Selasa, 02 September 2014

Silent Ring Part 9

“Kita kemana?” Tanya Lily. Zaki hanya mengangkat laporan  transaksi yang mereka pinjam beberapa hari yang lalu. Lily pun langsung mengerti tujuan mereka. “Kamu kenapa sih? Kaya marah gitu, jadi serba salah tau!” Lagi-lagi Zaki tak mau menimpali, malah fokus dengan catatan-catatan transaksi yang Lily buat untuknya. Lily menarik nafas panjang, ingin rasanya ia meledak sekarang juga. “Harusnya aku yang marah!”
Ada seringai kecil yang membuat Zaki berhenti konsentrasi. Ia baru saja menemukan sebuah petunjuk untuk kasus ini. Tanggal kematian Faiz sama dengan tanggal pengambilan pesanan perhiasan Sonia dari toko tersebut. “Fokus aja nyetirnya.” Komentar Zaki. Ia membuang muka ketika mata Lily mencoba menatapnya dari spion mobil. “Dan inget, aku ini atasan Kamu.” Zaki berkata sangat dingin.
Lily menggigit bibirnya sambil menambah kecepatan. Ia memilih bungkam hingga mereka sampai di tempat tujuan. Lily menarik rem tangan lalu segera melepas kalung yang Zaki beli saat itu. “Aku tunggu di mobil,” katanya sambil menyerahkan kalungnya.
Zaki tak menolak dan menyimpan kalung itu di sakunya. “Siapa yang nyuruh?” Tanya Zaki sarkatis. “Apa aku harus ingetin lagi siapa yang berhak merintah siapa?”
Pundak Lily terangkat tinggi, tanda geram. Ia tak mau berbasa-basi lagi, segera setelah mengunci mobil, Lily merebut kasar dokumen yang Zaki bawa. Lily berjalan masuk sambil menghentak-hentakkan kakinya, membuat beberapa orang memandangnya aneh. Ia bertemu lagi dengan pegawai toko mas yang pernah merendahkannya, pegawai banci. “Ini laporan yang dipinjem kemaren, makasih.” Kata Lily singkat.
Si pegawai mematung karena melihat Lily membanting laporan itu di atas etalase yang untungnya tak pecah. “Pelan-pelan dong!” Omelnya. Zaki datang tepat saat pegawai itu hendak berkata lagi, akibatnya si banci urung memaki. “Halo Pak Polisi ganteng!” sapanya genit, Lily hampir muntah dibuatnya. “Gimana? Ada yang bisa aku bantu lagi?”
Zaki menggeleng. Kasus ini bukan lagi wewenangnya, dan tentu saja membuatnya lesu mengingat itu. “Enggak kok, makasih ya.” Ujarnya ramah, tak seperti pada Lily tadi. Si banci terlihat murung.
“Kamu enggak sekalian ngebalikin kalung itu?” Tanya Lily.
“Kalung?” Ulang si pegawai.
“Biar buat Vania aja.” Timpal Zaki.
Dorrrr!!!
Perasaan Lily terhempas ke dasar jurang. Ia tak menyangka Zaki menyebut nama itu.
“Ya udah, sekali lagi makasih ya, kita pergi dulu.” Zaki sedikit menundukkan kepalanya lalu berjalan pergi.
“Siapa Vania?” Tanya pegawai itu penasaran.
“Tunangannya..” Jawab Lily setengah melamun.
“WHAAAAAAAT?!” Si pegawai tiba-tiba histeris. “Jadi kalung bekas Kamu itu mau dia kasih ke tunangannya?! Ya ampun itu enggak ETISSS bangettt!!”
Lily mengerjap-ngerjap, sadar kalau ia tadi keceplosan dan membuat si pegawai bertransformasi menjadi banci lampu merah, Lily langsung pergi dan menyusul Zaki yang mulai jauh.
***
“Abis ini kita mampir ke butik,”
Lily memelankan laju mobil. Ia melirik jam tangannya dan memang sebentar lagi jam makan siang. “Belanja?”
“Butik Vania,” Timpal Zaki cepat. Ia terdengar puas karena ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Lily berubah kusut lagi.
“Oke, aku tu..”
“Kamu harus ikut.” Potong Zaki sebelum Lily selesai mengatakan kata ‘turun’. “Di sana kan ada pacar Kamu, jadi sekalian aja.”
Apa maksud dia Ricki? Pacar?
Lily tertawa hambar. “Ricki itu tetangga aku, bukan pa....”
“Stop! Jangan lanjutin, aku enggak mau tau.” Zaki membuang muka lagi kala Lily menatapnya dari kaca spion. Lily hampir tersenyum, berfikir kalau perasaan Zaki juga sama panasnya dengan perasaannya. Mungkinkah?
***
Kedatangan mereka berdua cukup membuat Vania. Vania tak pernah mampu membuat Zaki datang ke butiknya, dan kali ini ia melihat tunangannya itu datang tanpa diminta, walaupun itu bersama Lily. “Hai!” Sapa Vania pada Lily. Ricki pun turun dari lantai dua setelah Vania menyuruh seorang pegawai memanggilkannya. Sama seperti Vania, Ricki pun lumayan kaget.
“Well, makan siang bareng yuk!”
“Boleh juga.” Zaki mengangguk cepat. Vania linglung, tumben banget Zaki mau. Tak lama mereka berempat pun pergi ke sebuah restoran, tentu saja dengan mobil Ricki yang lumayan besar. Vania dan Zaki duduk di bangku belakang sementara Lily menemani Ricki di kursi depan.
“Mobil Lo udah kaya toko menyan, wanginya enggak banget!” Protes Lily menjauhkan pewangi mobil dari blower yang mengarah ke wajahnya. Ia tak terlalu suka dengan wangi yang menyengat. “Nanti ganti pake parfum gue aja, lebih enak!”
“Ah bawel banget sih! Iya deh ntar gue ganti!” Ricki menarik hidung Lily dengan tangan kirinya yang bebas. Mereka semua tertawa di dalam mobil, kecuali Zaki yang tiba-tiba merasa sesak.
Zaki menghitung sampai tiga, namun Ricki masih saja cengengesan dan bercanda dengan Lily. Pada detik ketiga Zaki tak lagi betah untuk memecah kedekatan mereka berdua.
“OHHHOKKHH!” Batuk yang dibuat Zaki lumayan terdengar keras. “OHOKHHH HOKHH OHOKKKHH!!” Ia hendak melanjutkan lagi, namun ia tak mau terlihat seperti orang penyakitan.
“Kenapa sayang?” Vania mengusap tengkuk Zaki yang tertunduk menghadap lantai mobil. “Kamu batuk lagi ya?” Lily pura-pura tak melihat Zaki yang sekarang sedang dipijat tengkuknya oleh Vania dan ia akui itu tak bisa bertahan lama. Hatinya panas dan benar-benar butuh diguyur. “Duh pasti nanti tambah parah, nanti kita ke dokter dulu ya.”
“Enggak..enggak usah.” Zaki menggeleng. Ia tak mau dokter akan menertawakan sandiwaranya.
“Ngakunya polisi tapi takut dokter.” Seloroh Lily.
“Aku enggak takut dokter!” Balas Zaki.
“Oh ya? Terus kenapa dari pagi aku suruh ke dokter enggak mau?!”
“Yak arena aku males, toh Kamu tau sendiri kan aku Cuma magh biasa!”
“Iya tapi dari dulu enggak pernah sembuh-sembuh!”
“Yang penting kan enggak sering telat makan!”
“Nah masalahnya kamu makannya sering telat!”
“Kalo tau aku gitu harusnya kalo bawa makan jangan sedikit, bagi-bagi ke orang juga, dasar pelit!”
“AKU PELIT?! YANG NGABISIN BEKAL AKU ITU KAMU!”
“BEKAL CUMA SE-IPRIT DOANG MANA CUKUP?!”
“STOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOP!!!!!!!!” Pekik Vania akhirnya. Mobil ini terasa panas karena ocehan mereka berdua. “Kalian ini kenapa sih?!” Zaki dan Lily sama-sama terdiam dan menunduk, seperti anak SD yang kena omel gurunya kalau lupa mengerjakan PR. “Terus maksud Lily barusan apa? Tadi pagi kamu udah sakit?” Tanya Vania pada Zaki.
Zaki menggeleng, bak anak SD yang ketakutan rahasianya terbongkar. Rahasia kalau semalam ia lalai mengerjakan PR karena keasyikan menulis surat cinta untuk anak perempuan di kelasnnya. “Cuma mual aja kok.” Tangannya menepis tangan Vania yang hendak menyentuh keningnya. Vania bergeming, ia tahu kalau Lily adalah asisten Zaki, namun hati kecilnya tak dapat berbohong kalau ia resah.
“Kita udah sampe nih.” Ucap Ricki. Ia lebih memilih diam walau hatinya berkecamuk. Ia ingat kalau mantan kekasih yang Lily pernah ceritakan dulu bernama Zaki juga. Namun Ricki tak mau mengatakan apa-apa dulu, sebelum ia tahu kejelasannya dari Lily langsung.
***
Dengan rasa nyaman yang dipaksakan, mereka akhirnya mampu melewati momen makan siang bersama yang tak akan mungkin terulang lagi hari ini. Walau tadi Zaki dan Lily sempat adu kemesraan dengan pasangan masing-masing di meja makan, semuanya berjalan normal bak double date pada umunya. Hanya Ricki yang berusaha tak terganggu dengan ‘pertengkaran’ konyol mereka berdua, beda dengan Vania yang tak henti-hentinya mencoba melerai mereka berdua.
“Aku mau ke toilet dulu,” Kata Lily walau makanan di piringnya terlihat masih belum habis. Ia tak menghiraukan Zaki yang sekilas memutar bola mata, tanda mengejek.
Zaki masih mengunyah makanannya ketika Ricki tiba-tiba bertanya hal yang ia tak ingin jawab dengan jujur. “Kenapa Kamu enggak nyari pengganti dia sih  Zak, padahal dia enggak sopan banget kayaknya ke Kamu. Hahaha.” Zaki merapatkan bibirnya, tak ada ide untuk menjawab lelucon tak mengenakan bagi dirinya itu. “Tapi, gimanapun aku makasih banget.” Ricki tersenyum penuh makna. “Semenjak dipecat dari perusahaan lamanya, Lily enggak pernah seceria ini.” Alis Zaki terangkat, namun ia tak mau kehilangan kendali dan membuat Vania tambah curiga.
“Dipecat kenapa? Emangnya dia kerja di mana dulu?” Vania penasaran.
Ricki tersenyum lagi, tapi matanya masih menatap Zaki. Zaki pasti tau. “Aku lupa nama perusahaannya, tapi kalo enggak salah sih percetakan gitu.” Sebenarnya Ricki tau, ini hanya akal-akalannya untuk memancing Zaki saja.
“Perusahaan media cetak, penerbit tabloid bulanan.” Koreksi Zaki membuat Vania mengernyit. “Dia pernah cerita kok,” Tak mungkin juga Zaki bilang: Dia udah kerja di sana sejak statusnya masih kekasih Lily. “Tapi, kurang tau juga kenapa dia keluar.”
“Bukan keluar, tapi dipecat.” Sambung Ricki. “Lily cerita kalo ada keponakan Direkturnya yang iri banget sama dia, namanya Elen kalo ga salah.” Ia memperhatikan wajah Zaki yang semakin tegang, tabakannya benar ternyata, kalau Zaki memang mantan kekasih Lily karena raut mukanya terlihat faham siapa Elen itu. “Elen lah yang ngebikin dia dipecat, padahal selama beberapa tahun Lily sabar banget ngadepin perempuan itu. Cuma di hari sial itu, Lily enggak bisa tahan lagi soalnya si Elen nyinggung perasaan dia banget.”
Vania menelungkupkan garpunya di atas piring bersama sendok. Tangannya mengaduk-aduk minuman berasa melon itu dengan sedotan. “Tunggu deh, Elen iri ke Lily kenapa emangnya?”
Ricki mengangkat pundaknya. Ia melempar pandangan ke Zaki yang terlihat semakin tersudut. “Mungkin karena Lily dari kalangan biasa aja tapi bisa kerja di kantor pusat perusahaan segede itu.” Lagi-lagi Ricki berusaha membuat Zaki terpancing.
“Dia kreatif, Direkturnya sendiri yang nyuruh dia kerja di kantor pusat karena ide-ide segar dia yang bikin banyak kemajuan untuk perusahaan itu.” Tentu saja Zaki tak terima kalau Lily dianggap seperti itu, sejak SMA dulu Lily memang dikenal kreatif. Zaki merasakan Vania mulai bertanya-tanya. “Ya itu sih penilaian aku selama dia jadi asistenku aja.” Senyumnya. “Oh iya, emang apa yang bikin Lily tersinggung sampe dia dipecat? Dia ngadu ke Direkturnya soal Elen?” Ini murni pertanyaan karena Zaki benar-benar ingin tau mengapa Lily bisa dipecat segampang itu. Ia berjasa sekali pada perusahaan itu, tapi mengapa tanpa pertimbangan perusahaan melepasnya begitu saja?
Tak disangka Zaki masuk ke jaring yang Ricki tebar. “Singkat cerita, Lily sama Elen satu SMA dulunya, dan kebetulan pacar Lily dulunya satu SMP sama Elen. Intinya Elen hari itu ngejek Lily yang enggak pernah keliatan bareng sama laki-laki lagi, dia pura-pura nanya padahal semuanya juga udah tau kalo Lily udah lama putus sama pacar SMA-nya yang tega banget itu. Awalnya Lily sabar aja, tapi dia marah banget terus keceplosan ngomong kasar ke Elen pas dia ngejelekin mantan Lily itu, otomatis Lily enggak terima dong, karena Elen bilang kalo dia enggak bakal terpikat cowok yang bukan tipenya kaya si Za…” Ricki berhenti.
“Hm?” Gumam Vania. Zaki melepas kancing seragam yang paling atas, ia mulai merasa tercekik. Tangannya bergetar ketika meraih air putih di hadapannya, ia butuh minum untuk melegakan udara yang terjebak dalam tenggorokannya barusan.
“Zaki, kalo ga salah nama pacarnya Lily pas SMA itu Zaki juga deh.” Ricki membuat Zaki hampir tersedak. “Kok bisa sama ya? Hehe. Tapi Zaki-nya Lily itu tega, padahal Lily setia banget nungguin eh dia malah ninggalin gitu aja pas tugas perdana sebagai Polisi. Tapi walau gitu, sampe sekarang tuh Lily masih enggak bakal bisa seratus persen benci sama cowok pengkhianat itu.” Ujarnya pura-pura tak sadar kalau Zaki sangat ketakutan.
“Kayaknya Kamu cocok jadi pendamping Lily nanti, pengertian banget ya.” Ucap Zaki datar, tapi hatinya sengit mengatakan itu. Ia masih terngiang akan kata ‘pengkhianat’ yang dilontarkan Ricki barusan. Namun setidaknya ada kabar baik yang ia terima dari sepenggal cerita Ricki tadi, ia semakin yakin kalau di hati Lily masih ada namanya terukir di sana.
Andaikan ia bisa menceritakan semuanya pada Lily dan mengembalikan segalanya seperti sedia kala. Ia ingin mengobati luka hati Lily, cinta sejatinya. Andaikan saja ia tak terikat dengan rasa tanggung jawab sebagai anak yang berbakti, andaikan Vania belum sempat masuk ke hidupnya. Terlalu banyak yang akan ia lukai lagi jika ia memaksakan keinginan hatinya. Dan karena itu, Zaki hanya bisa berkata maaf untuk Lily, walau entah kapan kata itu dapat tersampaikan.
Vania memandangi Zaki sejenak. “Tapi enggak mungkin juga kan Zaki ini, toh juga mereka dulu…” Vania mengernyit, sebuah ilham menghampirinya dan membuatnya ternganga. “Kamu sama Lily kan sama-sama dari Malang? SMA Kamu namanya apa Zakh?”
Zaki sudah diujung tanduk. Rahasianya akan terbongkar sudah. “Bentar ya, aku ke toilet dulu.” Cepat-cepat Zaki melarikan diri dari pertanyaan itu. Bisa saja Ricki tahu nama SMA Lily juga dan semuanya akan tambah runyam dan sulit dijelaskan nantinya. Zaki merasa dirinya tak lebih dari pecundang yang hanya mampu bersembunyi. Ia terhina oleh keputusan dari dirinya sendiri kali ini. Tubuhnya seakan lemas dan ia butuh pegangan. Zaki berhenti sebelum masuk ke toilet ketika ia melihat sosok Lily sedang berbicara dengan seorang perempuan berambut keriting dan berpakain cukup seksi di dekat selatan keluar restoran.
“Enggak nyangka kita ketemu lagi ya.” Kata perempuan itu.
Lily menyunggingkan senyum getir. “Ya gitulah, dunia ini sempit banget.”
Perempuan itu berdiri dengan bertumpu pada kaki kanannya yang ia buat sedikit condong ke kanan. “Gimana Lil, ada perusahaan yang mau nerima Kamu? Atau sekarang Kamu lagi ngelamar kerjaan di sini? Yaah..jadi pelayan toko halal sih, tapi enggak bisa dibayangin ya, anak kesayangan Direktur dulunya sekarang Cuma jadi babu.” Zaki berjalan mendekat dan tahu kalau perempuan itu ternyata Elen.
“Kamu…!” Tangan Lily mengepal dan siap melayangkan tinju untuk merobek mulut Elen namun ada suara hati yang melarangnya untuk bertindak ceroboh lagi. Elen punya sejuta cara untuk mengganggunya bahkan menyingkirkannya. Dan jika hari ini tangan Lily berhasil membuat lebam wajah antagonis Elen, bisa-bisa ia akan dilaporkan ke pihak yang berwajib dengan tuduhan penganiayaan. Lalu apa kata dunia juga seorang asisten Polisi harus menjadi narapidana. Bisa saja Zaki lah yang nanti dengan senang hati membuatnya terkurung dalam jeruji sel tahanan untuk beberapa bulan kedepan.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Zaki akhirnya mendapat kesempatan untuk membalaskan dendam Lily yang harus kena PHK gara-gara membelanya. Ia melangkah cepat ke sebelah Lily dan menyisipkan tangan kanannya ke pinggang Lily. “Sayang aku tungguin Kamu dari tadi ternyata Kamu di sini.” Ujar Zaki lembut. Ia mengeraskan cengkramannya ke Lily yang terlonjak dan minta dilepaskan. Matanya memberi Lily aba-aba untuk tak melawan.
“Kamu Zaki kan?” Tanya Elen terkesiap.
Zaki tersenyum dan membenarkan seragamnya untuk memperlihatkan badge nama di dadanya. “Iya, Anda kenal saya?” Suara terdengar maskulin ditambah wajah yang terlihat gagah membuat Elen tak dapat berkedip.
“Aku Elen.” Senyumnya mengembang. “Kita dulu satu SMP sama satu SMA! Inget?” Ia mengulurkan tangannya pada Zaki. Lily hanya bisa menatapnya jijik.
Namun sayangnya Zaki tak merespon tangan Elen yang terulur dan sudah mulai pegal. “Maaf, saya enggak inget. Cuma orang populer aja yang masih bisa saya inget dari zaman sekolah dulu, udah lupa semua.” Zaki tersenyum ramah. Hatinya melompat kegirangan karena Elen pasti sangat merasa dipermalukan. “Ya udah yuk Sayang, enggak enak temen-temen udah nungguin kita disana. Sorry, kita duluan ya.” Ujar Zaki sambil berjalan dan tetap mengaitkan tangannya ke pinggang Lily.
***
Tangan Lily memegangi pinggangnya sendiri. Ia teringat kejadian tadi siang dimana tangan Zaki mendarat di sana. Senyumnya tiba-tiba merekah karena perasaan yang aneh ini, ia juga merasa puas bisa melihat Elen dipermalukan seperti itu. Ia ingin tertawa keras ketika Zaki dengan tega tak menjabat tangan Elen yang terulur lama, malah mengatainya ‘tak populer’ walau secara tak langsung.
“Girang banget sih Lo, abis gajian yak?” Hari ini Ricki menjemputnya karena pulang cepat. Ia sengaja membiarkan para pegawainya melayani pelanggan tanpa pengawasannya seperti biasa.
Lily terkekeh,  sulit untuk menyembunyikan perasaan senang yang bercampur aduk dan memenuhi hatinya hari ini. Sepulang dari butik Vania tadi Zaki berubah sangat ramah dan malah menggantikan Lily menyetir mobil. Ia hampir gila karena perubahan Zaki yang drastis itu membuatnya teringat dengan Zaki yang dulu, dan mengantarnya ke nostalgia. “Enggak sih, Cuma lagi good mood aja.” Katanya.
Ricki tak berkata apa-apa lagi hingga mereka sampai halaman di kontrakan. Ia sudah hendak masuk rumah ketika Lily memanggilnya dari teras kontrakannya sendiri. “Kenapa?” Tanya Ricki heran.
Lily berjalan ke kontrakan Ricki dengan wajah lesu. “Kunci pintu gue ketinggalan di dalem, si Diana katanya baru bisa balik nanti jam 9 malem. Dia lagi ngebantu acara tujuh bulanan kakaknya si Agustin. Gimana doong?” Katanya sambil mewek.
“Ckck, dasar cewek pikun. Makanya lain kali kuncinya lo kasih gantungan yang gede. Kalo perlu lo kasih gantungan termos tuh biar enggak ketinggalan!” Omel Ricki. “Ya udah cepet masuk.” Perintahnya disambut senyuman lebar Lily.
Sebenarnya Lily sudah sering main ke sini, tapi yang membuatnya tak bosan adalah kontrakan Ricki ini sangat rapi dan perabotannya lengkap. Dari televisi yang selebar meja makan, hingga sofa seempuk kapas, bahkan dapurnya selengkap dapur restoran bintang empat terkenal, semuanya terlihat sempurna kecuali bed cover di kamar Ricki yang bergambar: Winnie de Pooh. “Buset Ricki cepet ganti itu sprei kasur Lo! Mata gue bisa katarak ngeliatnya!!!” Pekik Lily sambil menutup mata. Ia baru saja inspeksi dadakan ke kamar Ricki tanpa izin.
“Lo jadi istri gue baru deh nanti baru gue ganti sprei yang lain.” Timpal Ricki sambil menjulurkan lidah.
Lily memutar bola matanya. “Entar kalo gue jadi istri Lo yang ada gue dipanggil Bapak sama anak-anak kita!” balas Lily.
“Oh Lo udah mikirin anak-anak nih ceritanya?” Canda Ricki terdengar tak selucu tadi. Matanya mencari kepastian dari dalam diri Lily yang sekarang berdiri di hadapannya dan memandang dirinya tanpa berkedip. “Keluar sana, gue mau buka baju. Apa Lo mau liat?” seringainya jahil. Lily menutup mata sambil berlari keluar ketika menyadari sejak tadi Ricki sudah menanggalkan bajunya.
***
 “Muat?” Tanya Ricki. Jelas pertanyaannya terjawab sudah ketika ia melihat Lily tampak seperti layang-layang karena kebesaran baju. Hanya kaos putih polos itu yang tersisa, baju yang belum pernah dipakai Ricki sesuai permintaan Lily si Ratu banyak permintaan. “Hahaha udah kaya ondel-ondel Lo!”
“Ah yang penting tetep cakep!”
Mereka menghabiskan dua mangkuk mie rebus tanpa belas kasihan. “Percuma dapur keren tapi masakan Cuma mie rebus.” Lily mengangkat mangkuk yang sudah kosong ke tempat cuci piring. Ia melakukan semuanya tanpa sungkan lagi, seolah ini adalah rumahnya. Dan Ricki tak pernah keberatan, ia malah senang.
“Dasar enggak tau terima kasih. Coba aja gue tadi enggak ngejemput Lo, pasti sekarang Lo udah tiduran tuh di teras rumah Lo sambil nahan laper, Elo kan kelewat irit sama duit, makan aja nunggu usus lengket saking lapernya.”
Lily hanya tersenyum sambil mematikan keran. “Hehehe, iya deh iyaa, makasih yaaa Rickiiiiii!” Katanya lalu duduk di sebelah lelaki bertubuh ramping itu. “Oh iya, ngomong-ngomong sekarang kok Lo makin kelihatan kaya cowok beneran sih?”
“Emangnya biasanya gue cowok apa?!”
“Hehehe, cowok jadi-jadian..” Detik selanjutnya Lily harus merasakan hidungnya pedas dan hampir lepas karena ditarik Ricki dengan gemas. Untung saja hidungnya murni ciptaan Tuhan, kalau tidak, mungkin saja dia sekarang harus mencari lem hidung di toko terdekat. “Belum diasuransi-in nih!” Omelnya sambil mengelus hidungnya yang merah.
Mereka berdua menghabiskan waktu sambil menunggu Diana pulang dengan bermain kartu. Dalam permainan ini, Lily tak terkalkahkan. Ricki harus merelakan wajahnya dijepit oleh empat belas jepit jemuran pakain dan itu rasanya seperti digigit semut.
Semut seukuran gajah tentunya.
“Halo..Lil Lo nginep di sana?” Tanya Diana padahal Lily baru saja menjawab teleponnya. “Lagi simulasi kalo udah nikah ye?” Sindirnya.
“Wooo!” Sembur Lily tak terima. “Ini gue langsung capcus ke sana, jangan ditutup pintunya.” Tutupnya lalu memasukan ponselnya lagi ke dalam tas. Ia melihat ke jam dinding yang rupanya sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ricki melepas semua jepit yang menyiksa wajahnya sambil mengantar Lily keluar. “Makasih ya Ricki, gue balik dulu.”
“Lil..” Panggil Ricki. Lily berhenti berjalan, ia lantas bergeming di teras Ricki yang terasa dingin di telapak kakinya. “Gue boleh minta satu hal?”
“Apa?”
“Gue minta Lo berhenti kerja di sana.”
Lily seakan terhipnotis, suara Ricki hanya lewat di telinganya. “Maksud Lo apa sih?”
Ricki berjalan mendekati Lily. Ia melihat Diana sedang mengawasi mereka dari balik jendela ruang tamu. Tangannya meraih lengan Lily yang ternyata sudah sedingin udara yang menerpa kulit. “Zaki itu, orang yang pernah nyakitin Lo itu kan?”
Iya. Tapi tak semudah itu Lily menjawab. Ia hanya bingung, bagaimana bisa Ricki faham padahal ia yakin tak ada seorang pun yang tahu ini, kecuali Diana. Dan itupun kalau Diana pernah bertemu dengannya dan tahu kalau lelaki itu lah atasan kerja Lily. “Kenapa emangnya?” Ia langsung menuju inti, mulai bosan dengan kalimat yang berbelit-belit. “Lagian kita professional kok, Cuma sebatas kerja doang.” Katanya berbohong. Ia sudah mulai memakai perasaannya akhir-akhir ini.
Ricki membelai pipinya. “Gue udah lama kenal Lo Lil, gue tau gimana perasaan Lo. Di mata Lo masih ada bayangan Zaki Lo dulu kan? Bisa aja dia tau itu dan malah mainin perasaan Lo. Dia emang masa lalu Lo, tapi semua orang pasti berubah, termasuk hati.” Mata mereka saling mencari sebuah titik. Seolah dalam titik itu ada ruang hampa yang semakin lama semakin besar. “Gue heran kenapa Lo pura-pura kuat padahal jelas banget Lo tadi cemburu pas dia sama Vania.”
“Lo sok tau.” Bantah Lily. Ia mencoba menjauh karena wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Namun Ricki tetap lah lelaki, ia tak perlu mengeluarkan banyak kekuatan untuk membuat Lily tetap di tempatnya. Ricki lantas menangkup kepala Lily dengan kedua tangannya, membuat kepala Lily menengadah menatap wajah mulus Ricki. “Lil, please jangan biarin dia nyakitin Lo lebih lagi. Cukup waktu itu aja Lo harus ngerasain pahit, gue enggak rela kalo orang yang gue sayang harus makan hati. Asal lo tau Lil, gue..." hening sesaat.
"Gue cinta sama Elo Lil...” Ricki mendekatkan bibirnya ke wajah Lily perlahan-lahan.
Tangan Lily bergetar. Ia tak tahu mengapa hatinya takut sekali. Ia memang sudah tau perasaan Ricki terhadapnya, namun rasanya masih sulit diterima. “Terus gue harus cari kerja kemana lagi kalo berhenti Rick?” Lily masih berusaha tegar, tak mau terbawa suasana romantis yang Ricki ciptakan.
Ricki tersenyum walau hatinya perih. Ia mengurungkan niat mencium Lily yang entah berasal dari mana. Walau Lily tak menanggapi kalimat terakhir yang ia lontarkan barusan, Ricki tetap menatapnya lembut seolah hatinya tetap baik-baik saja. “Salon gue masih bisa nerima pegawai sepinter dan sekreatif Elo kok.” Jawabnya sumringah.
“Enggah ah, gue terlalu cantik buat jadi banci.” Lily terkekeh dan membiarkan Ricki mengusap lembut kepalanya. “Gue tau maksud Lo baik, tapi kasih gue waktu dulu, oke?” pintanya.
Lelaki itu mengangguk dan memeluk tubuh Lily dengan cepat. Ia lantas tersenyum lebar seolah tak ada yang terjadi di antara mereka tadi. “Ya udah sono tidur, nanti kalo gajian cepet ganti tuh baju gue!” Lily tertawa sambil berlari kecil ke rumahnya.
Ponsel Diana bergetar kala suara langkah Lily terdengar mendekat. Ia membuka pesan yang rupanya berasal dari Ricki. Siang tadi Ricki dan Diana telah membicarakan masalah Zaki di telepon. Diana awalnya pura-pura tak tahu, namun ketulusan Ricki akan cintanya pada Lily membuat Diana luluh dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Ricki sempat ingin berkata jujur, tapi ia ingat kalau toh Zaki sekarang sudah milik orang lain. Dan selama masih bisa, dia ingin berjuang untuk medapatkan Lily yang ia cintai.
From: Ricki
Rencana A gagal. Pindah ke rencana B.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar