Apartemen Zaki terasa ramai malam ini. Ibunya sengaja masak begitu banyak karena Sela dan suaminya-juga anak yang ia kandung-berkunjung kemari. Ayah Zaki menyuruh Riga dan Vania datang kemari juga untuk makan malam bersama.
Riga harus menjemput Vania terlebih dahulu yang kebetulan masih di butiknya malam itu. Vania tak henti-hentinya menanyakan penampilan baru rambutnya pada Riga. Riga pun tak bosan berkomentar jail pada Vania dan membuat gadis itu cemberut. "Masih sama jeleknya kaya tadi." Untuk kesekian kali Vania membenahi tatanan rambutnya dari kaca spion.
"Ih Riga!!" Ucap Vania kesal. Ia frustasi karena gugup. "Serius nih, udah rapi belum??"
Riga terkekeh. "Tenang Vania tenaaang. Kalo gak rapi itu namanya bukan Vania." Pujinya membuat Vania sedikit lega bersamaan pintu lift terbuka.
Sela masih belum benar-benar bisa ramah dengan calon istri sepupunya itu. Sejak kedatangan Vania ke kota ini, ia tahu kalau perempuan itu lah penyebab Zaki tak pernah terlihat seperti dulu. Walau begitu, Sela tak bisa sepenuhnya menunjukkan rasa tak sukanya pada Vania. Karena bagaimanapun, perjodohan ini bukan kehendak Zaki maupun Vania, bukan juga paman dan bibinya, tapi keadaan lah yang memaksa.
"Sini aku bantu Mbak." Vania meraih setumpuk piring dari cabinet yang tergantung di atas kitchen set. Sela membiarkannya saja karena dari tadi dia juga kesusahan menjangkau lemari, kenyataannya ia tak setinggi Vania. Vania tersenyum dan membawa piring-piring itu ke meja makan.
Semuanya terlihat menikmati makanan makan malam dengan khidmat. "Masakan Ibu sama Mbak Sela emang enggak ada duanya." Puji Vania. "Jadi kangen rumah nih."
"Bukannya Kamu abis pulang ya?" seloroh Sela. Zaki berkedip untuk mengingatkan Sela agar menjaga perkataannya.
Riga lah yang tahu naskah para aktris di hadapannya malam ini. Ia sering sekali mendapat curhatan dari Vania kalau sepupu Zaki terlihat tak suka padanya sejak pertama bertemu. Sebenarnya Vania bisa saja mengadukan itu pada ibu Zaki, namun mendengar kalau Zaki sangat sayang pada Sela yang ia anggap kakak perempuannya sendiri, Vania pun memilih bertahan. "Vania itu gampang kangenan, waktu kita ospek SMA dulu aja dia pernah nangis gara-gara kangen sama orang tuanya. Padahal kita Cuma nginep di sekolah hahaha." Terpaksa Riga melucu untuk membantu Vania, untungnya semuanya terlihat tertawa walau ia yakin itu garing sekali.
Suami Sela yang bernama Adam berdeham. "Ngomong-ngomong tante abis dapet arisan ya? Kok ngadain makan-makan?"
Ibu Zaki terkekeh seraya menggeleng. "Malem ini Om kamu ini mau ngasih pengumuman." Katanya lalu memandangi wajah suaminya.
"Oh ya? Pengumuman apa Om?" Tanya Adam lagi.
Ayah Zaki tersenyum dengan alis terangkat tinggi. "Cuma mau ngasih tau kalian kalo tanggal pernikahan Zaki sama Vania udah ditentuin." Zaki, Sela dan Riga sama-sama tercengang. "Kedatangan Om sama Tante ke sini juga sebenernya buat ngejelasin itu, tapi biar semuanya ikut bahagia, ya sekalian aja Om kasih tau kalian semua. Akad akan diadain tanggal 2 Agustus nanti."
Itu artinya tinggal sebulan lagi! Vania merasa melayang tinggi. Impiannya untuk memakai gaun pernikahan rancangannya sendiri sudah di depan mata. Bayangan ia akan menjadi istri membuat Vania merona. Dirinya tak sadar kalau Riga sedang memperhatikannya lewat ekor mata yang terasa perih. "Kapan Bapak ngomongin ini? Bukannya kita harus tanya dulu ke Vania sama keluarganya?" Zaki akhirnya bicara.
"Kita udah ngobrol lewat telepon Ki, tanggal itulah yang pas. Acaranya diadain di sini dulu, nanti resepsinya baru di Bandung." Timpal ibunya. Ia bisa mengerti perasaan anaknya saat ini, apa lagi Zaki sudah tau kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan dari Zaki. "Tempat sama semua keperluan udah diurus kok, Kamu sama Vania Cuma tinggal nyiapin diri sama bikin surat cuti."
"Aku banyak kerjaan Bu, enggak bisa seenaknya. Apa lagi ada kasus yang sampe saat ini belum aku selesain. Kalo ibu enggak percaya, Tanya aja Riga!" Zaki memandangi Riga.
Riga pun mengangguk. "Tapi kan udah ditutup sementara Bro,"
Sial kenapa Lo enggak nurut aja sih! "Iya tapi kan.."
"Udahlah Zakh, masih ada waktu sebulan ini." Kata Vania tenang. "Jalani aja dulu sampe deket hari H. kalo masalah undangan kan bisa disebar satu minggu sebelum acara." Baik ibu dan ayah Zaki sama-sama mengangguk setuju. Adam mengusap tangan istrinya yang hampir terkepal karena sengit dengan ucapan Vania yang baginya sok bijak itu.
Zaki mengelap mulutnya dengan serbet, ia merasa tak ada seseorang pun yang memihaknya dalam ruangan ini kecuali Sela. Namun lebih baik sepupunya itu diam, ia hanya akan membuat gaduh jika bicara karena Zaki tahu persis bagaimana keras kepalanya Sela sejak masih duduk dibangku SD. Lagi pula, ia takut kalau Sela berdebat nanti akan mempengaruhi kandungannya yang mulai membesar. "Aku ke kamar mandi dulu," Lagi-lagi jurus andalan itu harus Zaki keluarkan jika ia tak mampu berkata apa-apa lagi.
Dering ponsel dari kamar Zaki terdengar hingga ruang makan. Awalnya semua tampak biasa saja hingga ayahnya tak betah karena berisik. "Siapa sih malem-malem gini telepon?" katanya hendak berdiri dari kursinya untuk mengangkat telep.
"Saya aja Pak." Vania yang rupanya selesai makan langsung pergi ke kamar Zaki. Ia melihat ponselnya sudah di tepi meja dan hampir jatuh ke lantai. "Halo?" Angkat Vania. Tak ada sahutan. "Halo ini siapa ya?" ulang Vania lagi. Ia melihat layarnya dan tertera nama Henry. Vania mendekatkan telinganya lagi ke ponsel namun hanya suara 'tut tut tut' tersisa.
Tak ada kecurigaan hingga mata Vania menangkap gambar wallpaper ponsel Zaki yang membuatnya tercengang. Ia mengedipkan matanya sekali lagi untuk memastikan kalau ia tak salah lihat.
Lily?! Kenapa Zaki masang foto Lily di sini?!
Dalam foto itu, Lily sedang tidur bersandar di kursi mobil. Vania segera mengecek album foto ponsel milik Zaki tanpa ragu. Ia makin tercengang ketika ada foto Lily yang sama namun telah Zaki tambah tulisan:
Dia lucu kalo lagi tidur ^^, semoga kalung ini bisa ngejaga dia kalo ga sama aku.
Kini Vania mengerti kalung siapa yang sedang Lily pakai dalam foto tersebut. Matanya terasa panas karena instingnya sangat yakin kalau memang ada sesuatu di antara Zaki sama Lily selama ini. Vania memejamkan matanya lalu mengingat segalanya. Ia ingat tatapan sengit Zaki ketika melihat Lily bersama Ricki di taman kota. Ia ingat waktu hendak makan siang bersama hari itu Lily dan Zaki ribut di mobil Ricki tentang penyakit magh Zaki yang Vania sendiri pun tak begitu fahami. Dan sekarang, Lily telah diberi kalung padahal dirinya saja tak pernah diperhatikan seperti itu.
Hati Vania terasa sakit. Ia sudah menitikkan air mata ketika kakiknya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang lemah. Vania duduk di tempat tidur Zaki sambil memegang kepalanya yang berdenyut kuat. Ia tak percaya Zaki tega menduakannya. Namun Vania tak mau gegabah, ia harus mencari tahu sendiri apa yang terjadi di belakangnya. Vania hendak memasukkan ponsel Zaki ke dalam laci dan lagi-lagi matanya menangkap hal tak ia duga.
Vania mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna merah. Tanpa tunggu lama Vania membukanya dan ia tak mengerti mengapa kalung yang Lily pakai ada di dalamnya bersama sebuah cincin dan kertas. Vania mengamati perhiasan itu lebih dekat sambil meraih kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya.
Untuk pemilik hati serta kasihku terindah, Lily
Ternyata itu adalah surat beserta puisi. Vania membacanya dengan cepat bersamaan dengan sekelebat rencana yang datang dari fikirannya sendiri. Nama Lily tertera pada kalimat awal dan akhir dalam surat yang Zaki tulis, membuat Vania semakin gemetar.
"Jadi Lily itu mantan pacar Zaki? Berarti waktu itu Ricki emang ngomongin masa lalu Lily di depan aku sama Zaki karena dia juga tau ini dan berniat nyindir Zaki?" Vania bertanya-tanya.
Vania langsung mengusap matanya cepat-cepat setelah selesai membaca surat, ia berdiri sambil meletakkan ponsel Zaki ke atas meja lagi agar Zaki tak curiga. Vania membawa surat itu bersama kotak perhiasan keluar dan memasukkannya dalam tas yang untungnya tadi ia letakkan di sofa tak jauh dari kamar Zaki. Kepalanya tibaa-tiba sakit karena tahu akan hal ini. "Siapa yang nelpon Van?" Tanya ibu Zaki.
Vania menggeleng dan memegang erat tasnya. "Enggak tau Bu, aku masuk kamar langsung mati teleponnya." Ia mencoba bersikap normal. Vania semakin kaget melihat Zaki yang sudah keluar dari toiletnya. "Oh iya Bu, tadi aku dapet sms dari pegawai kalo ada klienku mendadak dateng ke butik. Aku harus balik dulu Bu, dia pelanggan VIP aku."
"Udah malem begini?" Vania mengangguk mantap.
"Biarin aja lah tante, lagian kan acaranya udah selese." Seloroh Sela yang sedang membereskan meja makan.
"Hmm ya udah deh, hati-hati ya," kata ibu Zaki. Vania lalu menyalami tangan ayah dan ibu Zaki. "Ki, anterin Vania gih kasian dia kan enggak bawa mobil."
Zaki berjalan enggan. "Enggak usah Bu, biar aku naik taksi aja." Tolak Vania menghindar dari tatapan Zaki yang membuatnya semakin gugup. Ia tahu kalau perbuatannya salah, tapi ia juga tak bisa begitu saja membiarkan ini.
"Saya juga mau pulang, biar sekalian sama saya aja." Riga berdiri dari kursinya. Vania hanya diam saja, setidaknya lebih baik ia diantar Riga daripada harus dengan Zaki karena saat ini hatinya butuh dijernihkan dulu dan keberadaan Zaki di dekatnya hanya akan membuat Vania tak bisa mengendalikan emosinya.
"Aku enggak jadi ke butik Ga, aku pengen pulang aja." Ucap Vania ketika mereka sudah di dalam mobil. Sesekali tangannya menyeka air mata yang mencoba keluar dari bendungan. "Aku pengen pulang." Tambahnya parau.
Riga menarik nafas, ia sudah merasa kalau Vania berbohong. Vania punya aturan kepada pelanggan baik itu dari kalangan VIP atau yang lainnya. Kalau sudah waktunya pulang ya dia tak bisa diganggu, mana pernah karyawannya berani mengganggu Vania jika sudah pergi dari butik.
Jalanan masih terlihat padat ketika mobil Riga telah sampai di halaman apartemen Vania. "Ada apa sih sebenernya?" Tanyanya yakin dengan firasatnya sendiri. "Ada masalah apa?" Riga memandangi Vania dengan seksama.
Vania menangis. Air matanya mulai berguguran membasahi wajah putihnya. Ia tak bisa lagi berbohong kalau hatinya benar-benar sakit saat ini. Bagaimana bisa orang yang akan menjadi pendamping hidupnya ternyata masih memiliki perasaan sayang pada orang lain. Zaki mungkin tetap akan menikahinya, tapi Vania ragu kalau ia akan mendapatkan cintanya. "Zaki..ternyata Zaki masih sayang sama mantannya Ga.." Ujar Vania sesenggukan. Riga mengusap pipinya dan masih berusaha mendengarkan Vania yang suaranya mulai tak jelas karena menangis. "Lily..dia itu mantan Zaki Ga.."
Sudah jelas semuanya bagi Riga kini. Seluruh kecurigaan yang ia simpan kini terjawab sudah. Namun Riga menahan diri untuk bertanya karena itu hanya akan membuat Vania tambah bersedih. "Cuma mantan kan? Apa yang kamu takutin Vania. Anggap aja kamu enggak pernah tau ini." Katanya memegangi pundak Vania, berharap ia dapat menyalurkan energi ketegaran untuk Vania dengan cara ini.
Vania masih menangis, usaha Riga hanya sia-sia. "Kamu inget kan Ga waktu Zaki baru dateng ke Bandung? Dia enggak pernah setuju sama perjodohan kita berdua. Karena apa? Itu pasti karena dia cinta mati sama Lily."
"Kamu tau dari mana sih Van? Kamu Cuma ngada-ngada aja."
"Aku cewek Ga, aku tau banget!" Vania mengeluarkan kotak perhiasan yang ia bawa dari kamar Zaki tadi. "Ini..kamu baca ini." Vania mengulurkan surat itu pada Riga. Ia kemudian menangis lagi selama Riga membaca surat itu hingga selesai. "Sekarang kamu ngerti kan? Zaki enggak akan bisa ngilangin Lily dari hatinya!" tangisnya kembali pecah.
"Van..." Riga membujuknya berhenti menangis. "Kamu enggak perlu kaya gini Van. Mungkin ini jalan yang udah dikasih buat Kamu. Biar Kamu bisa bikin keputusan sebelum melangkah lebih jauh sama Zaki. Mungkin ada baiknya Kamu batalin pernikahan ini sebelum.."
"Enggak!" Potong Vania. Air matanya mulai kering karena diusap kasar dengan telapak tangan. "Aku enggak bisa ngebiarin ini Ga." Tambahnya. Riga menghenyakkan lehernya ke sandaran agar lebih santai. Mendengar Vania yang sedang emosi begini hanya akan membuat syaraf-syaraf dalam tubuhnya kejang. "Aku enggak bisa biarin itu Ga, aku bakal singkirin siapapun yang berani menghalangi aku sama Zaki!"
"Van.." Riga membuka matanya lebar-lebar. Ia meraih wajah Vania untuk menatap langsung matanya. Ia ingin Vania sadar kalau dirinya sudah mulai terlalu berlebihan. Bukan karena Riga menyukai Lily hingga ia tak bisa membiarkan Vania berbuat macam-macam, ia hanya takut kebablasan bertindak. "Bisa enggak sih Kamu lupain ini semua? Mereka enggak pernah ngapa-ngapain Van, mereka Cuma kebetulan dipertemuin dalam satu kantor lagi. Cuma itu!" bentak Riga membuat mata Vania berkedip-kedip, takut. "Dan, sebelum ada Lily pun, apa Zaki pernah kelihatan peduli sama Kamu?!"
"..." Vania terdiam. Pertanyaan Riga menghujam dasar hatinya.
"Sekarang aku Tanya. Andai aku yang akan pergi, apa Kamu akan sama sedihnya kaya gini?!"
"....."
"Enggak kan? Padahal ," Riga terhenti. "Aku selalu berusaha selalu ada buat Kamu. Aku pengen ngejaga Kamu. Aku pengen ngasih perhatian ke Kamu lebih dari siapapun. Aku pengen Kamu tahu Van, andai Zaki ninggalin Kamu," Tenggorokannya seketika terasa terbakar. "Aku masih ada buat Kamu karena aku, aku pernah cinta Kamu." Akhirnya Riga berhasil melontarkannya. Kalimat yang ia latih sejak mereka duduk di bangku SMA itu ia tambahi kata 'pernah' agar lebih bisa diterima oleh Vania. "Tapi, sebisa mungkin, aku bakal bantu kamu kalo itu bisa bikin kamu bahagia. Sekarang, kamu mendingan masuk terus istirahat. Jangan lupa cuci muka biar enggak mimpi buruk." Riga tersenyum seraya membukakan pintu untuk Vania dengan tangan kirinya.
Vania enggan bergerak walau pintu mobil telah terbuka lebar. "Makasih.." Lirihnya dibalas anggukkan serta senyuman Riga yang terlihat rapuh. Seketika Vania merasa masalah itu tak lagi berada di kepala ketika ia melihat senyuman itu. Perlahan Vania keluar dari mobil Riga. Ia lantas berdiri dengan memegangi pintu mobil Riga, bersiap menutupnya dan berkata dah. "Ga.." panggil Vania. Riga mengangkat dagunya tepat Vania menjulurkan kepalanya lagi ke dalam mobil untuk mengecup pinggir bibir Riga.
Empat setengah detik, begitulah Riga menghitung durasi kecupan ringan dari Vania untuknya malam itu. Momen yang ia bahkan tak pernah dapatkan dalam mimpinya kini ia rasakan. "Aku juga cinta Kamu Ga, Kamu sahabat terbaik yang aku punya." Vania nyeri karena baru saja berkilah. Ia hendak pergi namun tangan Riga mencegahnya dan malah menariknya lagi ke dalam mobil. Riga tersenyum jahil dan menutup mobil rapat-rapat lalu dengan hati berdebar ia mengulangi ciuman itu dengan Vania.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar