok. Ribut yes berantem no!” Riga lantas menggeleng-geleng menahan geli. Ia tinggal di kota ini sendiri dan tak pernah lagi serumah dengan kakaknya yang mengabdi pada Negara ini sebagai seorang tentara dan bertugas di luar Negeri. Ia teringat ribut dengan kakaknya pada masa sekolah di Bandung dulu. “Yah..dia malah ngelamun!”
Riga lalu tersenyum dan mulai menceritakan masa kecilnya. Mulai dari ia yang selalu dimanja namun ia tak pernah suka itu. Ia selalu iri dengan kakaknya yang mandiri dan terkenal pintar. Kakaknya selalu mendapat beasiswa hingga ia masuk perguruan tinggi. Riga mengidolakan figur kakaknya sendiri. Ia selalu berharap bisa mencontoh kakaknya yang memilih bergabung dengan Angkatan Udara.
Semakin lama, Lily menyadari kalau Riga adalah orang yang terbuka. Dan ia akui kalau ia suka itu. Lily terus saja membayangkan hingga Riga menceritakan tentang mengapa ia bergabung dengan kepolisian dan mengenal Zaki. Itu membuat Lily mati-matian tak terlihat gelisah. Setiap kali Riga menyebut nama Zaki, hatinya kelu.
“Dia itu mirip kakakku, tujuan hidupnya jelas.” Kata Riga mengartikan seorang Zaki. “Tiap misi dia selalu bilang kalau kita bisa mecahin misi itu. Dia kayak motivator. Dia juga selalu marahin aku kalo aku udah kewalahan.”
Lily sengaja memandang keluar. Ia lebih lama kenal Zaki dari pada Riga. “Dia emang suka marah buat nunjukkin kepeduliannya,” lirih Lily. “Aku kan asisten dia.” Tambahnya takut kalau Riga berfikir macam-macam.
Riga mulai melanjutkan ceritanya. “Hmmm..tapi semenjak Zaki tunangan, dia berubah aneh.”
“Tunangan??” ulang Lily.
Riga mengangguk. Ia sengaja ingin Lily tahu ini. Fikirannya tak bisa tenang dengan kejadian Zaki yang menyuapi Lily tadi siang. Ia cemburu. “Jadi ceritanya dia itu di Bandung tinggal sama pakde angkatnya, yang mana pakde angkatnya juga temen akrab ayahku dan ayah Zaki. Beliau punya anak perempuan, namanya Vania dan aku sama Vania itu satu SMA dulunya. Singkat cerita, kami bertiga sahabatan deh.” Riga terlihat mulai lela berbicara. “Tapi ternyata, ayah Zaki sama ayah Vania itu udah punya niatan ngejodohin anak mereka.” Kata Riga masam. Ia sebenarnya lebih dulu menyukai Vania sejak SMA, tapi Vania hanya menganggap dirinya sahabat.
Lily berusaha mengingat nama itu. Vania. Kalau tak salah Zaki memang pernah menceritakan tentang perempuan itu yang pernah berkunjung ke Malang saat mereka SMA dulu. “Terus?” Tanya Lily, ia sudah ingat mengapa dulu Zaki terlihat kesal kalau menceritakan perempuan itu. Ternyata mereka sudah dijodohkan sejak lama, namun Zaki tak mau menceritakan itu pada Lily.
“Tapi Zaki nolak, dia bilang umurnya masih terlalu muda dan dia belum siap. Tahun demi tahun berlalu, Vania, aku dan Zaki tetep bersahabat meskipun aku tahu antara Vania dan Zaki pasti ada ketegangan tersendiri. Akulah yang jadi tempat Vania cerita tentang perasaannya, sebenarnya Vania juga menentang perjodohan itu, tapi mau gimana lagi, dia enggak bisa ngelawan ayahnya.”
“Oh..”
“Nah, tapi sepulang dari Malang, Zaki malah langsung ngajak Vania tunangan.”
“Mm-Malang? Kota Malang?” tanya Lily tak percaya. Bukankah kata ibunya Zaki akan menetap di Bandung cukup lama dan tak akan kembali ke Malang? Orang tuanya malah bilang kalau mereka yang selalu ke Bandung untuk menengok Zaki. Dan Riga barusan bilang Zaki pernah pulang?! Lalu siapa yang benar??
Riga memandang wajah Lily sepintas. “Iya, dia kacau banget sepulang dari Malang itu. Aku tanya ada apa tapi dia enggak mau cerita. Dia malah ngasih tau aku dia bakal ngajak Vania tunangan. Aneh kan?” Riga menarik rem tangan ketika sampai. Pertuangan Zaki dan Vania telah menghancurkan perasaannya, tapi selama ini Riga lebih memilih diam agar tak kehilangan sahabat-sahabatnya itu. Ia tahu kalau orang tua Vania tetap akan memilih Zaki sebagai pendamping anaknya, karena Zaki telah lama dianggap anak sendiri oleh orang tua Vania. Riga tak pernah ingin merebut Vania, baginya asal Vania bahagia itu sudah cukup.
“Mereka udah berapa lama tunangan?” tanya Lily meyakinkan dirinya sendiri. Harusnya tiga tahu yang lalu,batin Lily berkecamuk.
“Satu setengah tahun yang lalu lah.” Jawab Riga tergesa-gesa sambil turun dari mobil. Lily tertegun. Itu tak mungkin. Kalau Vania dan Zaki bertunangan baru satu setengah tahun yang lalu, lalu siapa yang ibu Zaki maksud pada tiga tahun silam? “Ayok kayaknya bentar lagi filmnya udah mulai.”
***
Diana sedang asyik mengobrol dengan kekasihnya di telepon. Ia sudah mengunci seluruh pintu dan jendela takut kalau ia nanti tertidur. Lily punya kunci rumah lainnya, jadi ia tak perlu khawatir nanti Lily tak bisa masuk kalau dirinya sudah tidur. Ya, ia memang susah dibangunkan.
Tok-tok-tok!
Diana berusaha mempertajam pendengarannya.
Tok-tok-tok!
Lagi-lagi ia mendengar pintunya diketuk. Diana menatap jam dinding di kamarnya sebelum membuka pintu. Masih jam delapan malam.
“Siapa?” Diana masih menunggu di balik pintu. Ia memang penakut. “Siapa?!”
Tak ada sahutan.
Penjahat kah? Diana makin ketakutan dan ia langsung menyibak tirai dan mengintip dari balik jendela. Tak ada siapa-siapa. Diana masih mengintip hingga dua pasang mata muncul di hadapannya. “Arrrrggggghhhh!!!!” Diana berlari mundur sambil menjerit.
“Hahahahah!” ternyata itu adalah Ricki. “Udah cepet buka pintunya woy!”
Diana langsung membuka pintu dan memandangi Ricki kesal. “Dasar setan Lo!” katanya sambil menoyor lengan Ricki. Diana duduk di sofa disusul oleh Rice yang terlihat lelah. “Malem banget sih Lo pulangnya Ce?” Rice mengangguk. Ia meletakkan kantong plastik putih di atas meja. “Apaan itu?” tanya Diana.
“Bom!” Ricki terkekeh. Diana melotot dan langsung menyambar kantong plastik di meja. Ia terlihat kembali bersemangat ketika mengetahui kalau itu adalah martabak spesial dengan keju dan susu juga coklat yang melumer di dalamnya. “Mana si Lily, biasanya idungnya tajem kalo bau martabak?”
Tanpa sungkan teman kontrakan Lily itu mencomot sepotong martabak dan langsung menggigitnya dengan kejam. “Dia lagi kencan, biarin aja dia enggak kebagian!” Diana terkekeh.
Ricki tertegun. Kencan? “Sama siapa?” wajahnya terlihat lesu. Padahal tadi ia berniat membelikan martabak untuk Lily. Dan barusan Diana bilang dia sedang kencan? Hatinya tiba-tiba merasa kesal.
“Sama detektifnya lah, Lo tahu kan dia kerja di kantor polisi? Eh ternyata dia malah kepincut sama atasannya sendiri.” Ujar Diana sok tahu. Padahal Lily tak pernah menceritakan siapa detektif yang menjadi partner atau atasannya itu.
Ricki terdiam. Ia sudah lama menyembunyikan ini, dan sekarang kesempatan untuk memberi tahu Lily tentang perasaannya sudah pasti telah hilang. Ia belum bisa menyatakan perasaannya karena ia tahu Lily tak akan suka dengan sikap girly yang ada padanya. Padahal sedikit demi sedikit Ricky telah berusaha berubah dan mencoba menjadi lelaki tulen demi Lily. Ia sudah lama menyukai Lily. Sejak pertama pindah ke sini, Lily dan Diana menjadi sahabatnya dan menyepelekan pekerjaan dirinya. Bagi mereka apapun pekerjaan itu, asalkan halal maka tak masalah.
Ia pernah ingin nekat menyatakan perasaannya pada Lily, tapi Lily malah bercerita tentang mantan kekasihnya yang membuatnya trauma dan ingin menjauh dari dunia cinta. Lily juga bilang kalau ia pindah ke Surabaya karena ia ingin melupakan kenangannya dengan kekasihnya, Zaki. Semejak itu Ricki malah takut untuk mengatakan perasaannya. Ia takut Lily malah akan menjauhi dirinya karena trauma itu. Jadi ia hanya bisa diam hingga waktu Lily sudah bisa melupakan masa lalunya dan Ricki sudah bisa berubah menjadi lelaki sungguhan.
“Ya udah deh, gue mau mandi dulu. Salam aja ke Lily yak.” Kata Ricki mengangkat tubuhnya dari sofa dengan berat hati.
Diana mengangguk ragu. Sebenarnya ia bisa faham apa yang Ricki rasakan pada Lily lewat sikapnya, ia juga sudah menceritakan itu pada Lily. Tapi Lily bilang ia tak ingin merusak persahabatannya dengan Ricki, dan ia juga belum siap. Dan dengan perintah Lily juga, Diana dan Lily bersikap seolah tak tahu. Dan sekarang Lily sudah dekat dengan orang lain, tapi bukan berarti Lily sudah siap membuka hatinya lagi. Diana pun bingung, ia harus mendukung Ricki atau siapa. Tapi, asal Lily bahagia, dia tak mau ambil pusing. “Makasih ya martabaknya!” sahut Diana sambil menutup pintu. Gue enggak bisa bantu Lo Rick, maaf ya. Diana duduk di sofa lagi. Ia menutup kotak martabak itu dan hendak memasukkannya ke kulkas ketika pintu rumahnya diketuk lagi.
“Ada apa lagi sih??” Kata Diana membuka pintu. Ia kira itu adalah Ricki lagi namun ternyata bukan. “Kamu??”
“Maaf ganggu, aku boleh masuk?” Zaki berusaha terdengar sopan.
***
Jantung Diana tak bisa berhenti melompat-lompat sejak tadi. Ia kini sedang membuatkan teh untuk tamu tak diundangnya sambil berfikir keras. Bagaimana bisa lelaki itu muncul lagi setelah sekian lama? Lima tahun berlalu dan kini ia hadir begitu saja? Lalu dari mana ia tahu kontrakan Lily? Apa dia kembali ke kota Malang dan bertanya pada orang tua Lily dimana ia sekarang?
Diana menggeleng-geleng. Ia bahkan tak pernah bermimpi melihat sosok itu lagi, mantan kekasih Lily. jauh dalam lubuk hatinya ia pun membenci lelaki yang tengah duduk di sofa itu. Tapi ia tak mungkin mengusir orang yang datang dengan baik-baik dan Diana juga tak tahu apa maksud kedatangan Zaki. “Silakan diminum.” Kata Diana meletakkan tehnya di meja dengan hati-hati. Tangannya masih gemetar.
“Gimana kabar Di?” tanya Zaki sambil melihat-lihat seluruh penjuru rumah. Jadi Lily tinggal di rumah kecil ini?
“Yah..masih gini-gini aja. Lumayan baik.” Seloroh Diana. Zaki mengangguk-angguk, berusaha tak terlihat terganggu dengan sikap Diana yang dingin padanya. “By the way, ngapain ke sini?”
“Gue kebetulan lewat, sekalian aja mampir.” Katanya berbohong. Padahal sepulang dari kantor ia mengikuti mobil Riga kemari. Ia juga berbohong pada Vania yang memintanya menjemput dirinya di butik.
Diana bersedekap. “Dari mana Lo tahu kontrakan ini?” Sengaja ia tak menyebutkan nama Lily. Ia harap Lily tak bertemu lelaki yang pernah membuatnya menangis dan hancur ini. Ia ingat Lily dulu terlihat bak mayat hidup karena tak ada lagi keceriaan di matanya semenjak mendengar kabar tentang pertunangan Zaki dari ibunya.
“Gue lihat di CV Lily.”
“C....CV?!!” Diana hampir melompat saking kagetnya. Ia lantas melihat kerah baju Zaki yang berwarna coklat dari sela resleting jaket yang sedikit terbuka. Seragam Polisi. Dan seketika ketenangannya buyar. Ia sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
“Iya, dia enggek cerita kalo kita sekantor?” tanya Zaki sama herannya. ia tak menyangka Lily tak menceritakan tentang diri Zaki pada Diana. Mungkinkah Lily sengaja agar Diana tak marah? “Dia kan asisten gue.” Tambah Zaki.
Diana sukses terdiam dan terlihat seperti patung. Lily pasti takut bercerita padanya. “Terus maksud kedatangan Lo ke sini apa?” sebisa mungkin Diana menekan rasa ingin tahunya. Zaki adalah musuh, dan Diana harus ingat itu. “Kerjaan?”
“Gue cuma mau nanya.” Jawab Zaki singkat. Diana masih bersedekap dan mengangkat sedikit dagunya: Apa? “Kenapa Lily tega ninggalin gue?”
Diana geram. Sudah cukup sahabatnya dilukai, dan sekarang Zaki menyalahkannya. “Yang ada gue harusnya nanya gitu!” Ia berdiri dan matanya melotot seperti kedua bola mata itu hendak keluar. “Kenapa Lo tega ninggalin Lily!” Awalnya Zaki mengira Diana hanya bersandiwara. Jelas-jelas Lily lah yang meninggalkan dirinya dan sekarang Diana seolah bertingkah kalau ia yang salah. “Dia nunggu Elo bertahun-tahun, barang kali Lo pulang, tapi apa..yang dateng malah undangan sama kata maaf!”
Zaki kini ikut berdiri. “Undangan apa maksud Lo?!”
**Flashback**
Malang, tiga tahun yang lalu.
Cuaca mendung menyelimuti kota ini. Angin dingin membuat setiap kulit berdesir. “Kayaknya bentar lagi hujan deh.” Kata Diana. Ia sebenarnya ogah keluar rumah, tapi mau bagaimana lagi kalau sahabat kesayangannya ini sudah memaksa.
“Udah enggak usah banyak protes, nanti gue beliin es krim!” kata Lily mencubit pipi Diana. “Mumpung hari minggu nih, udah lama juga kan gue enggak ke rumah dia.” katanya lagi sambil menenteng plastik berisi dua kotak brownies coklat kesukaan ibu Zaki. “Nih pegangin.”
Diana duduk di belakang Lily di atas motor. Ia sendiri heran mengapa sahabatnya sangat suka dengan motor lelaki yang membuatnya kewalahan untuk naik. “Pelan-pelan!” perintah Diana kala Lily mulai melaju.
Mereka sampai di rumah Zaki tak lebih dari lima belas menit dan itu lumayan lama bagi Lily. Ia sebenarnya hobi ngebut, tapi berhubung sahabatnya ini lebih cerewet dari pada nenek-nenek, ia pun hanya tertahan di kecepatan 60 km/jam.
Baru dua kali Lily mengetuk pintu, seorang ibu berumuran empat puluhan akhirnya membukakannya. Lily terlihat ceria karena bisa bertemu dengan ibu Zaki lagi. sebenarnya Lily sudah menelpon ibu Zaki beberapa hari yang lalu, dan ia juga telah berjanji akan datang kemari pada hari libur kerja. Lily sendiri baru dua kali bertemu langsung dengannya, dan itu pun cuma sebentar. Pertama di rumah sakit, kedua Zaki lah yang memaksanya datang ke rumah. Dan untuk yang ketiga ini, butuh keberanian bagi Lily karena tak ada Zaki di sini, walaupun ia ditemani Diana sih.
“Ibu apa kabar?” tanya Lily. Mereka telah disuguhi teh hangat dan brownies yang tadi ia bawa guna mengusir dingin akibat cuaca mendung.
Ibu Zaki tersenyum. “Baik Lil.” Katanya. “Kamu masih kerja?”
“Iya Bu, aku masih kuliah sama kerja.” Jawab Lily.
Perbincangan terus berlanjut hingga satu jam pun berlalu. Lily melirik Diana yang sepertinya sudah mulai merasa bosan. Lily menarik nafas, ia sudah ingin menanyakan kabar Zaki. Tapi tanpa di duga ibu Zaki malah membahas tentang anaknya itu duluan. “Oh iya Lil, kebetulan kamu dateng ke sini, ibu ada titipan buat kamu.” Lily mengernyit. “Dari Zaki.” Tambah ibunya cepat. Seketika Lily sumringah sambil melirik ke Diana lagi.
Ibu Zaki pergi ke kamarnya sebentar dan kembali dengan amplop putih berukuran sedang di tangannya. “Ini Lil,” katanya terlihat ragu. Lily hati-hati membuka amplop dari kekasih yang ditunggu-tunggunya itu. Ia tak bisa mengatakan bagaimana rasa suka cita merasuki dirinya saat ini juga. Perlahan-lahan ia mulai membaca kata yang tercetak di sana.
“Undangan?” Lily mengerjap. Dengan huruf besar dan terangkai indah, ada nama Zaki yang di sandingkan dengan seseorang. Ia tak dapat membaca dengan jelas karena tiba-tiba air matanya membendung, membuat segalanya kabur. Tanpa tunggu lama Diana menyambar undangan tersebut dari tangan Lily yang terkulai di atas kedua pahanya.
“Iya Lil, ibu juga enggak tahu harus ngomong gimana ke kamu. Tapi, itu keputusan Zaki. Selama dia tinggal di Bandung sana, perempuan itu emang udah deket sama Zaki.” Ibu Zaki sedikit mencondongkan tubuhnya untuk meraih tangan Lily yang lemah. “Dia minta maaf karena enggak bisa ngasih tau Kamu langsung, dia takut bikin kamu sedih Lil.”
Lily termenung. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh juga. Beberapa tetes ia tak mau menghitung, ia lantas mengelap matanya dengan kasar. Ia ingin tegar. Mungkin ini memang cerita yang harus ia tempuh. Mungkin semua ini yang terbaik. “Iya Bu, enggak apa-apa.” Katanya. Lily melepas cincin polos yang melingkar di tangannya lalu memberikannya pada ibu Zaki. “Dan tolong bilang ke Zaki. Saya minta maaf enggak bisa dateng.” Lily tersenyum getir. Ia berdiri dan menyalami tangan ibu Zaki sambil pamit pulang. Diana yang masih membaca detail acara pertunangan itu pun lantas mengintil Lily dan langsung naik ke motor.
“Hati-hati Lil..” Ibu Zaki masih berdiri di teras rumahnya. Lily mengangguk, lagi-lagi mencoba tersenyum walau itu membutuhkan usaha yang keras.
Diana tak tahu harus berkata apa. Ia pernah putus cinta dan itu rasanya sakit. Lalu sekarang, sahabatnya pun sedang mengalami hal itu, tapi jauh lebih buruk. Ia ditinggal dan hanya diberi undangan. Setelah menanti dua tahun lamanya, Lily akhirnya harus melepaskan lelaki itu. “Lil..” panggil Diana membuka kaca helm yang ia pakai. Lily tak menjawab. “Lil...”
Lily masih menahan. Ia adalah Lily. Orang yang waktu masih SMA terkenal playgirl dan tak kenal patah hati. Hari ini pun, walau ada yang terasa retak dalam dirinya, ia tak mau terlihat menangis apa lagi oleh sahabatnya sendiri. namun, ia juga tak sanggup berkata, salah kata maka yang terjadi selanjutnya adalah luapan emosinya saat ini. Jadi ia memilih diam dan mengantar Diana ke rumahnya dengan selamat.
“Hati-hati Lil, nanti telepon gue ya kalo udah nyampe.” Kata Diana sambil turun. Lily mengangguk cepat tapi Diana masih menahan lengan Lily yang memegang stir motor. “Lo pasti kuat.” Tambahnya.
Seketika kekuatan palsu itu hancur. Lily menangis dari balik helm yang ia tutup rapat. Segera ia melaju dan meninggalkan rumah Diana. Ia menambah kecepatan hingga jarum spedometer menunjuk angka seratus. Dan ia tak berniat mengurangi itu. Ia fikir dengan ngebut makan fikiran dan konsentrasinya akan teralih ke jalanan, namun ia salah. Lily tak sadar kalau dua puluh meter dari posisinya kini ada perempatan jalan dan ia tak sempat menginjak rem ketika sebuah truk menghantam dari arah kanan.
***
Bandung, dua tahun lalu.
Zaki dengan rasa senang yang tak terbendung, hari ini baru saja mendapatkan izin cuti yang ia ajukan dua minggu lalu. Ia sudah lama ingin pulang, tapi ia masih belum diizinkan lantaran banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dan sekarang, Riga, sahabatnya sudah meletakkan sebuah tiket pesawat menuju Malang di hadapan Zaki.
“Nih, itung-itung traktiran dari gue!” seloroh Riga.
Zaki pun tersenyum dan segara merangkul Riga. “Makasih ya Bro!” katanya sumringah. “Lo minta oleh-oleh apa ha??”
Riga menyeringai. “Undangan!” katanya. “Undangan pertunangan Lo sama pacar kesayangan Lo itu tuh, yang bikin Elo pengen cepet-cepet balik ke Malang!”
Zaki menggeleng-geleng. “Sialan Lo!” lalu ia terkekeh.
***
Lelaki dengan tinggi hampir mencampai 190 senti ini tengah bersiap-siap. Ia menyemprot parfum favorit yang ia dan Lily sukai. Tak henti-hentinya ia memandang wajah cantik kekasihnya dalam bingkai foto di atas meja. Sekarang gimana keadaan dia? seperti apa dia sekarang? Sungguh, Zaki tak sabar untuk segera bertemu dengan tambatan hatinya itu.
“Kamu mau kemana?” tanya ibunya sambil berdiri di ambang pintu kamar lama Zaki. “Kok rapi banget?” Zaki memilih diam dan membiarkan ibunya penasaran. “Padahal baru tadi siang nyampe, lah kok sekarang udah mau keluar?”
Zaki tersenyum lebar. “Mau ke rumah Lily Bu.” Jawab Zaki antusias.
“...” ibu Zaki terdiam. Segera ia ke kamarnya sambil berdiskusi dengan suaminya.
Ia tahu perbuatannya salah. Mereka sebenarnya terpaksa melakukan ini. Ayah Zaki punya banyak hutang dan pada Eko, pakde angkat Zaki di Bandung sana. Eko sendiri tak pernah mengungkit-ungkit hutang ayah Zaki, baginya persahabatan mengalahkan harta. Namun, seiring berjalan waktu, Eko pernah berkunjung ke Malang bersama keluarganya dan membicarakan masa depan anak-anak mereka. Eko ingin sekali mempunyai anak lelaki, tapi melihat Zaki saat itu, ia pun berencana menjodohkannya dengan anakanya, Vania.
Mendengar itu, ayah Zaki tak tahu harus menjawab apa. Mungkin dengan begitu hutangnya pada Eko semakin tak membuat dirinya pusing. Ia bersama istrnya langsung setuju dan perjodohan pun dilakukan. Zaki dan Vania masih duduk di bangku SMA tapi mereka sudah dikenalkan dan didekatkan sebagi sepupu.
Orang tua Zaki tak punya pilihan lagi, mereka akhirnya memilih melanjutkan kebohongan ini. Semua ini demi kebaikan Zaki juga, batinnya kala tak tega. “Zaki..” panggil ibu Zaki sudah menunggu anaknya di ruang tamu. Tangannya menggengam erat benda kecil berkilau. Zaki langsung datang ke hadapan ibunya.
“Ada hal yang pengen ibu kasih tau ke Kamu.”
“Apa?” Zaki bertanya-tanya.
Ibu Zaki menyodorkan sebuah cincin di atas meja. “Ini dari Lily.” Katanya. Zaki terhenyak dan segera menyambar cincin yang ia belikan untuk Lily saat ulang tahunnya. “Dia udah enggak bisa nunggu Kamu lagi katanya.”
“Lily??!” padahal janji Lily untuk tetap menunggunya masih terngiang hingga hari ini. Harapannya ternyata bertolak belakang dengan kenyataan. “Kenapa Bu?!”
“Ibu juga enggak tau Zaki, satu tahun yang lalu, dia ke sini dan ngasih ini. Dia mungkin udah nemuin laki-laki lain, kalo ibu jadi dia juga enggak mau lah nunggu lama.” Tambahnya mengarang kebohongan. Ibu Zaki teringat dengan undangan palsu yang ia buat untuk menipu Lily. “Jadi ibu harap Kamu lupain dia. ibu kan udah bilang kalo cuma Vania yang pantes buat Kamu.”
Tangan Zaki menggenggam erat ciccin itu, seolah ia bisa meremukkannya. Hatinya sakit. Mulutnya kelu. Zaki lebih memilih diam dan kembali ke kamarnya. Ia mengunci dirinya dalam kamar. Perempuan yang ia puja-puja justru tega meninggalkannya. Perempuan yang membuat dirinya kuat selama ini, perempuan yang mengisi setiap mimpinya, sudah melepaskannya. Seketika sebuah fikiran melintas di kepalanya sambil memandangi cincin yang terkulai di telapak tangan. Bertunagan dengan Vania.
**Flashback End**
Zaki dan Diana sama-sama tertegun. “Jadi ini ulah ibuku?” lirihnya. Diana tak dapat berkata apa-apa. Ia kini tahu kebenarannya. Mata Zaki terlihat sayu dan tak bersemangat, ia memilih pulang dan memikirkan apa yang harus ia lakukan di apartemennya. Ketika masuk, pikirannya yang kalang kabut kini makin keruh ketika sosok ibu yang ia cintai selama ini sudah ada di dalam bersama ayahnya.
“Ada yang pengen Zaki tanyain sama Ibu.” Katanya dengan mata merah. amarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar